Imam al-Ghazaly yang Menciptakan “Zaman”, Bukan Sekadar Teori

Imam al-Ghazaly yang Menciptakan Zaman, Bukan Sekadar Teori
Ilustrasi Dok. Istimewa

Pengaruh Imam al-Ghazaly dalam dunia Islam itu tidak terbatas dalam bidang agama apalagi sekadar teori untuk berceramah di dalam pesantren dan masjid saja. Tapi Imam al-Ghazaly berhasil mengubah perjalanan umat Islam setelah runtuhnya Baghdad di saat negara Islam terpecah jadi negara-negara kecil. Saat kelompok batiniyah merajalela. Kala Romawi dan Mongol mengepung Islam dan paling parah tentu kelakuan umat Islam sendiri yang kehidupannya dipenuhi oleh syahwat duniawi bahkan tokoh agama yang kehilangan ruh Islam dalam mengajarkan Islam. Bisa dikatakan Imam al-Ghazaly adalah titik balik dari dunia Islam menuju kejayaan untuk kedua kalinya. Ini yang membedakan al-Ghazaly dengan yang lain. Pengaruhnya tidak di dalam buku tapi praktis. Pemikiran yang luar biasa dan kedekatannya dengan tokoh-tokoh penguasa ditambah dengan kader yang beneran bisa memberi pengaruh nyata di masyarakat.

Karya-karya Imam al-Ghazaly terutama Ihya Ulumudin bisa dikatakan buku pokok era “renaisans Islam”. Seolah buku itu menjadi tafsir praktis bagi al-Qur’an dan hadis yang cocok diajarkan dan dijadikan kurikulum untuk dijadikan “ideologi” masyarakat. Dan faktanya buku ini akhirnya dijadikan buku wajib yang diajarkan di sekolah-sekolah di dunia Islam saat itu. Hampir semua raja soleh menjadikan buku ini sebagai inspirasi, dan dengan buku ini mereka mencoba merperbaiki dan membangun masyarakat mereka, baik dari sisi spritual, pemikiran bahkan gerakan praktis. Bukan hanya berhasil memperbaiki manusia secara pribadi, tapi juga berhasil mencetak tokoh-tokoh legenda dalam Islam, karena terinspirasi dari kitab Ihya Ulumudin.

Baca Juga: Kenapa Sebagian Orang Alergi dengan Kitab Ihya Ulumiddin?

Begitu juga dengan legenda dunia spritual seperti Sidi Abdul Qadir Jailany, Sidi Muhyiddin ibnu Araby, Sidi Abu Hasan Syazily, Sidi Ahmad ar-Rifai, dll, yang berhasil menjadi madrasah-madrasah besar yang mempengaruhi kehidupan spritual umat Islam setelah mereka. Begitu juga tokoh legenda dalam dunia pemikiran seperti Imam ar-Razy, Imam al-Amidy, Imam ibn Asakir, Imam Izza Abdissalam, dll yang berhasil menjadi madrasah besar yang mempengaruhi pemikiran umat Islam dalam menjalani hidup setelah mereka. Begitu juga tokoh pemimpin legenda seperti Nurudin Zenky, Salahudin al-Ayyuby, Malik Syah dan Wazirnya Nizamul Muluk, Muhammad al-Fatih, dll. semuanya Sultan yang berhasil mengubah warna sejarah Islam. Dan ini tentu sangat mempengaruhi umat Islam di wiliyah politik, kebudayaan bahkan kesenian. Bahkan akhirnya menjadi super power di zamannya.

Bisa dibilang era keemasan kedua bagi umat Islam yang berakhir sejak masuknya imperialisme Barat ke dunia Islam itu adalah “ERA AL-GHAZALY”, dan salah satu sebab utama runtuhnya era al-Ghazaly itu adalah ditinggalnya ajaran-ajaran Imam al-Ghazaly oleh kaum muslimin. Bahkan sampai sekarang sebagian kelompok dalam Islam sendiri malah ikut-ikutan menghilangkan Imam al-Ghazaly dan Ihya Ulumudin dari dunia Islam di mana seharusnya jadi inspirasi. Agak aneh memang, tapi itu yang dilakukan, sebagian muslimin menjauhkan umat dari Ihya dengan mempromosikan bahwa Ihya itu dipenuhi hadis palsu. Sebagian lainnya menjauhkan umat dari al-Ghazaly dengan terus mengulang-ulang bahwa al-Ghazaly sebab kemunduran. Padahal fakta yang terjadi sebaliknya. Ihya dan Imam al-Ghazalylah yang telah mencetak generasi keemasan seperti Salahudin, al-Fatih, dll. Wallahu alam.

Baca Juga: Pemikiran Al-Ghazali tentang Al-Qur’an, Tafsir, dan Takwil

Foto Syekh Anas Syarfawi seorang pentahqiqi puluhan buku al-Ghazali

Salah satu orang paling paham tentang Imam al-Ghazaly dan yang banyak menghidupkan turats beliau agar bisa mendekatkan al-Ghazaly dengan kehidupan muslimin adalah Syekh Anas Syarfawi. Puluhan buku Imam al-Ghazaly beliau tahqiq dengan tahqiq yang katanya salah satu paling baik di dunia.[]

Fauzan Inzaghi
Mahasiswa Indonesia di Suriah