Kitab Turats dan Kitab Modern

Kitab Turats dan Kitab Modern
ILustrasi/dok. Penulis

Berdasarkan pengalaman saya; kitab Turats itu sulit sebab kalimat maupun pemilihan diksinya unik. Apalagi kitab Turats yang rada-rada mengikuti alur sastra seperti susunannya bersajak atau betul-betul disusun dalam bentuk puisi multazim. Parahnya lagi tertib penulisannya tidak pakai titik, koma, ataupun paragraf. Mencari ‘a-id dhamirnya saja kita harus membalik beberapa halaman sebelumnya. Ruwet memang. Tapi ketika yang sulit ini teratasi, rasa puas tak terkira, pemahaman yang diperoleh lekat kuat di ingatan. Setitik takkan hilang, sebaris takkan hilang. Kekal dalam dada.

Kitab modern itu mudah. Pemilihan diksi dan susunan kalimatnya tidak begitu memusingkan. Tertib penulisannya sudah ada tanda titik, koma, dan paragraf. Alhasil, semua itu memudahkan pemahaman. Tapi, sesuatu yang dengan mudah diperoleh hanya sebentar bertahan diingatan. Setelah itu menguap entah ke mana.

Dari pengalaman saya itu, saya menyadari satu hal, yaitu mengenai ulama-ulama masa dahulu, mengapa ilmu mereka dhabith dan tahqiq? Jawabnya mereka telah terbiasa dengan kitab-kitab kelas berat. Bayangkan, anaksiak (santri) di masa lalu bukan hanya sekadar mendaras, lebih dari itu mereka memperdebatkan isi kitab Syarah Talkhis Misalnya, Shabban Asymuni, Hasyiyah Khudri, Hasyiyah Sullam, Mughni Muhtaj, sampai Tuhfatul Muhtaj. Kitab-kitab kelas berat itu menjadi makanan harian, sehingga ilmu itu semakin mantap. Tahqiq dan Tadqiq. Tak heran ulama dulu itu setamat dari Surau dan Madrasah (tradisional) ilmunya teruji.

Baca Juga: Kitab Kuning, Terasingkah?

Sekarang, oleh sementara orang yang menganggap diri modern, mencap kerja anaksiak masa silam itu kuno. Mereka bawa anak mereka lari dari surau dan pesantren lama. Dimasukkan anak-anak itu ke sekolah yang katanya bernafas agama. Sehabis itu, si anak tak pernah jadi ulama.

Pituah Abuya Syekh Zamzami Yunus Lasi kepada saya: “Andaikan cara belajar serta ilmu ulama-ilmu dulu masih diikuti dengan teguh, niscaya takkan ada kelangkaan ulama.”

Ingat, yang saya maksud ialah ulama dalam artian hakiki, bukan tukang pidato.[]

17 Maret 2017

Apria Putra
Apria Putra 87 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*