Islam Agama Ramah Tradisi (Kajian K.H. Muhammad Idrus Ramli di Masjid Sidang Sabuah Balai, Canduang, Agam)

https://tarbiyahislamiyah.id/tradisi-mendarahi-rumah-dan-doa-simbolik/

Islam Agama Ramah Tradisi Islam Agama Ramah Tradisi

Malam 17 November. Malam ini adalah kajian terakhir Kiai Idrus dan Kiai Ma’ruf di Agam. Setelah sebelumnya beliau-beliau juga memberi kajian di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin, Lasi. Pada kesempatan terakhir ini kajian akan diadakan di sebuah masjid yang dibangun oleh 3 jorong (kampung/desa), Lubuak Aua, Batu Balantai, dan Koto Tuo di Kecamatan Canduang, Agam.

Mungkin bagi para jamaah tidak sadar bahwa semakin banyak tempat yang beliau-beliau ini kunjungi ketika di Minangkabau, semakin banyak kuota jamaahnya. Bagi tim penyelenggara tabligh akbar di Masjid Sidang Sabuah Balai atau juga sering disebut Surau Gadang merupakan penyelenggaraan yang paling ramai jamaahnya. Bisa dibilang ketika di Taeh, Tanjuang Pati, dan Lasi jika jamaahnya satukan dalam satu tempat, sama banyak dengan jamaah di Surau Gadang. Bagi tim, kami berterimakasih sebanyak-banyak kepada para kiai. Karena, dengan umur yang segitu masih kuat untuk menyampaikan kajian selama 2 hari ini bersama-sama.

Pada kajian kali ini Kiai Idrus memberikan kajian kepada jamaah Surau Gadang. Pada kesempatan ini beliau akan menjelaskan bagaimana Islam masuk ke Nusantara. Berikut kajian Kiai Idrus di Surau Gadang:

Awalnya kajian ini dibuka oleh Kiai Idris. Beliau bercerita bahwa Islam masuk di Nusantara dengan cara yang paling damai dan ramah. Islam masuk melalui pendekatan budaya. Tidak seperti negeri-negeri lain harus diperangi dulu baru masuk Islam.

Para ulama yang datang ke Nusantara dulunya itu tidak hanya membawa Islam, tetapi juga membuka jalur perdagangan sebagai tujuan kedua. Ketika berdagang dan menetap di Nusantara para ulama ikut tergabung dalam kelompok masyarakat setempat. Hingga mereka menikah dengan penduduk lokal sesuai tradisi dan melahirkan keturunan Islam.

Baca Juga: Ahlus Sunnah wal Jamaah Benteng Akidah Islam (Penguatan Paham Aswaja Oleh K.H Muhammad Idrus Ramli, Pondok Pesantren Ashabul Yamin, Agam)

Proses islamisasi di Nusantara ini banyak melalui pendekatan budaya dan tradisi. Contoh, bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka membuat acara hajatan. Semenjak dari lahir hingga meninggal. Dari awal dilahirkan orang tua kita sudah mengadakan hajatan, orang sekitar rumah diundang ke rumah untuk makan dan berdoa, dan mereka pun memberi hadiah. Sudah 7 hari dilahirkan atau 14 hari atau 21 hari orang tua kita adakan akikah, orang-orang diundang lagi ke rumah. 7 bulan umur bayi yang dilahirkan dilakukan lagi hajatan. Sampai seterusnya, hajatan khitan, walimatul ursy, kurban, majelis zikir/tahlil. Yasinan, tabligh akbar, dan acara keagamaan lainnya. Semua itu hanya kita dapatkan di Indonesia.

Ketika ulama-ulama Timur Tengah itu datang ke Nusantara ini, mereka berdakwah tanpa harus menghilangkan tradisi yang ada. Mengapa semua itu dibiarkan? Karena Islam bukan agama yang anti budaya. Ada ajaran budaya kita yang diadopsi oleh Islam karena itu dianggap baik dan saling membantu sesama manusia. Islam itu mampu bersenyawa, sejalan dengan tradisi selama tidak dilarang oleh syariat.

“Urf ini maksudnya hal-hal yang dikenal masyarakat dan dijadikan tradisi di antara mereka. Jadi, Allah memerintahkan Rasulullah SAW agar menyeru umatnya menjalankan tradisi-tradisi yang baik. Berarti, Islam bukanlah agama yang anti-tradisi.” Jelas Kiai.

Makanya ketika awal-awal Islam berkembang di Makkah tidak lepas dari ‘urf. Seperti tradisi akikah yang berasal dari tradisi orang-orang quraisy, 1 ekor kambing apabila perempuan, 2 ekor kambing jika laki-laki.

Baca Juga: Dalil-dalil Lemah Salafi-Wahabi: Ceramah K.H. Muhammad Idrus Ramli di Taeh Baruah, Payakumbuh, Sumbar

Ada pula tradisi Yahudi yang juga dilakukan oleh Rasulullah SAW. Yaitu, puasa Asyura. Berawal dari peristiwa Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah pada bulan Rabiul Awal. Setelah beberapa bulan di Madinah, Nabi melihat orang-orang Yahudi di Madinah, puasa Asyura pada 10 Muharram. Kemudian Nabi bertanya kepada orang-orang Yahudi, lantaran kenapa berpuasa? Mereka menjawab, bahwa di hari ini (10 Muharram) Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Firaun, di setiap tahun di hari yang sama Nabi Musa pun selalu berpuasa ini. Maka Nabi Muhammad pun mengatakan bahwa ia pun harus berpuasa karena sudah menjadi tugas bagi mengerjakan amalan-amalan nabi terdahulu.[]

Ilham Arrasulian
Ilham Arrasulian 16 Articles
Mhd Ilham Armi adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tua. Berkuliah di UIN Imam Bonjol Padang, tamatan Ponpes MTI Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Belajar membaca dan menulis untuk menjadi sebaik-baik anak yang baik bagi orang tua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*