Idul Fitri dan Pelajaran Berharga dari Pandemi Covid-19: Khutbah Idul Fitri 2020 (Bahan Bacaan)

Idul Fitri dan Pelajaran Berharga dari Pandemi Covid-19 Khutbah Idul Fitri 2020 (Bahan Bacaan)
Khutbah Jumat dengan memakai masker di Masjid Nasional Al Akbar, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/3/2020). /Dok. Tribubun.com

Khutbah Idul Fitri 2020

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحمَْةُ للهِ وَ برََكَا تُه

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُ مَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ وَﺑَﺎرِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا ﺑَﺎرَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَِ في اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حمَِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَمَّا بَعْدُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Segala pujian hanyalah milik Allah swt, dzat yang Maha Perkasa pengatur alam semesta ini. Marilah kesombongan dan keangkuhan yang selama ini ada dalam dada, kita buang jauh-jauh dengan memohon belas kasihan dan kasih sayang-Nya semoga dosa-dosa kita diampuni-Nya. Shalawat serta salam kita sanjung agungkan kepada junjungan Nabi dan Rasul Allah yang tidak diragukan lagi kecintaan kepada ummatnya yaitu Nabi Muhammad saw. Karena ajaran beliaulah kita senantiasa menjaga kebersihan lahir dan bathin.

Suasana Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2020 ini kita hadapi di tengah suasana yang mengkhawatirkan, semoga khutbah Idul Fitri ini memberi pencerahan bagi masyarakat Muslim yang bingung dan gamang dalam menghadapi masa wabah virus corona atau yang lebih dikenal dengan Covid-19. Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 sehingga ada anjuran Pemerintah dan Ulama agar kita tetap berada di rumah (stay at home), bekerja di rumah (work from home), belajar di rumah (e-learning from home), dan beribadah di rumah (pray at home), dengan cara tidak melakukan shalat jamaah di masjid, termasuk shalat Jumat dan Taraweh selama Ramadhan.

Suasana baru seperti ini akhirnya menunjukkan perbedaan yang menyolok antara orang yang berilmu dan orang yang hanya sekedar menjalankan ibadah saja. Bagi yang berilmu seperti ulama kelihatan tenang dan tidak terlihat panik sama sekali ketika ada himbauan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat, Rawatib, Tarawih dan Id secara berjamaah di masjid atau di lapangan.

Mereka paham fleksibilitas hukum Islam; mereka menyelami sejarah tasyri’ (legislasi Islam); mereka mengkaji penerapan dalil-dalil naqli dan ‘aqli dalam suasana tertentu. Sungguh nyata perbedaan antara orang yang berilmu dengan tidak berilmu.
Semakin tinggi ilmu yang dimilikinya maka pengamalan ibadahnya semakin fleksibel. Semakin sedikit ilmu yang dimilikinya maka rendah juga pemahaman ibadahnya, beda orang berilmu dengan tidak Allah isyaratkan dalam surat Az Zumar ayat 9:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وٱلَّذِ ينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah wahai Muhammad apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang tidak berilmu.” (QS. Az Zumar : 9).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Bencana pandemi Covid-19 adalah realitas global yang menerjang tatanan kehidupan umat manusia dari level internasional, hingga rumah tangga. Kemunculannya menyerang siapa saja yang dapat terjangkiti, tanpa memandang negara, agama, suku, ataupun strata sosial lainnya. Corona menjadi musuh bersama yang harus dilawan dengan cara, memutus mata rantai penyebarannya. Tidak elok jika masih ada yang selalu merespons penanganan Covid-19 ini dengan kecurigaan politis dan bermain politik demi ambisi kekuasaan sesaat. Tidak layak juga jika ada yang mencoba mengeruk keuntungan materi dalam situasi pandemi seperti ini.

Covid-19 ini adalah musibah yang mengglobal. Virus ini tidak memilih sasarannya hanya berdasarkan pertimbangan keagamaan ataupun aliran tertentu. Siapapun memiliki potensi terpapar jika imun tidak kuat, tidak menerapkan pola hidup sehat, ataupun tidak menerapkan physical distancing. Covid-19 bukanlah tentara Allah swt, yang tidak akan menargetkan hamba-Nya yang menjalankan keshalehan spiritual normatif. Keshalehan bukan jaminan terhindar dari virus mematikan ini. Allah swt, memperingatkan siapapun dalam surat Al-Anfal ayat 25:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِ ينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّة وَاعْلَمُوا أَنَّ اﻟَّﻠﻪَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksa yang sekali-kali tidak hanya menimpa secara khusus orangorang yang zalim di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah swt, sangat keras pembalasan-Nya”. (QS. Al-Anfal : 25).

Hikmah dari bencana pandemi Covid-19 telah mengajarkan kita berbagai keteguhan bertauhid dan pengamalan ibadah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi saw. Kita dapat belajar dari beberapa contoh di masa Nabi. Nabi pernah menegur salah seorang sahabat karena membiarkan ontanya tidak tertambat dengan dalih tawakkal kepada Allah swt, sementara ia masuk masjid hendak shalat. Nabi pernah menganjurkan tinggal di rumah daripada ke masjid hanya karena hujan lebat yang menakutkan. Nabi pernah berujar agar yang sakit tidak bercampur dengan yang sehat, orang sakit cukup di rumah saja:

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ ؟ فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ “

“Dari Siti Aisyah ra, ia berkata, ‘Ia bertanya kepada Rasulullah saw perihal tha‘un, lalu Rasulullah saw memberitahukanku, zaman dulu tha’un adalah azab yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tiada seseorang yang sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di rumahnya dengan bersabar serta mengharapkan ridha ilahi seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid.’’ (HR Ahmad).

Masalah kebersihan misalnya, Islam menganjurkan tentang thaharah atau kebersihan seperti mencuci tangan. Imbauan ahli kesehatan untuk sering mencuci tangan itu merupakan penegasan akan tradisi thaharah dalam Islam. Islam identik dengan kebersihan, bahkan diposisikan sebagai bagian dari iman. Bahkan bab kitab Fikih selalu diawali dengan uraian tentang bersuci, baru disusul dengan uraian lainnya seperti shalat dan seterusnya. Rasulullah saw, mengajarkan pola hidup bersih. Anggota tubuh yang dibersihkan ketika berwudhu pun adalah yang frekuensi aktivitasnya lebih dominan berpotensi bersentuhan dengan virus, seperti tangan, muka (termasuk mulut dan hidung), kepala (termasuk telinga), dan kaki. Pakaian dan tempat yang digunakan juga harus terbebas dari najis. Berwudhu ini adalah salah satu ritual dan kebiasaan yang dapat berfungsi preventif terhadap tertularnya dari berbagai penyakit.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Musibah Covid-19 ini meniscayakan kebersamaan dan solidaritas segenap pihak untuk mengatasinya. Pemerintah menjalankan perannya sebagai pengambil kebijakan, ulama memberi fatwa dan masyarakat mematuhi dan menjalankannya dengan baik adalah peran kewargaan yang sangat dibutuhkan. Yang kaya atau berpunya memberi bantuan, berupa sembako, makanan, uang, dan selainnya kepada yang terdampak Covid-19. Kebersamaan dalam menangani Covid-19 akan menjadi perekat solidaritas bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sifat kegotongroyongan yang menjadi karakteristik masyarakat Indonesia harus semakin mewujud dalam keseharian kita.

Sesuatu yang tidak terduga sebelumnya Ramadhan tahun ini, diiringi pandemi Covid-19 yang melanda, sehingga telah merusak pelbagai tatanan kehidupan, baik sosial, politik, budaya, bahkan keagamaan. Tahun ini, segala kesemarakan dan syiar Ramadhan harus diredam. Kita berharap semoga hanya tahun ini umat Islam menjalani Ramadhan dengan lebih banyak di rumah saja (stay at home). Pasalnya, prinsip Islam mendudukkan posisi keselamatan jiwa manusia di posisi tinggi dan prioritas. Akibatnya, setiap hal yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa manusia harus dihindari, termasuk syiarnya.

Terlepas dari itu, suasana berpuasa dengan banyak di rumah telah memberi banyak waktu untuk kita memperbanyak bacaan Al-Qur’an, zikir, belajar, bekerja dari rumah, shalat sunnat, dan semakin dekat dengan keluarga, berbagi takjil, bershdaqah kepada orang yang berkekurangan, terutama yang terdampak Covid-19 ini. Hikmah yang tidak terbayang bahwa kita telah menjadikan rumah sebagai syurga, seorang ayah sebagai kepala rumah tangga telah menjadi imam shalat bagi keluarga yang mungkin selama ini tidak pernah atau jarang menjadi imam.

Dalam masa pandemi Covid-19 ini, bisa jadi sebagian masyarakat kehilangan kesempatan untuk bekerja, mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Zakat dari para muzakki akan sangat membantu kehidupan mereka yang terdampak secara ekonomi. Di sinilah kesempatan emas bagi umat Islam yang berkecukupan untuk mentasurufkan zakat harta, memperbanyak infaq dan shadaqah sebagai bukti kasih sayang antara sesama Muslim.

Sebagai akhir dari perjalanan spiritual Ramadhan, kita merayakan Idul Fitri. ‘Ied berarti hari raya dan juga seakar dengan makna kata kembali. Fitri berarti suci, berbuka, dan awal penciptaan. Merayakan Idul Fitri berarti merayakan kesucian diri, kembali ke awal penciptaan seperti bayi yang baru lahir. Idul Fitri juga berarti bergembira karena sudah boleh makan dan minum di siang hari bahkan haram hukumnya seseorang berpuasa pada hari itu. Sejalan dengan imbauan Pemerintah untuk pembatasan sosial berskala besar, maka tradisi bermaafan dalam rangkaian hari raya Idul Fitri, dengan kontak fisik bersalaman langsung, tentu lebih baik ditiadakan dulu. Kegiatan bermaafan juga dapat dilakukan melalui media komunikasi, seperti telepon, hand phone, SMS, percakapan melalui media sosial dan semisalnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Substansi perayaan ‘Ied adalah Pertama, memperdalam hubungan di antara umat dan memperkuat ikatan iman satu sama lain; Kedua, keluar sejenak dari kebiasaan atau rutinitas hidup yang monoton; Ketiga, menggembirakan keluarga, orang tua, sanak saudara, dan sahabat, terlebih bila sebelumnya berpisah atau berjauhan tempat tinggal; Keempat, berekreasi, menunjukkan kegembiraan, kesenangan, dan kebersamaan. Kelima, mengingatkan hak para fakir miskin, orang lemah, dan orang yang berkebutuhan, termasuk mereka yang terdampak pandemi Covid-19.

Islam meminta kita untuk berikhtiar hidup sehat, menjaga keselamatan jiwa, dan cermat dalam beragama. Agama tidak identik dengan pembekuan logika, melainkan mengoptimalkan akal dalam beragama secara proporsional. Dinamika persoalan yang menyertai keseharian kita dapat terjawab dengan baik jika logika beragama tidak ditanggalkan. Dengan begitu, agama tetap selalu hadir dalam kelabu musibah Covid-19 ini.

Oleh sebab itu dalam situasi ini, kita diminta untuk memperbanyak doa, istighfar, shalawat, zikir, dan bacaan Al-Qur’an. Kita semua berdoa semoga musibah ini segera berlalu dan situasi kembali normal dan lebih baik lagi. Kita mengambil hikmah dari musibah ini bahwa kita semakin dekat kepada Allah swt, lebih banyak waktu bersama keluarga di rumah, lebih luang waktu berkomunikasi dengan orang terdekat, kolega, rekan dan tetangga.

Demikian, khutbah Idul Fitri semoga kita terhindar dari segala marabahaya terutama dari Covid-19 dan semoga Covid-19 segera lenyap.

أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، للهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ.  الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: )وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر(ِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ رَبَّنَا اغْفِرْ وََارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ

Doa Selesai Khutbah Idul Fitri:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ على كل حال حَمْدًايُوَافِى نِعَامَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغَىْ لِجَلاَلِ وِجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِك اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْن

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْ لِمَاتِ وَالْمُ ؤْمِنِيْنَ والْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سمَِ يْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّ عْوَاتِ

Ya Allah saat-saat yang syahdu ini, kami segenap hamba-hamba-Mu, berkumpul, bersimpuh di tempat yang suci yang penuh rakhmat, menyebut namaMu yang agung, berzikir, bermunajat kepadaMu dengan takbir, tahmid, dan tahlil.

Ya Allah, bersihkan hati dan jiwa ini dari hasad dan dengki, persatukan jiwa-jiwa ini dalam cinta karenaMu dan dalam ketaatan kepadaMu, jangan Engkau biarkan setan musuhMu menggerogoti persaudaraan kami.

Ya Allah, berilah bimbinganMu untuk pemimpin negeri ini agar dapat berlaku adil dengan syari’atMu di atas bumi yang tidak sejengkalpun melainkan milikMu.

Ya Allah yang Maha Menyelamatkan, Engkau pelindung kami, Engkau pemberi petunjuk orang-orang bingung, Engkau pemberi kecukupan orang yang kekurangan, Engkau pemberi ketenangan orang yang gelisah.

Ya Allah, yang sakit Engkau sembuhkan, yang lupa Engkau ingatkan, yang gelisah Engkau tenteramkan, yang sedih Engkau gembirakan, yang meminta Engkau beri dan kabulkan.

Ya Rabbi, ampuni kami atas kehilafan dan dosa kami kepada anak-anak kami, suami, isteri kami, belum mampu mendidik dan membahagiakan mereka.

Ya Allah, yang mengetahui segala keburukan aib dan maksiat, ampuni seburuk apapun masa lalu kami, tutupi seburuk apapun aib-aib kami.
Ya Rabb, karuniakan kami jasad yang terpelihara dari maksiat, terpelihara dari harta haram, makanan haram, perbuatan haram. Izinkan jasad ini pulang kelak, jasad yang bersih.

Ya Allah, bukakanlah lembaran-lembaran baru yang bersih yang menggantikan masa lalu kami.

Ya Allah Tuhan yang Maha Penyayang, sayangi kami, sayangi kedua orang tua kami, yang telah berpeluh lelah merawat dan mendidik kami. Ampuni setiap kata keras kami yang pernah terlontar pada mereka, Ya Allah. Ampuni sikap tak peduli kami atas mereka, Ya Rabb. Berikan kesempatan kami berbakti kepada mereka, Ya Allah. Lembutkan hati mereka untuk kami agar ridha mereka mengantar kami kepada RidhaMu, Ya Allah. Dan, jika Engkau telah mengambil mereka ke haribaanMu, maka basuhlah mereka dengan kelembutan ampunan dan rakhmatMu, serta pertemukan kami dengan mereka dalam keabadian nikmat syurga tidak akan nikmat tanpa bersama kedua orang tua kami.

Ya Rabb, bukakan pintu hati kami agar selalu sadar bahwa hidup ini hanya mampir sejenak, hanya Engkau tahu kapan ajal menjemput kami, jadikan sisa umur menjadi jalan kebaikan bagi ibu bapak kami, jadikan kami menjadi anak yang shaleh yang dapat memuliakan ibu bapak kami.

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ والجُنُونِ، والجُذَامِ، وَسَيِّئِ الأسْقَامِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن

Khutbah Idul Fitri Khutbah Idul Fitri Khutbah Idul Fitri Khutbah Idul Fitri Khutbah Idul Fitri

Share :
Alfitri
Alfitri 7 Articles
Alumni MTI Canduang, Ketua Umum DPC Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah Kodya Bandar Lampung 1995-2000, Saat ini Wakil Ketua Pengadilan Agama Tulang Bawang Barat dan Mahasiswa S3 Hukum Keluarga Raden Intan Lampung

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*