Kenapa Kita Butuh dan Menyukai Majaz?

Saat melihat seorang penceramah yang begitu bagus dalam menyampaikan materinya. Orasinya membakar semangat, menggelorakan jiwa serta membangkitkan ruh perjuangan siapa yang mendengar. Lalu kita ingin memujinya, kita mencari-cari apa kata yang pas mewakili perasaan kita akan rasa kagum itu. Kalimat seperti, “Ia sangat hebat,” atau, “Luar biasa”, rasanya belum cukup untuk mengekspresikan kekaguman itu. Disinilah kita membutuhkan majaz (Metafora). Kita bisa mengatakan, “Saya baru saja melihat ‘singa’ di atas mimbar,” atau, “Sukarno telah lahir kembali,” dan kalimat-kalimat metafor lainnya.

Ketika ingin memuji kecantikan seorang wanita, terkadang kalimat seperti “Saya kagum pada kecantikanmu…” atau, “Kamu benar-benar cantik…” belum bisa mewakili sepenuhnya perasaan kagum yang bergelora dalam diri. Di sini kita perlu majaz. Kita bisa mengatakan, “Engkaulah bulan purnama yang menerangi jiwaku…”, atau, “Engkau bidadari surga yang mampir sebentar di dunia….” atau kalimat-kalimat puitis lainnya. O ya, perlu diingatkan, kalimat-kalimat pujian itu sebaiknya disampaikan pada orang yang tepat dan sah) .

Terkadang, kekaguman tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kita seperti kehabisan kata-kata atau tidak mendapatkan kata yang tepat untuk mengekspresikan rasa kagum itu. Akhirnya kita lebih memilih diam dan terpana. Justeru, seringkali diam lebih bisa menyampaikan pesan daripada kata-kata. Ketika seorang suami melihat isterinya sangat cantik dengan dandanan dan penampilannya yang inner-beauty, lalu ia menatap sang isteri penuh takjub dengan mulut menganga, bukankah itu lebih mewakili perasaan kagum dan cintanya daripada kalau ia berkata, “Kau cantik sekali…” ?

Terkadang juga untuk mengungkapkan rasa kagum, banyak orang menggunakan kata-kata yang dalam penggunaan normal (hakikatnya) digunakan untuk sesuatu yang negatif. Orang Arab dulu misalnya, ketika sangat kagum pada kecerdasan seseorang, mereka akan mengatakan tentang orang itu, “Ia Setan.” Dari sinilah mengapa al-Nazham dijuluki dengan Setan Muktazilah karena kecerdasannya yang melampaui zamannya.

Dalam masyarakat Minangkabau, ketika seorang bayi lahir dalam keadaan normal dan sehat, orang-orang akan berkomentar: “Buruak badannyo lai…” Dan, orang tua si bayi akan tersenyum bahagia meskipun bayinya dikatakan ‘buruk’, karena kata ‘buruk’ dalam konteks ini bukan bermakna negatif melainkan ungkapan pujian dan kekaguman.

Baca Juga: Kearifan Lokal Pengajaran Bahasa Arab di Surau Minangkabau

☆☆☆

Secara bahasa, majaz (المجاز) terambil dari kata جاز – يجوز yang artinya menyeberang, melewati, melampaui. Majaz (metafora) digunakan untuk sesuatu yang tidak terwakili oleh sesuatu yang bersifat hakikat. Kita perlu ‘menyeberang’ dari hakikat kepada yang non-hakikat yaitu majaz. Karena bagaimanapun, bahasa manusia sangat terbatas, sementara rasa tidak terbatas. Sesuatu yang terbatas tidak akan bisa mewakili sesuatu yang tidak terbatas. Ditambah lagi kelemahan manusia dalam menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakili perasaannya. Disinilah indah dan ajaibnya sebuah majaz.

Majaz tidak hanya dalam bahasa manusia. Dalam menjelaskan sifat-sifat-Nya, Allah SWT juga menggunakan majaz. Oleh karena itu, mencoba -apalagi memaksa- memahami majaz secara hakikat tidaklah tepat dan keluar jalur. Majaz akan kehilangan makna dan keindahannya ketika ia dimaknai seperti memaknai hakikat. Karena pada dasarnya, majaz digunakan ketika hakikat tidak mampu mengungkapkan sebuah makna secara persis.

Tapi masalahnya, ada orang yang mengingkari majaz dalam al-Qur’an. Karena itu ia berusaha untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat dengan perspektif hakikat, sehingga yang terjadi adalah ta’arudh, iltibas, dan kebingungan.

Baca Juga: Metafora Terjemahan Bahasa Arab ala Pakiah di Minang

☆☆☆

Barangkali ini pula yang menyebabkan manusia secara umum menyukai musik, terlepas dari bagaimana hukum musik dalam tinjauan fiqih. Musik menjadi salah satu media untuk mengungkapkan rasa yang tidak terungkapkan dengan kata-kata. Orang merasa hanyut, terbawa perasaan, dan diajak menyeberang dari hakikat kepada majaz ketika mendengar lantunan suara yang indah itu. Musik menjadi ‘rasa bersama’, tanpa pandang bangsa, agama, suku dan ras.

(Paragraf terakhir mencoba melihat sisi positif dari fenomena Fingerstyle Alip_Ba_Ta)

Yendri Junaidi
Alumni Perguruan Thawalib Padangpanjang dan Al Azhar University, Cairo - Egypt