Kehalusan “Raso” Penghulu Tarekat Naqsyabandiyah dari Luhak Limopuluah dan Risalah bagi Pengingkarnya

surau Penghulu Tarekat Naqsyabandiyah dari Luhak Limopuluah dan Risalah bagi Pengingkarnya
Ilustrasi/Dok. Tengku Mudo al-Khalidi

Tersebut dalam sejarah bahwa keberadaan tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan Islam di ranah ini. Dia adalah amalan ulama-ulama besar sejak dahulu kala, bukan hanya di Minangkabau ini, di Sumatera, bahkan di Indonesia ini. Mereka –ulama- silam itu, di samping zahir ‘alim bersyari’at, mereka juga bertarekat, mereka memakai dua sayap, lahir dan batin, masyhur berpakaian dengan pakaian Naqsyabandi. Itulah kaji ulama-ulama ahlussunnah di negeri gudang ulama ini. Orang yang mengenal sejarah tente tak akan memungkiri betapa besar jasa ulama-ulama yang nota bene-nya ahli tarekat sufiyah itu, apakah dalam penyebaran Islam atau perjuangan melawan penjajah. Maka dialah intan berlian yang tersisa dari ulama-ulama silam, lukluk marjan, pusaka orang-orang alim saisuak, yang terus diwarisi, dipakai dan diamalkan. Merekalah orang-orang Naqsyabandiyah.

Sungguh saya tak mampu menguraikan “Naqsyabandi” yang ibarat samudera itu kehariban tuan-tuan, sebab “Naqsyabandiyah” satu coraknya bukanlah salah satu dari ilmu suthur, tapi dialah ilmu shudur. Sungguh saya takkan menguraikan yang “Batin” itu dalam kertas yang kecil ini, sebab kertas ini takkan mampu membendung luasnya lautan tasawuf yang tersimpan dalam mutiara Naqsyabandiyah. Pun saya ini barulah orang awam belaka, alim bukan, ulama tidak, ilmu bintang-bintangan, jo adat ambo mangapalang, jo syarak jauah sakali. Namun karena soal ini suatu yang penting, yang telah pula menggoncangkan alam Minangkabau di awal abad ke-20, maka perlu pula menulis ini kehadapan tuan-tuan yang dipercaya selaku pemutus kato syara’ dalam Luak nan Bungsu ini.

Saya takkan mengurai “tarekat”, semua telah jelas tertulis dalam kitab-kitab mu’tamad yang dipakai sejak ratusan tahun yang lalu. Sebutlah semisal kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali yang terkemuka, Jami’ul Ushul fil Auliya’ karangan Syekh Ahmad al-Khamaskhanawi an-Naqsyabandi, Risalah Qusyairiyah buah tangan Imam al-Qusyairi dan banyak lagi lainnya, beratus-ratus judul dapat kita sebutkan. Namun yang menjadi masalah, yang akan menguraikan kitab itu siapa lagi? Mau dibaca saja, maka bersya’irlah orang-orang alim:

من يأخذ العلم من شيخ مشافهة يكن عن الزيغ و التصحيف في حرم
ومن يكن اخذا العلم من صحف فعلمه عن أهل العلم كالعدم

Berpendidikan Mesir-pun belumkan lagi menjadi jaminan buat membaca dan menguraikan karya-karya besar itu. Wajar bila tampak keanehan, sebagai tradisi Islam di Minang ini, lantas kontan mengata bid’ah, khurafat dan tahayyul. Dan “tarekat” itu bukanlah satu aliran paham sebagai banyak diungkap saat ini, niscaya kelirulah mereka. Sebab “tarekat” merupakan satu pengamalan dan jalan kearifan tasawuf, yang mana kajiannya ialah perkara membersihkan hati. Tasawuf merupakan 3 rangkaian kajian Islam yang paling inti, di samping fikih dan tauhid. Satu antara 3 hal tersebut tidak terpisahkan, jika kurang satu maka takkan sempurna, begitu ulama-ulama kita telah mengisyaratkannya.

Islam masuk ke Minangkabau jelas dengan membawa unsur tasawuf yang kental lewat balutan tarekat-tarekat ahli sufi. Apakah itu tarekat Syathariyah, tarekat Samaniyah maupun tarekat Naqsyabandiyah. Dan Luak Limopuluah merupakan salah satu basis tarekat, khususnya tarekat Naqsyabandiyah, yang terdapat bukan hanya di Minangkabau, namun juga di dataran Melayu ini. Ulama-ulamanya masyhur terbilang lewat surau-surau yang tumbuh menjamur dengan ribuan orang siak (santri) yang datang silih berganti. Mereka bukan hanya ahli dalam syari’at belaka, di samping itu mereka melengkapi diri dengan tasawuf bertarekat Naqsyabandiyah. Maka berdirilah ratusan surau suluk yang besar-besar kala itu. Bila disebut Kampar sebagai negeri “Seribu Suluk”, maka boleh dikata Luak nan Bungsu adalah adiknya. Begitulah perihal jalan agama waktu itu. Semua satu, semua bersyafi’i dan sama berpakaian Naqsyabandiyah.

Baca Juga: Kitab Izhar Zaghlil Kadzibin Karya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi Pengkritik Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Pertama di Nusatara

Kemudian ada orang yang berteori, bahwasanya arus pembaharuan ala Paderi telah menghanyutkan sendi-sendi pengamalan tarekat di Minangkabau. Maka hal demikian keliru, sebab, meskipun Paderi membawa semangat wahabi ke Minang lewat 3 Haji itu, namun mereka sekali-kali mereka tidak mengubah jalan agama di kampung ini. Malahan mereka adalah orang-orang kuat ber-tasawuf dan ber-tarekat. Sebutlah Tuanku nan Renceh, Tuanku Pamansiangan nan Mudo, Syekh Jalaluddin Cangkiang, begitupula Harimau nan Salapan itu merupakan murid-murid terutama Tuanku nan Tuo, ulama besar yang memakai jalan Syathariyah.

Sungguh takkan cukup kertas ini menulis nama siapa-siapa saja Ulama besar Luak nan Bungsu ini yang alim dan terkemuka sufi-nya itu dalam secarik kertas ini. Saya kira tuan-tuan sudilah mencari arsip-arsip lama itu buat mengetahui jejak rekam Islam di Minangkabau, sebagai tempat kita bercermin.

Barulah pada awal abad ke-20 muncul gelombang pergolakan agama, sebagai disebut oleh Prof. Schrieke, dimana timbul pertentangan Kaum Muda dan Kaum Tua di Minangkabau. Semuanya terekam jelas dalam berbagai bibliografi. Seorang mufti Syafi’iyyah di Makah beliau bernama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916) menulis sebuah risalah yang menghebohkan Minangkabau, berikut dunia Melayu. Risalah itu berjudul Izhharuz Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin, dimana di dalam risalah itu dipertanyakanlah tentang tarekat Naqsyabandiyah, khususnya mengenai rabithah. Risalah itu tersebar di Minangkabau dikontribusikan oleh murid-muridnya yang telah banyak terkontaminasi oleh paham Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha (pengarang majalah Modernisasi terkemuka, al-Manar) seperti halnya beliau. Kitab itu terdiri dari 144 halaman (terbitan at-Taqdum Ilmiyah, Mesir, 1908). Dalam Muqaddimah-nya, disebutkan bahwa beliau membahas 5 masalah dalam tarekat Naqsyabandiyah. Mulai saat itu mulailah perang dingin itu muncul, satu keras berpaham baru dan satu istiqamah dengan paham ulama silam. Namun hal itu dapat dipertahankan oleh ulama-ulama Minangkabau kala itu, antara lain yang mulia Syekh Muhammad Sa’ad “Beliau Surau Baru” Mungka Tuo (w. 1922) dan Syekh Khatib Muhammad ‘Ali al-Fadani (w. 1939). Yang Mulia Syekh Sa’ad, yang terkemuka selaku Syaikh Masyaikh (guru sekalian guru) ulama Minangkabau itu dan juga selaku pimpinan Ittihat Ulama Sumatera (Persatuan Ulama Sumatera) , menulis risalah yang terkenal yaitu Irghamu Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithatal Washilin (Meremukkan Hidung Penantang, mereka yang membatalkan rabithah  orang-orang yang telah sampai kepada Allah). Di awal risalah itu beliau berujar: (Setelah Basmallah dan Hamdalah serta shalawat)…..

Tatakala di thaba’ orang kitab Izhar Zaghlil Kazibin dan masyhurlah si katib negeri Minangkabau, gaduhlah orang awam dan caci mencaci mereka itu, hingga mengkapirkan setengah mereka itu mereka yang lain orang yang ditetapkan oleh Allah hatinya atas yang haq. Dan demikian itu dengan sebab tersebut di dalam kitab Izhar tersebut menyerupakan orang yang pakai rabithah dengan orang yang menyembah berhala dan di datangkan beberapa dalil dari pada al-Qur’an dan hadis dan kalam sahabat dan ulama sufiyah. Maka dengan sebab itu memintalah dari pada al-haqir Muhammad Sa’ad bin Tanta’ Mungka Tuo setengah dari pada ikhwan dari pada ahlus shalah bahwa menyebutkan al-Haqir akan wajah bagi penguat segala dalil rabithah dan bagi penolakan segala wajah membatalkan rabithah dan pemasukan amalan tarekat Naqsyabandiyah kepada syari’at, supaya jangan terlonsong dan terkecoh orang-orang yang tiada kuasa menpahamkan (memahami) dalil….

Sedangkan Syekh Khatib ‘Ali menulis kitab Burhanul Haq Raddu ‘ala Tsamaniyah almasail al-Jawab min Su’alis Sa’il al-Qathi’ah al-Waqi’ah Ghayatut Taqrib (cetakan Pulo Bomer-Padang, 1918), berikut kitab Miftahul Shadiqiyyah fi Ihtilahin Naqsyabandiyah (terjemahan karya Syekh Abdul Ghani an-Nablusi). Beliau lebih kuat lagi pertahanannya, sebab beliau pernah merekomendasi keputusan “14 orang oelama Radd tinggi Di Mekah” (1924) yang kala Itu dipimpin oleh mufti Sayyid Abdullah bin Sayyid Muhammad Shaleh az-Zawawi. Kemudian muncul lagi apologetis Syekh Muhammad Dalil Bayang (w. 1923) yaitu kitab Targhub ila Rahmatillah.

Meski kemudian Syekh Ahmad Khatib menulis lagi risalah kedua beliau tentang tarekat Naqsyabandiyah, yaitu al-Ayatul Bayyinat lil Munshifin fi Izalati Khurafat Ba’di Muta’ashisibin. Di mana di dalamnya dibahas panjang lebar mengenai i’tiradh bantahan Syekh Muhammad Sa’ad tersebut. Tak berselang lama, Syekh Muhammad Sa’ad melayangkan lagi penanya yang kedua, berjudul Risalah Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam, sehingga mematahkan kalam Syekh Ahmad Khatib. Dengan Syukur Syekh Sa’ad berujar:

Maka terbujuklah dengan dia setengah segala hati yang pecah-pecah wal hamdulillah ‘ala dzalika.

Setelah dua ulama ini kembali akrab, saat lama berpolemik. Maka yang membuat panjang masalah ialah murid-murid Syekh Ahmad Khatib, seumpama DR. Abdul Karim Amarullah (ayah Hamka) , DR. Abdullah Ahmad Padang (pendiri Adabiyah School) dan lainnya. Mereka menulis surat kabar untuk menyambung ide-ide pembaharuan itu di Padang, dengan nama “Majalah al-Munir” (senada dengan al-Manar di Mesir). Lalu kemudian diramaikan oleh Syekh Muhammad Jamil Jambek dengan buku Penerangan tentang Asal-Usul Tarekat Naqsyabandiyah (2 jilid, terbitan Tsamaratul Ikhwan Bukittinggi, 1940), dengan nada bantahan yang moderat. Begitulah halnya kaum muda di Minangkabau, yang mencoba menanggalkan amal tarekat di pulau perca ini. Kemudian pada tahun 1925, masuk Muhammadiyah ke Minangkabau (kantor perwakilan pertamanya di Sungai Batang Maninjau), dibawa oleh ayah Hamka ytb. Sehingga pertentangan semakin alot, kemudian disusul dengan pembentukan “Sumatera Thawalib” di Padang Panjang, yang mempunyai pendirian radikal terhadap tarekat.

Baca Juga: Syekh Muhammad Saad al-Khalidi Mungka Tuo Syekh Ahma Khatib al-Minangkabawi dan Polemik TarEkat Naqsyabandiyah

Meski begitu, benteng telah terpasang, ulama-ulama Minangkabau lainnya terus membendung arus perubahan tersebut. Maka terkemukalah nama-nama seperti Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli (w. 1970) yang mengarang berbagai risalah tentang Naqsyabandiyah, satunya yang terkemuka ialah Risalah Aqwalul Washithah fi Zikri wa Rabithah; kemudian Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syekh Arifin Batu Hampar, kemudian Syekh Abdul Wahid “Beliau Tabek Gadang” Payakumbuh, dan banyak lagi lainnya. Dan Syekh Bayang sendiri, dengan untaian sya’ir-nya Darul Mau’izhah:

………

Nama nazham ini Darul Mau’izhah Artinya pengajaran yang amat indah Karena pemutusan hajat fitnah Kepada ahli Naqsyabandiyah Karangan saya faqir yang ummi Taqshir dan lalai sepanjang hari Muhammad Dalil hamba haqiri Nama ayahnya Muhammad Fatawi
Mula adanya di negeri Bayang Sekarang ini di negeri Bayang Di belakang masjid tempatnya terang Demikian lagi di pasar Gadang Dosanya banyak tidak terhinggakan Jikalau ada tuan kasihan Tuan tolonglah minta ampunkan Kepada Allah Tuhan ar-Rahman
Muhammad Shaleh bin Muhammad Saman Di Alahan Panjang duduk kediaman Nazham ini sungguhan betulkan Patut sekali tuan amalkan Ambillah nazham coba muthala’ah Supaya nafsu jangan melengah Nazham tarekat Naqsyabandiyah Nyatalah suci sempurna jelah
Manalah tuan yang baik hati Mana yang salah boleh baiki Saya mengaku bukan ahli Belumlah patut mengarang ini Kalau mufakat kitab dan Sunnah Muthabaqah pula dengan waqi’ah Semua itu karunia Allah Mengucap syukur alhamdulillah
Jikalau tuan menaruh dengki Tuan membaca berhati benci Tuan melengah kanan dan kiri Mencari ikhtiar serta budi Di mana orang ada menyalahkan Nomor berapa ia sebutkan Ambillah dawat lekas tuliskan Ke dalam koran boleh masukkan
pasal tarekat Naqsyabandiyah Asal mulanya dari Allah Jibril membawa kepada Rasulullah Dengan wahyunya azzal jalalah Kemudian turun ke Abu Bakari Sudah itu ke Salman al-Farisi Sampai sekarang tali bertali Dengan silsilahnya terang sekali
Jikalau tuan mau bertanya Kalau tarekat ini Abu Bakar punya Patut turun kepada anaknya Mengapa kepada Salman tempat turunnya Ini jawabnya yang amat indah Anak Nabi Siti Fathimah Patutlah ia jadi Khalifah Menggantikan Nabi Rasul ar-Rahmah
Mengapa Abu Bakar khalifah Nabi Diizinkan Allah Tuhan Ilahi Dengan sepakat segala ashabi Wallahu yakhtasshu bi Rahmatihi man Yasya’ Artinya Allah Ta’ala yang menentukan Dengan rahmat-Nya buat yang dikehendakkan Patut sekali kita benarkan Demikianlah sebab hamba katakan

………

Dilanjutkan oleh wadah kaum Tua, Persatuan Tabiyah Islamiyah, 1930. Begitulah adanya pergolakan agama, yang pernah diabadikan sejarawahwan, entah negeri kita ataupun para intelek belanda. Hingga kini corak tasawuf itu, masih seperti dulu, tidak akan bertukar. Dan sayapun menemui satu scrit di akhir tahun lalu, tepatnya di Kutubkhannah Dr. Abdul Karim Amrullah, Sungai Batang Maninjau, perihal ijazah tarekat ‘Alawiyah dan Hadadiyah yang diterima Inyiak Rasul itu dari ayahnya Syekh Amrullah Tuanku Kisa’i al-Khalidi Naqsyabandi ad-Danawi.

Setelah masa pergolakan itu, kedua kelompok kemudian hidup berdamping, meski perang dingin pernah pula terjadi, namun tidak lagi meluas. Untuk kemudian, kehidupan “tarekat” tetap berkembang di alam Minangkabau ini, bahkan menurut catatan-catatan peneliti meningkat dari tahun ke tahun. Dari dulu tetap menjadi kekhasan Islam di Minangkabau, dan pulau-pulau Nusantara ini. semuanya terekam jelas, sebagai diurai oleh Wan Shaghir Abdullah, si-“Manuskript berjalan dunia Melayu” itu, juga dibeberkan oleh Prof. Aboe Bakar Aceh.

Syekh Zakaria Labai Sati Malalo Ahli Ushul da Mantiq Pemuka Tarekat Naqsyabandiyah

Untuk selanjutnya, para alim kita telah mengelompokkan tarekat ke dalam 2 kategori besar, yaitu [satu] tarekat Mu’tabarah (diakui), dan [dua] tarekat ghair mu’tabarah. Saya tidak akan memperpanjang kalam dalam ini. Dari tarekat Mu’tabarah, disebutkan sebanyak 41 tarekat yang diakui, memiliki sanad yang mu’an’an kepada Rasulullah dan pengamalannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Yaitu:

1Umariyah23Usysyaqiyah
2 Naqsyabandi24Bakriyah
3 Qadiriyah25Idrusiyah
4 Syaziliyah 26Ustmaniyah
5 Rifa’iyah 27Alawiyah
6 Ahmadiyah 28Abbasyiyah
7 Dasuqiyah 29Zainiyyah
8 Akbariyah 30Isawiyah
9 Maulawiyah 31Buhuriyah
10 Kubrawiyah 32Hadadiyah
11 Sahrawardiyah 33Ghaibiyah
12 Khalwatiyah 34Khadhiriyah
13 Jalwatiyah 35Syathariyah
14Bakdasyiyah36Bayumiyyah
15 Ghazaliyah 37Malamiyyah
16 Rumiyah 38Uwaisyiyah
17 Sa’diyah 39Idriyyah
18 Gistiyah 40Akabiral Auliyah
19 Sya’baniyah 41Matbuliyyah
20 Kalsyaniyah 42 Sunbuliyah
21 Hamzawiyah43 Tijaniyah
22 Bairumiyah 44Samaniyyah

Begitulah perihal tarekat-tarekat Sufiyah dikalangan penghulu kita Ahlis Sunnah wal Jama’ah, begitulah amalan ulama-ulama di pulau Perca ini, nusantara umumnya. Untuk dunia melayu, khusus di Minangkabau setidaknya ada tiga kearifan tasawuf yang berkembang pesat, yaitu Syathariyah, Naqsyabandiyah dan Samaniyah. Lebih khusus lagi di ranah Luak nan Bungsu ini, yang paling berkembang pesat ialah tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Adanya penambahan nisbah “al-Khalidiyah” mengiringi “Naqsyabandiyah” merupakan nama yang melekat setelah masa silsilah ke30 dari Rasulullah, yaitu di masa Maulana Syekh Khalid Kurdi.

Periodesasinya ialah:
  1. Di masa Sayyidina Abu Bakar Shidiq ra. Hingga masa Syaikh Taifuriyah dinamai dengan Shidiqiyah
  2. Dari masa Syekh Taifuriyah hingga  masa Khawajah Syekh Abdul Khaliq Fajduani dinamai dengan Taifuriyyah
  3. Periode Syekh Abdul Khaliq hingga Syekh Bahauddin  al-Bukhari dinamai dengan Khawajakaniyah
  4. Masa Syekh Bahauddin al-Bukhari hingga Syekh Ubaidullah Ahrar dinamai dengan Naqsyabandiyah
  5. Masa Syekh  Ubaidullah hingga Imam Robbani dinamai dengan Ahrariyyah
  6. Dari masa Imam Robbani hingga Maulana Syekh Khalid dinamai dengan Mujaddidiyah
  7. Di masa Maulana Syekh Khalid hingga saat sekarang ini dinamai dengan al-Khalidiyah

Sejak masa Maulana Syekh Khalid inilah dinamai dengan al-Khalidiyah, lengkapnya dibaca tarekat Naqsyabandiyah al-Ahrariyah al-Mujaddidiyah al-Khalidiyah”, lebih lazim disebut dengan tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”. Dan inilah yang berkembang pesat di bumi nan Permai ini, Minangkabau.

Itulah sekilas yang saya sebutkan mengenai tarekat ulama-ulama kita tersebut, lebih dalam secara tafshili niscaya tiada mampu saya menguraikan.

Luak Limopuluah dan Tarekat yang Dirindukan

Adalah suatu kerinduan bila kesejukan tetap ada di Luak Limopuluah ini, ranah yang sering saya rindui di perantauan, yang masih belum terkuak keajaiban-keajaiban yang ada di negeri kita ini. Harapannya orang-orang yang telah terlanjur buruk sangka kepada tarekat dapat arif bertindak, menimbang dengan ilmu dan bertanya pada ahlinya. Sebab kadang kala orang buta sering mengatakan matahari itu tak ada. Apatah lagi sekarang, ulama-ulama tempat bertanya telah banyak berpulang ke rahmatullah, surau-surau sudah hampir lapuk dan roboh, orang-orang tak ber-himmah lagi belajar agama dengan se mantap-mantapnya. Sedang orang ramai hanya seperti urang nan diasak jalannyo, kaji lah diubah pakiah singgah, cupaklah acok dipapek rang manggaleh. Pantas saja mutiara telah dianggap batu biasa, kerisik sudah dianggap sebagai sutera. Dan jika itu terjadi, maka Luak nan Bungsu, dalamnyo akan tajangkau, dangkanyo ka tasubarangi,dan Buayo Gadang itu takkan lagi maunikan kampuang kito.

Jikalaupun di tangan kita ada kitab-kitab yang disurukkan itu, seumpama risalahrisalah yang “dalam” karya Syekh Mudo Abdul Qadim (w. 1957) yang masyhur terbilang namanya dengan “Baliau Balubuih” itu, atau dapat membeli kitab alBahjatus Saniyyah fi Adabit Tariqatil Aliyah an-Naqsyabandiyah, atau Majmu’atur Rasa’il fi Ushulin Naqsyabandiyyah al-Mujaddi al-Khalidiyah karya Syekh Sulaiman Zuhdi yang sangat langka itu, ataupun mampu memperoleh kitab-kitab tarekat yang sengaja disembunyikan itu, niscaya kita takkan paham maksudnya, sehingga akan kita ungkap saja “kitab apa pula ini?”, jikalau tanpa seorang guru yang alim allamah, yang terbilang silsilahnya dalam tarekat Naqsyabandiyah. Sebab kato mereka basingkek-singkek, rundingan bamisa baumpamo, di baliak tasurek ado nan Tasirek… mencakup balaghah, lengkap bayan, ma’ani, badi’ dalam setiap ungkapannya.

Begitupula perihal rabithah yang terpakai pada sisi tarekat Naqsyabandiyah, tiadakan memperoleh paham kalau hanya membaca buku saja, apatah lagi membaca buku yang bukan dikarang oleh si-ahli-nya. Dia mesti berhadap-hadapan dengan ulama-ulama yang “dalam” pahamnya mengenai hal tersebut. Perlu diketahui, beliau-beliau itu masih ada, namun beliau-beliau tinggal di dusun-dusun terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota nan memusingkan. Beliau-beliau hidup selaku petani, orang biasa tiada yang tahu kalau mereka adalah alim-nya. Untuk perkara rabithah yang musykil ini, maka hendaklah bertanya kepada ulama-ulama mumpuni.

Baca Juga: Perlu Bertarekat

Minggu, 27 Februari 2011, merupakan satu angin kesejukan bagi saya pribadi. Tepatnya, di negeri yang sejuk, Koto Tangah –Kec. Bukik Barisan diadakan wirid bulanan oleh “Wirid Silaturahmi Sumatera Barat”. Dihadiri oleh tamu istimewa, Tuanku Raja Besar dari Negeri Sembilan – Malaysia, diiringi Wakil Bupati, dan diikuti oleh ribuan jama’ah yang bukan hanya datang dari Limapuluh kota, namun juga dari Agam, dimana kebanyakan beliau yang hadir ialah para Syekh dan Khalifah dari tarekat ahli Sufi yang ada di Minangkabau, apakah Naqsyabandiyah atau Sammaniyyah. Tuanku Raja Besar naik ke panggung, beliau membacakan sekilas hubungan kerabat antara Negeri Sembilan dengan Luak Limopuluah, disebutkan nama seorang ulama yang menjadi moyangnya yaitu Syekh Abdurrahman, teman dari Syekh Burhanuddin Ulakan. Rupanya beliau keturunan sufi-sufi besar Minangkabau, ungkapku. Kemudian disambung pembicara Wakil Bupati, ketika sampai membicarakan paham tarekat yang gencar-gencarnya dibicarakan itu, saya lihat para Tuanku dan Syekh tersimpul manis, entah apa gerangan yang mereka senyumkan. Kemudian tampil Buya Mangkuto Malin dari Sungai Beringin, mengupas Naqsyabandiyah dengan “dalam” dan berbekas, hingga hampir air mataku menganak sungai, haru. Saya hanya penonton luar lapangan, menyaksikan alim-alim itu duduk tenang berselimut khirqah. Andai saya adalah satu antara mereka, niscaya saya akan jahit mulut-mulut yang mengingkari “tarekat” ini dengan kalam yang tajam. Namun saya memang terburu nafsu, mereka, para Tuanku Syaikh itu bukanlah termasuk orang yang suka memuncak bila kemafsadatan terhadap kaji lama itu marak, mereka masih senyum dan sabar dengan suasana yang ada. Ku ingat dalam Ijazah tertulis: “Jikalaulah Mereka atas nama tarekat, niscaya akan kami tuangi dengan air Mata Ma’rifat”.

Demikianlah halnya yang dapat saya ungkap dalam surat yang sederhana ini, kehadapan ulama-ulama supaya Arif dan Bijaksana. Janganlah nila setetes membuat rusak susu sebelanga, angkat segera nila itu, bersihkan putihnya susu yang ada, hingga dapat diminum menyehatkan jasad dan ruh.

Terakhir, teringat ungkapan guru kito Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim “Beliau Belubus” yang masyhur itu, beliau berpituah pada akhir Risalah Tsabitul Qulub-nya:

“Pegang Syari’at Tubuh nan kasar,
pegang tarekat tubuh nan halus,
pegang Hakikat tubuh nan Bathin,
pegang Ma’rifat Tuhan nan punya pegang.
Dicari pengenalan di dalam zikir, dipakai di dalam sembahyang,
disudahi tatakalo nyawa berpulang kerahmatullah…”

 28 Februari 2011

Share :
Apria Putra
Apria Putra 44 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*