Jatuh Cinta Kepada Ilmu

Jatuh Cinta Kepada Ilmu
Ilustrasi Dok. https://python-belajar.github.io/

Jatuh Cinta Kepada Ilmu

Sejak pertama kali datang ke al-Azhar, saya sudah diceritakan tentang seorang syekh muda yang ilmunya melampaui gelarnya. Lahir di Pantai Gading, tanah kelahiran legenda Chelsea, Didier Drogba. Sejak kecil kecintaannya dan kecerdasaan kepada ilmu sudah tampak. Dia berhasil menghafal dan memahami kitab-kitab kelas tinggi seperti Alfiyah Ibnu Malik, Maqamat Hariri, Talkhis Miftah, Muallaqat Asyarah, tentu juga al-Qur’an, di usianya yang masih muda. Sebelum ke al-Azhar, beliau pernah mengatakan kepada gurunya, Syekh Traore. “Maulana, do’akan saya seperti bisa seperti Imam Sibawaihi.” Cita-cita beliau tinggi sekali, bahkan beliau pernah bercita-cita menjadi seperti Imam Malik. Beliau pernah berpesan:

“Kalian harus jatuh cinta kepada ilmu dan gila kepadanya, segila cinta Qais kepada Laila. Saya benar-benar mencintai permasalahan-permasalahan sulit dalam ilmu sampai saya menemukan jawabannya dalam mimpi! Orang yang mencintai ilmu tidak akan bosan mengulanginya hingga Allah menfutuhnya.”

Suatu hari Syekh Fauzi pernah menulis sebuah tulisan. Ketika itu beliau kalua tidak salah tingkat 3 di kuliah Lughah. Sang dosen yang membaca tulisan beliau takjub dan mengatakan bahwa tulisan semacam itu seharusnya ditulis mahasiswa yang sedang berada di Doktoral! Akhirnya beliau disuruh mengajar oleh gurunya tersebut. Ilmu beliau melampaui umurnya. Beliau pernah mengatakan:

“Seseorang dikatakan Syaikh bukan karena umurnya, tapi kematangan ilmunya dalam sebuah fan ilmu.”

“Orang yang bodoh adalah orang yang belajar di al-Azhar, tapi dia pulang tidak membawa malakah ilmu.”

Syekh Fauzi dan mahasiswanya

Beliau benar-benar sabar menahan rindu kepada tanah airnya demi ilmu. Beliau hampir 20 tahunan tidak balik ke negaranya, karena kasmaran dengan ilmu. Kata beliau sering pulang kampung menghilangkan konsentasi kepada ilmu.

Beliau juga selalu menyemangati para thullab (pelajar) yang semangatnya menurun. Kata-kata beliau melekat sekali dalam benak para thullab. Beliau selalu mengatakan tak ada kata lambat bagi orang yang telah memulai jalannya dalam ilmu. Berapapun umurnya. Intinya usaha dan doa. Amalan terbaik dalam menghafal ya mengulang-ulang apa yang dihafal. Beliau sangat mencintai para thullabnya, hingga beliau juga dicintai oleh mereka. Beliau terbuka dan sering mencandai mereka laiknya kawan dekat. Bahkan beliau seringkali membantu para thullabnya dengan kedermawannya.

Salah satu yang sangat membanggakan saya, ketika beliau memanggil saya: “Ya Syaira Indonesia. Ya Syairana!” Panggilan itu sebenarnya tak pantas untuk orang seperti saya. Namun panggilan itu seakan do’a dan motivasi dari beliau agar saya mengembangkan potensi saya dalam syair. Beliau seringkali meninggikan hati para thullab.

Hari ini Syekh Fauzi menyelesaikan Tesisnya. Dihadiri oleh Rektor al-Azhar, Prof. Dr. Mahrashawi. Kata salah satu musyrif beliau, seandaikan tidak ada pertolongan Allah, tentu thalib tidak akan mampu melanjutkan tulisan ini, karena sangat rumit. Dan seharusnya, tesis tersebut diujikan di Doktoral, bukan magister!

Ada nasIhat indah dari Syekh Fauzi:

“Cara mengetahui rahasia sebuah kitab adalah hidup dengan kitab tersebut (membacanya siang-malam) dan fana dalam mencintainya serta membaca seluruh hal-hal yang berkaitan dengan kitab tersebut dari syarah, hasyiah dan lain-lainnya. Bukan terletak pada gelar yang dimiliki!”

Mubarak, Syaikhi al-Habibi.
Darrasah, 30 Mei 2021

About Syihab Syaibani (Beben) 4 Articles
Mahasiswa al Azhar, Jurusan Dirasat Islamiyah. Alumni Ponpes Sukorejo, Situbondo, Jatim

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*