Israk Mi’raj dan Sisi Metafisik Nabi Muhammad Saw

Israk Mi'raj dan Sisi Metafisik Nabi Muhammad Saw
Ilustrasi Dok. Istimewa

Sisi Metafisik Nabi Muhammad Saw: Sebuah renungan dalam rangka merayakan Isra Mi’raj Nabi Saw.

Oleh: Mulyadhi Kartanegara
——————————————

Tidak banyak yang tahu sisi metafisik Nabi Muhammad sebagai “Tujuan Akhir Penciptaan Alam Semesta.” Dan ajaran ini dilandaskan pada sebuah hadis qudsi, yang berbunyi:

لولاك ولولاك ما خلقت الافلاك كلها

“Sungguh, kalau bukan karena engkau (ya Muhammad) tıdak akan pernah Aku cıptakan alam semesta ını.

Maka berdasarkan pada hadıs tersebut, bukan hanya umat Islam yang berhutang budı kepada Nabı kıta, tapı seluruh umat manusıa, bahkan seluruh makhluk (yang hidup maupun yang mati) berhutang budi ke pada bagind Rasulullah Saw. Sebab kalau bukan kareba beliau,  maka seluruh alam yang maha luas ini tak pernah akan diciptakan oleh Allah.

Konsep ini telah dijadikan salah satu dasar bagı ajaran penting tasawuf tentang Insan Kamıl: Manusia sempurna. Para sufi telah menjadikan Nabi kita sebagai contoh par excellent bagi Insan Kamil. Insan kamil digambarkan sebagai orang yang telah mengaktualkan semua potensi kemanusiaan dan menjadi cermin dari seluruh sifat-sifat Tuhan yang mungkin bagi manusia.

Karena itu tidak heran kalau para filosof menyebut manusia sebagai “mikro kosmos.” Tetapı menurut Jalaluddin Rumi ketika seorang manusia mencapai tingkat insan kamil, seperti yang dicontohkan oleh Nabi kita, maka manusia bukan lagi mikrokosmos, tetapi makrokosmos, seperti tergambar dalam salah satu syairnya yang indah: “Memang secara lahiriah (kasat mata) buah muncul dari ranting, tetapi secara hakiki justru ranting, bahkan seluruh pohon itu tumbuh demi buah tersebut. Kalau bukan karena buah akan sang pekebun menanam pohon?” Buah yang dimaksud tak lain daripada manusia sempurna.

Konsep ini bukan semata doktrin agama tetapi juga mendapat pembenaran ilmiah dari para ilmiah dalam apa yang mereka sebut sebagai prinsip antropik (Anthropic Principle) yang menyatakan bahwa alam semesta telah ditala dengan sangat halusnya (finely tuned), dan tidak boleh nenyimpang sedikitpun semata-mata untuk menghasilkan makhluk berkesadaran-diri: manusia.

Penalaan yang halus itu dibuktikan dalam apa yang disebut sebagai konstanta fisik, seperti konstanta masa atom, konstanta bilangan Avegadro, Boltzmann, Faraday, Bohr dll. yang telah mengatur secara konstan dan halus operasi alam, pada level mokro maupun mikro yang tidak mentolelir sedikit saja penyimpangan. Sedikit saja terjadi penyimpangan maka tujuan peciptaan takkan pernah tercapai.

Teori ini memperkuat pandangan yang mengatakan bahwa manusia –khususnya manusia sempurna–adalah tujuan akhir penciptaan Alam senesta, dan karena Nabi kita dikatakan sebagai yang terbaik dari segala makhluk-Nya (khayri khalqihi), maka benarlah pernyataan hadis qudsi tersebut di atas: Kalau bukan karena engkau ya Muhammad, takkan pernah Aku ciptakan alam semesta ini. Karena itulah barangkali kita diminta untuk bersalawat kepada beliau, karena seperti dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa Allah sendiri dan para makaikat bersalawat kepada dan untuk junjungan Nabi kita Muhammad saw. Khatam al-nabiyyin wal-mursalin.

Mari kita bersalawat kepada beliau sebagai rasa takzim, cinta dan ungkapan terima kasih.[]

*Selengkapnya terkait dengan Sisi Metafisik Nabi Muhammad Saw dapat dibaca di icrp-online.com

Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, MA., Guru Besar Aqidah dan Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Associate Professor at Sultan Omar Ali Saifuddien Centre for Islamic Studies, Universiti Brunei Darussalam.

Mulyadhi Kartanegara
About Mulyadhi Kartanegara 1 Article
Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, MA., Guru Besar Aqidah dan Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Associate Professor at Sultan Omar Ali Saifuddien Centre for Islamic Studies, Universiti Brunei Darussalam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*