Inyiak Canduang di Mata Abuya H. Zamzami Yunus Lasi (Murid Langsung Syekh Sulaiman Arrasuli)

Inyiak Canduang di Mata Abuya H. Zamzami Yunus Lasi (Murid Langsung Syekh Sulaiman Arrasuli)
Fot Buya dalam acara Zoom Meeting

Murid Langsung Syekh Sulaiman


Oleh: Fajriaty Jamil

Sabtu kemarin (5/6), Pimpinan Daerah PERTI mengadakan halal bihalal dan launching buku biografi Sejarah Perjuangan Syekh Sulaiman Arrasuli. Acara ini diadakan secara semi luring di Studio Dinas Kominfo dan Statistik Prov. Sumbar. Kegiatan ini dilaksanakan guna misi pengajuan kembali Syekh Sulaiman Arrasuli menjadi pahlawan nasional dari Sumatera Barat.

Setelah dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumbar, acara dilanjutkan ke sesi diskusi dengan beberapa pembicara yang diundang untuk berpartisipasi. Di antaranya ialah Abuya Zamzami Yunus, selaku sesepuh ulama PERTI.

Baca Juga: Inyiak Canduang, Pembaharu Nan Moderat

Beliau menyempatkan diri untuk hadir mengisi rangkaian acara walaupun hanya bisa berbicara via zoom. Abuya Zamzami Yunus adalah salah satu ulama Tarbiyah terpandang. Beliau adalah sedikit dari murid langsung Inyiak Canduang yang masih sehat bugar sampai saat ini dan masih berkhidmat pada jamaah dan pendidikan Islam. Beliau dalam penyampaiannya mencoba mengenang dan menceritakan beberapa cerita tentang Syekh Sulaiman Arrasuli yang beliau dapati ketika menjadi santri di MTI Canduang tahun 1965.

Di awal penyampaiannya, Abuya mengucapkan rasa terima kasihnya karena telah mengangkat acara halal bihalal dan launching buku tentang Inyiak Canduang. Beliau berharap dengan adanya acara ini, mampu memperkuat islah antar sesama orang tarbiyah.“Janganlah islah kita ini seperti Tahsabuhum Jami’an wa Qulubuhum Syattaa, (Seperti Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah),”Beliau juga mengutarakan rasa bangga kepada tim penerbit atas terbitnya buku biografi sejarah perjuangan hidup syekh sulaiman Arrasuli ini.

Abuya menceritakan bahwa sosok Syekh Sulaiman Arrasuli adalah seorang ulama yang sangat disiplin pada dirinya, guru-guru, serta murid-muridnya yang ada di MTI Canduang.“Bukti bahwa beliau disiplin pada diri beliau ialah pada saat beliau mengajar, siapapun tidak bisa mengganggu beliau. Siapapun tamu yang datang kepada beliau, tidak akan beliau layani.” Kata Abuya.

“Ini terbukti di tahun 1965, diwaktu saya berada di kelas 7 MTI Canduang, kebetulan Syekh Sulaiman Arrasuli mengajar kami waktu itu. Tiba-tiba datanglah Pangdam Diponegoro. Kemudian ini disampaikan oleh penjaga sekolah bahwa sang panglima hendak menemui Syekh Sulaiman Arrasuli.” Lanjut beliau. “Aden sadang maaja, kalau mau bertemu, nanti saja setelah jam istirahat,” jawab Syekh Sulaiman Arrasuli pada penjaga.

Abuya Zamzami juga turut menceritakan sisi kedisiplinan Syekh Sulaiman Arrasuli terhadap murid-murid beliau, di mana saat itu Inyiak Canduang tidak mengizinkan muridnya untuk mengobrol selama jam pelajaran sedang berlangsung.

“Andaikan ada murid duduk satu meja dua bangku, murid yang sebelah kiri kalau melihat kitab temannya yang sebelah kanan, maka beliau (Inyiak Canduang) akan marah, yang be;iau inginkan murid itu lihat kitab dan liat beliau. Begitulah disiplin beliau saat mengajar,” ujar Abuya.

Tak sampai di situ, Abuya juga melanjutkan ceritanya mengenang Syekh Sulaiman Arrasuli tentang kedekatan beliau pada murid, guru-guru, dan masyarakat yang hidup disekitar beliau. Kemudian beliau bertanya, apa penyebab beliau bisa begitu dekat dengan mereka.

“Apa yang menjadikan Inyiak Canduang dekat dengan guru, murid, dan masyarakat? Tak lain adalah akhlak beliau. Beliau tidak pernah membedakan ini golongan bawah, yang ini golongan atas. Beliau menyamakan semua orang yang datang menemui beliau, sama-sama beliau hormati,” lanjutnya.Abuya mengungkapkan alasan dihormatinya Syekh Sulaiman Arrasuli oleh semua kalangan, itu karena akhlak beliau yang beliau gunakan untuk hidup bermasyarakat. Dalam hidup bermasyarakat, Syekh Sulaiman Arrasuli selalu berusaha memberi kemudahan kepada siapa saja.

Selain menjadi ulama, Syekh Sulaiman Arrasuli juga seorang pemangku adat dan penghulu, tempat bertanya dan belajar bagi masyarakat. Abuya Zamzami mengakui bahwa masyarakat datang di hari Jumat hanya untuk menimba ilmu peradatan kepada Syekh Sulaiman Arrasuli. “Masyarakat datang belajar adat pagi-pagi Jumat dari jam delapan sampai jam setengah sepuluh. Baru jam setengah sepuluh ke atas, beliau mengajar majelis taklim. Jadi, karena ini orang-orang adat sangat menghormati beliau, mungkin karena akhlak beliau yang sangat tinggi,”.

Baca Juga: Menyilau Buya Zamzami dan Pulang ke Rumah “Ashabul Yamin”

Di akhir pembicaraannya, Abuya mengungkap bahwa inilah persaksian perjalanan hidup Syekh Sulaiman Arrasuli yang beliau saksikan dulu semasa nyantri di Canduang. Sikap disiplin beliau yang patut ditiru oleh semua orang yang hidup di zaman kini.

About Fajriaty Jamil 1 Article
Anak siak Tarbiyah Islamiyah, Jamaah Kaji Surau

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*