Kaji Dialiah Pakiah Singgah

Kaji Dialiah Pakiah Singgah
Ilustasi/Dok. Lukisan Darvies Rasjidin https://fjb.kaskus.co.id/product/55b5f0a6582b2e194e8b45d1/jual-lukisan-minang-jalan-diasak-urang-lalu/

Kaji Dialiah Pakiah Singgah

Berbeda dengan sebelumnya, yang datang saat ini bukanlah orang lain, anak kemenakan Datuak Parpatiah nan Sabatang juga. Semasa dahulu mengaji di surau dengan Engku Malin. “alih di ateh a” ,”alih duo di ateh an” begitu bunyi ejaannya. Terdengar sayup-sayup sampai dengan suara serak serak basah Engku Malin mengajar “baramulo kalam, baa nan lah baramulo …”, bunyi pelajaran nahwu masa itu.

karakatau madang di hulu
babuah alah babungo balun
karantau bujang daulu
di kampuang paguno balun

Pergilah dia merantau menuntut ilmu, mencari pengalaman, jauh perjalanan banyak yang dilihat, lama hidup banyak yang dirasa. Berbagai negeri telah dijelang, banyak ulama telah ditemui, banyak ajaran yang telah dilihat.

Setetes ilmunya dinantikan pengobat dahaga. Tumbuh juga tunas yang dinanti, pengganti Engku Malin menyurah kaji.

Berkumpullah orang banyak di Petang Kamis Malam Jumat di Surau Surian tempat Engku Malin menjadi imam, telah rata kabar ke semua sudut kampung bahwa malam ini anak kemenakan akan menyurah kaji.

Bermula kaji dibaca, bahwa telah bersalahan orang kampung selama ini dalam beragama, banyak kesirikan yang terjadi, berlawanan dengan ajaran nabi, begitu pula dengan maulid, barzanji.

Terperangah Engku Malin, menggeleng orang banyak, apa yang terjadi?

Semua ajaran Engku Malin dikulitinya sampai habis, padahal Engku Malin ini bukan pula orang sembarang orang. Bermusyafahah dahulunya dalam mengaji, mengambil ilmu dari gurunya di Surau Bayur di Kepala Bandar. Begitu juga dengan Engku Surau Bayur belajar dahulunya kepada Engku Katik Bertuah Surau Lubuk Gadang, Engku Katik inilah yang dahulunya belajar langsung ke Tanah Mekah.

Mendalam tarikan napas Engku Malin, bertambah pula penyakit satu lagi, yang lama belum lagi sembuh, yang ini datang pula. Bak nasib bika (bikang), di bawah dipanggang bara, di atas ditutup dengan api.

Lama si alek berdiri di halaman sekarang sudah naik ke atas rumah, pasambahan sudah, cukup dengan minum makan. Bukannya si alek nan beranjak pulang, si pangka pula nan harus turun rumah. Kini kaji baru sudah diambil menjadi mamak, kaji Engku Malin khurafat semua. Begitu kata orang.

Baca Juga: Dari Ranah Minang ke Negeri Piramid Pergi sebagai Orangsiak Kembali sebagai Orang Salafi Dialektika Keagamaan Minangkabau Kontemporer

Tidak satu dengan dua yang tergijau dengan kaji itu, setengah orang kampung tak mau lagi datang ke Surau Surian.

Banyaklah macam ceramah umum, tabligh akbar semisalnya, sedikit yang mengaji membaca kitab. Ada pula yang mengaji tapi tak dijumpai lagi nama Imam al-Gzahali, nama Imam Syafi’i redup ditelan masa, sifat dua puluh jadi barang langka. Entah kitab apa yang dikajinya.

Mulai mengaji adat dengan agama, serta hubungan keduanya. Adat dikuliti satu persatu, ada yang dikatakan bercanggah dengan agama. Engku penghulu pemangku adat dibawa lalu, semua selesai di tangannya. Begitu pula model ajaran ini.

Bak cendawan tumbuh, ramailah tuan guru & ulama dibawanya ke tanah Minang, menyebar ajaran Islam “asli” katanya sebab kaji yang ada selama ini telah bercampur atah dengan beras.

Berserak-serak langkah Engku Malin menjaga anak kemenakan dari ajaran ini dan itu yang datang silih berganti. Istikamah menyurahkan kaji yang diterima dari guru-gurunya dahulu. Walaupun umurnya sudah tidak muda lagi, dengan harapan ada juga satu dengan dua tunas yang akan melanjutkan kaji. Membacakan riwayat-riwayat ulama tanah Minangkabau terdahulu agar tak hanyut serantau tanah gunung Sago dan Talang ini. Supaya orang tahu jua sejarah tanah yang digelari pulau emas ini, bahwa tanah ini adalah salah satu pusat jala pumpunan ikan ahlus sunnah wal jamaah yang sebenar benar ahlus sunnah wal jamaah.

Menetapi janji menunaikan amanah dari guru-gurunya terdahulu, bahwa akan berpegang teguh pada ahlus sunnah wal jamaah dan mengajarkannya pada orang banyak. Menjalankan isi sumpah sati bukik marapalam yang dahulu.[]

Kaji Dialiah Pakiah Singgah

Share :
Wahyudi NA
Wahyudi NA 2 Articles
Penulis tarbiyahislmiyah.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*