Ki Zaidin Burhany: Murid Inyiak Canduang Pejuang Provinsi Bengkulu

Ki Zaidin Burhany Murid Inyiak Canduang Pejuang Provinsi Bengkulu
Foto Ki Zaidin Burhany/Dokumen Penulis

Ki Zaidin Burhany

Oleh: D.M.S. Harby*

Masjid Jamik Curup memang bukanlah masjid resmi kepunyaan warga atau organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Meskipun demikian, ia merupakan sebuah situs sejarah peradaban Islam di taneak Rejang dengan basis sosial keagamaan yang kental Salafi Sunni Syafii pada masanya. Dari basis sosial inilah muncul salah satu kader terbaik Masjid Jamik Curup yang menjadi murid Beliau Inyiak Canduang, Maulana Syaikh Sulaiman Arrasuli. Pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) dan organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Minangkabau.

Ki Zaidin Burhany (tegak menghadap kamera). Murid Inyiak Canduang, Maulana Syaikh Sulaiman Arrasuli ini, pada tanggal 30 Agustus 1962 lalu, sebagai Ketua DPRD Gotong Royong Kabupaten Rejang Lebong dan Anggota BPH, bersama Burhan Dahri (Bupati Rejang Lebong), Abdullah Sani (Pasirah Bermani Ulu) dan Yusuf Rachman, SH., menyampaikan dukungan pertama kali terhadap gagasan pembentukan Provinsi Bengkulu yang tercetus sehari sebelumnya.

Tokoh Kontak Melayu di Rejang, Minang dan Palembang

Ialah Zaidin Burhany. Putera dari Burhanuddin dan Encik Hj. Mazenah, pasangan suami istri keluarga besar Melayu Bengkulu yang menetap di Pasar Baru, persis di depan Masjid Jamik Curup. Ia dikenal pula dengan nama Ki Zaidin Burhany. Sebagaimana yang tertera pada nisannya di TPU Talang Rimbo Baru Curup. Penyebutan Ki pada awal namanya ini, seperti menegaskan perannya sebagai tokoh pendidik sekaligus tokoh agama di tanah Rejang. Sesuatu yang menarik mengingat gelar Ki biasanya dipakai bagi tokoh di Perguruan Taman Siswa atau singkatan dari kiai sebagai sebutan bagi tokoh agama dari Palembang atau yang berafiliasi dengan Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Dalam konteks ini, masyarakat di wilayah selatan Sumatera, dengan Palembang sebagai pusatnya, memang tampak lebih terakses dengan corak pergerakan dan peradaban di pulau Jawa. Rejang merupakan ulayat adat di selatan Sumatera yang paling berdekatan dengan ulayat adat Minangkabau. Minang sendiri merupakan ulayat adat di wilayah barat Sumatera. Wajar kiranya, sebagai kesatuan ulayat adat terbesar di Nusantara yang mengental di masa perintisan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, Melayu, di Palembang muncul dengan corak campuran Jawa. Sementara Melayu di Rejang lebih “asli” Sumatera.

Pembagian Sumatera menjadi wilayah Barat dan Selatan terjadi sejak masa perintisan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hingga menjadi permanen setelah Indonesia merdeka dalam bentuk Daerah Militer I/Bukit Barisan untuk teritorial barat Sumatera dan Daerah Militer II/Sriwijaya untuk teritorial selatannya. Proses ini sepertinya relevan dengan masa pembentukan Melayu sebagai kesatuan ulayat adat terbesar di Nusantara. Termasuk di dalamnya dinamika kemunculan corak-corak bahasa Melayu berdasarkan relasi sejarah peradabannya.

Dalam konteks inilah Curup dapat dilihat sebagai kontak Melayu penghubung bahasa Rejang, Minang, Palembang yang fenomenal. Contoh saja kata “ini” dan “di sini” dalam bahasa Melayu di Palembang yang di Rejang muncul dengan kata “iko” dan “di siko” atau “ikak” dan “di sikak”. Sangat identik dengan kata “iko” dalam bahasa Melayu Minang. Dalam bahasa Rejang sendiri, kedua kata itu muncul sebagai “dio” dan “nak dio”. Sementara dalam bahasa Komering (juga Lampung), kedua kata itu muncul sebagai “sija” dan “dija”. Rejang dan Komering, setidaknya secara bahasa, sepertinya merupakan sebuah entitas ulayat adat Melayu yang istimewa. Baik Rejang dan Komering, keduanya diidentifikasi sebagai entitas ulayat adat Melayu Kuno di Nusantara. Keduanya sepertinya juga sangat spesial sebagai ulayat adat warisan peradaban luhur Kedatuan Sriwijaya.

Baca Juga: Tarbiyah-Perti Rejang Lebong Seminarkan Moderasi Adat dan Syarak

Tokoh Pejuang Provinsi Bengkulu

Ki Zaidin Burhany merupakan salah satu tokoh Curup berkaliber pejuang Provinsi Bengkulu. Baik sebagai tokoh dari keluarga Melayu Bengkulu kelahiran Taneak Rejang. Baik sebagai murid Inyiak Canduang yang mengajarkan moderasi adat dan syarak di Nusantara dari ranah Minang. Baik sebagai petugas pada Jawatan Penerangan Kabupaten (Japenkab) di Lahat. Sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gotong Royong (GR) Kabupaten Rejang Lebong mewakili Partai Islam (PI) PERTI. Lalu, masih mewakili PI PERTI, pada periode kedua, ia terpilih sebagai Ketua DPRD GR Rejang Lebong. Pula sebagai Anggota Badan Pengurus Harian (BPH), tim asisten Bupati kala itu, yang membidangi urusan pendidikan.

Tahun 1962, pada fase awal bertugas sebagai Ketua DPRD GR Rejang Lebong sekaligus BPH Kabupaten Rejang Lebong Bidang Pendidikan, merupakan momentum baginya untuk lebih maju melangkah bagi pembangunan Bengkulu. Pada tanggal 30 Agustus 1962, bersama Burhan Dahri (Bupati Rejang Lebong), Abdullah Sani  (Pasirah Marga Bermani Ulu) dan Yusuf Rahim, SH., murid Inyiak Canduang ini menjadi kelompok elite yang pertama mendukung pembentukan Provinsi Bengkulu. Persis sehari setelah ide itu diluncurkan pada rapat di kediaman R. Abdullah, seorang residen purnawirawan, di Kota Bengkulu. Informasi ini termuat di dalam buku “Kenang-Kenangan Perjuangan Bekas Keresidenan Bengkulu menjadi Provinsi Bengkulu” yang diterbitkan Pemda Tingkat I Provinsi Bengkulu.

Rapat tersebut berujung pada satu kesimpulan; Bengkulu menjadi otonomi penuh dengan status sebagai sebuah provinsi. Rapat itu membentuk kepanitiaan yang dikenal “Panitia 9” yang terdiri dari sembilan orang. St. Yakub Bachtiar (Ketua), M. Thaher Dayok (Sekretaris) dengan anggotanya R. Abdullah, RM. Akil, M. Zen Rani, Rifai Darwis, Bahaudin Zulkan, Mr. Thabri Hamzah dan Adnan Ilyas. Rentang Agustus – Oktober 1962 itu kristalisasi perjuangan pembentukan Provinsi Bengkulu terjadi melalui berbagai forum. Setelah rombongan Ki Zaidin Burhany dari Rejang Lebong, dukungan menyusul pula dari tokoh-tokoh Bengkulu di Jakarta, seperti Wahab Affan, Hasan Bahcsin, Syaiful Anwar dan Hamid Murni.

Ki Zaidin Burhany sendiri, medio Agustus – Oktober 1962 itu ternyata tidak hanya terlibat dalam praksis perjuangan politik berupa pembentukan Provinsi Bengkulu. Tetapi juga terlibat dalam praksis perjuangan pembangunan pendidikan di Bengkulu. Terbukti, tepat pada tanggal 21 Oktober 1962, murid Inyiak Canduang ini menjadi Ketua II Panitia Persiapan Pendirian Fakultas Ushuluddin Curup Cabang IAIN Raden Fatah Palembang. Bersama M. Yusuf Rahim, S.H., (Ketua I), KGS. Syahbuddin Matjik, B.A., (Sekretaris I), A. Azis Masjhur (Sekretaris II) dan M. Abbas Saleh (Bendaharawan). Bersamaan dengan itu juga didirikan Yayasan Taqwa Cabang Curup yang berkantor pusat di Palembang. Kini, lembaga yang didirikan bersama rekan-rekannya itu telah bertransformasi menjadi IAIN Curup.

Kembali ke perjuangan pembentukan Provinsi Bengkulu, langkah Ki Zaidin Burhany ternyata menemukan momentum lagi pada Musyawarah Besar Rakyat Bengkulu ke II di Curup. Rapat akbar pembentukan Provinsi Bengkulu itu berlangsung 4 – 7 Juli 1966 dan bertempat di Gedung Nasional Curup. Murid Inyiak Canduang ini menjadi Wakil Ketua Panitia Pelaksana Musyawarah bersama Drs. Djamaan Nur dan Drs. Bachtiar Jamal. Ketuanya adalah Mayor Jawahir sementara Zulkifli Dasjah dan Amir Hamzah sebagai Sekretaris dan Bendahara. Rumah Ki Zaidin Burhany pada kesempatan ini juga menjadi salah satu lokasi sejarah dilaksanakannya rapat Panitia ini.

Pembukaan Musyawarah diawali pidato Mayor Jawahir selaku ketua panitia pelaksana. Dilanjutkan penyerahan palu sidang dari Mayor Jawahir kepada Ketua Presidieium Panitia Pelaksana Perjuangan Daerah Tingkat I Bengkulu atau Panitia Persiapan Daerah Tingkat I Bengkulu, Sutan Yakub Bachtiar. Bertindak sebagai Tim Perumus Hasil Musyawarah adalah M. Yusuf Rahim, SH., dari Rejang Lebong, A. Marzuki Wahid dari Bengkulu Utara, B. Yanir dari Bengkulu Selatan dan Asikin mewakili Kotapraja Bengkulu. Musyawarah menghasilkan empat butir kesimpulan. Menyusun bentuk dan garis organisasi. Menyusun rancangan aparatur Pemerintah Provinsi Bengkulu. Menyusun pola pembangunan Provinsi Bengkulu. Menyusun delegasi yang akan memperjuangkan pembentukan Provinsi Bengkulu ke Jakarta.

Baca Juga: Memukul Ular di dalam Persemaian: Prinsip Pertalian Adat dan Syarak

Setahun setelah itu, sebagai basis pergerakan Ki Zaidin Burhany, PI. PERTI Rejang Lebong bersama organisasi politik dan organisasi massa lainnya di wilayah Bengkulu, melayangkan surat pernyataan resmi kepada pengurus pusat masing-masing. Guna menekan kepada DPR-GR dan Pemerintah Pusat agar masing-masing fraksi di DPR-GR dapat menyegerakan pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Provinsi Bengkulu. Sehingga terbitlah UU No. 9 Tahun 1967 tentang Provinsi Bengkulu yang disahkan pada 12 September 1967 dan direalisasikan melalui Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1968 tertanggal 18 November 1968.

Kemunculan Bengkulu sebagai provinsi terbaru pada tahun 1968 mengiringi konsolidasi politik nasional di bawah kendali Orde Baru. Restrukturisasi politik dengan bahasa halusnya refreshing atau penyegaran terjadi sebagai konsekuensi sejarah termasuk sejarah politik organisasi PERTI. Dimana yang masih menginginkan PERTI sebagai organisasi politik formal dengan nama PI. PERTI bersikukuh dan kemudian berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sementara yang tidak lagi menginginkan PERTI sebagai porpol bergabung dalam gerakan kembali ke Tarbiyah (pendidikan) sebagai basis PERTI. Ini justru menjadi momentum strategis bagi Golongan Karya (Golkar) sebagai organisasi politik resmi kekuatan Orde Baru pimpinan H.M. Soeharto sebagai Penjabat Presiden Republik Indonesia kala itu.

Maka, pada tahun 1968 ini pula, menjelmalah arus baru warga PERTI yang ingin kembali ke dunia pendidikan dan meninggalkan hiruk pikuk politik nasional itu menjadi organisasi Tarbiyah yang ternyata aspirasi politiknya tersalurkan ke Golkar. Maka dalam konteks Bengkulu sebagai provinsi terbaru yang lahir di masa awal Orde Baru, Ki Zaidin Burhany dan kawan-kawan seperjuangannya di PERTI Bengkulu pun memilih bergabung ke Golkar. Pada masa inilah Ki Zaidin Burhany meningkat tugasnya menjadi Anggota DPRD Tingkat I Provinsi Bengkulu.

Islam dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Tanah Rejang (Refleksi Menyambut 92 Tahun Persatuan Tarbiyah Islamiyah)
Para tokoh PERTI dipimpin Ketua Cabang, Datuk Muhammad Saleh (duduk di tengah) berpose melepas delegasi Kongres Besar PI PERTI di Jakarta Tahun 1955. Dipimpin oleh Ki Zaidin Burhany (berdasi duduk di samping Datuk Cabang).

Tahun 1968 memang menjadi salah satu momentum sejarah Ki Zaidin Burhany. Setelah 30 tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1938, murid Inyiak Canduang itu mendirikan MTI dan organisasi PERTI di Curup. Tepatnya di Pasar Baru, dekat rumahnya dan rumah orang tuanya sendiri yang persis di depan Masjid Jamik Curup. Keterlibatannya dalam perjuangan pendirian Provinsi Bengkulu pada tahun 1968 pun membuahkan hasil dengan resminya berdiri Provinsi Bengkulu pada tanggal 18 November 1968. Dan sebagai kadonya, pada tahun 1968 itu murid Inyiak Canduang ini pun didaulat mewakili tokoh Tarbiyah yang menerima penyerahan lahan untuk lokasi MTI dari warga Air Rambai, Curup.

Sejak tahun 1968 itu, kiprah murid Inyiak Canduang ini lebih intensif dalam pengembangan organisasi Tarbiyah di Provinsi Bengkulu. Rekan seperjuangannya tokoh Tarbiyah yang menjadi bagian elite tokoh Provinsi Bengkulu yang paling mengemuka adalah Abuya Adnan Ilyas, Abuya Awwaluddin dan Abuya Abdul Muthallib. Jika Buya Adnan pernah menjadi pimpinan Japenkab Rejang Lebong dan termasuk tokoh pendiri Provinsi Bengkulu, Buya Awwaluddin merupakan Kepala Pengadilan Agama di Curup yang kemudian menjadi Ketua DPRD-GR Kabupaten Bengkulu Utara. Dan Buya Abdul Muthalib sebagai tokoh Tarbiyah Kota Bengkulu dengan basis perjuangannya di Kebun Grand dan Masjid Jamik Bengkulu yang pernah direnovasi oleh Ir. Soekarno sewaktu diasingkan di Bengkulu.

Keluarga Besar Ki Zaidin Burhany

Murid Inyiak Canduang ini salah satu kader terbaik yang pernah Curup miliki. Beliau lahir di Curup pada tanggal 29 Juli 1914. Tutup usia juga di Curup pada tanggal 10 Agustus 1977. Pada usia 63 tahun. Serupa dengan usia berpulang Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau meninggalkan warisan perjuangan berupa tuntunan dan keteladanan perjuangan bagi masyarakat, daerah, bangsa, negara dan agama. Satu pesan Beliau yang paling kuat diingat oleh putrinya, Rusydah Zaidin, adalah yang berbunyi “toeroetlah masa tetapi djaga agama!”. Keturunan Beliau yang kini berkiprah di eksekutif, legislatif dan yudikatif di antaranya adalah Muslih Zaidin (anak), Hilman Fuadi (anak), Yusran Fauzi (cucu), Zulasmi Octarina (cucu) dan Riky Musriza (cucu).[]

*Tulisan diolah dari berbagai sumber. Penulis adalah alumni Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyah Islamiyah (MITI) Pasar Baru Curup, MTs. Pondok Pesantren Arrahmah Air Meles Atas Curup, MAK Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur dan Kepala Sekolah Dasar Tarbiyah Islamiyah (SDTI) Curup 2015-2017. Kini Ketua Ikatan Alumni PPNH Sukaraja, Ketua PC Tarbiyah-Perti RL dan Ketua Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong (YTRL).

D.M.S. Harby
D.M.S. Harby 14 Articles
Tulisan diolah dari berbagai sumber. Penulis adalah alumni Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyah Islamiyah (MITI) Pasar Baru Curup, MTs. Pondok Pesantren Arrahmah Air Meles Atas Curup, MAK Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur dan Kepala Sekolah Dasar Tarbiyah Islamiyah (SDTI) Curup 2015-2017. Kini Ketua Ikatan Alumni PPNH Sukaraja, Ketua PC Tarbiyah-Perti RL dan Ketua Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong (YTRL).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*