Hukum Mengucapkan Amin Setelah Membaca Surat al-Fatihah

Hukum Mengucapkan Amin Setelah Membaca Surat al-Fatihah
Ilustrasi/Dok. Istimewa

Semua ulama sepakat bahwa hukum mengucapkan amin/ãmin (istilahnya ta’min) setelah membaca surat al-Fatihah adalah sunah. Kesunahan ini berlaku bagi imam dan makmum setelah imam membaca surat al-Fatihah dalam salat jahr (dikeraskan bacaannya). Kesunahan juga berlaku bagi masing-masing imam dan makmum yang membaca surat al-Fatihah secara sendiri-sendiri. Begitu pula sunah bagi orang yang salat sendiri, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa, salat dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring, salat fardu atau sunah.

Kesunahan mengucapkan Amin/ ãmin juga berlaku bagi yang membaca surat al-Fatihah di luar salat. Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ syarh al-Muhadzzab menyatakan:

قَالَ أَصْحَابُنَا وَيُسَنُّ التَّأْمِينُ لِكُلِّ مَنْ فَرَغَ مِنْ الْفَاتِحَةِ سَوَاءٌ كَانَ فِي صَلَاةٍ أَوْ خَارِجَهَا قَالَ الْوَاحِدِيُّ لَكِنَّهُ فِي الصَّلَاةِ أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا

Ashhab kita (ulama mujtahid dalam mazhab Syafi’i) berpendapat bahwa disunahkan mengucapkan amin bagi setiap orang yang selesai membaca surat al-Fatihah, baik di dalam salat maupun di luar salat. Al-Wahidi berpendapat bahwa di dalam salat lebih dianjurkan.

Ucapan amin makmum dalam salat berjamaah dianjurkan untuk diucapkan bersamaan dengan ucapan amin imam, tidak sebelum atau sesudahnya. Dalil-dalil tentang aturan mengucapkan amin tersebut banyak ditemukan dalam hadis Rasulullah SAW, di antaranya adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” إذَا امن الامام فأمنوا فلانه مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Apabila imam mengucapkan amin, maka ucapkan juga lah amin oleh mu (para makmum). Sesungguhnya siapa yang bersamaan ucapan ãminnya dengan ucapan amin para malaikat, Allah ampuni dosanya yang terdahulu. (H.R. al-Bukhari, Muslim, Malik, Abu Daud, al-Tirmidzi, dan lain-lain)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَيْضًا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” إذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِينَ قَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَإِنْ وَافَقَتْ إحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Apabila salah seorang kamu mengucapkan amin, maka para malaikat di langit juga mengucapkan amin. Sesungguhnya siapa yang bersamaan ucapan ãminnya dengan ucapan amin para malaikat, Allah ampuni dosanya yang terdahulu. (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

فِي رِوَايَةٍ لَهُ ” إذَا قَالَ الْإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”

Dalam riwayat lain: Apabila imam selesai membaca ghairil maghdlubi ‘alaihim wa laadldlallin, maka ucapkanlah amin. Sesungguhnya siapa yang bersamaan ucapan aminnya dengan ucapan amin para malaikat, Allah ampuni dosanya yang terdahulu. (H.R. al-Bukhari dan Muslim, ini redaksi riwayat al-Bukhari)

وَلَفْظُ مُسْلِمٍ ” إذَا قَالَ الْقَارِئُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ولا الضالين فَقَالَ مَنْ خَلْفَهُ آمِينَ فَوَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ أَهْلِ السَّمَاءِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”

Dalam redaksi riwayat Muslim: Apabila qari’ (imam) selesai membaca ghairil maghdlubi ‘alaihim wa laadldlallin, maka orang yang di belakangnya ucapkanlah amin. Sesungguhnya siapa yang bersamaan ucapan ãminnya dengan ucapan amin para penduduk langit (malaikat), Allah ampuni dosanya yang terdahulu. (H.R. al-Bukhari dan Muslim, ini redaksi riwayat Muslim)

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَيْضًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” إذَا أَمَّنَ الْقَارِئُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Apabila qari’ (imam) mengucapkan amin, maka ucapkan juga olehmu amin. Sesungguhnya para malaikat juga mengucapkan ãmin. Siapa yang bersamaan ucapan ãminnya dengan ucapan amin para malaikat, Allah ampuni dosanya yang terdahulu. (H.R. al-Bukhari)

 عَنْ وَائِلِ ابن حُجُرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ” سَمِعْتُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ غَيْرِ المغضوب عليهم ولا الضالين فقال آمين مد بها صوته ” رواه ابودواد وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي دَاوُد ” رَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ ” وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ كُلُّ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ إلَّا مُحَمَّدَ بْنَ كَثِيرٍ الْعَبْدَيَّ جَرَّحَهُ ابْنُ مَعِينٍ وَوَثَّقَهُ غَيْرُهُ وَقَدْ رَوَى له البخاري

Dari Wail bin Hujur RA, ia berkata: Aku mendengar Nabi Muhammad SAW membaca ghairil maghdlubi ‘alaihim wa laadldlallin, lalu beliau mengucapkan amin, beliau memanjangkan suaranya. (H.R. Abu Daud dan al-Tirmidzi, al-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.) Dalam riwayat Abu Daud dengan redaksi: Beliau mengangkat suaranya. (H.R. Abu Daud, sanadnya hasan, seluruh rijal hadisnya tsiqah, kecuali Muhammad bin Katsir al-‘Abdi yang dijarh/dianggap cacat oleh Yahya bin Ma’in, tetapi para ulama ahli hadis lainnya menganggapnya tsiqah, dan al-Bukhari meriwayatkan darinya).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ أُمِّ الْقُرْآنِ رَفَعَ صَوْتَهُ فَقَالَ آمِينَ ” رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالدَّارَقُطْنِيِّ وَقَالَ هَذَا إسْنَادٌ حَسَنٌ وَهَذَا لَفْظُهُ وَقَالَ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَفِي رواية ابي داود ” وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا تَلَا غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ قَالَ آمِينَ حَتَّى يَسْمَعَ مَنْ يَلِيهِ مِنْ الصَّفِّ الْأَوَّلِ ” رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَزَادَ فَيَرْتَجُّ بِهَا الْمَسْجِدُ

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW apabila selesai membaca ummul qur’an (surat al-Fatihah) beliau mengangkat suaranya dan mengucapkan amin. (H.R. Abu Daud, al-Daruquthni, dan Ibn Majah). Al-Daruquthni mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan. Ini adalah lafaz riwayat dari al-Daruquthni. Al-Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih. Dalam riwayat Abu Daud dengan redaksi: Rasulullah SAW apabila selesai membaca ghairil maghdlubi ‘alaihim wa laadldlallin, beliau mengucapkan amin (dengan suara dikeraskan) sehingga didengar oleh orang yang mengikutinya di saf pertama. Dalam riwayat Ibn Majah ditambah dengan redaksi: Sehingga masjid bergemuruh akibatnya (mengucapkan amin tersebut).

 وَقَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ أَخْبَرَنَا حكم بن خَالِدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ الْأَئِمَّةَ ابْنَ الزُّبَيْرِ وَمَنْ بَعْدَهُ يَقُولُونَ آمِينَ وَمَنْ خَلْفَهُمْ آمِينَ حَتَّى إنَّ لِلْمَسْجِدِ لَلَجَّةً وَذَكَرَ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ هَذَا الاثر عن ابن الزبير تعليقا

Imam Syafi’i berkata dalam kitab al-Umm: Hakam bin Khalid mengabarkan kepada kami dari Ibn Juraij dari ‘Atha’, ia berkata: Aku mendengar para imam, yakni Ibn Zubair dan imam-imam setelahnya mengucapkan amin, begitu juga orang yang mengikuti mereka di belakangnya juga mengucapkan amin, sehingga masjid pun bergemuruh. Al-Bukhari menyebutkan atsar ini dalam kitab sahihnya dari ibn Zubair secara muallaq.

Baca Juga: Hukum Membaca Taawudz dalam Salat

***

Tentang redaksi amin, maka ada beberapa cara mengucapkannya sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam al-Majmu’ syarh al-Muhadzzab:

وَأَمَّا لُغَاتُهُ فَفِي آمِينَ لُغَتَانِ مشهورتان (أفصحهما) وأشهرهما وأجودهما عند العلماء آمىنَ بِالْمَدِّ بِتَخْفِيفِ الْمِيمِ وَبِهِ جَاءَتْ رِوَايَاتُ الْحَدِيثِ (وَالثَّانِيَةُ) أَمِينَ بِالْقَصْرِ وَبِتَخْفِيفِ الْمِيمِ حَكَاهَا ثَعْلَبٌ وَآخَرُونَ… وَحَكَى الْوَاحِدِيُّ لُغَةً ثَالِثَةً آمِينَ بِالْمَدِّ وَالْإِمَالَةِ مُخَفَّفَةَ الْمِيمِ وحكاها عن حمزة ولكسائي… وَحَكَى الْوَاحِدِيُّ آمِّينَ بِالْمَدِّ أَيْضًا وَتَشْدِيدِ الْمِيمِ قَالَ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَالْحُسَيْنِ ابن الْفَضْلِ…

Pertama, “ãmiin” diucapkan dengan memanjangkan hamzah dan meringankan bacaan mim. Cara membaca ini merupakan cara yang paling fasih, paling masyhur, dan paling bagus menurut para ulama.

Kedua, “amiin” diucapkan dengan memendekkan hamzah dan meringankan bacaan min. Cara membaca ini diriwayatkan oleh Tsa’lab dan lainnya.

Ketiga, “eemiin” diucapkan dengan memanjangkan hamzah serta mengucapkannya dengan imalah (antara fathah dan kasrah) dan dengan meringankan bacaan mim. Cara membaca ini diriwayatkan dari Hamzah dan al-Kisai.

Keempat, “aammiin” diucapkan dengan memanjangkan hamzah dan mentasydidkan huruf mim. Cara membaca ini diriwayatkan oleh al-Wahidi dari al-Hasan al-Bashri dan al-Husain bin al-Fadl. Cara membaca ini dikomentari oleh para ulama sebagai cara membaca amin yang syadz (jarang dan menyelisihi yang lebih sahih), munkar, dan ditolak. Cara membaca ini merupakan salah satu cara membaca yang salah, tetapi banyak diucapkan oleh orang awam.

Adapun makna dari kata amin tersebut, Imam Nawawi menjelaskan:

قَالَ أَهْلُ الْعَرَبِيَّةِ آمِينَ مَوْضُوعَةٌ مَوْضِعَ اسْمِ الِاسْتِجَابَةِ كَمَا أَنَّ صَهٍ مَوْضُوعَةٌ لِلسُّكُوتِ قَالُوا وَحَقُّ آمِينَ الْوَقْفُ لِأَنَّهَا كَالْأَصْوَاتِ فَإِنْ حَرَّكَهَا محرك ووصلها بشئ بَعْدَهَا فَتَحَهَا لِالْتِقَاءِ السَّاكِنَيْنِ قَالُوا وَإِنَّمَا لَمْ تُكْسَرْ لِثِقَلِ الْحَرَكَةِ بَعْدَ الْيَاءِ كَمَا فَتَحُوا أَيْنَ وَكَيْفَ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي مَعْنَاهَا (فَقَالَ) الْجُمْهُورُ مِنْ أَهْلِ اللُّغَةِ وَالْغَرِيبِ وَالْفِقْهِ مَعْنَاهُ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ (وَقِيلَ) لِيَكُنَّ كَذَلِكَ (وَقِيلَ) افْعَلْ (وَقِيلَ) لَا تُخَيِّبْ رَجَاءَنَا (وَقِيلَ) لَا يَقْدِرُ عَلَى هَذَا غَيْرُكَ (وَقِيلَ) هُوَ طَابَعُ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ يَدْفَعُ بِهِ عَنْهُمْ الْآفَاتِ (وَقِيلَ) هُوَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْعَرْشِ لَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إلَّا اللَّهُ (وَقِيلَ) هُوَ اسْمُ اللَّهِ تَعَالَى وَهَذَا ضَعِيفٌ جِدًّا (وَقِيلَ) غَيْرُ ذَلِكَ قَوْلُهُ حَتَّى إنَّ لِلْمَسْجِدِ لَلَجَّةً هِيَ بِفَتْحِ اللامين

Ahli bahasa Arab menyatakan bahwa kata amin adalah kata yang dimaknakan dengan makna al-Istijabah (harapan agar dikabulkan), sebagaimana kata shah dimaknakan dengan makna perintah untuk diam. Kata amin tersebut pada dasarnya dibaca dengan waqaf (asalnya adalah ãmiina menjadi ãmiin). Namun, kalau bacaan amin tersebut tidak dibaca waqaf melainkan disambungkan dengan membaca kalimat setelahnya, maka harus dibaca dengan fathah huruf nun (harus dibaca ãmiina kalau disambungkan dengan kata setelahnya), tidak dibaca kasrah huruf nun-nya, sama seperti kata ayna dan kayfa.

Tentang makna kata amin, para ulama berbeda pendapat:

Pertama, menurut mayoritas ahli bahasa dan ahli fikih, makna kata amin adalah Ya Allah kabulkanlah.

Kedua, makna kata amin adalah supaya hendaknya demikian.

Ketiga, makna kata amin adalah tunaikanlah.

Keempat, makna kata amin adalah jangan Engkau sia-siakan harapan kami.

Kelima, makna kata amin adalah tiada yang mampu untuk itu selain Engkau.

Keenam, makna kata amin adalah cap stempel Allah untuk para hambaNya sebagai pengusir bala dan musibah

Ketujuh, makna kata amin adalah salah satu perbendaharaan arsy, tidak ada yang mengetahui maknanya selain Allah SWT.

Kedelapan, makna kata amin adalah salah satu asma Allah SWT.[]

Wallahu A’lam

Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Zamzami Saleh
Zamzami Saleh 60 Articles
Calon Hakim Pengadilan Agama, Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah MTI Canduang. Alumni al-Azhar Mesir dan Pascasarjana di IAIN IB Padang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*