Kebersihan Hati: Sebuah Kajian Tasawuf

Kebersihan Hati Sebuah Kajian Tasawuf
Ilustrasi/Dok.https://bincangsyariah.com/ubudiyah/hukum-menggunakan-air-mustamal-untuk-bersuci/

Kebersihan Hati Kebersihan Hati Kebersihan Hati

Oleh: Hafifuddin

Hukum syariat yang dibebankan pada manusia dibagi dua, yaitu hukum yang berkaitan dengan amal zahir dan yang berhubungan dengan amal batin. Atau dengan bahasa yang lain; hukum yang berlaku bagi badan dan jasad manusia serta amal yang berhubungan dengan hati.

Amal perbuatan badan ada dua; perintah dan larangan. Adapun perintah agama seperti salat, zakat, haji dan lainnya. Sedangkan larangannya seperti membunuh, zina, mencuri, minum khamar dan sebagainya.

Perbuatan hati juga meliputi perintah dan larangan. Perintah yang harus dilaksanakan hati seperti iman pada Allah, malaikat, kitab-kitab, para nabi utusan, dan lainnya, juga seperti ikhlas, rida, jujur, khusyuk, tawakal dan sebagainya. Contoh larangannya seperti kufur, nifak, takabur, ujub, riya, menipu, dendam dan dengki.

Bagian kedua ini, yang berhubungan dengan hati, merupakan yang paling penting dari poin pertama menurut syariat, meski sama-sama penting karena batin merupakan fondasi dan sumber lahiriah. Amal batin merupakan pantulan amal lahiriah. Kerusakannya dapat mencemari nilai amal zahir. Allah berfirman dalam al-Kahfi: 110

فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا و لا يشرك بعبادة ربه أحدا.

Oleh karenanya, Rasulullah menghimbau para sahabat agar memperbaiki hatinya serta menjelaskan bahwa baiknya seseorang bergantung pada kebersihan dan kesembuhan hatinya dari penyakit yang samar dan tidak kasat mata. Rasulullah bersabda:

ألا و إن فى الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، و إذا فسدت فسد الجسد كله، ألا و هي القلب.

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah juga menyatakan bahwa yang dilihat oleh Allah adalah hati hamba-Nya. Beliau bersabda:

إن الله لا ينظر إلى أجسادكم و لا إلى صوركم، و لكن ينظر إلى قلوبكم.

Selagi kebaikan seorang insan bergantung pada kebersihan hatinya yang menjadi inspirator lahiriahnya, maka wajib baginya untuk memperbaiki hatinya dengan membuang sifat-sifat tercela yang dilarang oleh Allah serta menghiasinya dengan sifat-sifat baik yang merupakan perintah-Nya.

Dengan demikian, hati menjadi selamat, benar dan menjadikan sang empunya orang yang bahagia dan sukses. Allah berfirman:

يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم.

Imam as-Suyuthi berkata: Adapun ilmu hati serta mengetahui segala penyakitnya seperti dengki, ujub, riya dan sebagainya, menurut Imam al-Ghazali, fardu ain.

Membersihkan hati dan menyucikan jiwa merupakan kewajiban personal yang utama dan perintah Tuhan yang harus didahulukan berdasarkan dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan dawuh ulama.

Baca Juga: Bidâyah al-Mubtadî wa ‘Umdah al-Awlâdi: Kajian Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Islam dalam Kitab Karangan Syekh Saleh Rawa (1254 H/ 1838 M)

1. al-Qur’an

Diantara dalil al-Qur’an adalah:

قل إنما حرم ربي الفواحش ما ظهر منها و ما بطن (الأعراف: ٣٣)

و لا تقربوا الفواحش ما ظهر منها و ما بطن (الأنعام: ١٥١)

Keburukan-keburukan batin (الفواحش الباطنة), sebagaimana pendapat para mufassir, adalah dendam, riya, dengki, nifak dan sejenisnya.

2. Hadis Rasulullah

Dalil-dalil hadis: setiap hadis yang melarang dendam, sombong, riya, dengki dan yang sejenis, juga hadis-hadis yang memerintahkan berakhlak baik dan bermuamalah yang bagus. Silahkan merujuk pada kitab-kitab hadis.

Yang kedua, hadis:

الإيمان بضع و سبعون شعبة. فأعلاها قول لا إله إلا الله، و أدناها إماطة الأذى عن الطريق، و الحياء شعبة من الإيمان.

Maka, kesempurnaan iman adalah dengan menyempurnakan ranting-ranting iman dan mengamalkannya. Bertambahnya iman dengan menambahi sifat-sifat tersebut dan sebaliknya. Penyakit batin cukup merontokkan amal kebaikan manusia, meski banyak.

3. Dawuh Ulama

Para ulama menggolongkan penyakit hati sebagai dosa besar yang membutuhkan tobat tersendiri.

Dalam Jauharatut Tauhid disebutkan:

و أمر بعرف و اجتنب نميمة # و غيبة و خصلة ذميمة

كالعجب و الكبر و داء الحسد # و كالمراء و الجدل فاعتمد

Ketika menjelaskan و خصلة ذميمة, Imam al-Bajuri berkata: Jauhilah segala yang tercela dalam syariat. Mushanif secara khusus menyebutnya karena mementingkan aib-aib batin.

Baca Juga: Buya Hamka dan Kifayatul Atqiya’

Bercokolnya penyakit jiwa dengan baiknya lahiriah ibarat memakai baju bagus pada badan yang berlumuran kotoran.

Aib batin tersebut seperti ujub, yaitu mengagumi ibadahnya sendiri seperti ahli ibadah yang takjub pada ibadahnya dan orang alim pada ilmunya. Ini perbuatan terlarang. Begitu juga riya. Yang sejenis ujub adalah zalim, menipu, sombong, dengki, debat, dan lainnya.[]

Hafifuddin
Hafifuddin 3 Articles
Pelayan di Yayasan Ziyadatul Ulum dan Tinggal di Kambingan Barat Lenteng Sumenep

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*