Kemunculan Masyarakat Berisiko (Risk Society)

Dok. Istimewa

Mungkin kita akan sepakat untuk menyatakan bahwa saat ini kita sedang memasuki fase peradaban modern, peradaban yang berproses menuju kemajuan. Dimana kemajuan tersebut tidak lagi hanya sebatas kemajuan berfikir, tetapi juga kemajuan dalam penciptaan dan penguasaan teknologi. Bahkan, kemajuan tersebut hampir mempengaruhi seluruh sistem kehidupan manusia, sehingga merubah perspektif, etika, dan pola hubungan manusia dengan lingkungannya. Pada satu sisi, kondisi ini sama sekali bukanlah menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, karena kondisi global merupakan peluang strategis untuk memberdayakan apa yang kita miliki dalam pencapaian tanpa batas. Namun pada sisi lain, kondisi ini bisa menjadi malapetaka yang sangat besar ketika manusia tidak lagi bijak dalam menyikapi fakta global. Ketika itu terjadi, ditinjau dari perspektif sosiologi menurut Rachmad K Dwi Susilo (2008) dalam bukunya Sosiologi Lingkungan, inilah yang akan memberi peluang munculnya masyarakat berisiko atau yang dikenal dengan istilah “risk society.

Baca Juga: Tradisi Mendarahi Rumah dan Doa Simbolik

Istilah risk society atau masyarakat berisiko pertama kali dikemukakan oleh Ulrich Beck dan Anthony Gidden pada awal 90-an. Pemikiran ini muncul sebagai akibat dari revolusi industri besar-besaran di eropa pada abad 17 sampai abad 18, di mana manusia berubah menjadi semakin konsumtif dan semakin tidak terkendali dalam mengeksploitasi alam.  Anthony Gidden menyatakan bahwa perkembangan industri global lahir terkait erat dengan risiko, dia menyatakan dalam Ritzer (1996)“ Modernitas adalah sebuah kebudayaan berisiko -saya tidak menyatakan bahwa kebudayaan sebelumnya tidak berisiko- dan benar bahwa modernitas mampu mengurangi risiko pada aspek-aspek dan cara hidup tertentu. Tetapi pada waktu yang sama modernitas mengenalkan parameter-parameter risiko baru yang secara jelas tidak dikenal sebelumnya”. Secara implisit Gidden menyatakan ada kemunculan parameter-parameter baru yang mengarah kepada pergeseran tingkah laku dan pola hubungan manusia dengan alam, yang sebelumnya belum pernah muncul.

Salah satu kasus yang cukup memprihatinkan dari pergeseran tingkah laku manusia yang mengarah pada kemunculan masyarakat berisiko adalah perubahan gaya hidup (life style). Beberapa tahun lalu sebelum maraknya industrialisasi dan modernitas, manusia sudah cukup merasa nyaman hidup dengan sandang dan pangan secukupnya. Namun saat ini, nilai kepuasan manusia sudah bergeser dan sudah sangat jauh berbeda, manusia semakin berlomba-lomba dalam kehidupan yang serba konsumtif. Saat ini, seorang lelaki dari kalangan midle-high class belum puas makan jika belum tersedianya lima hingga sepuluh macam menu yang berbeda, seorang wanita belum puas sebelum membeli dan memborong semua model sepatu dan tas yang ada dipasaran, seorang remaja dianggap belum trendy jika belum memiliki setidaknya dua “gadget”. Walaupun pada akhirnya kita bahkan tidak memakai dan akan banyak membuang, tetapi kita tetap melakukannya demi sebuah kepuasan. Kita mulai terpola dengan gaya hidup baru yang konsumtif “buy and throw away” (beli dan buang)dan pada akhirnya kenyamanan ini harus dibayar mahal.

Baca Juga: Bahasa Arab Saisuak Kala di MTI

Sekarang ini, lahan-lahan dan pabrik-pabrik di desain untuk mampu memproduksi berjuta ton produk untuk dikonsumsi secara masal setiap harinya. Ironisnya, tidak semua produk tersebut akan dikonsumsi oleh konsumen, sebagian besarnya hasil produksi tersebut terbuang ke alam sebagai sampah yang akhirnya menimbulkan masalah baru. Dalam jangka panjang, yang akan terjadi adalah efek sistemik dan massive terhadap perusakan alam. Dimana pertumbuhan penduduk semakin meningkat, teknologi dalam ekploitasi alam semakin canggih, gaya hidup semakin tinggi, permintaan naik, ekploitasi terhadap alam semakin tidak terkendali. Hingga akhirnya alam tidak lagi mampu menjaga titik homeostatis-nya, dan pada titik tertentu akan collapse. Disaat tersebutlah, manusia diperkirakan tidak akan menemukan lagi udara yang sehat untuk dihirup, air yang bersih untuk diminum dan makanan yang layak untuk dimakan.

Pernyataan ini bukannya tidak beralasan, pada tahun 2011 Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan, untuk makanan sajadari sekitar 1,3 milyarton produksi makanan dunia setiap tahunnya, hampir 1/3 diantaranya terbuang dan menjadi masalah di alam. Jumlah makanan yang dibuang tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan makanan bagi negara-negara yang berada pada Paparan Gurun Sahara di Afrika setiap tahunnya. FAO juga menyatakan, bahwa pada 2050 diperkirakan kebutuhan dunia terhadap makanan akan meningkat mencapai angka 70%. Peningkatan kebutuhan terhadap produksi makanan tersebut seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang semakin meningkat secara signifikan. Ini merupakan logika sederhana, bahwa semakin meningkat jumlah populasi manusia permintaan tehadap pasokan makanan juga akan semakin naik.

Baca Juga: Sulaiman Arrasuli Ulama Pujangga nan Ahli Adat

Mengutip pernyataan Abraham Maslow’s dalam teorinya Maslow’s Hierarchy mengenai susunan hirarki kebutuhan manusia, dia menyatakan bahwa “Makanan, air dan udara merupakan dasar dari susunan hirarki kebutuhan manusia”. Tidak ada satupun individu manusia yang mampu hidup, beraktivitas dan berkarya sebelum mampu memenuhi tiga elemen dasar kebutuhan tersebut. Analoginya, disaat pertumbuhan penduduk semakin meningkat yang diiringi oleh meningkatnya kebutuhan terhadap pasokan makanan, ditambah lagi dengan skandal-skandal banyaknya makanan yang terbuang, pasokan makanan akan menipis karena alam memiliki keterbatasan dalam menyediakan itu. Pada kondisi ini, permasalahan akan menjadi sangat kompleks, perebutan lahan akan segera terjadi, politik kepentingan bermain, dan perang “global” pun segera dimulai untuk bertahan hidup. Kenyataan tersebut bahkan sudah mulai terjadi, bahwa 40% dari konflik yang terjadi pada dunia global saat ini adalah mengenai sumber daya alam.

Ketika kita ingin melihat lebih dekat, terhadap permasalahan yang sedang terjadi, cara kita memandang alam, cara kita hidup dengan alam, semuanya memiliki “interkorelasi” yang sangat kuat. Efek tersebut bukan hanya berlaku secara spasial tapi juga temporal. Apa yang kita lakukan di salah satu sisi bumi akan berefek pada bumi lainnya, cara hidup kita saat ini yang cenderung merusak lingkungan pun akan merusak masa depan anak cucu kita. Karena bumi adalah sistem, dimana antara satu dengan yang lainnya akan saling terkait dan mempengaruhi. Dan seluas apapun bumi ini dan seberapa besarpun potensi sumber daya alamnya, bumi tetap memiliki batasan yang pada titik tertentu bisa habis. Kita tentu sadar, bahwa yang menjadi korban dari pola hidup konsumtif dan berlebihan ini adalah alam, hingga pada akhirnya terjadilah pencemaran, over exploitationdan kepunahan spesies . Namun, kita juga harus menyadari bahwa kita adalah bagian dari alam itu sendiri yang akan turut punah ketika kita tidak bisa menjaga kelestariannya.[]

Baca Juga: Hatta dan Kelompok Muda pada H 1 Kemerdekaan

Essay ini sudah diterbitkan di Majalah Suara Bumi, Edisi III dengan judulGlobalisasi dan Modernitas: Kemunculan Masyarakat Berisiko (Risk Society). Diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan.

Zulkariman
Zulkariman 1 Article
Alumnus Pascasarjana UGM

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*