Hubungan Karena Ilmu, Kadang Menyamai Hubungan Sebab Nasab

Hubungan Karena Ilmu, Kadang Menyamai Hubungan Sebab Nasab
Foto dok. Penulis

Hubungan Ilmu Hubungan Ilmu

Mengapa kita perlu bersua-sua, sebab pertemuan bisa sebagai pengingat, pengingat kealpaan dan kekhilafan. “Sudah barang tentu, kehidupan dunia bisa menyeret pada kelalaian dan kecenderungan hasrat. Sebab kita bertemu, meski hanya wajah dengan wajah, itu dapat menjadi ajang pengingat antara kita.” Begitu yang saya ungkap kepada Buya Irsyadul Halim, yang hadir sore ini. Ucapan saya itu disambutnya dengan tawa kecil tanda mufakat.

Saya mengenal pribadi Buya Halim, sudah cukup lama. Namun, ikatan kami bukan sekadar ikhwan biasa. Saya pikirkan, ikatan itu berupa ilmu, sama-sama menyokong paham ulama Perti, dan khususnya sama-sama beramal dalam Tarekaat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Inilah ikatan ilmu, yang waktu tertentu menyamai ikatan nasab. Oleh sebab itu, meski jarang bertemu muka, apabila saling berjumpa ada dzuq (rasa) yang tidak bisa terkatakan. Meski dalam pertemuan tidak banyak bicara, namun seperti sudah berdiskusi panjang sebab liqa’ ruhani.

Sore kemarin kami berjumpa, setelah hujan bercampur angin melanda Sungai Antuan. Beliau datang dari Bukittinggi, cukup jauh, melewati cuaca yang kurang bagus. Katanya, “malopeh tarogak.” Melepas rindu.

Beliau datang bersama seorang Tengku, lulusan Dayah Mudi Mesra Samalanga Aceh, murid Abu Mudi, ulama terkemuka di Aceh saat ini. Ini tentu menambah menarik. Kami berdiskusi, mulai dari keadaan surau, metode pengajaran, hingga dinamika intelektual terkait kitab Insan Kamil al-Jili.

Baca Juga: Abu Mudi Samalanga; Ulama Karismatik dan Guru Besar Dayah Aceh

Baca Juga: Abuya Nasir Waly; Ulama Santun dan Lemah-lembut dari Labuhan Haji

Di akhir pertemuan, saya meminta kepada Tgk tersebut untuk mengijazahkan satu amal yang diperoleh selama menuntut ilmu di Aceh. Tgk tersebut, lazimnya sebagai adab dan adat, menyatakan tidak pantas dalam soal ini. Sampai akhirnya beliau memenuhi dengan mengijazahkan Ijazah Surat al-Waqi’ah sebagaimana diijazahkan oleh Abu Mudi secara ‘aam. Kaji perlu ditimbang. Beliau pun meminta hal yang sama. Karena ada sedikit simpanan, saya titipkan pula Ayat 15, Ayat 7, dan Do’a Sayyidina ‘Ukasyah, sebagaimana saya terima dari alm. Tuanku Mudo Baliau Rasyid Zaini (1916-2008), yang saya terima tahun 2003 silam.

Sebelum pulang, saya katakan: “Ini pertemuan yang penuh berkah. Pertemuan terbaik, sebab kita dapat saling isi mengisi, saling ingat mengingatkan.”

Sungai Antuan, 8 April 2021
Saya, Apria Putra Tuanku Mudo Khalis

Apria Putra
About Apria Putra 141 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*