Ke Makam Syekh Rusli Angku Sati, Aie Balubuih

Ke Makam Syekh Rusli Angku Sati Aie Balubuih
Foto almarhum Syekh Rusli Angku Sati Aie Balubuih

Jauh diri ini berjalan masih saya temukan surau-surau tarekat yang masih dikelilingi alam yang asri. Beberapa waktu lalu saya menyempatkan berziarah ke Pagadih Hilir, ke makam Syekh Rusli Angku Sati. Beliau merupakan salah seorang murid dari Syekh H. Abdul Malik. Dulu beliau memperoleh ijazah dari Syekh H. Abdul Malik pada usia 31 tahun.

Diantara kekaromahannya, beliau jarang bahkan sulit untuk diajak berfoto. Namun beberapa hari sebelum beliau meninggal anak dan cucu beliau mengajak untuk berfoto. Pada kali ini, beliau mau (bersedia difoto). Setelah beliau di foto beberapa hari setelah itu beliau meninggal dalam usia 92 tahun. Dari foto beliau tersebut kita bisa melihat; terdapat sedikit senyuman di raut wajah beliau.

Menurut keterangan Buya Ali Anas Kari Mudo (64 tahun) yang merupakan penerus surau tersebut tarekat, dan sekaligus murid dari Syekh Rusli Angku Sati, Syekh H.Abdul Malik semasa hidupnya sering ke surau ini. Dan menurut beberapa sumber kayu-kayu yang ada di surau Balubuih adalah kayu yang dikirim dari pagadih menuju Balubuih. Jangan sangka jarak dari pagadih menuju Balubuih itu dekat, lebih kurang ada jarak 85 km, belum lagi ditambah dengan medan yang berat menuju Pagadih kalau masuk lewat koto tinggi. Kita bisa renungkan bagaimana Syekh Rusli Angku Sati di tahun 1960 an, berjalan menelusuri rimba yang amat pekat menuju negeri Balubuih untuk menimba ilmu. Menurut warga sekitar kalau dulu hendak menuju Balubuih melalui rimba berangkat pagi dan akan sampai pukul 4 sore dengan berjalan kaki.

Adapun klaim negatif dari teman-teman sebelah yang menyebut kita kuburiyun (kaum penziarah kubur) hiraukan saja. Soalnya, mereka tidak tahu bagaimana kecintaan kita terhadap ulama-ulama terdahulu, berziarah akan mengingatkan kita terhadap kematian dan juga akan mengingatkan dan membuka pikiran kita kembali akan kejayaan ulama-ulama kita terdahulu. ”  Bak kecek guru, mandatangi gurulah iduik manambah ilemu, mandatangi guru nan lah maningga batambah ma’rifat. (menurut kata guru, mendatangi guru yang masih hidup menambah ilmu, mendatangi (makam) guru yang telah meninggal dunia menambah ma’rifat).

Semoga keberhan meliputi kita semua! Amin, Allahumma Amin.

Baca Juga: Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus,Ulama Pemelihara Kucing

Habibur Rahman
About Habibur Rahman 20 Articles
Pecinta ulama dari Ranah Minang

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*