Kenangan Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli #3

Kenangan Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli #3
Ilustrasi/dok.Istimewa

Baca Seblumnya: Kenangan Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli 2

VII

Sewaktu saya masih berada di Padangpanjang ada seorang pelajar tingkat atas yang hubungannya akrab dengan saya, yakni sdr. Baheransyah. Ia tinggal pada sebuah ruang bekas kantor almarhum Zainuddin Labay El Yunusi yang berhadap-hadapan dengan daratan toko bertingkat dua tempat asrama pelajar di Pasar Usang itu, dan kantor itu persis berhadapan dengan pintu toko tempat asrama kami. Dalam ruang kantor Diniyah School itu, pada rak-rak dan lemari tersimpan sisa-sisa penerbitan majalah al-Manir yang dulunya dipimpin oleh almarhum Zainuddin Labay El Yunusi, dan bermula diterbitkan oleh Syekh (Dr) Abdulkarim Amarullah. Saya rajin datang ke situ untuk membacanya. Bahkan pelajaran lukis-melukis di bawah bimbingan pimpinan Rifai Ali adalah pada ruang belakang dari kantor Diniyah School tersebut, pada setiap Minggu.

Sdr. Baheramsyah itu rajin mengirimkan berita dan tulisan kepada berbagai harian dan majalah, termasuk mingguan Pandji Poestaka. Sering data wesel kepadanya untuk pembayaran tulisannya. Sering diperlihatkannya kepada saya. Hal itulah yang merupakan salah satu faktor yang mendorong saya untuk ikut pula menulis dalam surat kabar pada masa belakangan. Sdr. Bahermansyah itu menimbulkan kesan dan pengaruh yang kuat dalam diri saya, seperti juga halnya sdr. Muhammad Yunus dalam kemampuannya bercerita.

Hubungan erat antara saya dengan Bahermansyah dan Mumammad Yunus itu tidak lama. Sekalipun saya menamatkan tingkat III pada Sumatera Thawalib di Padangpanjang  itu akan tetapi saya di situ cuma dua tahun saja. Hal itu disebabkan tingkat I saya jalani pada semester pertama. Pada semester kedua ada tempat belajar diloncatkan ke tingkat II yaitu Joesoef  Sou’yb (saya sendi) dan Martina (Putra almarhum Zainuddin Labay El Yunusi) dan Moerad (putra Datoek Sampado, pemilik toko buku di Padangpanjang) dan  Jalaluddin Hassan itu belakangan menjabat Attase penerangan RI di Mesir). Guru Tua kelompok kami di asrama, kakanda Baihaki Abdullah, tiada berhentinya membanggakan peloncatan saya ke tingkat II itu kepada teman-teman sesama kelompok Bayur-Manijau yang masih tetap beda pada tingkat I. Dua tahun yang dimaksudkan itu ialah tahun ajaran 1928-1929 dan tahun ajaran 1929/1930, dan tahun ajaran berikutnya sudah pindah ke Canduang Bukittinggi.

Sewaktu sudah beda di Canduang Bukittinggi menempati kelas IV yakni tahun ajaran 1920/1930 saya pun mulai mengirimkan berita sesewaktu kepada harian Fadjar Asia di Batavia Cetrum (Jakarta_ yang dipimpin oleh H.OS.Tjokromino dan kepada harian Oetoesan Indonesia di Jogya yang dipimpin H.A. Salim; dan kepada Harian Pewarta Deli di Medan, yang dipimpin oleh Adi Negoro. Terutama sekali kepada harian Berita di Padang, yakni Direktur dijabat oleh Muhammad Basjir dan Hoofd Redacteur (Pimpinan Redaksi dijabat oleh Roestam Soetan Palindih (pada masa itu baru dalam penjara) dan oleh wakilnya Suaku ( Sutan Usman Karim yang pada masa belakangan menjabat Duta Besar Indonesia untuk Filipina. Dari belanja yang setiap bulan saya terimakan dari Langsa (Aceh) sengaja saya sisihkan untuk membeli satu kodi kertas tulis dan satu botol tinta beserta mata pena dan beberapa lembaran prangko. Pada masa itu saya belum punya mesin tik.

Belakangan, kecuali mengirimkan berita, maka juga mengirimkan tulisan. Setiap tulisan saya itu, pada harian Berita di Padang, senantiasa ditempatkan pada halaman 1 belahan kiri bagian atas, menelan tempat biasanya dua kolom atau lebih, dengan headline tiga kolom dan tertanda: Joesoef Sou’yb. Tempat serupa itu pada harian Pewarta Deli di Medan khusus bagi penempatan tulisan Adi Negoro. Setiap tulisan saya itu bersifat politik dan nada isinya senantiasa mengecam dengan sengit terhadap berbagai kebijakan kolonialisme Belada.

Menjelang pertengahan tahun 1932 datang surat Suska kepada saya di Baso menyatakan akan berkeliling di Minangkabau  dan singgah di Baso oleh karena ingin berjumpa dengan saya. Pada hari direncanakannya itu saya tidak pergi belajar ke Canduang. Tapi saya merasakan gugup untuk berjumpa dengannya karena jabatan Hoofd Redacteur (pemimpin redaksi) pada masa Hindia Belanda itu amat agung pada mata masyarakat. Di balik itu bagi saya sendi ada sebab yang lain. Menjelang pertengahan tahun 1932 itu saya masih berusia 15 dan peragawan tubuh kecil.

Tersebab itulah saya tetap berada di asrama tapi belakangan pemilik restoran di baso itu (mal Ruslan: jago bola pada kesebalasan Baso), data ke asrama dan berkata kepadaku “(Hai Yusuf, ada orang datang dari Padang kepingin berjumpa denganmu!).

Mau tak mau saya terpaksa pergi menjumpai Suka di restoran tersebut. Dan apa yang terjadi? Matanya terbeliak memandangiku. Sewaktu saya sudah dekat kepadanya, maka ucapannya yang pertama-tama keluar ialah “E-he, kecil wa-ang ruponyo !”. (He, kecil kau rupanya!).

Ucapannya yang pertama itu amat kuat membekam (memeluk dengan erat) dalam ingatan saya sampai kini. Mungkin tadinya dia membayangkan bahwa yang menulis karangan-karangan demikian sengit dan tajam menentang kolonialisme Belanda itu seseorang yang berbadan tegap besar, bersikap garang. Ternyata cuma seorang remaja perawakan kecil!

Baca Juga: Apologetik Tarekat Naqsyabandiyah dalam Kitab Dawaul Qulub fi Qishah Yusuf wa Yaqub Karya Syekh Sulaiman Arrasuli Sastra Seorang Ulama

Sekalipun begitu dia memberikan dorongan-dorongan yang amat berharga bagi sejarah hidup saya selanjutnya. Dia Berantakan apa yang saya perlakukan. Saya katakan bahwa sudah menulis sekian lama kepada Berita tapi belum beroleh Perskaart (Kartu Pers) sampai kini. Ia pun berjanji akan mengirimkannya segera setelah pulang ke Padang.

Perskaart itu belakangan datang. Menurut ketentuan pada masa itu setiap Perskaart mestilah dilaporkan dan ditandatangani oleh Hoofd Commisaris ban Politie (Komisaris Besar Polisi) di Fort de Kock ataupun oleh Hord Van Plaatselijke Bestuur (Konstelir) di Fort de Kock. Pada hari Sabtu berikutnya, yakni hari pasar di Fort de Kock, saya pun pergi ke kantor G.P.B. di Fort de Kock. Saya memperlihatkan Perskaart kepada opas kantor dan Hendra menjumpai H.P.B, Mungkin dipandanginya saya cuma anak kecil, hingga dipandangnya enteng, saya tidak diizinkannya masuk dan dia sendiri mengantarkan Perskaart tersebut ke dalam. Sementara itu tamu-tamu Belanda keluar masuk dengan bebas. Pada pukul 12 barulah saya dipanggil masuk.

Dan apa yang terjadi? Sewaktu saya di depan pintu masuk dan maju mendekati mejanya, maka kalimat yang pertama keluar dari mulut pembesar Belanda itu ialah “Kowe, Joesoed Sou’yb?”

“Ya”.

Tiga kali pertanyaan serupa itu diulangnya seakan-akan dia tidak percaya akan pendengaran telinganya. Mungkin Adira sendi mengikuti setiap isi hara Berita di Padang ataupun setidak-tidaknya menerimakan Lapan P.I.D. yang terus menerus kepadanya. Sekalipun begitu dia membubuhkan Cap HPB pada Perskaart itu dan menandatanganinya dan menyerahkannya kepada saya, sambil menggeleng-gelengkan kepadanya dengan dengan takjub.

Kasus itu mengandung rentetan akibat. Buya Syekh Sulaiman Arrasuli terpanggil menghadap Tuangku Laras Tilatang IV Angkek di Kamang. Apa yang terjadi di situ barulah belakangan sekali saya ketahui melalui guru Tua kami, Sulthain Dt. Rajo Sampono. Buya syekh Sulaiman Arrasuli kena ancam di situ, bahwa jikalau seorang muridnya bernama Joesoef Sou’yb tidak dilarang menulis dalam surat kabar maka pada guru Tarbiyah Islamiyah di Canduang akan ditanamkan pula “coro” (resersi-gelap) seperti terhadap perguruan Sumatera Thawalib di Padangpanjang maupun di Parabek.

Saya sendiri tidak mengetahui kasus Buya Canduang dengan Tuangku Laras itu. Saya cuma terpanggil ke Gaduang. Buya Syekh Sulaiman Arrasuli dengan sikapnya yang Tanang itu bertanya kepada saya, (isi tanya jawab masa itu masih tetap teringat oleh saya), berbunyi Yusuf, apa maksud orang tuamu mengirimu kemari?”

Belajar, buya”.

“Jadi kau ketahui apa yang menjadi niat oleh orang tuamu ?”

Ya, buya”

“Tapi tampaknya kau tidak memperdulikan  maksud orang tuamu itu”.

Saya berdiamkan diri.

“kabarnya lebih banyak tempomu habis untuk menulis ke surat kabar. Apakah betul kau sering menulis ke surat kabar?”

“ya, buya”.

“Kini perlu kau sadari betul akan maksud orang tuamu membiayaimu belajar. Hentikan menulis itu, dan berikan tempomu sepenuhnya untuk pelajaranmu. Jikalau sudah tamat dengan baik apa saja yang kau mau lakukan bolehlah buat”.

Saya berdiamkan diri.

“Ada kau dengar?”

“Ya, buya”.

“Mau mengikuti nasihatku itu?”

“Ya, buya”.

Berakhirlah pertemuan itu. Saya pun mengirim surat kepada reaksi harian Berita di Padang tentang nasihat Buya Canduang terhadap diriku itu. Ternyata surat itu dijadikan bahan berita dengan kepala berita yang sangat sensasional, berbunyi: Joesoof Sou’yb Dilarang Melakukan Kegiatan Jurnalistik.

Luasnya, waktu surat kabar yang memuat berita itu beredar di Baso dan Canduang, maka sorenya saya terpanggil ke Canduang. Biasanya saya disuruh duduk di kursi tapi kali ini saya suruh duduk di lantar. Buya Syekh Sulaiman Arrasuli berdiamkan diri sekalian lamanya. Tampaknya menahan kemarahan yang bergejolak dalam dirinya. Paling akhir, setelah sekian lamanya, baulah beliau berkata dan kalimatnya uang pertama-tama diucapkan saat itu masih teringat oleh saya sampai kini, berbunyi : “Jikalau wa-den tindak tuo den injak-injak wa-ang! (jikalau saya tidak tua, saya lunyah kau dengan kaki!).

Saya pun mengangkat muka memandangi beliau keheranan.

“Pabilo (kapan) saya melarang kau bekerja jurnalistik? Bukankah saya cuma menasihatimu? Kau ini telah membikin namaku busuk di Minangkabau !”

Saya pun segera menjelaskan duduk kejadian bahwa berita itu bukan yang membikinnya. Saya cuma berkirim surat bahwa beliau menasihati saya, tapi redaksi surat kabar itu telah menjadikannya bahan berita dan menyusun berita secara dramatis sekali. Mendengarkan penjelasan itu agak reda kemarahan beliau, dan beliau pun berkata: “Jikalau begitu bikin bantahan berita tersebut”.Baiklah, Buya”.

Setelah bantahan berita itu tersiar barulah Buya Syekh Sulaiman Arrasuli merakan puas. Tapi beberapa waktu belakangan, kegairahan untuk menulis tidaklah dapat saya tahan-tahan. Banyak permasalahan-permasalahan masa itu menurut hemat saya perlu disoroti dengan tajam. Akhirnya saya kembali menulis kepada harian Berita di Padang itu dan setiap tulisan itu tetap ditempatkan pada alam I belahan sebelah kiri bagian atas, akan tetapi kini mempergunakan nama Ki Iwan Prawira. Barang siapa meneliti susunan kalimat setiap tulisan itu niscaya akan tetap juga maklum bahwa penulisnya tidak lain dan tidak bukan ialah Joesoef Sou’yb. Mungkin banyak orang kurang memperhatikan kenyataan itu hingga tulisan Ki Iwan Prawira itu tetap berlanjutan dalam harian Berita itu. Bahkan tulisan ku pada majalah Semangat Pemoeda di Padang yang dipimpin Mhd. Dien Yaim (mahasiswa tingkat terakhir pada Islamic College di Padang setelah sebelumnya menyelesaikan tingkat VII pada Sumatera Thawalib di Padangpanjang), juga terpaksa mempergunakan nama: Ki Iwan Prawira.

Baca Juga: Kenangan Sangat Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bagian #1

Beberapa waktu kemudian Buya Syekh Sulaiman Arrasuli data ke asrama kami di Baso. Belia jarang sekali mengunjungi asrama-asrama pelajar hingga kedatangan beliau itu amat mengejutkan kami.

Ternyata kedatangan beliau meminta saya memasukan satu persoalan ke dalam surat kabar di Padang, sebuah persoalan yang dia pandang sangat urgen sekali. Pada saat itu saya menerkurkan kepala dan dengan suara agak terbata-bata, berkata: “tapi saya telah buya nasihati supaya menghentikan menulis di surat kabar”.

“Tapi ini perlu diberitakan!”

Sewaktu berita tersebut tersiar dalam surat kabar di Padang maka tampak Buya Syekh Sulaiman Arrasuli merasakan amat puas sekali. Tampak pada wajah belia ketika saya membacakan berita tersebut kepada beliau di Gaduang.

Kasus yang hampir iri dengan itu terjadi lagi pada masa revolusi, sewaktu markas besar komando teritorial Sumatera dipindahkan dari Pematang Siantar ke Bukittinggi disebabkan Agresi Pertama (Juli 1947) dari pihak  Belanda dan isya yang turut mengungsi dari Sumatera Timur ke Bukittinggi diminta  (melalui sdr. Aminuddin Yunus) menjabat Kepala Pepolit (Pendidikan Politik Tentara) dari seksi XI yang berada di bawah pimpinan kolonel Syarif  Usman dan belakangan diminta menjabat Kepala Bagian Penerbitan Seksi XI dengan merangkap jabatan pemimpin redaksi berkala-bulanan Penoentoen Perdjuoangan  dan pemimpin  redaksi berkala-militer Senopati dan Pemimpin redaksi mingguan Aksi (mingguan ini terbit pada saat pecah Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 untuk menghadapi pengaruh komunis di Minangkabau), maka pada saat itu dan istri berdiam di Baso dengan kembali menyewa rumah bertingkat di kepunyaan Biai (ibu) Jama yang menghadap jalan ke sungai Jernih, pulang pergi dari dan ke Bukittinggi dilakukan dengan kereta api setiap harinya sebagai juga dilakukan oleh penjabat-penjabat lainnya oleh karena perumahan di Bukittinggi sangat terbatas.

Pada masa itulah Buya Syekh Sulaiman Arrasuli sengaja data ke Baso, (sedangkan biasanya saya sering berkunjung ke Gaduang), dan kedatangannya itu memintaku menyusun risalah tipis mengenai riwayat ringkas beliau dan pandangannya tentang beberapa soal yang kemudian terbit dengan catatan cukup rapi. Pada saat pecah agresi kedua (1948) dari Inter mengungsi ke Bayur Maninjau , maka peralatan rumah tanggaku beserta perpustakaan pribadi yang saya bangun di Baso musnah diobrak-abrik dan diangkut Belanda. Tersebab itulah sampai kini saya ludah tidak mempunyai risalah kecil itu.

Kembali pada permasalahan Perskaart dan tulisan-tulisan harian Berita di Padang sekitar tahun tiga puluhan itu  maka tampaknya kenyataan tersebut telah diperalat pihak H.PB. di Fort de Kock untuk melakukan tekan terhadap tuangku Laras Tilatang IV Angkek dan melanjutkan kasus itu telah diperalat pihak H.P.B. di Fort de Kock itu untuk tidak memberikan izin bagi Momen Aksi pihak Peperindo di Fort dek Kock. Itulah pangkal bagi kegagalan momen aksi itu sekalipun persiapan telah cukup.

VIII

Peperindo, kesatuan organisasi angkatan muda dalam lingkungan Tarbiyah Islamiyah pada akhirnya merupakan motivator bagi angkatan tua untuk membentuk pula kesatuan organisasi, musyawarah besar berlangsung di kota Payakumbuh. Terbentuknya kesatuan organisasi yang bernama Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai organisasi sosial yang bertujuan memperkembangkan dan meningkatkan pendidikan Islam dan dakwah Islam. Sulthain Dt. Rajo Sampono terpilih menjabat ketua PB (Pengurus Besar) yang pertama-tama dari Persatuan Islam (Perti) itu. Beliau dewasa itu telah memimpin Perguruan Tarbiyah Islamiyah di Bayur- Maninjau atas restu Syekh Muhammad Salim.

Pada tahun ajaran 15 syawal 1351 H s/d 15Sya’ban 1352 H (12 Februari s/d 4 Desember 1933) saya telah menyelesaikan tingkat VII akan tetapi dimestikan menjalani tingkatkan Takhasshush satu tahun lagi dan saya selesaikan pada 15 Sya’ban 1353 H/23 November 1934. Saya tidak langsung pulang ke Langsa (Aceh) akan tetapi pulang ke Bayur Maninjau untuk berpuasa dan per hari raya di kampung.

Sehabis bulan puasa (Ramadhan) kakanda Shulthain Dt. Rajo Sampono meminta saya mengajar pada perguruan Tarbiyah Islamiyah di Bayur Maninjau dengan alasan menunggukan hasil penilaian Buya Syekh Sulaiman Arrasuli atas setiap tamatan Tarbiyah Islamiyah di Canduang Bukittinggi. Permintaan itu beralasan dan tersebab itulah saya terima.

Apa yang ditunggu-tunggukan itu pada akhirnya tiba. Pada tanggal 1 Zulkaedah 1354 H/25 Januari 1936 berlangsung upacara perayaan di Candung Bukittinggi untuk Penyerahan Ijazah yang pertama kalinya sejak perguruan Tarbiyah Islamiyah itu berdiri pada tahun 1928. Lulusan Tarbiyah Islamiyah yang berhak menerimakan Ijazah al-Ahliyah dari berbagai daerah di Sumatra baikpun perangkatan-perangkatan duluan maupun perangkatan belakangan, berkumpul kembali di Canduang. Penduduk Canduang menyembelih kerbau dan sapi untuk pesta raya itu.

Baca Juga: Wasiat Syekh Sulaiman Arrasuli dalam Ijazah MTI Canduang

Bagaimana bentuk dan isi ijazah ahli-ahliah itu pada masa dulu yang agak berbeda dengan ijazah yang biasa pada umumnya mungkin sedikit orang mengetahuinya. Tersebab itu inginlah saya merekam bentuk dan isi ijazah alAhliyah itu sebagai berikut di bawah ini :

Demikian bentuk dan isi ijazah al-ahliyah itu. Sebuah kenyataan yang dapat  disaksikan bahwa tidak lagi ditekankan mazhab sendiri (ulama a-mashabihi), dimaksudkan mazhab hukum alSyafi’i  tapi jika diperlukan terbuka pintu bagi memperpegangi mazhab lainnya (ulama u-mazhabi ghairihi). Hal itu sudah memperlihatkan keterbukaan dalam cakrawala pemikiran keagamaan. Itulah satu perkembangan baru dalam lingkungan  Tarbiyah Islamiyah.

IX

Saya cuma dua tahun mengajar pada Tarbiyah Islamiyah di Bayur Maninjau itu, mulanya guru pada tingkat II dan kemudian guru pada tingkat III dan pada bulan Januari 1937 dengan izin kepada Sulthain Dt. Rajo Sampono saya pun berangkat ke Langsa (Aceh Timur dengan mampir di Kualasimpang menjumpai bakal mertuaku, Hajjah Fathimah.

Pada mulanya saya berikhtiar untuk menjadi guru pada salah satu perguruan Islam di Aceh itu akan tetapi tidak ada lowongan terbuka bagiku. Ayahku masa itu sudah pindah berniaga dari Blangkejeren ke Lukop dan saya dimintanya data ke Lukop. Dari Langsa naik kereta api ke Peureulak dan dari Peureulak naik bus ke perkebunan Karang Inoung, maskapai perkebunan kepunyaan Jepang dan dari situ berjalan kaki tiga hari melalui jalan setapak di tengah hutan  rimba dan barulah tiba di Lukop yang termasuk wilayah Gayo Luas juga. Saya Cuma sempat tinggal tiga bulan di situ dan terpaksa pulang kembali ke Langsa disebabkan timbul sengketa dengan raja wilayah Lukop beserta Gesaghebber-Milter pihak Belanda di situ yang menuduh saya mengacau dan mau merombak tradisi.

Menjelang beroleh kerja tetap atas bantuan iparku (Abdullah Gelar Marah Palindih) sebagai anggota staf pembukuaan NV. Deli-Atjeh, maskapai dagang Belanda dengan kantor pusat berkedudukan di Medan maka saya pernah mengalami sebagai pedagang kain dari perkebunan ke perkebunan setiap hari gajian dan setiap hari premi tengah bulanan. Daerah Langsa dan Kualasimpang masa itu, kecuali daerah pertembangan minyak bumi kepunyaan BPM, maka juga daerah perkebunan karet dan kelab sawit.

Saya mulai masuk kerja pada bulan September 1938 dan berhenti pada akhir Juni 1939. Saya terminta menjabat pemimpin redaksi berkala Doenia Pengalaman di Medan yang diterbitkan oleh Poestaka Islam. Dengan begitu saya telah menemukan jabatan yang sesuai dengan kegairahanku. Selama berada di Canduang sampai tingkat Tkhasshush dan selama dua tahun berada di Bayur Maninjau saya tidak hentinya menulis ke berbagai majalah dan harian, termasuk Soloeh Islam (A.R. Hadjat) dan Pedoman Masyarakat (Hamka) di Medan. Sejak bulan Juli 1939 itulah sampai masa kini saya berada dan menetap di Medan. Saya yang dimaksudkan oleh orang tuaku untuk menjadi “Kiai” ternyata menjadi wartawan dan pengarang.

Sewaktu berlangsung Musyawarah Ulama Seluruh Indonesia di Medan tahun 1953 maka ketua dan wakil ketua dari Mahkamah Syariah Sumatera Tengah, Buya Syekh Sulaiman Arrasuli dan Buya Dt. Kayo ditempatkan pada rumah kediaman resmi dari Walikota Medan, di jalan Sudirman. Saya data mengunjungi keduanya di Situ dan kedua buya itu sempat makan di rumah sambil berbincang-bincang sekian lamanya. Pada masa itu saya menjabat pemimpin redaksi Waktu yang pemasarannya masa itu luas sampai ke wilayah Maluku dan juga ke Malaysia. Direksi mingguan bergambar yang sangat populer itu dijabat oleh sdr. Zahari.

Pertemuan saya yang terakhir dengan buya syekh Sulaiman Arrasuli ialah pada awal tahun 1970, sewaktu saya harus pulang menjumpai ibu ke kampung, dan mampir di Candung. Usia belum saat ludah sangat lanjut dan sudah uzur dan ingatan sudah tidak tajam seperti masa-masa sebelumnya, hingga kalimat pertama-tama keluar dari mulut beliau ialah: “Sia wa-ang garangan?” (Siapa kau agaknya?). setelah saya sebutkan namaku lantas beliau mendekap dan mencium keningku. Saya dan siteri tidak diizinkan pulang ke Bukittinggi dan memastikan bermalam di Gaduang malam itu. Beberapa bulan kemudian yakni 1 Agustus 1970 beliau wafat dan pulang ke dalam pangkuan rahmat-Allah! Minangkabau kehilangan lagi seorang ulama terbesar buat zamannya.

Selesai!

Share :
Yoesoef Sou’yb
Yoesoef Sou’yb 3 Articles
Alumni Tarbiyah Islamiyah Canduang 1934 M

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*