Jangan Sibuk Mengejar Asap, Tetapi Pangkal Apinya Dibiarkan Terus Menyala!

khilafiyah, Jangan Sibuk Mengejar Asap, Tetapi Pangkal Apinya Dibiarkan Terus Menyala!
Ilustasi dok. tirto.id

Guru-guru kita sering berpesan, “Hindari pembahasan khilafiyah ketika mengaji di tengah-tengah masyarakat!”. Sehingga masalah njelimet bin rumit dan khilafiyah, seperti hakikat eksistensi Allah, konsep ahli fatrah, istinbath serta hal-hal lain yang akan menimbulkan fitnah di tengah masyarakat, tak pernah disinggung.

Jadilah buya-buya dalam pengajian umum hanya mengkaji kisah keteladanan, motivasi ibadah, anjuran riyadhah serta ajakan takwa dan persatuan. Tak jarang, kajian umum juga diisi kisah-kisah lucu, anekdot, analogi ataupun fabel agar ceramah terasa menyenangkan.

Baca Juga: Menuju Penyatuan Dunia Islam Terkait Permulaan Ramadan Menurut KH. Abdullah bin Nuh (1905-1987)

Jika ada yang ingin kajian mendalam, maka silakan datang ke hulu, datangi ulama di pondok maupun di surau, sebab air di hulu biasanya jernih tak banyak buihnya.

Namun kemudian, ada sekelompok orator yang membawa-bawa kaji rumit itu di tengah-tengah masyarakat, sehingga dialog yang tadinya hanya terjadi dalam lingkup tertutup, menyebar dan diikuti pula oleh awam yang tak punya kompetensi. Bahkan buya-buya kita yang sebelumnya hanya memberikan kajian umum dicemooh, “Buya kok cuma bisa melawak, tidak ada muatan ilmiahnya?”

Jadi, bukan buya-buya kita tak paham manhaj dakwah, tak mengerti pentingnya persatuan. Namun fitnah itu sudah terlanjur tumpah di tengah umat, akankah ulama cuma diam dan tidak meluruskan?

Jika ingin menyelesaikan kasus asap, maka carilah sumber apinya. Jika ingin menyelesaikan kemelut umat, maka temukan sumber konfliknya. Ulama rabbani penyabar tak akan bereaksi jika tak ada yang memancing dengan aksi. Bukankah Imam Syafi’i berkata : “Siapa yang patut marah tapi tak marah, maka ia adalah keledai,”

Maka tak patut rasanya jika kita pura-pura tak paham pangkal masalah dengan pernyataan, “Tak peduli siapa yang memulai. Yang penting sekarang harus damai,” Tuntaskan dulu pangkalnya, baru kemudian cari solusi. Jangan asap yang dikejar-kejar, namun api dibiarkan terus membakar.

Baca Juga: Bukan Cacat Rujuk dari Pendapat

Dialog itu hal biasa, menawarkan informasi berimbang untuk umat itu juga hal biasa. Jika solusi ini tak kunjung terlaksana, biarlah para tokoh menyelesaikannya dengan berbalas karya, sebagaimana dahulu tahafut berbalas dengan tahafut tahafut. Waktu yang akan menjawab, hakikat berada di pihak mana.

Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik.

Fakhry Emil Habib
Researcher Usul Fikih, Dirasat Ulya, Universitas al-Azhar