Kiai Haji Maemun Zubair; Ulama dan Kiai Karismatik Indonesia

Kiai Haji Maemun Zubair; Ulama dan Kai Karismatik Indonesia

Kiai Haji Maemun Zubair lahir dari keturunan para ulama, ayahnya Kiai Zubair Rembang merupakan ulama besar dan pimpinan pesantren yang pernah berguru kepada Syekh Said Yamani dan Syekh Sayyid Alawy ayah dari Syekh Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki. Kiai Maemun Zubair yang dikenal dengan Mbah Moen adalah Ulama sepuh yang lahir tahun 1928 dan umumnya ulama-ulama yang hidup segenerasi dengannya bisa dikatakan hampir semuanya telah banyak yang wafat kecuali beberapa orang yang masih hidup seperti KH Ali Yafie.

Mbah Moen menghabiskan usia remaja dan mudanya untuk mengembara menuntut ilmu sehingga menjadi seorang alim yang diperhitungkan. Di antara guru dari Mbah Moen adalah ayahnya sendiri yang juga merupakan seorang ulama yang memiliki sanad ke Rasulullah. Setelah ditempa oleh ayahnya dengan berbagai ilmu pengetahuan, Mbah Moen kemudian belajar kepada Kiai Mahrus Ali Lirboyo yang dikenal dengan keluasan dan kedalaman ilmunya, selain itu beliau belajar pula kepada beberapa kiai lainnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Tanah air, Mbah Moen berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk belajar langsung dari sentral dunia Islam kepada para ulama di kota Makkah, sebut saja beberapa ulama tersohor yang mengajar Mbah Moen adalah Syeikhul Masyaikh Syekh Hasan Masyath yang merupakan guru para ulama Arab pada masanya, Syekh Sayyid Alawi al Maliki yang merupakan ayah dari Abuya Maliki dan kakek dari Doktor Sayyid Ahmad al-Maliki. Ulama lainnya adalah Syekh Muhammad Yasin Padang Indonesia Musnid ‘Ashr, Syekh Sayyid Amin Khutbi dan beberapa ulama lainnya yang mengajar di Masjidil Haram. Karena memang era Mbah Moen di Kota Suci tersebut masih dijumpai banyak para ulama yang alim ‘allamah.

Baca Juga: Syekh Yasin Al-Fadani dan Para Kiai Pendiri NU

Mbah Moen tidak hanya belajar dari ulama Arab saja, bahkan ada ulama lainnya yang menetap di Makkah untuk beribadah di sana sebut saja misalnya Kiai besar Nahdhatul Ulama Kiai Wahab Khasbullah, Kiai Bisri Mustafa ayahnya Kiai Mustafa Bisri Rembang yang dikenal dengan Gus Mus, dan Syekh Abdul Qadir Mandaili Medan, Kiai Bisri Sansuri dan banyak ulama lainnya. Setelah kembali ke Tanah Air Mbah Moen membangun Pesantren Al Anwar melanjutkan perjuangan ayahnya serta menjadi seorang ulama karismatik yang mengawal bangsa ini dengan nasihat dan doa-doa.

Hal lain dari sosok Mbah Moen ialah sangat menghargai guru dan anak guru serta keturunan dari gurunya. Bahkan sangat mencintai zurriyat dan ahli bayt Rasulullah, Ini dibuktikan bahwa banyak foto beliau yang sudah sepuh mencium tangan cucu dari guru beliau seperti Syekh Sayyid Ahmad bin Syekh Muhammad bin Syekh Alawi al Maliki, sungguh itulah akhlak yang luar biasa. Sehingga keberkahan mengalir ke seluruh keturunan Mbah Moen, dimana mereka umumnya adalah Kiai-kiai muda yang berpengaruh, bahkan ada yang mampu mengarang kitab-kitab dalam bahasa Arab.

Kiai Haji Maemun Zubair adalah seorang ulama yang boleh disebut satu-satunya dicium tangannya oleh Prof Quraish Shihab Maestro Tafsir Indonesia selain dari Prof Kiai Ali Yafie ulama Sulawesi yang juga telah sepuh dari Sulawesi.

Baca Juga: Professor Habib Abdullah Bin Abdul Qadir Bilfaqih; Ulama Ahli Hadis dan Pimpinan Pesantren Darul Hadis Faqihiyyah Malang

Tahun Lalu Mbah Moen telah berpamitan untuk melaksanakan haji, dan inilah tahun perpisahan beliau dengan dunia yang fana ini. Wafat di tempat mulia, dalam bulan yang mulia dengan niat yang mulia. Selamat jalan Mbah Moen, Syekh Kiai Maemon Zubair.[] Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary
Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama