Lelaki yang Tak Peduli dengan Negara

Lelaki yang Tak Peduli dengan Negara
Lukisan S.Sudjojono bertajuk Aku Cinta Padamu Tanah Airku (cat minyak pada kanvas, 202 x 301 cm, 1966) - Galeri Nasional Indonesia

Tak Peduli dengan Negara Tak Peduli dengan Negara Tak Peduli dengan Negara Tak Peduli dengan Negara

Di tengah-tengah kesibukannya yang padat sebagai rakyat, Parman masih menyempatkan diri untuk buang air besar dua kali sehari. Tempatnya pun musti tempat yang sama, yakni di sebuah kakus pinggir batang air dekat suatu surau. Jadwal rutinnya biasanya pagi sekitar jam 7-an dan sore sekitar jam 5-an. Di waktu-waktu itu pula dia mandi di sana. Orang-orang kampung juga banyak buang air di tempat itu, tapi Parman adalah pelanggan tetap selama lebih kurang 5 tahun dia berada di sana.

            Parman sudah empat puluhan usianya dan profesinya petugas kebersihan sebuah SMP. Dia  bukan penduduk kampung itu, dan juga bergaul terbatas dengan penduduk. Parman dikenal sebagai laki-laki yang tak banyak bicara, tapi dipandang sebagai orang baik yang tak banyak tingkah. Namun, ada satu kekurangannya yang jelas-jelas disayangkan oleh banyak orang, yakni dia merupakan satu di antara 2 lelaki di kampung itu yang tampaknya tak peduli sama sekali dengan negara. Yang lainnya adalah seorang tua aneh yang kerjanya memancing ke memancing saja.

            Sore itu jam 5 lewat 7 menit. Parman mengambil peralatan mandi dan berjalan dari rumahnya ke surau. Hampir sampai di kakus sembilan menit kemudian, dia mengetahui telah ada peserta buang hajat yang lain di tempat favoritnya. Untuk itu, dia menunggu sebentar dengan duduk di bawah batang kelapa berbuah tujuh. Tiga menit menunggu, selesailah penungguannya ditandai dengan jatuhnya sebuah kelapa tua persis setelah dia beranjak satu langkah. Dilihatnya laki-laki yang keluar dari kakus, ternyata seorang yang baru datang dua bulan ini dari kota Kelapapura. Namanya Nalis, katanya orang kaya kota yang hendak mengabdi di desa. Bagi Parman, Nalis adalah laki-laki seusia yang banyak bicara. Lapau demi lapau telah dijelajahnya, SMP tempat dia sekolah pun sering dikunjungi untuk berdiskusi dengan para guru. Baru sekali ini dia melihat Nalis buang hajat di tempat itu.

            “ Waduh, Pak Parman rupanya, saya tak menyangka Pak Parman diam-diam suka buang air besar juga ternyata,” kata Nalis diiringi senyum yang khas.

            Parman tampak tak acuh tapi tetap berkata ramah,” Sekali ini saya lihat Pak Nalis singgah di sini. Ada apa gerangan dengan kakus di rumah Pak Nalis?“

            “Ooh, bukan sembarang ke sini saja saya, Pak Parman. Saya berencana akan mengadakan acara diskusi rutin sekali dua hari di surau ini mulai hari ini. Dalam sepuluh menit lagi, sejumlah warga pencinta bangsa akan hadir untuk mendiskusikan berbagai persoalan sampai Magrib tiba.”

            Parman diam saja, lalu permisi untuk ke kakus.

            Benar kata Nalis, sepuluh menit kemudian tibalah 8 orang kampung itu dengan bersemangat. Semuanya datang berjalan kaki. Parman yang baru saja selesai buang hajat disapa lagi oleh Nalis,“ Pak Parman, bergabunglah dengan kami!“

            “ Saya mau mandi, lalu pulang dan salat di rumah saja. Begitu dulu begitu juga sampai sekarang,“ jawab Parman singkat dan padat.

            Setelah Parman berlalu ke arah hulu, seorang di antara mereka berkata,“ Laki-laki itu memang sama sekali tak peduli pada negara. Lima tahun dia di sini dan berpuluh-puluh kali kami mengajaknya untuk diskusi atau membahas berbagai persoalan kebangsaan, dia selalu menghindar. Untungnya dia tak banyak tingkah, kalau iya sudah pasti kami mengusirnya.“

            “ Orang seperti itu haruslah kita sadarkan ke jalan yang lurus dengan cara yang bijak,“ kata Nalis dengan nada kebapakan. Sesudah itu, mereka pun memulai diskusi, yakni membahas berita yang mereka dapat dari televisi tentang kedatangan presiden sebuah negara adidaya.  

Baca Juga: Korupsi di Indonesia = Tradisi Buang Sampah?

*

Mungkin ada pembaca yang garuk-garuk kepala walau tak merasa gatal, ketombean atau kudisan, mengapa sampai sepenting itu kenyataan peduli atau tidaknya warga kampung tersebut terhadap negara. Perlu disampaikan di sini supaya tak menimbulkan ghibah dan fitnah, kampung tersebut dalam sepuluh tahun terakhir terkenal dengan budaya diskusi, debat dan tukar pikiran antar warga. Di lapau-lapau, di surau-surau, di pasar akan didapati sejumlah warga yang asyik membahas suatu persoalan. Di hampir tiap rumah ada televisi, tapi siarannya hanya satu. Siaran yang sudah masuk 8 tahun di kampung ini begitu kaya akan berita tentang peristiwa-peristiwa dalam negara. Biasanya, setiap menonton berita, para warga yang laki-laki dewasa akan berkumpul sesuai tempat rutin masing-masing dan berdiskusi. Jadi, hampir tiap lelaki dewasa di sana jadi anggota tetap suatu tempat diskusi, meski bisa saja pergi ke tempat lain jika ingin menambah wawasan. Saya katakan hampir, sebab ada juga yang tidak, yakni dua orang yang saya sebut tadi, Parman dan pak tua gila mancing.

            Kembali kepada Parman dan inti cerita.

            Setelah dua minggu, barulah Parman menyadari, kakus kesayangannya setiap dua hari sekali dikunjungi oleh Nalis nyaris pada waktu yang sama dengan jadwal rutinnya. Nalis ini selalu menyapanya, dan mencoba merayunya untuk bergabung dengan kelompok diskusi yang dia bentuk. Parman sebenarnya sudah mulai bosan, karena itulah dia berkata,“ Pak Nalis, harap siram kakus sebersih-bersihnya setelah buang air besar. Janganlah ada orang lain yang merasa tak nyaman berada di dalam karena bau-bauan.“

            “ Ha ha ha…. Pak Parman memang petugas kebersihan sejati. Akan tetapi, kakus manakah yang tidak bau Pak Parman. Kalau ada tunjukkan pada saya, akan saya bayar Pak Parman tiap saya ke sana.“ Nalis mengatakan ini dengan senyum sinis.

            Parman yang sudah sebelas menit menahan hajat secara aneh tak lagi merasakannya. Hatinya berganti dipenuhi amarah mendengar kata-kata merendahkan dari Pak Nalis.

            “ Baiklah, akan saya tunjukkan tempat itu dengan kaki saya ini,“ Parman melayangkan tendangan ke perut Pak Nalis tanpa nuansa kepura-puraan. Pak Nalis langsung terjilapak.

            Pas Parman menendang itu, kebetulan anggota-anggota diskusi Pak Nalis sedang menuju surau. Dua orang dari mereka melihat aksi penendangan tersebut secara siaran langsung. Kebetulan lagi, salah satu dari yang dua sambil berjalan sedang memotret-motret surau menggunakan kamera dan tak sengaja terpotretlah cuplikan kejadian itu. Melihat hasil kamera yang segera ditunjukkan si pemotret kepada mereka, empat orang bersorak serentak,“ Parman sialan!“

            Parman yang juga bergelar Si Alam ini mulanya menyangka mereka memanggil namanya dengan sopan sehingga amarahnya tak meledak mendengar teriakan mereka. Namun, melihat gelagat yang tak baik di mana mereka berlari ke arahnya dengan mata beringas, Parman sadar akan dikeroyok. Parman pun bersiap walau tahu akan kalah dalam perkelahian amat tak imbang tersebut. Untunglah setelah mengelilingi Parman, tiba-tiba terdengar teriakan seolah-olah dari orang baik.“ Hentikan! Jangan main keroyokan!“

            “ Lalu, apa yang harus kami lakukan terhadapnya Pak Nalis.“ Rupanya orang yang bersuara menghentikan tadi adalah Nalis.

            “ Ikat saja dia dengan tali dan bawa ke dalam surau.“

            Parman agak lega, karena terbebas dari bayangan akan masuk puskesmas, rumah sakit atau bahkan kuburan. Oleh sebab itu, Parman dengan sukarela membiarkan tangannya diikat ke belakang dan dibawa ke surau.

            Di dalam surau, Parman ditanyai salah seorang warga,“ Parman, mengakulah bahwa kamu berniat menganiaya Pak Nalis? Potret ini menjadi saksi. Kalau tidak mengaku, kami akan lapor ke kepolisian dan ke koran-koran. Namamu akan tercemar.“

             “ Saya tak berniat menganiayanya, saya hanya sempat menendang perutnya. Ketika hendak mendekat dan akan menginjak-injak kepalanya sampai puas, kalian telah datang duluan sehingga tak jadi saya lakukan,” dengan terduduk dan tangan terikat, Parman menyampaikan sejujurnya.

            “ Tak peduli dengan alasanmu yang cerdas itu. Saya ada pilihan, bergabunglah dengan kami atau masuk penjara.” Pak Nalis kali ini bersuara.

            “ Nalis, aku sudah tahu dengan kebusukanmu. Dari bau dan bentuk tahimu aku bisa menebak watakmu. Kamu adalah pimpinan tingkat kabupaten sebuah partai politik yang berambisi hendak mencalonkan diri jadi kepala kampung di sini, kan? Jawab!“

            “Parman sialan! Sebenarnya kamu atau aku yang diikat. Berani-beraninya kamu menginterogasiku.“ Nalis tak hanya berkamu-kamu dan ber-aku-aku (untung saja tidak ber-gue-gue dan ber-lu-lu), tapi juga menyempatkan diri untuk menyinggahkan tamparan ke pipi kanannya.

            Parman seperti tersintak.“ Katakan apa maumu, Nalis.“

            “ Aku ingin saat ini juga kamu peduli pada negara. Aku akan belikan kamu sebuah televisi. Lalu, sekali dua hari ikutlah diskusi dengan kami. Kalau kamu macam-macam, foto ini akan kusebarkan dan kamu akan kehilangan pekerjaan dan diusir dari sini. Mengerti?“

             Parman mengangguk aneh. Entah apa yang ada di kepalanya.

*

Besoknya juga, Parman yang tak pernah punya televisi dan jarang menonton televisi itu dibelikan sebuah televisi warna lengkap dengan antenanya. Nalis dan seorang warga yang membawakannya barang itu menunjukkan kepada Parman bagaimana menggunakannya secara baik dan benar.

            Sebenarnya, Parman tak senang tak juga tak senang dengan kehadiran kotak hidup tersebut, dan sebenarnya kebiasaannya nyaris tak berubah. Hanya sesekali saja dia menonton, sebelum kerja dan sepulang kerja, total tak lebih dari satu jam sehari. Rutinitasnya jam 7-an dan 9-an tak berubah, yang berubah adalah sesudah mandi dia pun ikut bergabung diskusi masalah negara dua kali sehari. Lebih kurang sebulan bergaul dengan warga dan Pak Nalis, dia jadi tahu apa sebenarnya yang mereka lakukan dalam diskusi. Salah seorang dari mereka, seringnya Pak Nalis, menyampaikan satu atau beberapa berita dari televisi dan yang lain menanggapi. Pada tiap diskusi masalah yang diajukan bisa berbeda bisa masalah yang dibahas kemarin, dan terasa oleh Parman pengetahuannya tentang persoalan bangsa sudah ketinggalan jauh dibanding yang lain.

             Parman seringnya hanya diam melongo mendengar tentang korupsi di sana-sini, bencana alam yang terjadi, pertukaran menteri, dampak krisis ekonomi, perubahan kurs, persaingan menjadi ketua partai, perkelahian di dewan rakyat, protes pemilihan kepala daerah, perang suku, perampokan bersenjata, terorisme, bunuh diri rakyat, tingginya harga dan lain-lain sebagainya. Melihat peserta-peserta diskusi begitu bersemangat sampai bertaburan air liur, terlebih Pak Nalis sendiri yang khas gaya pikirnya, Parman jadi heran. Dia heran sebenarnya apa guna dari semuanya itu. Bicara dan bicara tanpa ada solusi dan tanpa ada tindakan nyata.

            Parman makin lama makin pesimis melihat berita dan ulasan di televisi, kepalanya makin pusing dengan kebobrokan yang terjadi. Dia makin sinis, tapi dalam diskusi tak ditunjukkannya. Dia lebih sebagai anggota pasif, dan terkesan terlalu bodoh untuk menerima semuanya. Karena itulah, kawan-kawan yang lain suka menyuruhnya untuk membuatkan mereka teh, kopi atau membersihkan ini dan itu. Parman mengikuti yang mereka inginkan karena masih ada rasa cemas di hatinya potret penendangannya disebar ke khalayak umum.

            Akan tetapi, tiga bulan mengikuti semua itu rasanya sudah lebih dari cukup bagi Parman. Justru setelah punya televisi dia yakin betapa kusutnya persoalan bangsa. Di suatu sore yang cerah, sesudah buang hajat yang terasa nikmat dan mandi yang menyegarkan, Parman kembali diskusi untuk ke-41 kalinya. Anggota diskusi di surau itu telah jadi 12 orang dan Pak Nalis tetap ketuanya. Pada kesempatan tersebut, Pak Nalis akan membahas masalah utang negara. Dia memaparkan selama lima belas menit jumlah utang negara, kepada sebagian negara mana saja, untuk berapa lama akan terbayar dan kesanggupan negara untuk membayarnya. Tak lupa dia menyebut sumber dari ulasan televisi malam kemarin, yang juga ditonton oleh sebagian anggota diskusi. Pak Nalis mengundang mereka untuk berdiskusi.

            Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba terdengar bunyi kentut yang keras. Semuanya terkejut, dan menoleh ke arah sumber suara. Parman yang ditatapi bersama tak memperlihatkan wajah cemas, dia malah mengangkat tangan.

            “ Pak Nalis dan teman-teman, bolehkah saya turut mengomentari?”

            Pak Nalis merubah wajah dari terkejut menjadi ceria. Parman akan memberikan tanggapan! Ini peristiwa langka. Biasanya dia diam saja. Nalis dalam hati berbangga diri,“ Ternyata, aku adalah nasionalis dan inspirasionis sejati. Parman yang apatis saja dapat kuubah, apa lagi prestasi yang mengesankan daripada ini.“ Dari mulutnya yang berbau petai, dia berucap ke arah Parman,“ Wah, Pak Parman, ini sungguh kehormatan. Silakan bicara, Pak!“

            Parman menarik nafas panjang,“ Menurut hemat saya, mendengar  utang negara yang besar sudahlah patut negara ini dibubarkan saja. Tiap hari selalu masalah dan masalah saja yang dihadapi. Korupsi saja tak teratasi, pemilihan kepala daerah yang menghisap banyak uang negara hanya menghasilkan pemimpin-pemimpin yang lebih buas. Ekonomi kita sudah banyak dikuasai asing, mulai dari sapu sampai pesawat terbang harus diimpor. Kita menjadi babu di negeri sendiri, dan kita kirim babu ke negara-negara lain untuk diperalat dan disiksa. Seakan semua itu tak cukup, bencana alam datang bertubi-tubi, dan anehnya uang bantuan pun diselewengkan. Ini benar-benar sudah kualat. Ada negara adidaya yang ingin menghisap kita malah dipuja-puja dan bahkan paham-pahamnya pun bebas masuk ke otak kita, hanya untuk membuat keadaan tambah kacau. Orang sebut kemajuan apa yang membuat tambah lemah. Aku sudah muak dengan semua ini, aku yakin pelan dan pasti negara ini akan hancur.“

            Mendengar paparan ini, semua yang hadir terperangah, termasuk Nalis.

            “ Parman, kamu telah murtad! Kamu anti nasionalis, anti negara, anti kemajuan dan anti masyarakat. Bertobatlah sebelum ajal menjemputmu. Kamu telah jauh tersesat!“

            “ Nalis kerbau, kamu lah yang sesat! Kalian semuanya sudah sesat, untuk apa segala diskusi-diskusi yang kalian lakukan, untuk apa segala wacana! Tahi kucing dengan persoalan bangsa!“

            Parman benar-benar sudah naik darah tampaknya, sebagian anggota juga marah kepadanya. Namun, beberapa anggota nampak tertunduk dan terdiam mendengar paparannya yang singkat. Parman berdiri dan langsung pergi dari tempat itu ditatapi oleh semua yang hadir.

            Pulang ke rumah, Parman mengambil televisi dan membawanya ke tepi jurang, lalu mencampakkannya. Besoknya dan besoknya lagi Parman diam saja di rumah, memutus rutinitasnya ke kakus kesayangan. Dua hari itu tak ada yang masuk tak ada juga yang keluar. Pas di hari yang ketiga barulah dia mulai mencoba mencicipi makanan, dan ketika perutnya telah merasakan sesuatu, dia pun kembali ke jadwal semula.

            Pukul 5.17 sore dia sampai di kakus, dan ternyata olehnya sudah ada orang di sana. Parman mulanya yakin itu Nalis, tapi hidungnya yang amat peka berpendapat beda. Dari jauh dia dapat mencium bahwa bau itu bukan punya Nalis. Ada nuansa keharuman yang aneh. Lima menit menunggu, yang di dalam pun keluar. Ternyata dia adalah lelaki tua aneh yang gila mancing, satu-satunya orang yang masih dijuluki lelaki tak peduli negara di kampung itu. Ketika mereka beradu pandang, orang tua berkata,“ Parman, marilah kita malam ini berpesta. Si Nalis sudah tewas, dia mati akibat serangan jantung di malam diskusi yang menggemparkan itu.“

            Parman tidak tertawa, tapi dia mengharap kata-kata selanjutnya dari pak tua.“ Pak Tua, menurutmu benarkah apa yang kukatakan di saat itu?“

Baca Juga: Suara Toa di Bukit-Bukit

            “ Apa peduliku benar atau salah. Apa peduliku pada negara. Aku dulu di waktu muda amat peduli dengan persoalan bangsa, tapi makin lama aku jadi bosan karena bukannya tambah baik, tapi tambah rusak. Namun, kamu harus bisa menahan diri, sebab apa yang kamu sampaikan sebaiknya kamu simpan untuk diri sendiri sampai datang suasana yang tepat. Lebih baik diam untuk sementara.”

            Orang tua setelah mengatakan itu berlalu, dan Parman pun menuju istananya.[] ***(Novelia Musda)

Novelia Musda
About Novelia Musda 6 Articles
Novelia Musda, SS, MA. Sekarang sebagai staf Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat. Lahir dan besar di Rengat, Riau, 8 November 1982 serta telah tinggal berpindah di Sicincin, Bukittinggi dan Padang. Asal suku Koto Piliang, Nagari Sumanik, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar. Penerjemah mengambil S1 Sastra Arab di IAIN (sekarang UIN) Imam Bonjol Padang (2000-2005) dengan skripsi syair zuhud Al-Ma’arry. S2 dilanjutkan di Universiteit Leiden, Belanda, jurusan Islamic Studies (2008-2010) dengan tesis tentang Tarekat Naqsyabandiyah di abad 19 Minangkabau.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*