Kenangan Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli #2

Kenangan Sangat Indah Syekh: Sulaiman Arrasuli
Ilustrasi dok. Selfa Munandar

Baca Juga: Kenangan Sangat Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bagian #1

III

Para pelajar Tarbiyah Islamiyah di Canduang-Bukittinggi pada masa itu berjumlah lebih 1.000 orang, datang dari berbagai daerah di Sumatera hingga terdapat kelompok Bengkulu, kelompok Jambi, kelompok Aceh, kelompok Gayo, di samping kelompok-kelompok pelajar dari kenagarian dalam wilayah Minangkabau sendi seumpama kelompok Bayur Maninjau, kelompok Palembayan, kelompok atur, kelompok Tilatang, kelompok Batuhamapar, kelompok Baru Gunung, kelompok Muara Labuh dan seterusnya.

Pada masa permulaan saya belajar di Canduang-Bukittinggi itu, (kokon seperti pada masa-masa sebelumnya juga), kelompok Jambi, kelompok Aceh, kelompok Gayo, kelompok Palembayan dan kelompok Matur bergabung dengan kelompok Bayur-Meninjau di bawah pimpinan kakanda Sulthan Dt. Rajo Sampono sebagai kur Tua, yang pada masa itu berada pada tingkat Takhassush sesudah menyelesaikan tingkat VII. Gabungan kelompok kami itu menyewa satu pintu rumah peta Baso untuk asrama, terletak di depan Stasiun Baso, menghadap lintas jalurnya dan lintasan kereta api yang menghubungkan Bukittinggi dengan Payakumbuh, dan sebuah rumah tingkat dua di belakangnya menghadap jalan raya ke Sungai Jernih,  sebuah tempat yang sering didatangi kaum Turis untuk menyaksikan ikan “Larangan” di situ. Hal itu disebabkan satu pintu lainnya dari rumah petak tersebut disewa oleh kelompok Bengkulu di bawah pimpinan H. Abdul Muthalib sebagai Guru Tua, yang juga pada masa itu sudah berada tingkat Takhasshush sesudah menyelesaikan tingkat VII. Tersebab itu hubungan kelompok kami dengan kelompok Bengkulu itu sangat erat sekali.

Sedangkan kelompok-kelompok lainnya pada umumnya mendiami surau-surau yang beda di Canduang Atas dan Canduang Bawah. Lokasi perguruan Tarbiyah Islamiyah terletak di Caduang Bawah, yang jaraknya dari Baso cuma lebih kurang satu kilometer. Baso masa itu tempat kedudukan Demang, yang pada masa itu dijabat oleh Demang Darwis Dt. Majo Lelo. Sekolah Gubenermen berkedudukan di Baso. Guru kepada masa itu dijabat oleh Yogi, penyair angkatan Poedjangga Baroe yang terkenal itu. Jikalau hari pasar di Bukittinggi pada setiap hari Sabtu dan di Payakumbuh pada setiap hari Minggu maka di Baso itu pada setiap hari Senin.

Setelah menjelaskan lokasi perguruan dan lokasi asrama pelajar pada umumnya maka kini saya akan langsung berbicara tentang peri keadaan perguruan Tarbiyah Islamiyah di bawah pimpinan Syekh Sulaiman Arrasuli.

Masa belajar, seperti juga halnya dengan sekolah-sekolah umum dari pemerintahan Hindia Belanda, dimulai  pada setiap 15 Syawal dan ditutup pada setiap 15 Sya’aban dengan masa libur selama dua bulan, termasuk bulan Ramadhan. Permulaan masa belajar didahului senantiasa dengan upacara pembukaan sekolah, berupa pertemuan seluruh pelajar sejak tingkat I sampai tingkat VII, oleh karena para guru pada umumnya diambil dari tingkat Takhassush. Pertemuan itu pada ruangan perguruan yang demikian luas, berisikan pidato bimbingan dari  guru dan ditutup dengan amanat dari Buya Syekh Sulaiman Arrasuli. Pertemuan serupa itu berlangsung pada malam hari menjelang tanggal 15 Syawal.

Upacara pembukaan sekolah pada malam hari menjelang 15 Syawal 1348 H/16 Maret 1930 M punya kenamaan khusus  bagi diri saya, dan mengandung akibat-akibat yang khusus untuk masa selanjutnya, hingga riwayat hidup saya di Candung itu sangat erat kaitannya dengan Buya Syekh Sulaiman Arrasuli. Pada masa itu saya masih berusia 14 tahun oleh karena saya dilahirkan pada tanggal 14 Juli 1916.

Sesudah amanat Buya Syekh Sulaiman Arrasuli maka pemimpin upacara memintakan kata sambutan dari pelajar. Sunyi senyap dalam ruangan. Pemimpin upacara mengulang permintaannya. Masih tetap senyap. Sekali lagi pemimpin upacara mengulang permintaannya. Semua masih tetap berdiam diri samapta kepada para pelajar tingkat atas. Kemungkinan pertama disebabkan ketidakmampuan berpidato dan kemungkinan kedua disebabkan ketiadaan keberanian untuk berpidato depan majelis yang demikian padat dan ramai. Paling akhir saya pun mengangkat tangan. Saya disilakan maju ke depan. Pidato sambut saya saat itu beroleh sambutan tepuk tangan dari pihak para pelajar dan begitu pun dari pihak guru. Keesokannya  saya diminta datang Gadung, yaitu panggilan bagi gedung kediaman Buya Syekh Sulaiman Arrasuli, dibawa oleh guru tua kelompok kami, Sulthain Dt. Rajo Sampono. Sejak itulah bermula hubungan langsung antara saya dengan Buya Syekh Sulaiman Arrasuli dengan segala macam permasalahannya kelak.

Baca Juga: Madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah yang Bersejarah di Pedalaman Minangkabau

IV

Masa belajar sudah berjalan beberapa waktu. Pada saat itu baru saya memaklumi bahwa kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstra kurikuler tidak ada sama sekali pada perguruan Tarbiyah Islamiyah di Canduang itu,  jangankan organisasi pelajar dan taman bacaan.  Begitulah pula halnya pada setiap perguruan Tarbiyah Islamiyah dalam wilayah Minangkabau.

Perlahan-lahan saya pun melakukan penekatan dan kasak-kusuk dengan anggota kelompok kami dan belakangan diluaskan kepada anggota kelompok Bengkulu dan semua setuju membentuk organisasi pelajar, yang akan menerapkan sumber bagi berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Saya bu mengajukan gagasan tersebut kepada ketua kelompok kami dan ketua kelompok Bengkulu dan gagasan itu disambut baik dan lantas keduanya menyampaikan gagasan tersebut kepada Buya Syekh Sulaiman Arrasuli dan beliau pun menyetujuinya.

Dengan begitu terbentuklah organisasi pelajar yang pertama-tama pada Tarbiyah Islamiyah di Canduang, bernama HNI (Himpunan Nashirul Islam =Himpunan Pembela Islam). Pada setiap petang Kamis malam Jumat, secara bersama berangkat dari Baso ke Canduang Bawah dan mengadakan pertemuan pada ruang perguruan untuk belajar pidato dan berbagai kegiatan lainnya, dan dalam susunan pengurus HNI itu saya terpilih menjabat ketua, bendaharawan dijabat Shafar Yasin, kartu anggota HNI itu sengaja dicetak pada Drukkerij Islamiyah di Fort Ed Kock (Bukittinggi). Dan dari uang iuran anggota lantas mulai memesan berbagai majalah dan harian untuk bacaan para anggota HNI itu, yang semuanya merupakan majalah-majalah yang bersemangat politik keras menentang kolonialisme Belanda. Begitu pun suara berbagai harian yang dilanggani. Penjabat pos pada stasi Baso  mulai agak kelabakan menerimakan dan menyampaikan majalah-majalah dan harian-harian yang datang setiap saat, di samping urusan weselpos yang datang pun bertumpuk datang setiap bulan untuk para pelajar. Oleh karena isi surat kabar itu yang senantiasa “hangat” maka masalah-masalah politik mulai menjadi bahan pembahasan dan diskusi pada pada setiap pertemuan HNI itu. Belakangan berbagai kelompok pelajar lainnya mulai pula menggabungkan diri ke dalam HNI, dan bukan Cuma pelajar pria tetapi juga para pelajar wanita.

Sebagai akibatnya timbullah gejala baru. Buya syekh Sulaiman Arrasuli setiap kali diminta dan diundang untuk mengadakan tablig di manapun juga senantiasa sengaja membawa saya bersamanya, yang sengaja ditonjolkan dan suruh berpidato dalam tablig. Dalam setiap tablig itu, menurut yang saya saksikan dan alami, tidak pernah beliau membicarakan masalah khilafiah, kecuali cuma nasihat-nasihat dan bimbingan keagamaan.

  Belakangan juga sering dibawa dan pelajar wanita yang terpandang sudah cukup cakap berpidato. Seorang bernama Damnun dan seorang lagi bernama Fathimah dan keduanya berasal dari Limasuku, sebuah nagari yang terletak tidak jauh dari Baso. Seringkali pula kami dibawanya bersama-sama. Kedua pelajar wanita itu belakangan kawin dan seorang di antaranya kawin dengan guru kami pada tingkat VI, Angku Zain Abdullah.

V

Kebiasaan buya Syekh Sulaiman Arrasuli membawa setiap kali diminta dan diundang ke satu tempat menyembabkan saya menyaksikan dan mengalami kasus yang sangat unik. Seperti yang sudah saya ceritakan bahwa sekitar tahun tigapuluhan itu pertentangan antara Kaum Muda dengan Kaum Tua memuncak di Minangkabau. Kedua kasus yang saya maksudkan itu punya kaitan erat dengan kenyataan tersebut.

Kaus yang pertama undangan terhadap ulama-ulama terkemuka dari pihak Kaum Tua ke Batangkapas, sebuah nagari yang terletak di sebelah selatan Painan dalam wilayah kabupaten Kerinci, untuk perayaan Maulid Nabi pada bulan rabiul awal 1349 H/Agustus 1931 M. Rombongan itu diangkut oleh sebuah bus berukuran besar di bawah pimpinan Buya Syekh Sulaiman Arrasuli, yang lebih dikenal dengan panggilan Inyiak Canduang. Ulama-ulama terkemuka yang ikut dalam rombongan itu, yang masih saya ingat nama satu ialah syekh Abbas Padanglawas, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Abdul Wahid Tabekgadang, Syekh Ahmad Barugunung, Syekh Abdullah Halaban, Syekh Ahmad Arifin Batuhampar, syekh Muhammad Zain Simabur, dan beberapa tokoh ulama lainnya.

Berbeda dengan ulama-ulama terkemuka lainnya itu maka Buya Syekh Sulaiman Arrasuli membawa tiga orang muridnya untuk mendampinginya, yaitu Sulthain Dt. Rajo Sampono (tingkat Takhassuhs) dan Mhd. Thir Dt. Rajo Endah (tingkat VII) dan Joesoef Sou’yb (tingkat IV), ketiga-tiganya itu dari kelompok Bayur-Maninjau. Dalam rombongan itu sayalah yang terkecil sekali oleh karena karena baru memasuki usia 15 tahun.

Setelah melewati kota Padang menuju Painan dan terus ke selatan lagi maka akhirnya tiba di Batangkapas itu pada pukul 8 malam. Hujan turun agak deras. Nagari Batangkapas itu tanak bagaikan berhari raya dengan hiasan gaba-gaba sepanjang jalan beserta marawa-marawa (panji-panji) dengan tata warna. Panitia menyambut kedatangan kami dan langsung membawa ke sebuah rumah Gadang yang sudah dihiasi demikian rupa untuk tempat kami beristirahat.

Lantas apa yang dijumpai?

Di dalam Rumah Gadang itu ternyata sua beda ulama-ulama terkemuka dari pihak Kaum Muda yang nama satu persatuannya masih kuat teringat dalam ingatan saya ialah Syekh (Dr) Abdulkarim Ahamad dan beberapa tokoh ulama lainnya.

Apa niat uang sebenarnya dari panitia pertemuan mempertemukan dua pihak yang terpandang sangat berlawanan  amat sengit selama ini tidaklah dapat diduga. Mungkin ingin menyaksikan tokoh-tokoh ulam yang sangat berlawanan itu akan saling “bercakaran” dalam bidang permasalahan. Jikalau memang itulah niat tersebut maka pihak panitia perayaan sungguh kecewa sekali.

Sebelumnya? Ternyata kedua kelompok ulama itu yang merupakan pemuka Kaum Muda dan pemuka Kum Tua ternyata mereka saling berpelukan satu persatunya sesudah berjumpa di Rumah Gadang itu. Semuanya adalah bekas murid Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Mekkah al-Mukarramah. Dan selama itu asyik”ngobrol” tentang pengalaman masing-masing selama berada di Mekkah al-Muakrramah dengan berbagai “lelucon”  hingga sebentar-sebentar terdengar suara galak (ketawa) terbahak-bahak dari masing-masingnya.

Keesokan harinya sampai sore dan malam selama perayaan maulid nabi itu, ternyata tidak ada “perang mulut” sama sekali antara pihak Kaum Muda dengan pihak Kum Tua. Sehingga panitia perayaan itu pada hakikatnya telah berjasa mempertemukan kedua pihak yang telah sekian lama tidak pernah berjumpa muka dan berhadapan muka. Selanjutnya apa yang dibicarakan oleh kedua pihak pada malam itu sampai larut mala, (karena saya sendiri telah tertidur lebih dulu), tiadalah saya ketahui. Akan tetapi semenjak itu secara amat perlahan dan berangsur dapat dirasakan pertentangan yang demikian sengit antara Kaum Muda dengan Kaum Tua mulai agak mereda.

Kasus yang kedua ialah undangan ke Pandaisikek, terletak di kaki gunung Singgalang dan Nagari Pandaisikek itu punya sejarah sangat tercatat di Minangkabau karena di situ bermula gerakkan Paderi di Minangkabau pada awal abad ke 19 sebelum aliran baru dalam keagamaan yang dibawa Haji Miskin dari tanah Suci, yang di Arabia dikenal dengan gerakan Wahabi yang cirinya puritanism, dan segera berkembang pesat di Minangkabau sampai kepada masa Tuangku Imam Bonjol, dan pecah Perang Paderi (8-18-1835) menentang infiltrasi kolonialisme Belanda.

Tokoh-tokoh dari nagari Pandaisikek itu pada umumnya saudagar besar di Fort Ed Kock (Bukittinggi) hingga masjid Buya Pandaisikek itu sangat indah. Bahkan rumah-rumah penduduk masa itu agak istimewa terbanding kepada nagari-nagari lainnya.

Buya Syekh Sulaiman Arrasuli sengaja membawa saya ke Pandaisikek itu. Kami tiba malam hari. Udara sangat sejuknya di kaki gunung Singgalang itu. Kami dibawa oleh panitia ke sebuah rumah yang sudah disediakan untuk tempat beristirahat.

Lantas apa yang terjadi? Di rumah tempat beristirahat itu ternyata sudah berada Angku Rasyid Telor dari Pariaman, seorang ulama muda yang sangat ekstrem selama ini menyerang Kaum Tua pada setiap tablighnya. Beliau adalah bekas murid syekh (Dr) Abdulkarim Amrullah.

Baca Juga: Sulaiman Arrasuli Ulama Pujangga nan Ahli Adat

Apa sebetulnya maksud panitia mengundang Ulama Muda dan Ulama Tua itu kurang dapat diduga. Jikalau dimaksudkan supaya keduanya “perang mulut” dalam majelis tablig kelak ternyata maksud itu kecewa.

Sebabnya? Sewaktu Buya Syekh Sulaiman Arrasulli tiba di rumah itu maka Angku Rasyid Telor segera datang menyalami beliau dan percakapan selanjutnya sangat ramah sekali, dan Angku Rasyid Telor memanggil Inyiak Canduang itu dengan “Buya”.

Majlis tablig berlangsung. Tidak ada apa-apa terjadi. Semuanya berjalan dengan wajar saja. masing-masing cuma memberikan bimbingan keagamaan yang akan memberikan manfaat kepada hadirin untuk sikap hidup sebagai muslim yang baik. Begitu pun pidato saya sendiri. Malam itu pada saat udara demikian sejuk, kami tidur pada kasur-kasur empuk  dengan selimut bulu yang masih baru dan tebal. Peristiwa Pandaisikek itu tidak berapa waktu sudah sesudah peristiwa Batangkapas.

VI

Pembentukan organisasi pelajar di Canduang pada tahun 1930 itu pada akhirnya menjadi motivasi bagi pembentukan organisasi oleh para pelajar pada perguruan-perguruan Tabiyah Islamiyah di berbagai tempa. Saya sendiri sewaktu-waktu diminta dan diundang untuk memberikan kursus politik di depan para anggotanya, seumpama; ke Jaho (Padangpanjang atas undangan sdr. Bharuddin Rusli; ke Pariaman ada undangan sdr.Aminuddin Yunus; ke Batusangkar atas undangan sdr. Dhamrad, adik Syekh Muhammad Arifin Batusangkar; ke Kamang, Tilatang IV Angkek; ke Limasuku; ke Pasir, Tanjung Alam; dan berbagai tempat lainnya. Sumber bahan bagi saya untuk kursus Politik itu, terutama sekali ialah Daulat Rakyat (Muhammad Hatta dan Syahrir) Fikiran Rakyat (Ir. Soekarno), dan Soeloeh Indonesia Moeda (Ir. Soekarno).

Lambat laun timbul ide untuk menggabungkan organisasi pelajar yang berbagai nama dalam lingkungan Tarbiyah Islamiyah itu ke dalam sebuah kesatuan. Sebagai akibatnya, pada pengujung tahun 1932 berlangsung konferensi kerja yang sangat meriah di Pariaman. Menjelang wakil-wakil pelajar lainnya dari berbagai perguruan Tarbiyah Islamiyah itu datang selengkapnya, maka empat tokoh pelajar (Joesoef Sou’yb, Baharrudin Rusli, Aminuddin Yunus, Hasan Zaini) yang mempelopori konferensi kerja itu mengikat ikrar bersama. Masih saya ingat judul dari ikrar bersama itu, atas usulan sdr. Bahruddin Rusli, menggunakan bahasa Inggris berbunyi “friendship to  freedom” (persahabatan menuju kemerdekaan). Masing-masing memperoleh lembaran ikrar bersama itu.

Konferensi berlangsung. Pariaman dewasa itu bagaikan berada dalam pesta raya dengan gaba-gaba beserta ragam marawa tatawarna oleh karena pembiayaan konferensi dipikul oleh penduduk atas restu al-Ustadz Bagindo Isa Zakaria, yang merupakan tokoh ulama yang sangat dihormati di Pariaman dewasa itu. Terbentuklah kesatuan organisasi dengan nama Pepiindo (Persatuan Pelajar Islam Indonesia). Salah satu keputusan yang penting dari konferensi itu ialah keputusan mengadakan Moment Actie (Aksi Seretentak) untuk memperkenalkan Pepiindo kepada masyarakat umum di Minangkabau.

Keputusan bahwa Pepiindo Pariaman harus mengadakan openbare vergadering (rapat umum) di kota Padang; dan Pepiindo Jaho harus mengadakan openbare vergedering di kota Padangpanjang; Pepiindo Canduang harus mengadakan di Fort de Kokc (Bukittinggi); dan Pepiindo Tabek Gadang harus mengadakan openbare vergadering di kota Payakumbuh. Momen aksi itu ditetapkan pada hari dan tanggal yang sama pada setiap kota tersebut.

Momen aksi itu berlangsung gemilang pada tiga kota (Padang, Padangpanjang, Payakumbuh) akan tetapi mengalami kegagalan di Fort de Kock (Bukittinggi) hingga tidak berlangsung. Sebelumnya bioskop Seala Bio di Fort de Kokck sudah dipesan dan panjarnya sudah dibayar. Selebaran untuk openbare vergadering itu sudah diselesaikan dicetak pada Drukkerij Islamiah, tinggal menyebarkannya. Saya dan kawan-kawan lainnya sibuk menguruskannya. Akan tetapi izin rapat umum itu tidak keluar dari Hoofd ban Planteeslijke Bestuur, yakni pembesar Belanda di Fort de Kock hingga tersebab itu gagal. Kegagalan itu punya kaitan erat dengan kasus pada diri sendi sebagaimana akan diceritakan pada bagian berikut.

*Berlanjut ke: Kenangan Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli 3

Share :
Yoesoef Sou’yb
Yoesoef Sou’yb 3 Articles
Alumni Tarbiyah Islamiyah Canduang 1934 M

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*