Kenangan Sangat Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bagian 1

Kenangan Sangat Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli
Ilustasi/poto KoleksiUmi Nuriyah Binti Sulaiman Arrasuli UN

Kenangan Sangat Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bagian 1

Tulisan ini ditulis oleh Yoesoef Sou’yb dalam rangka mengenang 15 tahun (1970-1985) kemangkatannya Syekh Sulaiman Arrasuli. Yoesoef Sou’yb  seorang murid dari generasi awal Tarbiyah Islamiyah. Yoesoef Sou’yb banyak menceritakan perihal polemik Kaum Tua dan Kaum Muda di Minangkabau pada masa awal tahun 1920an. Pada masa itu Tarbiyah Islamiyah dengan Syekh Sulaiman Arrasuli dkk. dan Sumatera Thawalib sebagai sentral polemik itu sendiri. Uniknya Yoesoef Sou’yb terlahir dari kedua perguruan tersebut akibat kerasnya “polemik” itu dalam keluarganya sendiri. Yoesoef Sou’yb sempat menceritakan sempat “dimarahi” akibat kegiatan tulis menulis di media masa itu tapi tetap menjadi murid yang disayangi oleh Syekh Sulaiman Arrasuli.

I.

Syekh Sulaiman Arrasuli (1297-1390H/1879-1970M), yang di Minangkabau lebih dikenal dengan panggilannya Inyiak Canduang oleh karena membangun Pesantren di Canduang -Bukittinggi, adalah bekas murid Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Mekkah al-Mukarramah seperti juga halnya dengan ulama-ulama terkemuka lainnya di Minangkabau. Beliau dilahirkan di Candang, tahun 1297 H/Desember 1978 M, dan kemudian melanjutkan pelajaran ke Mekkah al-Mukaramah.

Pada masa pendudukan Jepang, beliau menjabat ketua Majelis Tinggi Islam di Sumatera Barat dan pada masa revolusi dan sesudahnya pengakuan kedaulatan RI oleh pihak Belanda (1950), beliau menjabat sebagai ketua Mahkamah Syari’ah Sumatera Barat, yang dijabat belia sampai kepada masa wafatnya pada 1 Agustus 1970M/1390, sedangkan wakil ketua dijabat oleh bapak Dt. Palimo Kayo.

Syekh (Dr) Abdulkarim Amarullah sekitar tahun duapuluhan, menjelang pemberontakan PKI tahun 1926 di Padangpanjang menjelang dan Silungkang, mengganti sistem halaqah dengan sistem perguruan di Padangpanjang, dikenal dengan perguruan Sumatera Thawalib, maka Syekh Sulaiman Arrasuli pada bulan Mei 1928, atas anjuran murid yang sangat disayanginya dan belakangan menjadi menantunya, Sulthain Dt. Rajo Sampono, mengganti sistem halaqah pula dengan sistem perguruan, dikenal dengan perguruan Tarbiyah Islamiyah. Itulah perguruan Tarbiyah Islamiyah yang pertama-tama dan kemudian perguruan Tarbiyah Islamiyah itu berkembang di Minangkabau dan di luar Minangkabau,  seperti pula halnya dengan perguruan Sumatera Thawalib itu.

Syekh Abdulkarim Amrullah dewasa ini terkenal dengan pemuka Kaum Muda di Minangkabau dan Syekh Sulaiman Arrasuli dikenal pemuka Kaum Tua. Sedangkan tokoh itu sama-sama murid Syekh Ahamad Khatib al-Minangkabawi di Makkah al-Mukarramah.

Saya sendiri barulah pertama kalinya mengenali dan menampak wajah buya (Inyiak) Canduang itu secara langsung pada 15 Syawal 1348 H/16 Maret 1930 M) sebagai pelajar perguruan Tarbiyah Islamiyah itu pula pada tingkat IV dan bahkan tamat di situ sampai tingkat VII tahun 1951 H/1933 M dan diwajibkan memasuki tingkat Tahkhasshush (spesialisasi) satu tahun (1352 H/1934 M) dengan memperoleh Ijazah al Ahliyah dari syekh Sulaiman Arrasuli. Sebelum saya adalah pelajar perguruan Sumatera Thawalib di Padangpanjang dari Tingkat I sampai Tingkat III (1346-1348 H/1928-1930 M). Mungkin terdengar agak aneh, bahwa saya berai pendidikan dari pusat Kaum Muda kepada pusat Kaum Tua pada masa itu.

Peralihan itu disebabkan peri keadaan dalam lingkungan keluarga saya sendiri. Saya dikira belajar ke Sumatera Thawalib di Padangpanjang itu oleh ayahku, Syu’aib gelar Marah Bagindo. Dititipkan pada ketua kelompok pelajar dari Blangkejeren, kakanda Beihaki Abdullah. Ayahku itu saudagar di Blengkejeren, Gayo Luas, daerah pedalaman Aceh. Sewaktu  saya menyelesaikan Tingkat III dan akan naik ke Tingkat IV datang surat ayahku menyatakan menunaikan Rukun kelima ke Tanah suci dan bermaksud akan bermukin di Tanah Sucit itu setahun-dua. Tersebab itu dimintanya saya menghentikan pelajaran lebih dahulu, dan sesudah beliau pulang dari Tanah suci kelak, barulah disambung kembali.

Baca Juga: Syekh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi Ulama Besar Minangkabau

Tapi saya sendiri masa itu sangat haus untuk melanjutkan pelajaran. Pada masa sebelumnya, saya menamatkan Sekolah Gubenurmen (Gouvernement School) di Langsa (Aceh Timur-Oestkust van Atjeh) pada 15 Sya’aban 1346 H/6 Februari 1928 M di bawah asuhan iparku, Abdullah gelar Marah Palindih, dan kakakku perempuan, Sauyah. Setelah tamat. Sekolah Gubernemen di Langsa itu barulah ayahku meminta kepada iparku di Langsa supaya mengirimkan saya kepadanya di Balangkejeren, dan dari situlah saya berangkat  belajar ke Padangpanjang sehabis bulan Ramadhan 1346 H/1928 M.

Oleh karena saya sangat berkeinginan melanjutkan pelajaran maka saya pun berkirim surat kepada iparku di Langsa supaya dia sudi membiayai pelajaranku. Datang surat jawabannya bahwa dia tidak sudi membiayai jikalau belajar Sumatera Thawalib Padangpanjang itu tapi sebaliknya akan sudi membiayaiku belajar jikalau saya pindah belajar ke perguruan Tarbiyah Islamiyah di Canduang-Bukittinggi. Tersebab itulah saya beralih pendidikan dari pusat Kaum Muda kepada pusat Kaum Tua masa itu.

Dua tahun kemudian ayah pulang dari Tanah Suci. Saya pun berkirim surat kepada beliau di Blangkajeren, menyatakan bahwa saya telah melanjutkan pelajaran sepeninggalnya dan kini sudah berada pada Tingkat VI, dan meminta kepada ayahku itu supaya mengirimi tambahan belanja setiap bulan. Datang jawaban surat dari beliau, bahwa dia tidak sudi akan mengirimi tambahan belanja jikalau saya tetap belajar di perguruan Tarbiyah Islamiyah di Canduang-Bukittingi itu, tapi sebaliknya akan sudi membiayai kelanjutan pembelajaranku jikalau saya punah kembali kepada perguruan Sumatera Thawalib di Padangpanjang.

Ayahku itu adalah Kaum Muda dan Iparku itu Kaum Tua. Demikianlah pertentangan Kaum Muda dengan Kaum Tua pada masa itu. Tapi ternyata saya tidak beralih pendidikan dari Canduang-Bukittinggi itu, hingga saya tidak pernah beroleh tambahan belanja dari ayahku. Mau tak mau tentu timbul soal: “Kenapa saya masih tetap bertahan untuk belajar pada pusat Kaum Tua itu sampai tamat tingkat VII dan tingkat Takhassush?” Jawaban soal itu akan dijelaskan pada bagian Kedua di bawah ini.

II

Setelah saya berada pada pusat Kaum Tua di Canduang-Bukittinggi itu saya pun menyaksikan keanehan. Ternyata-nyata kitab-kitab berbahasa Arab yang dipelajari, baik pun pada Tarbiyah Islamiyah di Canduang maupun pada Sumatera Thawalib di Padangpanjang, adalah sama sejak tingkat I sampai tingkat VII. Pada tingkat I umpamanya sama mempelajari Matan Bina dan Matan Jurumiyah dalam bidang tata bahasa Arab dan Matan Taqrib dalam bidang Hukum Islam dan Darusal-akhlaq dalam Nilaibudi; dan pada tingkat VII umpama sama mempelajari Bidayatul al-Mujtaahid (2 jilid tebal) dalam bidang hukum Islam, karya Abu Walid Ibnu Rusdhid (1126-1198 M),  yang di Eropa sejak zaman kebangunan (renaissance) pada Abad -14 masehi yang dikenal dengan Averroes. Begitu pun kitab-kitab pelajaran dalam bidang ilmu asas hukum (Ilmu ushulil fiqhi) dan bidang Ilahiyat (al-Tauhid) dan bidang ilmu tata pikir (al-Mantiq = Logika) dan bidang ilmu nilaibudi (al-Akhlaq =etika) dan bidang ilmu seni bahasa arab (al-balaghah) dan bidang ilmu sajak (al-wazan) dan bidang ilmu sejarah Islam (altarikh) beserta bidang-bidang lainnya. Dalam bidang hukum Islam cuma memang terdapat kitab-kitab yang tidak dipelajari pada Sumatera Thawalib di Padang Panjang akan tetapi dipelajari pada Tarbiyah Islamiyah di Canduang-Bukitting, yaitu Inayat al-Thalibin (4 jilid tebal) dan al-Mahalli (2 Jilid  tebal) yang ciri isinya lebih menekankan mazhab hukum alSyar’i. Sedangkan al-Muhassab (2 jilid tebal) dan Nawlul Awthar (9 Jilid) sama dipelajari oleh kedua perguruan tersebut. Di balik itu ada sebuah kitab dalam bidang ilmu kerohanian (al-tashauf) yang tidak dipelajari pada Sumatera Thawalib akan tetapi dipelajari pada Tarbiyah Islamiyah yaitu Ihyaul Ulumudd-din (4 Jilid tebal) karya Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M) ahli pikir Islam terkenal itu.

Kedua perguruan itu sama-sama mempelajari Ilmu-Ilmu agama melulu. Ilmu umum agak sebuah pun tidak masuk dalam kurikulum pelajaran.

Terhadap pernyataan yang saya saksikan itu tentu ada pihak yang ingin mengetahui keanehan itu dan bertanya: “jika kedua perguruan itu sama mempelajari kitab-kitab yang serupa, sama mengkhususkan pada ilmu-ilmu agama melulu, kenapa lulusan Sumatera Thwalib di Padangpanjang itu pada umumnya terpandang bersikap maju dan punya pandangan yang luas dan banyak melibatkan diri dalam pergerakan politik menuntut kecederaan Indonesia?  Sedangkan lulusan perguruan Tarbiyah Islamiyah itu pada umumnya menjadi kiai dan menurut ungkapan pihak Kaum Muda sekitar tahun  tigapuluhan itu) menjadi tukang hitung Tasbih?”

Jawaban atas soal itu dapat saya jelaskan sebagai berikut: Perbedaan sikap hidup itu bukan disebabkan pelajaran pada perguruan di Padangpanjang itu akan tetapi akibat kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstrakulikuler di luar. Mengenang kembali masa limapuluh tahun yang silam itu, yang saya sanksikan dan alami selama berada  di Padangpanjang itu dapat disimpulkan beberapa faktor yang menyebabkan gejala tersebut sebagai berikut di bawah ini:

  1. Perguruan Thawalib Padangpanjang itu sengaja mengadakan taman baca yang lokasinya terletak agak jauh dari perguruan. Jikalau lokasi perguruan terletak pada satu tempat yang ketinggian di Jembatan Besi maka lokasi taman bacaan itu terletak pada ruang Kantor Perguruan di Pasar Usang. Taman bacaan itu melanggani sekian banyak majalah yang dipimpin oleh tokoh-tokoh politik terkemuka dewasa itu seumpama Fikiran Rakyat (Ir. Soekarno) dan Soeloeh Indonesia Moeda (Ir. Soekarno), Daulat Rakyat (Mohammad Hatta dan Syahrir), Benih Indonesia (Dr. Soetomo), Nationale Comentaren (Dr. Ratu Langie), Penindjauan (F.P. Dahler), Abad Ke XX (Adi Negoro) dan sekian banyak majalah lainnya: dan juga melanggani  sekian banyak harian seumpama Fadjar Aasia (H.O.S Tjokrominoto), Pewarta Deli (Adi Negero) dan banyak harian lainnya termasuk harian=harian berbahasa Melayu-Tionghoa seumpama Keng Po, Sin Po, Sin Tit Po dan lainnya. Saya sendiri termasuk yang rajin ke taman bacaan itu seperti juga halnya dengan teman-teman lainnya hingga sekalipun usia masih muda (14-15 tahun) tapi telah cepat matang politik disebabkan bacaan tersebut.
  2. Asrama para pelajar pada umumnya, kecuali rumah-rumah penduduk yang disewakan di sekitar Pasar Usang, maka juga daratan toko bertingkat di Pasar Usang itu, yang pada tingkat bawah berada agama toko dan rumah makan, maka tingkat atas dari setiap pintunya dibagi kepada beberapa Kama untuk disewakan kepada kelompok-kelompok pelajar. Dinding   setiap kamar itu bukan dilapisi dengan kertas bunga akan tetapi dengan surat kabar bekas yang pernah terbit menjelang pemberontakan PKI tahun 1926 di Padangpanjang, yang mana satu persatu surat kabar itu “amat menyegerakan” seumpama: Halilintar, Guntur, Petir, Cemeti, Cambuk, Api, dan sebagainya. Surat kabar dinding itu mau tak mau menjadi bacaan sehari-hari oleh pelajar.
  3. Sumatera Thawalib itu khusus bagi para pelajar putra, Diniyah School Putri yang dipimpin Ancik Rahma El Yunisiah khusus bagi para para pelajar putri. Diniyah School, yang dibangun oleh almarhum Zainuddin Labai El Yunusi, di situ berlaku sistem Co-Education yakni menampung pelajar putra dan pelajar putri. Kebanyakan para pelajar Sumatera Thawalib maupun para pelajar Diniyah Putri, yang belajar di situ pagi hari maka sore hari belajar pada Diniyah School, termasuk saya sendiri. Para pelajar Diniyah School itu punya organisasi bernama PMDS (Persatuan Murid Diniyah School) yang sekali setiap minggu mengadakan pertemuan pada ruang pertemuan untuk belajar pidato dan menerima berbagai bimbingan dan setiap pertemuan itu setiap pertemuan itu senantiasa ditutup dengan bercerita, yakni cerita-cerita yang sangat menarik dan mengasyikkan dan bersambung dari Minggu ke Minggu, dipungutkan dari karya-karya pujangga Prancis maupun Inggris seumpama Gustave Flaubert dan Honore Balzac dan Conan Doyle dan Charles Dickens, dibawakan oleh seorang pelajar tingkat tinggi yang menjabat ketua PMDS, yakni kakanda Muhammad Yunus yang berasal dari Sinabang (Pulau Siemeulu). Beliau meninggalkan kesan yang sangat kuat bagi diri saya.
  4. PMDS itu mengadakan berbagai kegiatan lainnya, biasanya setiap hari Minggu. Mana yang mau belajar musik maka bimbingan dan praktek diberikan oleh Khatib Sulaiman dan Muhammad Yunus. (Pada masa itu film-film yang dipertunjukkan pada setia bioskop masih bisu, dan guna hiburan penonton diadakan balkon bagi kelompok musik, dan Khatib Sulaiman masa itu memimpin kelompok  Musik di Seola Bio) mana yang mau belajar lukis-lukisan maka bimbingan dan praktek diberikan oleh Rifai Ali, murid bapak Yakidi di Fort Ed Kock (Bukittinggi), pelukis terkenal itu. Bagi para trema putri belajar jahit-menjahit dan sulam-menyulam. Saya sendiri mulanya memasuki bidang musik akan tetapi kemudian beralih kepada bidang seni lukis, bersama teman akrab saya bernama Nawawi Butun, di bawah bimbingan Rifai Ali, yang setiap lukisannya sangat mengagumkan kami, baik pun lukisan pigura maupun lukisan pena. Rifai Ali itu, kecuali pelukisan, maka juga penyari angkatan Poedjangga Baroe. Lukisan saya perang mendapat hadiah kedua dalam pameran lukisan serta jahitan dan sulaman, karya anggota PMDS, yang diselenggarakan di ruang bioskop Soela Bio.
  5. PMDS itu belakangan membentuk kepaduan bernama al-Hilal  di bawah pimpinan Muhammad Yunus dan sekretaris dijabat lemon Salim. Sebagai akibatnya berlangsung pula kursus-kursus kepaduan dan sesewaktu melakukan camping.
  6.   Ekstra kurikuler lainnya, bagi yang saka berselera, memasuki kurs berbagai bahasa seumpama bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Jerman menurut pilihan masing-masing saya sendiri memasuki kurs Inggris. 
  7. PMDS itu beserta organisasi pelajar di berbagai perguruan Sumatera Thawalib lainnya mengadakan Fusi pada masa belakangan, yakni bergabung menjadi satu dan muncullah gerakan pemuda yang terkenal sangat militan di Minangkabau nama itu HPII (Himpunan Pemuda Islam Indonesia). Akan tetapi peristiwa sewaktu saya sudah tidak berada di Padangpanjang tetap sudah beda di Canduang. Kebetulan pada saat yang hampir bersamaan dengan itu, saya bersama tiga tokoh pelajar lainnya (Baharuddin Rusli dari Tarbiyah Islmiyah Jaho, Padangpanjang, Aminuddin Yunus dan Hasan Zaini dari Tarbiyah Islamiyah di Pariaman) membentuk kesatuan organisasi pelajar Tarbiyah Islamiyah bernama PERIINDO (Persatuan Pelajar Islam Indonesia). Hal ini akan saya uraikan lebih lanjut.

Demikian berbagai kegiatan ekstra kurikuler di Padangpanjang. Kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstra kurikuler serupa itu saya dapati tidak ada pada perguruan Tarbiyah Islamiyah lainnya. Hal ini akan saya jelaskan lebih lanjut kelak.

Baca Juga: Sosiologi Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli Inyiak Canduang dalam Buku Kisah si Muhammad Arif Bagian 1

Justru kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstra kurikuler itulah yang membikin para pelajar Sumatera Thawalib di Padangpanjang itu punya sikap progresif dan militan. Sedangkan perguruan Cuma melulu mengajarkan ilmu-ilmu agama belaku.

Tentang sebab timbul perbedaan pendapat dan pendirian antara Kaum Muda dengan Kaum Tua dalam berbagai masalah keagamaan masa itu dapatlah saya jelaskan menurut apa yang saya saksikan dan alami sebagai berikut:

I’anah al Thalibin (4 jilid tebal) dan al-Mahalli (2 jilid tebal) dalam bidang hukum Islam, yang dipelajari pada perguruan Tarbiyah Islamiyah Canduang akan tetapi tidak dipelajari pada perguruan Sumatera Thawalib di Padangpanjang, lebih memusatkan titik berat pada mazhab hukum al-Syafi’i belaka. Sekalipun Bidayatul al-Mujtahid (2 Jilid Tebal) dan Nawlul Awthar (9 Jilid Tebal) dipelajari pada tingkat terakhir dan tingkat Takhasshush, yang di situ diuraikan perbedaan-perbedaan pendapat (alkhtilaf) dalam kalangan para ahli hukum Islam (alFuqaha) pada masa dulu beserta alasan pikir satu persatunya, namun, sekalipun begitu, pilihan untuk dianut tetap pada pendapat dan pendirian dari pihak mazhab hukum al-Syafi’i, maka harus menganut keseluruhan mazhab hukum al-Syafi’i itu”.

Sebaliknya pada perguruan Sumatera Thawalib di Padangpanjang itu terdapat kebebasan pemikiran dan kebebasan penilaian atas setiap perbedaan pendapat (alikhtilaf) dalam kalangan para ahli hukum Islam (al-fuqaha) pada masa dulu itu. Lantas menganut pendapat yang dipandang lebih berasan sepanjang Naqli maupun ‘Aqli, yakni sepanjang kanonik maupun sepanjang ratio, dengan memperpegangi satu prinsip: “ilmu asa hukum Islam  (Ilmu Ushulil Fiqhi) adalah sebuah sistem bagi pembinaan hukum Islam yang tetap berlaku sepanjang zaman”. Dengan lain ungkapan : “Pintu Ijtihad tetap berlaku setiap zaman!”.

Jadi pertentangan yang demikian sengit antara Kaum Muda dengan Kaum Tua pada masa itu bukan disebabkan perbedaan kitab yang dipelajari akan tetapi cam perbedaan dalam cara memahamkan permasalahan.

*Berlanjut: Kenangan Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bagian 2


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli

Yoesoef Sou’yb
Yoesoef Sou’yb 3 Articles
Alumni Tarbiyah Islamiyah Canduang 1934 M

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*