Ibnu ‘Atha`illah Pun Awalnya Menentang Tasawuf

Ibnu ‘Atha`illah Pun Awalnya Menentang Tasawuf
Ilustrasi Dok. https://br.pinterest.com/pin/756534437400349349/

Seorang bapak yang biasa mengikuti pengajian saya bertanya, “Ustadz, kenapa tidak banyak para ustadz yang membuka kajian tentang tasawuf, apakah karena ia sesuatu yang salah, atau pembahasannya berat sehingga tak semua orang mampu mengkajinya?”

Dengan keterbatasan ilmu, saya menjawab, “Banyak faktornya, Pak… Diantaranya karena istilah ‘tasawuf’ dalam persepsi sebagian orang terlanjur negatif. Ini disebabkan banyak hal. Ada yang disebabkan oleh perilaku dan praktek ibadah orang-orang yang mengaku sufi dan ahli tariqat yang menyimpang sehingga muncul kesan bahwa memang begitulah tasawuf dan tariqat itu. Padahal, membebankan kesalahan oknum kepada komunitas adalah sesuatu yang salah, apalagi membebankan kesalahan oknum kepada suatu ajaran dan prinsip yang murni dan bersih. Ada juga karena keterbatasan bacaan dan sumber yang lebih terpercaya tentang tasawuf. Ada juga karena polemik yang terjadi antara orang-orang yang anti tasawuf dengan tokoh-tokoh tasawuf. Polemik ini menghalangi mereka untuk mengkaji tasawuf secara jernih dan murni.”

Baca Juga: Tadzkîr al-Ghabî: Interpretasi Syekh Burhanuddin atas Syarh al-Hikam Karya Ibnu Athailah as-Sakandari

☆☆☆

Sebenarnya, Ibnu ‘Atha`illah sendiri yang merupakan salah seorang tokoh ternama dalam dunia tasawuf yang dijuluki sebagai Shahib al-Hikam, awalnya juga menentang dan mengingkari tasawuf. Ini ia ceritakan dalam kitabnya Lathaif al-Minan. Dalam bukunya ini ia bercerita tentang pertemuannya dengan sang guru; Abu al-Abbas al-Mursi.

“Aku termasuk orang yang sering mengkritik dan menentang Syekh ini (maksudnya Abu al-Abbas al-Mursi). Bukan karena ada sesuatu yang meragukan yang aku dengar langsung darinya atau yang disampaikan orang yang bisa dipertanggungjawabkan informasinya, melainkan karena polemik (mukhasamah) yang terjadi antaraku dengan beberapa orang muridnya. Itulah yang membuatku berkomentar negatif tentang mereka.

Tapi suatu hari aku berkata pada diri sendiri, “Mungkin ada baiknya aku pergi langsung mendengarkan perkataan orang ini (Syekh Abu al-Abbas). Orang yang benar tentu akan tampak tanda-tandanya (baik dalam perkataan maupun perbuatannya). Akhirnya aku datang ke majelisnya.

Setibanya di majelis Abu al-Abbas, aku mendengar ia bicara tentang nafas (waktu) dan dzauq (rasa), tingkatan orang-orang yang berjuang menuju Allah (salik) dan sejauh mana pengenalan dan kedekatan mereka dengan-Nya.

Ia (Abu al-Abbas) berkata, “Pertama adalah Islam. Ini derjat ketundukan, kepatuhan dan melaksanakan seluruh aturan syariat. Kedua adalah Iman. Ini derjat hakikat (inti) dari syariat dengan mengenali implikasi (lawazim) dari penghambaan. Ketiga adalah Ihsan. Ini adalah maqam (level) ‘menyaksikan’ (syuhud) al-Haqq SWT di dalam hati. Engkau bisa mengatakan, pertama ibadah (عبادة), kedua ubudiyyah (عبودية), ketiga ubudah (عبودة). Engkau juga bisa mengatakan, pertama syariat (شريعة), kedua hakikat (حقيقة), ketiga tahaqquq (تحقق).”

Ia terus berkata, “engkau bisa mengatakan… engkau bisa mengatakan…” hingga aku tertegun dan merasa sangat takjub dengan kedalaman pemahamannya. Akhirnya aku tahu bahwa orang ini ‘menyauk’ dari karunia lautan ilahi. Setelah itu hilanglah semua yang aku rasakan sebelumnya (penentangan, ketidaksetujuan dan sebagainya).

Malam itu aku pulang ke rumah. Aneh, aku tak merasa ada hasrat untuk berkumpul dengan keluarga seperti kebiasaanku sebelumnya. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi aku tidak tahu apa itu? Hatiku merasa disentuh oleh sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Akhirnya keesokan harinya aku kembali lagi ke majelis orang itu.

Ketika aku tiba di majelisnya, ia berdiri menyambutku penuh gembira. Akupun merasa malu. Aku merasa tidak pantas dihormati seperti itu. Kata pertama yang terucap dari mulutku padanya adalah, “Tuan, demi Allah, aku mencintaimu.” Ia pun membalas, “Dan akupun mencintaimu.”

Baca Juga: Masyayikh Tarekat (16): Khawaja Muhammad Ala’udin Athar (802 H./1399 M.)

Kemudian aku mengeluhkan padanya keresahan dan gundah-gulana yang kurasakan. Ia berkata:

“Seorang hamba ada dalam empat kondisi saja; nikmat (نعمة), ujian (بلية), taat (طاعة) dan maksiat (معصية). Kalau engkau berada dalam nikmat maka hak Allah terhadapmu adalah bersyukur. Kalau engkau berada dalam ujian maka hak Allah terhadapmu adalah bersabar. Kalau engkau berada dalam taat maka hak Allah terhadapmu adalah engkau merasakan semua itu datang dari-Nya. Kalau engkau berada dalam maksiat maka hak Allah terhadapmu adalah memohon ampun.”

Setelah mendengar itu, akupun pamit. Seluruh keresahan dan gundah-gulana yang kurasakan tadi hilang seperti baju yang baru saja aku tanggalkan.”

من كانت بدايته محرقة كانت نهايته مشرقة
التصوف الإعراض عن الاعتراض

[YJ]

Yendri Junaidi
About Yendri Junaidi 56 Articles
Alumni Perguruan Thawalib Padangpanjang dan Al Azhar University, Cairo - Egypt

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*