Katidiang Masalah Generasi Bungsu Tarbiyah Islamiyah

Katidiang Masalah Generasi Bungsu Tarbiyah Islamiyah
Ilustrasi oleh Rusdy

Katidiang Masalah Generasi Bungsu Tarbiyah Islamiyah

Generasi bungsu Tarbiyah Islamiyah memandang ketarbiyahan mereka dengan cara yang unik. Unik karena mereka adalah generasi paling muda. Mereka rata-rata lulus dari berbagai madrasah Tarbiyah atau pesantren berhaluan Tarbiyah dalam 5 sampai 10 tahun terakhir. Fakta bahwa mereka paling muda melahirkan setidaknya dua ciri yang membuatnya unik. Pertama, mereka cenderung memandang persoalan ketarbiyahan secara polos. Artinya, bagi mereka persoalan Tarbiyah Islamiyah dan ketarbiyahan adalah sebagaimana yang mereka rasakan: apa adanya dan apa yang terasa. Pandangan mereka bukan hasil bentukan dari luar pengalaman mereka sendiri. Ciri kedua adalah mereka sangat bersemangat, kreatif, dan terkadang nekat. Ciri ini sudah biasa bagi setiap generasi muda. Hanya saja bagi generasi muda Tarbiyah Islamiyah, semangat, kreativitas dan kenekatan ini selalu dipulangkan ke pangkal, yaitu kaji surau.

Untuk melukiskan bagaimana cara si bungsu ini memandang Tarbiyah Islamiyah, di sini dapat diceritakan sebuah grup Whatsapp anak-anak muda Tarbiyah Islamiyah. Grup ini berisi sekitar 150 anggota.  Mereka berasal dari berbagai Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan pesantren yang sehaluan di berbagai tempat di Sumatera. Mereka lulus dalam periode 2010-2019. Hanya ada beberapa orang yang lulus di luar periode itu. Mereka tersebar di berbagai tempat. Selain yang merawat kampung halaman, ada yang kuliah di luar pulau Sumatera, ada yang belajar di luar negeri, ada yang berwiraswasta di rantau dan lain sebagainya. Tempat kuliah pun beragam. Ada yang belajar di perguruan tinggi Islam, perguruan tinggi umum, bahkan di perguruan tinggi kesenian.

Pembicaraan di dalam grup tersebut berkisar tentang beragam hal. Topik tentang kaji surau adalah yang utama. Tetapi topik-topik lain juga dibicarakan sesekali semisal gosip politik dan masalah sosial budaya. Semua pembicaraan itu dibungkus dengan bahasa candaan anak muda, bulliyan terhadap kaum jomblo, dan sudah barang tentu perang gambar dan stiker. 

Suatu ketika grup disibukkan dengan apa yang mereka sebut dengan “Katidiang Masalah”. Katidiang adalah wadah/baskom dari anyaman bambu yang biasa dipakai untuk menampung padi, beras dan barang-barang lain. Dalam kegiatan kemasyarakatan di Minangkabau dan sekitarnya, pengumpulan donasi dari jamaah biasanya dilakukan dengan menggilir katidiang ini. Masing-masing jamaah dipersilakan mengisinya dengan sumbangan sesuai kemampuan.

Baca Juga: Berdamai dengan Sejarah Sumbang Catatan Menjelang Diskusi

Bagi grup ini, katidiang adalah perumpamaan dari wadah penampung masalah-masalah yang menurut mereka berkaitan dengan Tarbiyah Islamiyah.  Oleh karena itulah katidiang ini mereka gilir dan isi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Tarbiyah Islamiyah secara umum.  Dari 120-an orang anggota grup, 25 % persen memberikan sidakah masalah. Mereka masukkan sidakah itu ke dalam katidiang dan kemudian dihitung, dikategorisasi dan diringkas menjadi tema-tema besar.

Apa saja isi katidiang masalah yang digilir oleh generasi Tarbiyah Islamiyah paling Bungsu ini?

Ada tiga macam masalah umum di dalamnya. Masing-masing mewakili tiga dimensi Tarbiyah Islamiyah: (1) dimensi pendidikan, (2) dimensi sosial-budaya, dan; (3) dimensi struktural organisasi. Tiga dimensi ini adalah hasil pengelompokan atas sekitar 30-an masalah spesifik yang mereka pertanyakan.

Separuh dari masalah-masalah spesifik itu berkaitan dengan masalah pendidikan dan manajemen pendidikan di Tarbiyah Islamiyah. Sebagai contoh, ada anggota grup yang mempertanyakan mengapa madrasah Tarbiyah Islamiyah tidak banyak kenal satu sama lain? Mengapa tidak ada yang mengayomi MTI yang tidak terurus? Mengapa murid-murid MTI saat ini nakal-nakal, padahal mereka belajar tasawuf dan akhlak? Mengapa ada MTI yang terkesan menjadikan sekolah sebagai ladang bisnis? Apakah guru-guru di MTI paham tentang Tarbiyah Islamiyah dan sejarahnya? Mengapa murid-murid MTI “direbut” sekolah-sekolah salafi-wahabi?

Di urutan berikutnya, sekitar 35 %, pertanyaan-pertanyaan tentang peran sosial-budaya Tarbiyah Islamiyah. Ada yang bertanya apakah Tarbiyah Islamiyah identik dengan adat Minangkabau? Mengapa Tarbiyah Islamiyah tidak mengurus masyarakat saja dengan kaji surau-nya, bukan ikut mengurus politik sebagai anak bawang? Apa peran perempuan Tarbiyah Islamiyah di tengah masyarakat? Dan beberapa pertanyaan lain yang terkait sosial budaya.

Terakhir, yang paling sedikit, adalah pertanyaan tentang organisasi atau dimensi struktural dari Tarbiyah Islamiyah. Ada anggota grup yang bertanya mengapa Dekrit Inyiak Canduang kembali ke Khittah Tarbiyah Islamiyah tidak mampu menyelesaikan perselisihan yang terjadi? Mengapa di Tarbiyah Islamiyah terdapat segerobak organisasi-ogranisasi kecil entah berdasarkan almamater, wilayah, kampus, kepemudaan dan sebagainya.

Baca Juga: Mendaras Ulang Sejarah Kelahiran Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Dari persentase di atas terlihat bahwa wacana elite Tarbiyah Islamiyah sebenarnya tidak digelisahkan generasi bungsunya.  Bagi mereka elite cuma memutar kaset rusak, mengulang-ngulang kaji lama, yakni membahas cerita pertengkaran keorganisasian.  Mereka tidak peduli dengan dimensi struktural, setidaknya untuk sementara menjelang mereka dapat giliran tua dan kolot. Bagi mereka yang mesti dibahas dan dijawab adalah dimensi pendidikan. Dimensi inilah yang menyodorkan masalah paling dekat dengan pengalaman mereka. Mereka masih dekat dengan dimensi pendidikan karena masih berstatus siswa/mahasiswa dan karena mereka baru diberi ijazah oleh Buya masing-masing sehingga belum banyak kaji dan pelajaran yang terduduki.  Mereka gelisah karena merasa punya beban moral dengan kata “Tarbiyah” yang berarti pendidikan. Kira-kira mereka berkomen begini “Kadang bisa gelak-gelak menangis kita dibuatnya. Istilah ‘Tarbiyah’ terus diotakan. Tapi kondisi pendidikannya bagai sawah tak berair.” Mereka belum terlalu hirau dengan masalah di dua dimensi lain.  Kalau pun mereka ikut membahas masalah selain dimensi pendidikan, itu hanya sekadar ikut atau didorong-dorong untuk ikut.

Apa yang terjadi di dalam grup Whatsapp ini adalah sesuatu yang wajar. Wajar dalam arti bahwa perjalanan sejarah memang begitu. Yang muda selalu punya hal baru dan melenceng dari arus utama.  Generasi muda tidak peduli mereka didengar atau tidak. Kalaupun tidak didengar, mereka akan “bersipakak” saja sebab mereka berada di tengah gelanggang masa depan. Sementara yang tua-tua, walau nyinyir tidak berketentuan, hanya bersorak di tepi gelanggang.[]


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Katidiang Masalah Generasi Bungsu Tarbiyah Islamiyah

Share :
Panji Setiawan dan Inyiak Ridwan Muzir
Panji Setiawan dan Inyiak Ridwan Muzir 1 Article
Urang Sakaum di Kaji Surau

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*