Ilmu Pelangkahan

Ilmu Pelangkahan
Ilustrasi/Dok.https://www.boyyendratamin.com/2014/01/langkah-dan-palangkahan.html

Kemarin saya sempat “nimbrung” pada webinar hasil penelitian Tradisi Keagamaan dan Manuskrip, Balai Litbang Agama Jakarta. Salah satu makalah yang dipresentasikan pada acara tersebut ialah “Manuskrip Ilmu Pelangkahan Minangkabau: Nilai Agama dan Budaya”. Saya memberikan sedikit ulasan mengenai Naskah Ilmu pelangkahan dari Belubus, dan menjawab beberapa pertanyaan yang muncul mengenai Pelangkahan Minangkabau itu sendiri, terutama yang berkaitan dengan hubungan pelangkahan dan kitab Abu Ma’syar al-Falaki plus Syamsul Ma’arif-nya Imam al-Buni.

Webinar ini mengingatkan saya kepada guru saya, belasan tahun yang lalu. Kira-kira tahun 2007, ketika saya akan mencoba merantau ke Kota Padang. Guru saya yaitu al-Marhum Tuangku Mudo Baliau Rasyid Zaini (1916-2008) mengajarkan beberapa kearifan, istilahnya bekal sebelum merantau. Sudah menjadi hal yang lumrah pada sebagian daerah, anak muda yang akan merantau terlebih dahulu dibekali dengan beberapa ilmu dan pengetahuan dalam hal kehidupan, termasuk di dalamnya kearifan tradisi.

Pelajarilah Ilmu Mantiq Supaya Tidak Salah Menyimpulkan Informasi

Saya masih ingat betul pertemuan saya dan sang guru hari itu; di teras rumahnya, di Limbabuang, Indobaleh Timur, Nagari Mungo. Banyak tunjuk ajar yang beliau berikan kepada saya waktu itu. Guru saya ialah seorang sesepuh di kampung kami. Hidupnya sudah melewati tiga zaman; membuat beliau kaya dengan pengetahuan, kearifan, dan pengalaman hidup. Mulai dari menjadi anak siak di pesantren, di Limbukan, hingga bersembunyi diri di hutan-hutan, di zaman revolusi. Sangat disayangkan, saya tidak sempat mencatat semua tunjuk ajar beliau tersebut dalam buku catatan. Seingat saya, diantara ajaran beliau, seperti bagaimana cara membaca sifat-sifat ayam yang baik (jika hendak menjadi peternak ayam), membaca sifat-sifat anjing (jika ingin menjadi peburu yang handal), dan lain-lain. Diantara yang saya catat ketika itu, selain beberapa mantera, yaitu “Ampek Galah Salapan”, kepandaian memprediksi waktu, yang dikenal dengan Ilmu Pelangkahan.

Ilmu Pelangkahan ialah pengetahuan memprediksi, berdasarkan kepada “tajarrubah” leluhur dahulu. Kapan waktu baik, kapan kurang baik, itu dibahas dalam kepandaian ini. Kemungkinan-kemungkinan bisa terjadi, namun ada kelaziman siklus hidup. Inilah kecakapan, ibaratnya membaca tanda alam, “gabak di hulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh.” Namun, perlu digaris bawahi, ia bukan seperti ilmu ramalan para kahin, yang dilarang syarak. Ia hanya semacam prediksi bersumber pada tajarrubah, yang tidak mempunyai atsar hakiki; berpegang tetap kepada kudrat dan iradat Allah semata.

Ada beberapa model Ilmu Pelangkahan tersebut, antara lain dengan memakai Ampek Galah Salapan tadi. Ada juga ulama di kampung memakai metode Abu Ma’syar al-Falaki. Selain itu ada lewat ghalib dan maghlub yang tertera dalam Kitab Tajul Muluk. Dan banyak yang lainnya.

Baca Juga: Balimau dan Kasai

Meskipun pernah belajar Ilmu Pelangkahan, saya nyaris tidak pernah menggunakannya. Entah kenapa. Ketika suatu urusan penting, biasanya saya hanya membaca basmalah dan shalawat ketika mengerjakan urusan tersebut; tanpa memandang kepada waktu-waktu dalam ilmu pelangkahan. Mungkin karena sudah kadung masuk dalam ranah akademis, sehingga ilmu-ilmu tersebut hanya sebagai pusaka usang, disimpan sama sekali.

Namun akhir-akhir ini, saya kembali mengingat kearifan ulama dulu itu. Ada kalanya digugah oleh penelitian-penelitian akademis mengenai hal itu, dan kadang dicongkel oleh kawan. Oleh sebab itu, belakangan saya mencoba mengingat kembali beberapa kearifan yang pernah didengar dan dipelajari tersebut. Mengingat juga kondisi zaman yang tidak menentu, dan keadaan sementara generasi. Kita mungkin boleh dapat bertawakkal dalam hidup ini, tanpa iringan sesuatu, tapi ada beberapa anak muda yang mesti dengan bersandar majazi kepada sesuatu baru ia dapat bertawakkal. Maka ilmu kearifan dan kepandaian ini ialah semacam sandaran majazi, sebelum betul-betul berenang dalam “Ilahi Anta Maqshudi wa-Ridhaka Mathlubi.”

“Keris”, “tameng”, “baju besi” dan lain-lain, perlu juga ditaruh. Walau tidak tahu, entah kapan ia dipergunakan. Begitu yang tua-tua berpetuah.[]

Apria Putra
Apria Putra 90 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*