Ibu yang Menggendong Cahaya di Dadanya (Monolog Setengah Babak)

Ibu yang Menggendong Cahaya di Dadanya (Monolog Setengah Babak)
Ilustrasi/Skets: karya Abu Bakar

(Sebuah panggung gulita di titik semesta. Waktu seperti berhenti. Suara-suara mati. Entah sampai berapa lama. Sampai kemudian terdengar langkah diseret, pelan dan hati-hati, lalu terdengar senandung-senandung kecil, ngilu dan sedih. Secuil cahaya menyeruak dari balik kerudung hitam seorang perempuan baya yang bersenandung lirih. Ia menyeret langkah di tepi panggung, lalu berhenti. Semesta panggung kini mendapat satu-satunya cahaya yang berdenyar dari lilin si perempuan. Maka kita sebut saja ia sebagai Ibu Cahaya. Makin terang ketika ia sibak kerudungnya, karena cahaya yang terkurung kini lepas menyinari sisi panggung. Bersama cahaya yang membuka, ia mulai bicara)

Ibu Cahaya:
Jauh sudah aku berjalan, dari kelam ke kelam, menembus kegelapan; masih belum kudapat cahaya lain untuk menemani cahaya yang kubawa ini. Jika ada titik-titik kecil cahaya di bumi, akan kurengkuh ia, kusatukan, dan dalam kelam yang sepekat ini tentu ia akan muncul jadi penerang di tengah kuasa kegelapan. O, cahaya, di mana-mana pun cahaya, telah pudur dan lampus, tiada jejaknya! Ke mana suluh para peladang yang berjalan di pematang, di mana obor para pejalan yang melintasi gurun, di mana lentera para pelaut, lampu damar para perimba, juga blencong-blencong pada kelir? Aku mencarimu, cahaya yang lahir dari jiwa-jiwa kecil-papa, yang menyala di rumah dan pondok-pondok sepi, tapi bahagia dan sahaja hati para penghuni. Aku mencarimu…Juga cahaya lampu teplok yang menyinari anakku mengaji, di mana kini?

(Ia menerawang. Lamat-lamat terdengar irama seperti nyanyian. Ia simak takzim, sesekali sambil tersenyum)

Pergi mengaji
Kuraut lidi nyiur hijau
Sarung lusuh, sedekah lampu
“Lecut, lecutlah aku guru
Agar terbaca alif lam yamu…”

Duduk bersila di tikar pandan
Di lantai surau kankku
Kubaca-baca kitab diri
Sambil menyimak petuah buya
Tentang hidup dan mati
Dunia-akhirat
Surga dan neraka

Kini di manakah aku mengaji
Di antara gemerlap sinar dunia
Di manakah surauku dulu
Roboh sudah dihala waktu

(Tiba-tiba angin mendesau keras. Cahaya petir berkelabat, lalu berdentam. Sang ibu berjuang membungkus cahayanya ke balik kerudung, susah-payah menjaga supaya tidak padam. Sekilas tampak seperti ia melindungi bayinya dari udara dingin)

Baca Juga: Puisi-puis Raudal Tanjung Banua I

Hus, hus! Jangan takut, Nak, hanya petir. Hujan akan turun. O, mungkin lebih baik, supaya mendung tak lama-lama menggantung. Supaya langit cepat bersih dan bintang terbit. (Dalam kelabat petir berikutnya, ia melihat sebuah dangau) Ah, sebuah dangau. Kita berteduh di sana, seperti kita dulu berteduh di ladang kita dari hujan dan panas. Ayo, ayo! (ia bergegas untuk berteduh di dangau) Nah, hujan turun membasuh bumi kelahiranmu. Cup, cup, jangan menangis, Nak. Langit, sebentar akan benderang. (Berdendang) Tidurlah, anak, tidurlah sayang, tidur berbuai di gendongan; mari anak picingkan mata, picingkan mata di dekap bunda. Anak manis jangan menangis, orang menangis lambat besarnya…

(Hujan perlahan reda, angin reda. Kini langit bersih dan bintang-bintang menyala dalam kabut) Ah, hujan yang sebentar. Tapi cukup menidurkan buah hatiku. Ia tak menangis, karena itu cepat besarnya. Ia tak mengeluh karena tahu keadaan ayah-ibunya. Ia menerima dirinya sebagai anak yang patuh, manis dan sopan. Maka kuantar ia ke surau, mengaji dari malam ke malam, walau hanya diterangi lampu teplok setengah kantuk. Kuantar ia ke sekolah di batas kampung walau hanya bangunan tua setengah lapuk. Besarlah ia dalam kasih kami sekeluarga. Namun apa daya. Pada saat ia harus melanjutkan sekolah lebih tinggi, ayahnya meninggal karena sakit. Bukan sakit tua dan lelah, bukan sesak nafas mengolah sawah ladang, tapi sakit karena kecewa. Betapa tidak. Sawah-ladang kami diambil paksa sekelompok orang yang entah dari mana datangnya; mereka cabut pancang dan batas lahan, lalu mereka kirim mesin-mesin raksasa membuka kebun sawit seluas semesta. Musnah sudah pondok dan huma kami, tak berdaya kami seisi desa. Lalu suamiku menderita sakit, tak bangkit lagi. O, anakku sayang, anakku malang, bagaimana hendak kau gapai cahaya bintang-bintang?

(Lama ia menatap langit penuh bintang, mengenang. Tiba-tiba sebuah cahaya melesat dari langit. Perempuan itu tergeragap) Persis! Persis seperti ini dulu ketika anakku memutuskan pergi. Ketika ia lihat bintang jatuh dan ia baca sebagai isyarat baik. Ia pamit padaku, berlutut di nisan ayahnya, ia pamit hendak ke kota. Katanya, apa pun yang terjadi ia mesti melanjutkan sekolahnya, menggantung cita-cita setinggi bintang di langit. (Menirukan suara anaknya) Bu, ikhlaskan aku pergi. Akan kucoba mengadu untung demi hari esok. Percayalah, tak akan aku melupakan ibu, nasihat-nasihat ibu, kasih ibu. Tak akan aku melupakan ayah, batu nisan ayah, penyebab kematian ayah. (Kembali ke suaranya sendiri) Pergilah, Nak, ibu ikhlaskan engkau dalam doa. Badan ibu boleh tak kau ingat, batu nisan ayahmu boleh kau lupa, tapi nasihat dan nilai hidup yang kami tanamkan, itu benar yang tak boleh kau lupa. Itu cahaya bagi hidupmu, supaya tak karam di daratan, tak binasa di lautan. (Menirukan memeluk anaknya, lalu berdiri ngungun seperti orang melepas kepergian. Lalu ia terceguk menahan tangis)

Kini bertahun-tahun ia pergi, tak pernah kembali. Tapi bukan itu yang membuatku menangis. Tak pernah kusesali nasib baik yang menuntun hidupnya, sekalipun ia tak ingat aku lagi. Mendengar ia berhasil menjadi orang penting di kota, sebagai ibunya aku sudah senang. Biarlah aku tak dijenguk, biarlah nisan ayahnya tak diziarahi, biarlah hanya utusannya saja yang datang kepadaku. Sekali pernah aku diajak utusannya ke kota, tapi aku menolak dengan mengatakan biarlah aku menjaga sepetak sisa tanah yang kupunya. Kutitip buah yang kupetik dari pohon yang kutanam, kubungkusi kue ketela yang dulu ia suka. Semoga ia senang, dan dalam kesibukannya sesekali bisa mengenang. (Tiba-tiba ia meraung) Tapi, oalah, laknat apa, dosa apa, kenapa keberhasilan anakku tak membuat jiwaku tenteram? Hatiku goncang. Aku merasa cahaya yang kutitip padanya padam. Bukan karena ia tak pulang. Tapi kudengar kabar-kabar menghambur, menghajar dada seorang ibu yang setia mendoakannya…

Tahukah ia bahwa tiap kali ia rogoh laci kantornya, sesungguhnya ia merogoh hatiku yang tercabik? Tahukah ia tiap ia teken surat-surat tanpa alamat ia bagai menoreh punggungku dengan ujung besi? Tiap ia terima setoran dan upeti dari mereka yang takluk, ia telah menguras air mata dan sumsumku? Tiap ia meludah dan muntah karena kenyang, ia meludah di wajahku, meludahi seorang ibu yang ditinggal si anak hilang? Maka, dengan sisa cahaya yang kumiliki, kucari dia, kucari anakku yang tersesat di silau cahaya dunia. Cahaya kota-kota, berjuta neon. Itu bukan cahaya sejati, bukan itu yang kucari. Aku hanya mencari cahaya kecil dari hati, tak padam oleh cuaca apapun. Tapi jauh sudah aku berjalan, dari kelam ke kelam, menembus kegelapan; masih belum kudapat cahaya lain untuk menemani cahaya yang kubawa ini, buat kupersembahkan kepada anakku lanang. Sebelum terlambat. Sebelum semesta sempurna kelam. Tapi jika ia menolak, biarkan cahaya yang kubawa membakar dirinya dan semua yang ia miliki. Jika saat itu tiba, aku ikhlas sepenuhnya, tanpa harus mengutuk; cukup cahaya dalam dadaku yang akan melaknatnya…

Baca Juga: Suara Toa d Bukit-bukit

(Ia segera melangkah menjauhi dangau. Tapi tiba-tiba sebuah cahaya sorot jatuh dari menara, seperti mercu suar yang berputar. Terdengar gema suara dari mikrofon)

Suara Mikrofon:
Siapa di sana?! Siapa di sana!

Ibu Cahaya:
Saya!

Suara Mikrofon:
Saya siapa?!

Ibu Cahaya:
Saya yang menderita. Pertiwi. Ya, Pertiwi namaku. Aku ibu seorang anak, o, tidak, ibu berjuta anak…

Suara Mikrofon:
Cukup! Jangan bertele-tele. Segera menyingkir. Sebentar lagi akan ada rombongan lewat. Jangan mengganggu lalu-lintas.

Ibu Cahaya:
Dalam semesta segelap ini, rombongan apa yang akan lewat?

Suara Mikrofon:
Jangan cerewet! Menyingkir, cepat!

(Dari luar panggung terdengar raung serine beserta cahaya merah yang berputar-putar liar. Seorang bertubuh kekar menarik Ibu Cahaya menyingkir)

Ibu Cahaya:
Tidak, biarkan aku tegak di sini! Ini pasti rombongan anakku, kali ini aku ingin membuatnya berhenti. (Tapi laki-laki kekar itu terus menariknya ke tepi panggung. Si Ibu mulai histeris) Biarkan aku! Ini belum selesai! Aku belum menceritakan semuanya. Dan kalian belum tahu bagaimana akhir dari semua ini. Ini baru setengah babak. Belum berakhir. Lepaskan aku! (Ia didorong ke pinggir panggung, dan sambil terhuyung-huyung tubuhnya lenyap dalam gelap. Tapi suaranya masih terdengar mencekam) Ini belum selesai! Ini baru setengah babak! Tunggu aku! Aku akan lanjutkan babak ini di luar panggung, di pasar-pasar, di kantor-kantor, di jalan-jalan….


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua 13 Articles
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*