Hj. Syamsiyah Abbas Tokoh Perti dan Pendidikan Perempuan Minangkabau #2

HJ. SYAMSIYAH ABBAS TOKOH PERTI DAN PENDIDIKAN PEREMPUAN MINANGKABAU
Hj. Sjamsijah Abbas

Ummi Syamsiyah dan MTI Putri Bengkaweh

Pendirian Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Putri Bengkaweh oleh ummi Syamsiyah tidak terlepas dari semangat keagamaan yang ditularkan dari keluarganya, terutama ayah dan kakak kandungnya. Keberadaan MTI Putri Bengkaweh setidaknya dapat menepis anggapan sementara orang bahwa keluarga Syekh Abbas Qadhi lebih cenderung pada dunia politik ketimbang pendidikan, walaupun sebenarnya Syekh Abbas Qadhi pernah mendirikan Arabiyah School sebelumnya. Penamaan MTI sekaligus mengindikasikan bahwa perjuangan mendirikan sekolah ini tidak terlepas dari peran ormas Islam yang didirikan oleh ulama kaum tuo Minangkabau. MTI Putri Bengkaweh menjadi aset pendidikan yang dimiliki Perti pada masa itu.

Sebagaimana tokoh Perti dan pendiri-pendiri MTI lainnya, ummi Syamsyah adalah seorang yang berhaluan sunni-syafi’iyah, yaitu menganut mazhab ahlussunnah waljama’ah (Asy’ariyah-Maturudiyah) dalam akidah dan mazhab Syafi’i dalam fikih atau ibadah. Di makam ummi Syamsiyah tertera jelas bahwa ia adalah sunniyun-syafi’iyun. Haluan MTI Putri Bengkaweh pun tidak berbeda dengan MTI-MTI lainnya. Maandblad Soearti melaporkan:

“Adapoen toedjoean dan doel dari sekolah-sekolah Tarbijah Islamijah, adalah akan mendidik poetera dan poeteri kepada djalan jg loeroes, djalan jang diredhai Allah soebhanahoe wa Ta.ala, jaitoe djalan jang dibentangkan oleh j.m.m. Nabi besar kita Moehammad s.a.w. dalam agama Islam” dengan kata lain, “toedjoean jang pertama adalah akan meratakan agama Islam diantara pendoedoek Indonesia jang bermillioen banjaknja” (Soearti No 6, 1937:9).

Kutipan dari majalah Soearti tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama pendirian MTI adalah pendidikan dan dakwah Islam. Hal ini merupakan gambaran dari semua MTI yang berada di bawah naungan Perti. Namun demikian, yang menjadi keistimewaan dari MTI Putri Bangkawehnya terletak dari segi keputriannya. Di mana diharapkan lulusannya nanti di samping paham agama dan berpendidikan, juga ahli dalam mengurus rumah tangga. Dalam artian tetap menjunjung tinggi kodratnya sebagai perempuan. Lebih spesifik, tujuan pembelajaran di MTI Putri Bengkaweh, sebagaimana dilaporkan dalam Soearti adalah:

“Pengadjaran sama tingginja dengan Tarbijah Islamijah bahagian laki-laki dan ditambah dengan…huis houding. (tjara mengoeroes roemah tangga)” (Soearti 7, 1937: 18).

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa dari segi materi yang diajarkan, MTI Putri Bengkaweh tidak berbeda dengan MTI-MTI lainnya. Hanya saja, karena ini sekolah yang dikhususkan untuk perempuan, maka ada tambahan materi tentang mengurus rumah tangga, di mana ini dianggap sebagai bagian kerjanya kaum perempuan. Dengan demikian jelas bahwa di MTI Putri ini santriwatinya sudah dipersiapkan untuk menjadi wanita yang maju dengan pendidikan dan tidak melupakan kodratnya sebagai wanita.

Untuk lebih rincinya mengenai keilmuan yang diajarkan di MTI Putri Bengkaweh ini, sebagaimana disampaikan Nurhayati (alumni MTI Putri Bengkaweh), adalah ilmu mengenai keagamaan yang bersumber dari kitab kuning, khusus untuk tingkat aliyah baru mulai ditambah dengan keilmuan yang umum. Di antaranya ilmu hewan (dierkunde), ilmu tumbuh-tumbuhan (plantkunde), dan ilmu umum lainnya yang juga diajarkan di sekolah-sekolah umum. Sementara untuk yang tingkat tsnawiyah tidak ada yang diajarkan selain ilmu agama. Namun baik tingkat tsanawiyah maupun aliyah, keilmuan yang diajarkan menjadi ciri khas dari MTI Putri Bengkaweh yaitu keputrian atau huis houding. Dalam keilmuan ini diajarkan cara mengurus rumah tangga, memasak, menjahit, cara mendidik anak, dan semua keterampilan perempuan, sebagaimana yang disampaikan oleh Nurhayati dari Lasi yang pernah belajar di sana.

Baca Juga: Hj. Syamsiyah Abbas Tokoh Perti dan Pendidikan Perempua Minangabau-1

Berdasarkan jabaran di atas, nampak jelas gambaran semangat dari ummi Syamsiyah Abbas dalam mendirikan MTI Putri. Beliau ingin melahirkan wanita-wanita tangguh lewat pendidikan yang diberikan di sekolah tersebut. Mulai dari keilmuan yang diajarkan hampir sama dengan pelajaran yang diajarkan di sekolah khusus laki-laki sampai dengan tetap membekali santriwatinya dengan keterampilan yang mesti dimiliki oleh setiap wanita di Minangkabau. Di Minangkabau, semua urusan rumah tangga merupakan kewajiban seorang istri untuk mengurusnya.

Adapun kitab-kitab yang diajarkan di MTI adalah sebagai berikut:

  1. Al-Qur’an: Tafsir al-Jalalain dan Tafsir al-Khazain
  2. Hadis: Matn al-Arba’in al-Nawawiyah, al-Hadits al-Mukhtarah, al-Tsanawani Abi Jamrah, al-Jauhar al-Bukhari
  3. Tauhid: al-Aqwal al-Mardhiyah, Jawahir al-Kalamiyah, Kifayah al-Awam, Fath al-Majid, al-Dasuqi
  4. Tasawuf: Akhlaq lil Banin, Muraqi al-Ubudiyah, Minhaj al-Abidin, Syarh al-Hikam
  5. Nahwu: Matan al-Ajrumiyah, Mukhtashar Jiddan, Qawa’id Lughah al-Arabiyah, al-Azhari, Qathr al-Nida’, al-Khudri
  6. Sharaf: Matn al-Bina, al-Kailani, Qawa’id Lughah al-Arabiyah
  7. Ushul Fiqh: Bidayah al-Ushul, al-Waraqat, Lataif al-Isyarah, al-Jam’ al-Jawami’
  8. Fikih: Matn al-Ghayah wa al-Taqrib, Fath al-Qarib, I’anah al-Thalibin, al-Mahalli, al-Asybah wa al-Nazha’ir, al-Bidayah al-Mujtahid
  9. Mantiq: Idhah al-Mubham dan Suban al-Malawi
  10. Tarekh: Khulashah Nurul Yaqin, Itmam al-Wafa’.

Kitab-kitab dan materi pelajaran tersebut di atas memang tidak dinyatakan secara eksplisit oleh para informan, terutama mereka yang menamatkan pendidikannya di MTI Putri Bengkaweh, namun ketika kitab-kitab itu dikonfirmasikan, mereka menyatakan bahwa kitab-kitab dan materi pelajaran selain yang berhubungan dengan keputrian memang sama. Nurhayati menambahkan bahwa di sela-sela aktivitas pendidikan yang diterima oleh santriwatinya, ummi Syamsiyah mengadakan acara sandiwara sebagai hiburan di sekolah tersebut setiap dua Minggu sekali. Personilnya adalah para santriwati dan guru MTI Putri itu sendiri. Selain sandiwara juga ada pentas menari. Materi pelajaran dan metode pengajaran di MTI Putri Bengkaweh merujuk pada MTI Canduang dan MTI Jaho. Bahkan, uang sekolahnya pun dikatakan tidak boleh melebihi uang sekolah yang ditetapkan di MTI Canduang dan MTI Jaho. Demikian juga dengan semangat keagamaan yang diusung, terutama menyangkut akidah ahlussunnah waljamaah dan mazhab Syafi’i. Sebagai gambaran, hal tersebut dapat dipahami dari makalah yang pernah ditulis ummi Syamsiyah saat dialog tentang paham keagamaan dari segi akidah dan fikih yang dianut kalangan Perti, dan ini jugalah yang diusung dalam proses pendidikan di MTI putri Bengkaweh, terlihat sebagaimana berikut:

Dengan i’tikad dan amalan ini, kita akan tetap melangkah di tengah-tengah kehidupan yang penuh gejolak dan tantangan, kita telah berada di jalan yang tepat. Kita jangan terpengaruh oleh orang-orang usil yang mengatakan tidak perlu mengikuti salah satu mazhab dalam beragama. Orang-orang ini adalah orang yang sesat dan menyesatkan, karena tanpa mengikuti salah satu mazhab kita tidak akan dapat mengamalkan ajaran agama Islam secara sempurna.

Dari kutipan tulisannya di atas dapat dipahami bahwa ummi Syamsiyah sangat kuat memegang i’tikad ahlussunnah waljamaah dan mazhab Syafi’i sebagaimana dianut orang tua dan saudaranya, serta kalangan Perti pada umumnya. Namun demikian, dalam hubungan sosial dan hidup berbangsa bernegara, ia tetap seorang yang nasionalis. Dalam proses belajar mengajar, ummi Syamsiyah sering kali bercerita tentang perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan tanah air. Nurhayati mengatakan bahwa:

Ummi Syamsiyah sering bercerita tentang politik. Ia sering bercerita tentang perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan tanah air dari serangan penjajah. Memang diawali pelajaran kitab dulu, seperti kitab Durratun Nashihin. Lalu surahan kitab itu sering ia lengkapi dengan cerita tentang pahlawan dan politik. Ia juga suka menceritakan perjuangannya dalam politik, bahkan juga dalam konteks berebut kekuasaan. Semuanya diceritakan pada kami, dengan tujuan agar kami juga mengenal kehidupan sosial politik yang lebih luas, serta dapat pula berkiprah dalam dunia itu.

Dari kutipan wawancara di atas dapat dipahami bahwa, walaupun sekilas ummi Syamsiyah terkesan agak sektarian dalam memberikan pendidikan keagamaan bagi murid-muridnya, namun di sisi lain justru ia sangat nasionalis. Ia bahkan memberikan pendidikan politik pada para santrinya dan menstimulasi mereka agar juga dapat berkiprah dalam bidang politik. Hal seperti ini barangkali sulit ditemukan dalam sekolah-sekolah agama yang berkembang pada masa itu, apalagi untuk murid perempuan. Dari sisi ini, semangat yang ditularkan ummi Syamsiyah tidak jauh berbeda dengan semangat yang ditularkan Rahmah El-Yunusiyah di pesantren Diniyah Putrinya, di mana ia mengajarkan pendidikan politik dan perjuangan mempertahankan bangsa dan negara. Selain ini, keduanya juga sama-sama mengajarkan kesenian, seperti pementasan, senam, dan tari bagi murid-murid perempuannya.

Guru-guru yang mengajar di MTI Putri Bengkaweh juga terdiri dari kaum perempuan, mengingat murid-muridnya hanya dari kalangan perempuan. Namun demikian, para pengajar harus berkualifikasi tamatan MTI dan punya pengalaman mengajar beberapa tahun. Hal ini diumumkan pertama kali oleh ummi Syamsiyah dalam Majalah Soearti sebagaimana kutipan berikut:

Goeroenja-goeroenja adalah terdiri dari poetri belaka, tidak seorang djoega kaoem poetra. Semoe goeroe-goeroe berdiploma Tarbijatoel Islamijah, dan soedah mendjalankan praktijk beberapa tahoen lamanja. (Soearti No.6, 1937:11).

Dari kutipan Ma.loemat Oemoem di atas jelas dinyatakan bahwa guru-guru yang akan mengajar di MTI ini adalah perempuan semuanya, tidak seorangpun laki-laki. Di sini nampak gambaran semangat ummi Syamsiyah Abbas dalam mendirikan MTI Putri Bengkaweh ini, beliau begitu optimis kalau kaum perempuan itu akan mampu berkiprah dalam dunia pendidikan, sama halnya dengan laki-laki. Karena itu, keoptimisan beliau terhadap kemampuan kaum perempuan ini menjelaskan bahwa perempuan itu tidak hanya pandai mengurus rumah tangga saja dan selalu cengeng serta berada di bawah ketiak suami saja, tetapi juga tangguh mampu berdiri sejajar dalam berjuang dengan laki-laki terutama dalam dunia pendidikan. Namun dalam prakteknya guru MTI Putri Bengkaweh ini terdapat sesuatu yang berbeda dari semangat awal ummi Syamsiyah Abbas  mendirikan pesantren. Pada mulanya beliau mengeluarkan ma’loemat bahwa yang akan mengajar hanya kaum perempuan saja, tapi ternyata untuk ilmu umum beliau tetap mengambil guru dari kaum laki-laki. Hal ini disampaikan oleh salah seorang alumni MTI Putri Bengkaweh.

Santriwatinya semuanya perempuan, mulai dari kelas 1 sampai kelas 7. Mereka semua ditempatkan di sebuah asrama yang disebut dengan internaat. Penjaganya terdiri dari guru-guru perempuan dan penjagaan umumnya dilakukan oleh saudara kandung beliau sendiri, Siradjoeddin Abbas (H. Datoek Bandaharo), sebagaimana tertulis dalam Majalah Soearti sebagaimana berikut:

Pembajaran wang sekolah jang semoerah-moerahnja, tak kan lebih dari wang sekolah di Tjandoeng dan di Djaho, sedang berapa banjaknja akan ditetapkan oleh Hoofbestuur Tarbijatoel Islamijah. Makan dan minoem, mentjoetji dan membersihkan tempat semoeanja terserah kepada masing-masing moerid, artinja dididik kerdja sendiri zonder bajaran apa-apa (Soearti 6,1937: 11).

Dengan demikian biaya administrasi itu tetap ada, tetapi tetap disesuaikan dengan kondisi MTI lainnya yang sama-sama berada di bawah naungan Perti. Sementara peralatan sekolahnya, berada di jua ruang sekolah yang dibayar ke MTI tersebut. Dalam artian peralatan sekolahnya ditanggung oleh santriwati itu sendiri. Dari kutipan di atas juga terlihat bahwa MTI Putri Bengkaweh tetap merujuk pada MTI yang lebih tua, tidak hanya dalam materi dan pembelajaran, tetapi juga dalam pengelolaan administrasi dan manajemen sekolah.

Baca Juga: Tantangan Globalisasi bagi Masyarakat Perti

Masa jaya MTI Putri Bengkaweh adalah pada periode awal pendiriannya. Pada tahun 1940, muridnya sudah mencapai 250 orang. Menurut Hasan, warga desa Ladang Laweh yang pernah menjabat kepala desa, setahu dia jumlah murid MTI Putri Bengkaweh pernah mengalahkan jumlah murid Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, pesantren yang didirikan oleh Syekh Ibrahim Musa. Di samping itu, menurutnya, walaupun murid, guru, dan pimpinannya terdiri dari kaum perempuan, tetapi kedisiplinan yang diterapkan di sekolah ini lebih ketat dibanding sekolah-sekolah yang berhaluan modernis pada saat itu. Namun demikian, pengelola sekolah mampu mengkombinasikan antara kedisiplinan dan interaksi sosial dengan lingkungan. Dalam artian, walaupun santriwati diikat oleh disiplin yang tinggi, namun mereka tetap didorong untuk bergaul secara baik dengan masyarakat.

Hasan menambahkan bahwa, sekolah dan masyarakat adalah satu kesatuan; sekolah ini milik masyarakat, dan masyarakat adalah bagian tak terpisahkan dari sekolah. Murid-murid MTI Putri  Bengkaweh dan guru-gurunya sering terjun ke tengah masyarakat,  tidak hanya di Nagari Ladang Laweh, tetapi juga daerah lain. Terkait pendanaan, selain dibantu oleh masyarakat, ummi Syamsiyah juga mengeluarkan uang yang banyak untuk kepentingan sekolahnya. Ia juga dikenal sebagai orang yang memiliki banyak harta di kampungnya. Selain itu, keluarga dan saudaranya mampu menghubungkannya dengan pihak-pihak luar, terutama pemerintah, sehingga sekolah ini sering dapat bantuan dana.

Meskipun pernah mengalami masa kejayaan, namun MTI Putri Bengkaweh juga pernah mengalami kondisi tragis sebagaimana juga dialami sebagian MTI dan pondok pesantren lainnya di Minangkabau. MTI Putri Bengkaweh telah ditutup semenjak puluhan tahun yang lalu, dan tidak pernah lagi hidup sampai sekarang. Kapan tahun pastinya ditutup, belum ditemukan data pasti mengenai ini. Hasan, mantan Kades Ladang Laweh memperkirakan sekolah ini ditutup setelah peristiwa PRRI, kira-kira tahun 1965. Nurhayati memperkirakan sekolah ini ditutup sekitar tahun 1975, beberapa tahun setelah peristiwa Gestapu, karena pada saat Gestapu terjadi, sekolah ini tetap ada. Ia sendiri menamatkan pendidikan di MTI Putri Bengkaweh pada tahun 1969.

Sirajuddin Abbas yang merupakan “tameng” selama masa kejayaan MTI Putri Bengkaweh, ternyata ikut ditangkap dan diproses pada peristiwa Gestapu. Tidak lama setelah itu, ummi Syamsiyah sering sakit-sakitan. Sementara anak semata wayangnya, Farida, tidak mampu mengemban tanggung jawab melanjutkan pengelolaan sekolah MTI. Farida tidak memperoleh pendidikan di MTI, sehingga ia awam tentang materi-materi yang diajarkan di MTI. Dari sisi lain, tampaknya ummi Syamsiyah juga tidak mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan mengelola MTI. Kelemahan ini tampaknya umum terjadi di MTI-MTI yang ada pada saat itu, tidak hanya MTI Putri Bengkaweh. Pada saat penelitian ini dilakukan, bangunan bekas MTI Putri Bengkaweh telah menjadi sekolah SMK Genus. Bangunan MTI Putri Bengkaweh disewa oleh SMK Genus selama beberapa tahun. Sebelumnya, bangunan ini disewa oleh STIKES Fort de Kock Bukittinggi. Sebelumnya juga pernah disewa oleh STKIP Ahlussunnah Payakumbuh dan SMK Telkom.

Kondisi MTI Putri Bengkaweh ternyata bersandar pada sosok ummi Syamsiyah dan kakaknya, Sirajuddin Abbas, karena setelah kedua orang tersebut meninggal atau tidak dapat berperan maksimal lagi, maka ancaman bahwa aktivitas di sekolah juga terhenti. Namun demikian, peran dan jasa ummi Syamsiyah telah ia goreskan dengan tinta emas sejarah, bahwa ia pernah menjadi salah satu tokoh pendidikan dan ulama perempuan di Minangkabau, di mana peran serupa amat jarang ditemukan di kalangan perempuan Minangkabau kala itu.

Penutup

Perjuangan ummi Hj. Syamsiyah Abbas adalah perjuangan menembus sekat-sekat budaya yang penuh penentangan. Sudah menjadi kenyataan umum saat itu bahwa tokoh-tokoh agama dan pengasuh lembaga pendidikan hanya dari kaum laki-laki. Tampilnya perempuan pada ranah publik, bahkan sebagai ulama, masih menjadi sesuatu yang tabu pada masanya. Namun demikian, ummi Syamsiyah telah membuktikan bahwa ia mampu membantah semua anggapan kuno itu. Bahkan, ia tidak hanya aktif mengajar dan mengelola sekolah, tetapi juga mengurus organisasi Perti sampai ke tingkat pusat, menjadi anggota konstituante, dan anggota DPRD Provinsi. Ummi Syamsiyah membuktikan bahwa sekolah putri yang ia dirikan mampu bertahan selama lebih kurang 30 tahun, walaupun kemudian harus terhenti karena banyak faktor. Dengan demikian, ummi Syamsiyah adalah satu dari sedikit perempuan di Minangkabau yang patut dihargai dan dikenang, untuk kemudian semangat yang ia semai pada masanya dapat ditularkan untuk generasi sekarang.

Referensi

Ahmad, Nur’aini. 2014. Menciptakan Kartini yang Mandiri dan Punya Harga Diri. Artikel pada www.sindonews.com.

Kosim, Muhammad. Reorientasi Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Artikel pada http://mhdkosim.blogspot.co.id.

Koto, Alaidin. 1997. Pemikiran Politik Perti; Persatuan Tarbiyah Islamiyah 1945-1970. Bandung: Nimas Multima.

Maandblad Soearti. Nomor 6. 1937.

Maandblad Soearti. Nomor 7. 1937.

Maandblad Soearti. Edisi 5. 1937. Putra, Apria. 2013. Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Putri Bengkaweh Tinggal Sejarah. Artikel pada http://surautuo.blogspot.co.id.

*Tulisan inni pernah dimuat di Kafa‟ah: Jurnal Ilmiah Kajian Gender Vol. V No.2 Tahun 2015, dimuat ulang di website ini untuk alasan pendidikan

Etri Wahyuni
Etri Wahyuni 2 Articles
Guru Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*