Hukum Imam Diam Sejenak Setelah Membaca al-Fatihah

Hukum Imam Diam Sejenak Setelah Membaca al-Fatihah
Ilustrasi/Dok. https://pontas.id/

Hukum Imam Diam Sejenak Setelah Membaca al-Fatihah

Sebagaimana yang diketahui bahwa dalam mazhab Syafi’i wajib hukumnya bagi makmum dalam salat jamaah untuk membaca surat al-Fatihah, baik dalam salat sendiri maupun berjamaah, baik salatnya jahr (dikeraskan) maupun salat sirr. Diantara dalilnya adalah hadis-hadis sahih berikut:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ القُرْآنِ

Dari Ubadah bin Shamit RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Tidak sah salat kecuali dengan membaca ummil-quran (surat al-Fatihah)”(H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Juga hadis

لاَ تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يَقْرَأُ الرَّجُل فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca Fatihatul-kitab (surat Al-Fatihah)

Namun, dalam mazhab Syafi’i juga memperhatikan kewajiban makmum untuk mendengarkan bacaan imam, khususnya ketika di dalam salat yang bacaan imamnya dikeraskan (jahr). Allah SWT berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

Dan apabila dibacakan Al-Quran, dengarkannya dan perhatikan. (QS. Al-A’raf : 204).

Sepintas terlihat ada dua dalil yang bertentangan. Dalil pertama, kewajiban membaca surat al-Fatihah. Dalil kedua, kewajiban mendengarkan bacaan surat al-Fatihah yang dibaca imam. Oleh karena itu, untuk mengkompromikan dua dalil tersebut serta untuk terlaksananya dua perintah tersebut, maka seyogianya bagi imam untuk memberikan waktu sejenak sekira-kira makmum dapat menyempurnakan bacaan al-Fatihahnya selepas imam membaca al-Fatihah. Dalilnya adalah sebagai berikut:

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ قَالَ سَكْتَتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْكَرَ ذَلِكَ عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ وَقَالَ حَفِظْنَا سَكْتَةً فَكَتَبْنَا إِلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ بِالْمَدِينَةِ فَكَتَبَ أُبَيٌّ أَنْ حَفِظَ سَمُرَةُ قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْنَا لِقَتَادَةَ مَا هَاتَانِ السَّكْتَتَانِ قَالَ إِذَا دَخَلَ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا فَرَغَ مِنْ الْقِرَاءَةِ ثُمَّ قَالَ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِذَا قَرَأَ { وَلَا الضَّالِّينَ }

Dari Qatadah, dari Hasan, dari Samurah bin Jundub, ia berkata; “Ada dua saktah (jeda sejenak dengan tidak membaca bacaan) yang aku hafal dari Rasulullah SAW, “. Namun, hal itu diingkari oleh Imran bin Hushain, lalu ia berkata; “Kami menghafal hanya ada satu saktah.” Maka kami pun menulis surat kepada Ubai bin Ka’ab di Madinah, lalu Ubai menulis balasan sebagaimana yang dihafal oleh Samurah.” Sa’id berkata; “Kami bertanya Qatadah, “Dua saktah itu letaknya di mana saja?” ia menjawab, “Jika ia telah masuk salat dan ketika selesai dari membaca bacaan (Al Fatihah).” Setelah itu ia berkata lagi, “Jika membaca wa laadh dhallin.”. (H.R. al-Tirmidzi, hadis ini mempunyai banyak penguat).

عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ : يَا بَنِىَّ اقْرَءُوا فِى سَكْتَةِ الإِمَامِ ، فَإِنَّهُ لاَ تَتِمُّ صَلاَةٌ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ

Dari Hisyam bin ‘Urwah, dari Ayahnya, ia berkata: Hai Anakku, bacalah olehmu (surat al-Fatihah) pada saat imam saktah (diam sejenak setelah membaca al-Fatihah). Sesungguhnya salat tidak sempurna melainkan dengan membaca al-Fatihah. (H.R. al-Bayhaqi).

Baca Juga: Hukum Mengikuti Imam yang Berbeda Mazhab

Kesimpulannya, imam mesti diam sejenak setelah ia membaca al-Fatihah (secara jahr/keras dalam salat jamaah) untuk memberikan kesempatan kepada makmum membaca surat al-Fatihah. Lama waktu diam ini disesuaikan dengan kondisi, sekira-kira makmum dapat membaca al-Fatihah secara sempurna dengan bacaan murattal, standar. Setelah makmum membaca al-Fatihah, maka ia mesti konsentrasi untuk mendengarkan bacaan surat/ayat yang dibaca oleh Imam.

Lalu bagaimana kalau imam tetap tidak diam sejenak setelah membaca al-Fatihah, melainkan langsung “tancap gas” membaca surat/ayat pilihan?

Mengingat status membaca al-Fatihah adalah rukun salat dalam mazhab Syafi’i, maka makmum harus tetap membaca al-Fatihah dan menyempurnakan bacaannya meskipun imam sedang membaca ayat/surat pilihan, bahkan meskipun imam kemudian ruku’ (karena cepatnya bacaan imam). 

Lalu bagaimana kalau makmum datang agak telat sehingga ketika ia akan takbiratul ihram imam sedang membaca al-Fatihah, apakah ia diam mendengarkan bacaan Imam atau membaca doa iftitah?

Imam al-Ramli sebagaimana disampaikan oleh Imam Zakaria al-Anshari menyatakan dalam Hasyiyah al-Jamal bahwa jika makmum dapat memperkirakan waktunya cukup untuk membaca iftitah dan al-Fatihah hingga imam ruku’, maka ia disunahkan membaca iftitah. Namun, bacaan iftitahnya sunah dilakukan dengan cepat. Hal ini dilakukan supaya ia bisa segera mendengarkan bacaannya imam.

 وَيُسَنُّ لِلْمَأْمُومِ الْإِسْرَاعُ بِدُعَاءِ الِافْتِتَاحِ إذَا كَانَ يَسْمَعُ قِرَاءَةَ إمَامِهِ ا هـ شَرْحُ م ر

Dan disunnahkan bagi makmum mempercepat membaca doa iftitah, jika ia mendengar bacaan imamnya. Demikian penjelasan Imam al-Ramli.

Namun, kalau dalam perkiraan si makmum bacaannya itu lelet, tidak bisa cepat, dan dapat menghilangkan masa untuk mendengarkan bacaan imam serta untuk membaca al-Fatihah, maka mestilah diam untuk mendengarkan bacaan imam serta membaca al-Fatihah ketika nanti imam diam sejenak.

Baca Juga: Hukum Membaca al-Quran dari Mushaf Saat Salat

Tambahan

Dalam mazhab kita (Syafi’i) disukai bagi imam untuk diam sejenak pada empat tempat di salat yang jahr (dikeraskan bacaan al-Qur’annya). Imam Nawawi RA dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab mengatakan:

يُسْتَحَبُّ عِنْدَنَا أَرْبَعُ سَكَتَاتٍ لِلْإِمَامِ فِي الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ (الْأُولَى) عَقِبَ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ يَقُولُ فِيهَا دُعَاءَ الِاسْتِفْتَاحِ (وَالثَّانِيَةُ) بَيْنَ قَوْلِهِ وَلَا الضَّالِّينَ وَآمِينَ سَكْتَةٌ لَطِيفَةٌ (الثَّالِثَةُ) بَعْدَ آمِينَ سَكْتَةٌ طَوِيلَةٌ بِحَيْثُ يَقْرَأُ الْمَأْمُومُ الْفَاتِحَةَ (الرَّابِعَةُ) بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنْ السُّورَةِ سَكْتَةٌ لَطِيفَةٌ جِدًّا لِيَفْصِلَ بِهَا بَيْنَ الْقِرَاءَةِ وَتَكْبِيرَةِ الرُّكُوعِ

Disukai di dalam mazhab kita agar imam diam sejenak pada empat tempat di salat yang dikeraskan bacaannya:

Pertama, diam sejenak setelah takbiratul ihram. Ini untuk memberikan kesempatan bagi makmum membaca doa iftitah (al-istiftah).

Kedua, diam sejenak antara saat membaca al-Fatihah antara ayat wa laadh dhallin (وَلَا الضَّالِّينَ ) dengan aamin ( آمِينَ).  Diam ini berfungsi agar ada pemisah antara bacaan al-Fatihah dengan bacaan aamin.

Ketiga, diam sejenak setelah imam membaca surat al-Fatihah sebelum membaca surat/ayat al-Qur’an pilihan. Ini untuk memberikan kesempatan bagi makmum membaca surat al-Fatihah.

Keempat, diam sejenak setelah selesai membaca surat/ayat pilihan sebelum takbir untuk turun ke ruku’. Diam ini berfungsi agar ada pemisah antara bacaan surat/ayat pilihan dengan bacaan takbir untuk ruku’.

Dalil tempat pertama sampai ketiga sudah disebutkan di atas. Dalil tempat keempat adalah hadis juga dari Samurah bin Jundub RA, tetapi dengan redaksi berikut:

 أَنَّهُ كَانَ يَسْكُتُ سَكْتَتَيْنِ إذَا اسْتَفْتَحَ وَإِذَا فَرَغَ مِنْ الْقِرَاءَةِ كُلِّهَا

Bahwasanya Rasulullah SAW dahulu diam sejenak pada dua tempat, yaitu apabila membaca doa iftitah, dan ketika telah selesai membaca ayat/surat keseluruhannya. (H.R. Abu Daud.[]

Hukum Imam Diam Sejenak Setelah Membaca al-Fatihah

Share :
Zamzami Saleh
Zamzami Saleh 59 Articles
Calon Hakim Pengadilan Agama, Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah MTI Canduang. Alumni al-Azhar Mesir dan Pascasarjana di IAIN IB Padang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*