Ketukan Tengah Malam

Ketukan di Tengah Malam
Ilustrasi @Desmond Leoun Dok. https://www.samsung.com/id/curation-contents/theframe/curated-collections/

Ketukan

Akhir-akhir ini aku susah tidur. Pancaroba membuat suasana hari tak menentu. Kadang panas, kadang hujan. Dan malam ini giliran panas yang menghantam diri. Badanku menggeliat seperti ulat kepanasan. Mataku susah terpejam meski telah dipaksa untuk tidur. Padahal besok pagi ada kuliah daring, tapi mata ini nampaknya bergeming.

Aku baru bisa tidur pada pukul 02.00 WIB. Tiba-tiba di tengah nikmatnya rasa kantuk, ada suara pintu yang sedang diketuk. Tepatnya pintu yang ada di depan rumah. Awalnya memang pelan, tapi lama-lama semakin keras. Seolah ada seseorang yang memaksa untuk masuk rumah.

 “Siapa itu, ya? Pikirku.”

Suara cakaran kucing memang sering memecah keheningan malam, minta masuk rumah. Mama tidak membolehkan kucing bermalam di rumah karena kami tidak menyediakan pasir dan aku memilih manut saja. Namun, –kali ini– itu bukan lah suara cakaran seperti biasanya. Sama sekali berbeda. Kubuka mataku di sepertiga malam, menyalakan lampu, melangkah dengan gontai menuju pintu, mengintip siapa yang ada di luar. Dan, tidak ada siapa-siapa. Senyap. Mungkin dia telah pergi karena gerakanku yang terlalu lamban untuk membuka pintu.

Baca Juga: Kebahagiaan Sejati bagi Elsa

***

Keesokan harinya, aku mengikuti kuliah daring seperti biasa. Aku menyesap kopi hitam agar segar saat belajar. Di akhir perkuliahan, dosen memberi tugas membuat esai dengan tenggat hingga pukul 24.00 WIB. Hari ini juga. Singkat sekali.

“Ah, lagi-lagi aku akan begadang!” gemerutu keluar dari mulutku.

Aku kerjakan tugas itu secepatnya agar malam ini bisa tidur nyenyak. Membuat esai tidaklah mudah. Dalam waktu berjam-jam aku hanya bisa menghasilkan 700 kata, sedangkan masih ada 300 kata yang perlu dikejar. Ketika matahari akan tenggelam, aku putuskan untuk rehat. Tak lupa kututup pintu dan jendela rumah. Sebab kata orang tua dulu jin dan setan sedang ramai-ramainya saat senja. Menutup akses masuk mereka ke rumah adalah sebuah ikhtiar menghindari mudarat.

Langit senja kuning berubah menjadi biru malam. Setelah membersihkan badan dan beribadah, aku kembali membuka laptop ‘tuk merampungkan 300 kata yang masih tersisa. Susah sekali rasanya menginput kata-kata. Entahlah, otakku rasanya kosong. Kubaca jurnal demi jurnal sebagai referensi.

Malam ini mama memasak bistik, lauk kesukaanku. Dengan lahap kumakan nasi yang berpadu dengan bistik. Sambil makan, aku berbincang dengan mama. Siapa tahu, beliau juga mendengar ketukan misterius malam tadi.

“Ma, malam tadi ada orang ketuk-ketuk pintu. Setelah kulihat tak ada orang. Apa Mama juga dengar?”

“Pas apa tu?”

“Sekitar pukul 02.00 malam, Ma,”

“Malam, ya? Mama tak mendengar apapun, Nak.”

“Benarkah, Ma? Padahal suaranya kencang.”

“Iya, tak dengar. Yang ada bapakmu masuk mimpi Mama. Jadi, besok sebaiknya kita ke kubur bapak,” ujar mama yang mengambil alih percakapan.

“Baik, Ma. Sore ya Ma. Paginya ada kuliah soalnya.”

“Ya, sudah.”

Aku termangu ditemani esai yang belum rampung, tapi kuusahakan untuk bisa selesai sebelum deadline tiba. Sesekali kulihat berapa jumlah kata yang telah aku kumpulkan. Hingga akhirnya saat yang kutunggu tiba, esai 1000 kata itu rampung sebelum pukul 12.00 malam. Waktunya untuk tidur.

Aku merebahkan diri di kasur untuk meluncur ke alam bawah sadar. Lagi-lagi mata ini sempat susah diajak kompromi, tapi itu tidak lama. Akhirnya aku mulai tidur pukul 01.00 WIB. Sekitar dua jam kemudian, ketukan itu datang lagi. Sama seperti sebelumnya, ketukannya dari pelan menuju keras. Aku keluar kamar dan terperanjat karena mama ternyata sudah ada di depan pintu kamarnya. Kami saling bertatap, lalu bersama-sama menuju pintu dengan langkah pelan sambil melawan ketakutan. Dan, kutengok lewat jendela, tidak ada seorang pun dan ketukan itu pun hilang.

Keesokan harinya, ketika terik mentari mulai redup aku dan mama pergi ke kubur bapak. Rumput-rumput yang mulai meninggi kucabuti. Bunga kami tabur dan doa kami tebar untuk bapak. Mama memandangi dengan dalam dan mengusap nisan bapak. Aku melihat wajah mama yang menyelipkan kerinduan. Hampir setahun bapak meninggalkan kami. Awal mulanya bapak jatuh di kamar mandi dan tak sadar diri. Kami panik kala itu. Setelah sampai di rumah sakit, dokter katakan bahwa bapak sudah tidak ada. Mama dan aku benar-benar terpukul kala itu.

Sepulang dari kubur bapak, mama mengajakku ke rumah seorang ustadz di kampung kami. Di sana mama menceritakan apa yang kami alami malam tadi, karena takut kalau itu kiriman dari orang yang tak suka dengan kami. Sebelum bapak meninggal saja, kami pernah mengalami hal-hal mistis di rumah. Hal tersebut seperti aroma melati yang menyeruak ke seisi rumah padahal tak terlihat ada bunga saat itu, lalu gulungan rambut yang tiba-tiba ada di dapur, dan tetesan darah di depan rumah. Setelah mendengar cerita mama, pak ustadz memberi kami air yang dibacakan doa. Tak lupa beliau mengingatkan kepada kami untuk tidak berkeliaran di saat senja kecuali hal penting. Setelah kami amalkan, ketukan itu tak ada lagi.

Sebelum bapak meninggal, karir bapak memang sedang bersinar. Bapak selalu naik pangkat sehingga uangnya bisa membiayai kuliahku pada universitas ternama di Indonesia. Oleh karena itu, wajar kami khawatir jika ada orang yang tidak suka dengan keluarga kami.

Baca Juga: Baamar Galung Pancar Matahari

***

Suatu malam, sekitar pukul 02.00 WIB, aku terbangun karena ingin buang air kecil. Terlebih saat itu hari sedang hujan. Setelah dari belakang, aku menuju pintu depan untuk menjemput kucing yang mungkin saja sedang kedinginan di luar sana. Ternyata yang kulihat bukan seekor kucing, tapi sesosok makhluk hitam besar yang sedang duduk. Aku merinding. Kaku. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat. “Makhluk apa itu, apa aku sedang bermimpi?” pikiranku berkecamuk.

Keesokan harinya aku jatuh sakit. Rasanya masih syok dengan apa yang kulihat tadi malam. Aku belum menceritakan hal itu kepada mama. Takut menambah beban pikiran mama. Biar lah aku menyimpan kisah itu sementara. Terlepas dari apa yang kusaksikan tadi malam, aku bersyukur karena makhluk itu tak nampak masuk ke rumah. Aku jadi teringat kebiasaan kami yang senantiasa menutup pintu dan jendela rumah sebelum senja. Sebab kata orang tua dulu jin dan setan sedang ramai-ramainya saat senja. Malam adalah siang bagi mereka pun sebaliknya. Menutup jendela dan pintu menjelang senja adalah sebuah simbol menutup jalan mereka.

Nur Anggia Febrina
Nur Anggia Febrina 2 Articles
Nur Anggia Febrina, mahasiswi di Universitas Lambung Mangkurat. Bisa disapa via Twitter dan Instagram @nuranggiaf.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*