Islamisasi ala Syekh Ibrahim di Sumpur Kudus, Makkah Darek

Islamisasi ala Syekh Ibrahim di Sumpur Kudus, Makkah Darek
Foto Surau Iniek Tanah Bato yang kemudian menjadi Masjid Tauhid /Dokumen Penulis

Oleh: Wiranti Gusman

Makkah dianggap sebagai daerah yang istimewa bagi masyarakat Islam, karena kota ini menjadi pusat peradaban masyarakat muslim pertama kali. Tidak hanya di Arab Saudi, sebuah daerah di darek Minangkabau juga disebut sebagai Makkah, yaitu Makkah Darek. Makkah Darek merupakan sebutan dari Sumpur Kudus. Menurut Ahmad Syafii Maarif (2006:94), Sumpur Kudus disebut sebagai Makkah Darek karena Sumpur Kudus menjadi pusat kajian Islam pada abad-abad yang lalu.

Sebuah manuskrip yang ditulis oleh Damhoeri Gafoer berjudul “Kedatangan Syekh Ibrahim (Syekh Beraih)” menjelaskan bahwa Sumpur Kudus yang disebut sebagai Makkah Darek berawal dari kedatangan Syekh Ibrahim (Syekh Beraih) dari Kudus, Jawa Tengah pada tahun 1503 (Zusneli dan Rismadona, 2014:41). Zusneli dan Rismadona (2014:42) juga menjelaskan Syekh Beraih datang ke Sumpur Kudus melalui Aceh menuju Sintuk Pariaman. Setelah itu, menuju ke pedalaman Minangkabau, yakni ke Talawi, Padang Ganting, dan Aur Seriau (Kenagarian Tanjung Bonai Aur sekarang). Di daerah Sumpur Kudus yang pertama kali didatanginya ialah Tanjung Bonai Aur. Secara geografis daerah ini merupakan sebuah kenagarian di Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Istilah “kenagarian” berbeda dengan “nagari”. Istilah ini digunakan untuk mewakili dua nagari yang masih memiliki adat dan sejarah yang sama, yaitu nagari Tanjung Bonai Aur dan Tanjung Bonai Aur Selatan.

Syekh Beraih dikenal sebagai Iniek Tanah Bato oleh masyarakat Tanjung Bonai Aur. Pada tahun 2018, saya berbincang-bincang dengan seorang cucu Dt. Tamandaro (pemuka suku Kampai) yang bernama Marwan (67 Tahun) tentang Syekh Beraih. Marwan mengatakan bahwa Syekh Beraih dipanggil Iniek Tanah Bato karena ia telah membatas dua sumber mata air terbesar di Tanjung Bonai Aur. Kata Bato sama dengan kata Bateh yang berarti batas. Menurutnya, cerita ini ia dapatkan karena pada saat ia masih kecil, masyarakat Tanjung Bonai Aur masih memiliki kebiasaan meneruskan cerita secara turun temurun, termasuk cerita sejarah.

Baca Juga: Islam di Sumatra Barat yang Sedang Sial

“Dua sumber air yang dibatasi dengan tanah oleh Iniek Tanah Bato bernama Cintambua dan Cinbanyak. Cintabua merupakan tempat mandi laki-laki, sedangkan Cinbanyak merupakan tempat mandi perempuan. Cinbanyak juga disebut dengan Pincuran 7” lanjut Marwan.

Mata air Cintambua sebenarnya anak dari mata air Cinbanyak. Mata air tersebut juga tidak pernah kering sampai sekarang. Pada masa kedatangan Iniek Tanah Bato ke Kenagarian Tanjung Bonai Aur, semua masyarakat Kenagarian Tanjung Bonai Aur mandi dan mencuci ke tempat tersebut. Hal tersebut dimanfaatkan Iniek Tanah Bato untuk menyiarkan agama Islam.

Iniek Tanah Bato (Syekh Ibrahim) duduk di sebuah batu yang berada di sebuah lembah di atas kedua mata air tersebut, tepatnya di atas Cinbanyak . Batu tersebut terletak di tempat masuk ke Cinbanyak. Masyarakat menyebut batu tersebut Batu Iniek Tanah Bato.

Batu Iniek Tanah Bato

Iniek Tanah Bato selalu mengajak semua orang yang datang ke Cinbanyak berbicara. Dalam pembicaraannya itu ia mengajarkan ajaran agama Islam.

Awalnya Iniek Tanah Bato menawarkan obat kepada masyarakat Kenagarian Tanjung Bonai Aur yang ketika itu sedang dilanda penyakit kulit. Ia menganjurkan masyarakat untuk merubah kebiasaan negatif. Ia memberi saran agar masyarakat memakan makanan yang halal, lebih menjaga kebersihan makanan, menjaga kebersihan pakaian dan badan dengan mandi menggunakan air bersih. Ia melarang masyarakat memakan babi, anjing, dan kelelawar. Ia juga menyuruh masyarakat mandi dua kali sehari di Cinbanyak. Masyarakat melakukan hal-hal yang dianjurkan oleh Iniek Tanah Bato, sehingga perlahan-lahan penyakit yang ada di dalam masyarakat mulai hilang dan masyarakat mulai percaya terhadap ajaran Iniek Tanah Bato.

Kepercayaan itu dimanfaatkan oleh Iniek Tanah Bato untuk menyiarkan ajaran agama Islam. Ia melarang masyarakat untuk berjudi, menyambung ayam, dan meminum minuman yang memabukkan. Selanjutnya ia membawa masyarakat untuk masuk ke dalam ajaran yang dikembangkannya, yaitu agama Islam. Ia mengajarkan masyarakat berwudu di Cinbanyak, kemudian menuntun mereka untuk membaca dua kalimah syahadat.

Cara itulah yang membuat berhasilnya proses islamisasi di Kenagarian Tanjung Bonai Aur oleh Iniek Tanah Bato (Syekh Ibrahim). Banyak masyarakat yang akhirnya masuk Islam. Mereka diajarkan salat, membaca iqra, dan membaca doa-doa di sebuah surau yang bernama Surau Iniek Tanah Bato. Seiring dengan itu, masyarakat semakin banyak ke Cinbanyak. Cibanyak direnovasi menjadi 7 buah pincuran, sehingga berubah nama menjadi Pincuran 7.

Pincuran 7

Dt. Pandito Sampono (pemuka suku Melayu) yang beraliran Tarekat Sayattariyah mengatakan bahwa Pincuran 7 berjumlah 7 karena menyiratkan 7 sifat Allah, yaitu hayat, ilmu, qudrat, iradat, sami’, basr, dan kalam. Sifat-sifat Allah itulah yang diajarkan kepada masyarakat oleh Iniek Tanah Bato. Hal itu dikatakan Dt. Pandito Sampono kepada saya dan beberapa orang teman pada 2018. Ketika kedatangan saya dan teman-teman saya ke rumahnya, ia mengungkapkan harapan agar saya mencatat apa yang dikatakannya itu. Alasannya, ia tidak ingin cerita sejarah Tanjung Bonai Aur yang ia ketahui berhenti padanya. Saya merasa beruntung telah melakukan sarannya itu karena pada tahun 2020 ini ia telah meninggal dunia.

Di samping itu, pada 2018 saya juga menemukan sebuah arsip sejarah yang ditulis oleh AM Palindi berjudul “Sejarah Kepurbakalaan Nagari Tanjung Bonai Aur”. Pada arsip tersebut dikatakan bahwa ketujuh pincuran yang dijelaskan oleh Dt. Pandito Sampono tadi, masing-masingnya dijaga oleh pemuka kaum, diantaranya Pandito Sampono dari Suku Melayu, Dt.Mkt. Alam dari Suku Melayu, Malin Cayo dari Suku Melayu, Pk.Garang dari Suku Patopang, Malin Kuning dari Suku Paliang, Malin Ome dari Suku Paliang, dan Pt.Barain dari Suku Caniago. Hal itu menjadi bukti adanya pertalian adat dan syarak di Kenagarian Tanjung Bonai Aur.

Baca Juga: Surau Batu Bulan, Syekh Isma’il al-Khalidi dan Naskah Kuno

Selain renovasi Cinbanyak menjadi Pincuran 7, pertambahan masyarakat yang masuk Islam juga mengakibatkan direnovasinya Surau Iniek Tanah Bato menjadi Masjid Tauhid.

Masjid Tauhid menjadi masjid pertama yang didirikan di Kenagarian Tanjung Bonai Aur. Masjid tersebut menjadi bukti berhasilnya proses islamisasi di kenagarian Tanjung Bonai Aur oleh Iniek tanah Bato.

Masjid Tauhid telah mengalami beberapa kali renovasi, terakhir pada tahun 2020 ini. Dampak buruk dari renovasi itu ialah hilangnya bukti-bukti sejarah yang ada di masjid tersebut. Selain itu, arsitektur masjid tersebut juga telah berubah. Bukti sejarah dapat dilihat hanyalah plang yang bertuliskan “Bangunan Cagar Budaya Masjid Tauhid”.

Daftar Referensi:

Zubir, Zusneli dan Rismadona. 2014. Sumpur Kudus dalam Perjalanan Sejarah     Minangkabau Tahun 1942-1965. Padang: Badan Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Padang.

Palindi, AM, “Sejarah Kepurbakalaan Nagari Tanjung Bonai Aur”. Arsip Nagari    Tanjung Bonai Aur bulan Februari 2003.

Wiranti Gusman
Wiranti Gusman 1 Article
Mahasisw Sastra Indonesia Univeristas Andalas dari Nagari Tanjung Bonai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Email: wirantigsmn@gmail.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*