Lusinah
Ilustrasi Dok. https://unsplash.com/photos/VsnDYMWollM

Lusinah Lusinah Lusinah

Oleh: Deni Hermawan

Kicau burung terdengar nyaring mengiringi pagi. Gemercik air sungai menambah melodi nyanyian burung kenari. Sehelai daun pohon akasia yang umur pohonnya berpuluh puluhan tahun melayang-layang di udara dan jatuh di depan seorang gadis kecil, Lusinah. Rambutnya terurai lusuh, matanya sembab seperti habis menangis semalaman. Ia sedang membawa ceting untuk mengumpulkan daun singkong yang masih muda, di belakang rumahnya. Saat ini umur Lusinah memang masih sebelas tahun, tapi Lusinah atau Lusi panggilan akrabnya, ia sudah memilki sikap yang dewasa karena telah mengalami gejolak kehidupan yang luar biasa. Lusi tinggal bersama ibunya yang memperlakukannya tak sebagaimana anak pada mestinya. Ayah dan ibunya tak tinggal dalam satu rumah, sebab mereka sudah bercerai dua tahun lalu. Sebenarnya Lusi ingin ikut dan tingal bersama ayahnya, tetapi ibunya memaksa untuk tinggal bersamanya.

“Anak payah! Ngapain kamu melamun?! Cepat!” teriak ibunya

Teriakan semacam itu sudah sering terdengar di telinga Lusi. Dengan matanya yang sembab dan rintikan air yang jatuh dari matanya, Lusi memetik satu persatu pucuk daun singkong di hadapannya. Setelah dirasa cukup, ia beranjak menuju sungai belakang rumahnya. Ia membasuh muka dan membersihkan pucuk daun singkong yang telah dipetik.

“Ayah. Aku ingin tinggal dengan ayah, aku ingin ke tempat ayah.” Rengekkan Lusi setiap paginya.

Perlakuan ibunya yang semena-mena membuat Lusi tak betah tinggal di rumah. Bahkan pernah pada suatu ketika Lusi sedang sakit, ibunya menyuruh Lusi untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Jika ia tidak mau maka cambukan ikat pinggang harus siap ia terima. Di umur yang masih belia tak sepantasnya ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Harusnya Lusi berada pada masa-masa menyenangkan berkumpul bermain bersama teman-temannya dan mendapatkan kasih sayang dari orang tua.

Pernah pada suatu saat saat ia sedang mengikuti pembelajaran di kelas. Tiba-tiba Lusi tak sadarkan diri, Badannya lemas dan wajahnya pucat. Pihak sekolah langsung menghubungi ibunya. Di depan sekolah, ambulance sudah siap untuk membawa Lusi ke rumah sakit tetapi tiba-tiba ibunya datang sambil marah-marah berkata bahwa Lusi hanya berpura-pura sakit agar bisa pulang ke rumah..

Tahun demi hari dilewati Lusi bersama sembilu. Hari-harinya sudah terbiasa dengan amarah dan cacian dari ibu yang telah melahirkannya. Betapa malang nasib Lusi, kini saat ia duduk di bangku SMP ibunya menikah lagi. Sayang sungguh sayang, ayah Lusi yang baru tak seperti ayah kandungnya. Sikapnya sama seperti ibunya.

“Lus! Cuci bajuku sekarang! Kotor sekali! Dasar anak pemalas!”, teriakan ayah barunya yang selalu mengusik telinga Lusi.

Pada suatu kejadian, pernah sekali Lusi tak sengaja menyenggol kopi ayahnya hingga gelasnya terjatuh dan pecah. Kala itu Lusi merasakan takut dan sedih yang mendalam karena selama 3 hari Lusi tak bisa melihat cahaya mentari dan rembulan. Ia harus mendekap di kamar yang pengap tanpa jendela dan ventilasi udara. Entah apa yang ada dipikiran kedua orangtuanya itu. Sampai-sampai makanpun tak diberi, hanya sebotol air minum ukuran 600 ml yang dilemparkan ibunya di hari ke-dua. Tak sampai di situ saja, saat itu Lusi berbicara pada ibunya bahwa ia ingin ke tempat ayahnya saja. Ibunya memarahinya dan menjambak rambutnya.

“Ayahmu itu brengsek! Kamu juga brengsek!” teriak ibunya sambil tangannya menarik
rambut Lusi.

“Ah! Ibu! Sakit! Lepas, bu!”

“Anak kurang ajar kamu!” kata ayah barunya sambil menendang Lusi hingga terjatuh ke lantai.

Tak seorang anak pun yang ingin berada di posisi Lusi. Waktu memang cepat berlalu dan hari demi hari masih dilewati Lusi dengan kesedihan yang berlarut-larut. Saat ia sudah menginjak bangku SMA, Lusi sudah mulai memiliki pemikiran untuk membuat rencana kabur dari rumah untuk mencari keberadaan ayahnya. Berulang-ulang kali ia coba melarikan diri tapi usahanya selalu saja gagal karena ibunya selalu memperhatikan gerak-gerik Lusi. Ia seperti terpenjara jeruji ibunya.

Baca Juga: Kenangan yang Hilang

Setiap anak pasti memiliki cita-cita dan mimpi, tapi ibunya tak mengizinkan Lusi menghampiri cita-citanya untuk menjadi seorang guru. Setelah lulus SMA, Lusi dipaksa untuk menikah dengan laki-laki pilihan ibunya. Ia bersikeras menolak tapi tak ada yang bisa menghalangi sikap ibunya.

“Bu?! Kenapa aku selalu dipaksa? Apa salahku? Kenapa aku tak punya kesempatan untuk memilih?  Aku tak mau menikah, bu!” pinta Lusi kepada ibunya dengan uraian air mata di pipinya.

“Lusi! Kamu anak tak pernah nurut apa kata ibu! Selalu menolak! Ini terbaik buat kamu Lusi!” kata ibunya sambil matanya melotot dan tangannya meremas pundak Lusi.

Apa yang telah dialami Lusi selama sekolah dasar hingga lulus SMA adalah kepahitan nyata yang harus dijalani. Akhirnya Lusi harus menikah dengan laki-laki pilihan ibunya, Roni namanya. Nasib tak menyenangkan tetap masih dialami Lusi setelah menikah dengan Roni. Ternyata Roni tak sebaik laki-laki idamannya. Saat Lusi sedang hamil tua, Roni meninggalkannya. Roni pergi entah ke mana dan tak kembali lagi sampai saat ini. Padahal tak pernah ada perselisihan dalam rumah tangga, Roni tiba-tiba menghilang begitu saja. Lusi pernah mendapat berita burung dari tetangga-tetangga di sekitar rumahnya kalau Roni sudah menikah lagi dengan seorang perempuan di Pulau Sulawesi.

“Aku sudah mengalami kepahitan dalam hidupku, mungkin aku sudah kebal untuk ditinggal laki-laki ini, tapi aku tak mau ditinggal ayahku. Aku mau mencari ayahku lagi.” Gumam Lusi ketika mendengar kabar burung yang sudah tersebar luas di tempat tinggalnya.

Tiba-tiba keingan Lusi untuk mencari ayahnya kembali muncul. Inilah keinganannya sedari kecil. Sekarang ia sudah bebas dari dari jerat jeruji penjara ibunya. Ia hendak menggali dan mencari informasi di manakah keberadaan ayahnya saat ini. Bukan main niatnya untuk bertemu
ayahnya, di umur kandungan yang sudah menginjak tujuh bulan Lusi ke sana kemari mencari informasi ayahnya, baik itu ke Kantor Polisi, Dinas Kependudukan Catatan Sipil, dan media massa. Apa yang telah terjadi di dunia ini telah direncakan oleh yang maha kuasa. Bisa dikatakan kebetulan semata, Lusi mendapat keberadaan tentang ayahnya melalui komentar atas unggahan statusnya di Facebook. Lantas, Lusi menelpon orang yang berkomentar tersebut.

“Memang bener ya, mba? Wajah dan namanya sama persis?”

“Iya, mba’. Bapak ini ada di daerah situ. Ia langganan Mie Ayam saya. Bapak mba’ juga sering cerita tentang mba’. Bapak sampean kangen banget katanya sama mba.”

Mendengar perkataan tersebut, Lusi langsung menitikkan air mata. Ia teringat akan kenangan bersama ayahnya dan ibunya semasa masih bahagia belasan tahun yang lalu.

“Tapi, mba. Bapak sampean sudah gak terlihat lagi dua minggu ini. Saya juga gak tahu kenapa, mba. Posisi saya sekarang lagi gak di sana, saya ada di luar kota urusan pekerjaan.”

Tanpa tunggu lama, Lusi meminta alamat lengkap tempat tinggal ayahnya. Sambil membawa beban di perutnya, Lusi menenteng beberapa tas di tangannya dan menuju naik ke bus yang sedari tadi sudah berhenti di pangkalan pukul enam pagi tadi. Sekitar lima belas jam perjalanan Lusi hanya menghabiskan waktu dengan duduk dan memikirkan ayahnya. Apa sekarang yang terjadi pada ayahnya? Akankah ayahnya masih ingat dengannya? Pukul sembilan malam Lusi sampai di tempat alamat yang dituju. Namun, keadaan sangat berbeda dengan yang dipikirkan Lusi. Suasananya sunyi dan pintu-pintu rumah yang lainpun juga sudah tertutup rapat. Lusi memutuskan untuk melanjutkan pencarian ayahnya esok pagi. Namun, Lusi sekarang yang sedang hamil tua tak tahu harus tidur dan beristirahat di mana. Ia mencari masjid terdekat untuk dijadikannya tempat tidur malam ini. Sayangnya ia malah diusir oleh satpam masjid.

Melihat Lusi diusir oleh penjaga masjid, tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendatangi Lusi sambil menggendong bayi.

“Kenapa, bu?”

“Oh, gak papa, bu.” Jawab Lusi dengan senyum ramah

“Yaudah, ibu ikut saya saja. Saya lihat tadi ibu mulai dari turum bus kebingungan seperti mencari sesuatu. Tinggal ditempat saya saja bu untuk malam ini, ya?”

 Lusi pun dengan terpaksa harus mengiyakan karena ia juga sudah terlihat bingung untuk mencari tempat istirahat malam ini. Di rumah ibu tersebut Lusi menjelaskan sebenarnya apa yang tengah ia cari.

“Oalah, Pak Narno? Iya, bu. Saya kenal dekat dengan Pak Narno. Itu bapak sampean tho?”

“Iya, bu. Sampean kenal tho, bu? Bisa kasih tau di mana tempatnya sekarang, bu?” Tanya Lusi.

Ibu tadi seperti kebingungan hendak menjawab apa. Ia akhirnya menjelaskan dengan perlahan.
“Maaf, bu. Sebelumnya ibu belum tahu kabar?”

“Kabar apa, bu?”

“Maaf sekali lagi, bu. Saya harus memberitahu ibu se..be..narnya..”

“Ada apa, bu?” tanya Lusi dengan rasa penasaran

“Pak Narno sudah meninggal sejak dua minggu lalu, bu. Beliau kena serangan jantung” Jawab ibu tersebut dengan memeluk Lusi.

Sungguh sebuah kisah yang benar-benar menyedihkan. Lusi tak tahu harus berkata dan berbuat apa. Malam itu, ia hanya melamun ditemani rembulan malam yang membuat Lusi enggan bersemayam di tempat persinggahan. Air matanya mungkin sudah habis hingga tak lagi bisa dikeluarkan. Lusinah yang malang.

Baca Juga: Nova

Deni Hermawan
Deni Hermawan lahir di Tanah Laut, Kalimantan Selatan pada 22 Desember 2000. Ia tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Lambung Mangkurat sejak 2018 hingga sekarang. Baginya menulis adalah sebuah seni untuk mengekspresikan diri. Lewat tulisan maka aspirasi hati akan terealisasi. Deni atau akrab disapa Aksa juga hobi dalam bidang konten kreator. Karyanya dapat dilihat melalui channel Youtubenya Aksa Denios.