Kotak Kucing

Kotak Kucing
Ilustrasi Dok. Istimewa

Kotak Kucing Kotak Kucing Kotak Kucing Kotak Kucing

Oleh: Adilla Destiani 

Ternyata, ada postingan foto menampilkan kotak berisikan keluarga kucing yang dibunuhnya. Captionnya berbunyi “Sepertinya aku sudah berada di level tertinggi dari arti terkesan. Terkesan oleh film membuatku menjadi berani dan hebat seperti ini! Keren!” Arin menutup mulutnya. “Jangan sok terkejut! Biar kubantu kau mengingat-ingatnya lagi.” Orang itu duduk di sebelahnya.

***

Datang Miu, kesayangan Arin. Mata memelas imut dan berwarna biru jika tersorot lampu. Bulunya putih lembut seperti permen kapas. “Ini kucingmu, Rin?” tanya Raka. “Iya, kesayanganku,” jawab Arin. Maklum, Raka baru pertama kali ke kosnya Arin. Ini pertemuan pertama mereka. Mereka berkenalan melalui Instagram. Malam itu, mereka tak pergi ke mana-mana, hanya mengobrol di ruang tamu kos. Saat-saat Raka semangat dalam mengobrol, ketika ia membahas tentang film. Menceritakan bahwa telah ratusan film yang sudah ditonton. Mulai dari film thriller hingga fantasi. Raka selalu membawa harddisk berisikan ratusan film di tasnya. Mereka tertawa-tawa menonton setiap adegan dari aksi sang penyulap, membuat orang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.

Raka dan Arin punya janji untuk bertemu kembali. Raka menemui Arin di kosnya seperti biasa. Sebelum Raka masuk ke kos, ada pengemis lewat. Makanan yang dibeli Raka untuk makan malam dengan Arin, ia berikan kepada pengemis itu. Arin tersenyum melihatnya. Seperti yang Arin ketahui, Raka sangat baik orangnya, dari kisah hidup yang diceritakannya. Begitulah yang Arin ketahui, walau hanya dari obrolan chating mereka. “Arin, malam ini kita nonton film thriller, yuk!” seru Raka. Arin pun menyetujuinya. Film telah dimulai. Arin mulai bersembunyi di balik bahu Raka, sambil menengok dan memperhatikan raut wajah lelaki itu. Setiap adegan yang terjadi di dalam film itu, mulai membuat Arin ingin berhenti untuk menontonnya. Terlebih lagi ketika adegan pembunuhan yang terjadi pada satu keluarga. Arin menutup mata, sedangkan Raka tegang sembari menikmati filmnya.

Baca Juga: Kenangan yang Hilang

***

Di sekitar lingkungan kos Arin yang hanya berjarak 2 jalur, telah ditemukan adanya sebuah kotak, basah dan kotor. Menurut informasi warga, di dalam kotak itu ada 3 kucing telah  mati. Ibu kucing dan dua anaknya. Arin terkejut ngeri mendengar hal itu. Arin langsung teringat Miu. Tak bisa dibayangkan bagaimana itu terjadi pada kucingnya. Hancur berkeping-keping pastinya hati si penyuka kucing itu. Bagaimana tidak, Miu sudah seperti kekasihnya. Sepertinya tidak ada yang ingin menguburkan kucing-kucing itu. Arin perlahan membuka kotak kucing itu, matanya sudah berkaca-kaca. Gemetar dan turunnya air mata menemani Arin membawa kotak itu ke belakang rumahnya. Ia kuburkan ketiga kucing itu dan diberi sepucuk bunga di atasnya, sebagai penanda adanya malaikat kecil di dalam sana. “Film apa yang akan kita tonton malam ini?” tanya Arin. Raka menyahut “Bagaimana kalau kita nonton film romantis? Berhubung malam ini malam minggu.”, “Baiklah, aku cari Miu dulu. Ingin kubawa dia ikut nonton menemani kita,” sahut Arin. Terpampang judul film bertuliskan Bad Romance

“Astaga! Perempuannya kok selingkuh sih!” ucap Raka kesal.

“Si cowok udah baik banget! Dia malah selingkuh sama cowok lain,” sahut Arin yang kesal juga.

“Orang ketiga memang seperti itu, Rin. Pasti menjadi pengganggu,” ucap Raka sembari menghembuskan nafas.

Entah kenapa Raka terlihat kesal. Mungkin ia pernah merasakan perasaan seperti itu dulunya. Jika memang benar, kasihan sekali lelaki baik itu. Arin juga tidak mau menanyakannya. Untuk mengalihkan suasana itu, Arin bercerita kepada Raka tentang apa yang dilakukannya siang tadi. Raka terkejut mendengarnya. Ia ikut bersedih dengan apa yang terjadi pada kucing-kucing itu.

Arin sangat sibuk dengan kuliahnya. Hampir senja, ia baru bisa pulang. Dengan raut wajah yang sangat letih, ia mencoba membuka pintu kamar kos. Belum sepenuhnya terbuka, ada seseorang menghampiri.  

“Neng Arin! Ada yang mau Bapak tanyakan sama kamu,” Arin kaget dengan kedatangan Pak RT dengan tiba-tiba di kosnya.

“Iya ada apa ya, Pak?”

“Begini Arin, Apakah Arin kenal dengan orang ini? Karena orang ini Ini terakhir kali terlihat di depan kosnya kamu,” sambil menunjukkan sebuah gambar dari CCTV.

“Iya, Pak. Saya kenal, itu pacar saya. Memangnya ada apa, Pak?” tanya Arin penasaran.

“Pacar kamu ternyata adalah pelaku dari pembunuhan kucing-kucing, yang terjadi tempo lalu. Bisa kamu lihat dari gambar ini, ia terlihat memegang pisau daging.” Arin terkapar lemah, lututnya tidak sanggup lagi untuk berdiri, setelah mendengar pernyataan dari Pak RT.  Orang yang sudah begitu dipercayainya, orang yang sudah memikat hatinya, dan orang yang sudah menemaninya, ternyata seperti itu.

“Kamu harus berhati-hati padanya, Rin. Bapak nanti akan melaporkan kejadian ini kepada polisi,” ucap Pak RT cemas.

***

Di perjalanan pulang Arin merasa sangat ketakutan jika bertemu dengan Raka yang ternyata psikopat. Apalagi Arin memiliki Miu yang baru saja melahirkan anak-anaknya. Gemetar menuju kos ternyata tamu yang ditakutkan datang. Raka sudah berada di depan kos yang sempat dibuka.  Dalam otak Arin ia tidak boleh menyampaikan apa yang telah Ia ketahui, kalau tidak Raka mungkin bisa saja melakukan hal yang tidak-tidak kepada dirinya

 “Raka, sedang apa kamu ada disini?”

 “Biasa… aku ingin menemani kamu di kos. Malam ini kita nonton lagi, yuk! Aku juga bawa cemilan nih buat kita santai-santai nontonnya.”

“Oh baiklah,” sahut Arin dengan gemeteran.

 Arin membuka pintu kos dengan perlahan, ia katupkan mulutnya sembari menahan tubuhnya agar tidak ikut gemetar, setidaknya tidak terlihat oleh Raka. Arin perhatikan bingkisan yang dibawa oleh Raka, seperti biasa Raka membawa cemilan untuk dimakan saat menonton film. Tapi, kali ini terlihat sesuatu yang mencolok, dari bentuknya seperti botol sirup. Isi kepala Arin tidak karuan, ia terbayang bagaimana Raka memukulkan botol itu ke kepalanya untuk menghabisinya, namun pikiran itu berhasil ia atasi, ia berusaha menutupi bahwa ia mengetahui perbuatan yang dilakukan oleh Raka, dengan harapan ia akan aman malam ini, setidaknya sampai Raka meninggalkan kontrakannya.

Raka setel film yang sudah ia siapkan, lalu ia buka bingkisan yang ia bawa. Benar saja, saat Raka mengeluarkan isi bingkisan tersebut, Raka membawa cemilan seperti biasanya, tapi botol itu belum ia perlihatkan. “Tebak, apa ini?” dengan tersenyum Raka membiarkan bingkisan itu menutupi botol tersebut. Arin hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya. 

“Minuman paling enak setata surya, Rin!” Raka keluarkan botol itu dari bingkisan, Arin tidak bereaksi apa-apa dan agak bingung. “Kok diam saja, masa gak tahu?” tanya Raka. “Sebentar ya, aku ambilin cangkir dulu,” sambungnya. Isi kepala Arin kembali menerka-nerka apa yang akan dilakukan Raka, Arin membayangkan Raka mengambil sebilah pisau yang ada di dapur dan menerjang dirinya yang lagi duduk. Hampir saja ia lari ke luar rumah karena khayalannya itu, tapi Raka kembali dengan sebuah cangkir tanggung di tangannya. 

Raka menuangkan minuman berwarna ungu ke cangkir yang baru saja ia bawa. Ia isi setengah cangkir dan menenggak minuman tersebut. Hujan turun deras menambah suasana yang tidak mengenakan bagi Arin, Raka menuangkan minuman tersebut untuk Arin. “Nih, dicicipin,” Arin agak sedikit takut meminumnya, tapi ia berpikir minuman ini pasti aman-aman saja, karena tadi Raka juga meminumnya. Arin tenggak minuman ungu itu, sekujur tubuhnya terasa hangat. “Ini apa, kok tubuh ku jadi hangat?” tanya Arin heran, “Jahe, Rin, jahe rasa anggur,” jawab Raka sambil tertawa. Raka tuangkan lagi setengah gelas untuk Arin, ia tidak bisa menolak, karena dalam pikirannya ingin berusaha terlihat tidak mencurigakan. Tanpa sadar, yang diminum Arin adalah khamar. Kepalanya sudah mulai agak pusing dan pandangannya mulai tidak karuan. Arin berpikir Raka sudah mencampur sesuatu ke minumannya, ia berusaha melarikan diri ke arah pintu ke luar, namun langkahnya terhuyunghuyung dan terjatuh. Raka dengan sigap menyambut tubuh Arin yang terpengaruh oleh minuman beralkohol yang ia minum. “Rin, orang ketiga itu memang menyebalkan, ya?” ucap Raka sambil merebahkan Arin ke sofa.

Raka melihat sekeliling isi kos Arin, seperti mencari sesuatu. Ia berjalan menuju dapur, Raka tampak kegirangan melihat sebilah pisau daging. Ia bawa pisau tersebut kepada Arin. Arin terlihat sedang meracau sembari berjalan terhuyung-huyung dan sesekali tertawa sambil mencium-cium kucingnya, Miu. “Bad Romance!  Aku ingin mewujudkan film itu agar kisah akhirnya tidak jadi menyedihkan. Kita harus menghilangkan pengganggu dalam hubungan kita,” ucap Raka. Raka menyerahkan pisau daging itu ke Arin, lalu menunjuk Miu “Habisi dia, Rin.” Hujan masih turun malam itu. Keheningan menyelimuti kos Arin, diikuti pemadaman listrik menyeluruh. Terlihat flash kamera seperti kilat diikuti bunyi jepretan di tengah hujan.

Bac a Juga: Dua Puisi: Mekar yang Terluka dan Serupa Bintang

Adilla Destiani
About Adilla Destiani 3 Articles
Adilla Destiani, biasa dipanggil Adilla. Lahir di Banjarmasin, 13 Desember 2000. Berkuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin sejak 2018. Hobinya menonton film, membaca, dan menuliskan isi pikirannya. Ia bisa disapa melalui Instagram : @adilladest

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*