Madrasah Ahlussunah wal Jamaah dalam Furu’ dan Ushul

Madrasah Ahlussunah wal Jamaah dalam Furu' dan Ushul
Ilustrasi Dok. Istimewa

Madrasah Ahlussunah wal Jamaah Madrasah Ahlussunah wal Jamaah

Walaupun dalam mazhab fikih sama, tapi kadang ada perbedaan dari sisi akidah, seperti Zamkhsyary seorang Muktazilah bermazhab Hanafy, Ibnu Rusyd seorang hukama bermazhab Maliky, Ibnu Taimiyah seorang karamiyah bermazhab Hanbaly, dst. Walaupun berbeda mereka tetap mempunyai tempat tersendiri dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah, mereka dihormati dan diakui ijtihad fikihnya.

Maka dari itu para ulama merasa perlu menjelaskan perbedaan itu, meski dalam fikih sama tapi beda dalam akidah. Untuk menjelaskan garis ini, ulama Ahlussunnah Mutakhirin menamakan madrasah para ulama mazhab yang empat yang berakidah Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fudhala, merekalah yang menjadi ulama sawad a’zam umat Islam.

Baca Juga: Beberapa Amalan dan Etika Harian Kalangan Ahlussunnah wal Jamaah ala Nusantara yang diamalkan Ratusan Tahun

Fudhala yang taklid furu’nya mazhab Malikiy dan Syafi’i dikenal dengan madrasah Asyairah dalam ushulnya. Fudhala yang taklid furu’nya mazhab Hanafi dikenal dengan madrasah Maturidiyah dalam ushulnya. Dan fudhala yang taklid furu’nya mazhab Hanbaly dikenal dengan madrasah fudhala Hanabilah dalam ushulnya.

Mereka semua fudhala dalam furu’ dan ushul. Tentu dalam masing-masing madrasah baik dalam madrasah Maturidiyah, Asyairah dan Hanabilah masing-masing ulama mempunyai kecendurangan masing-masing. Sehingga dalam satu madrasah sendiri ada beberapa tariqah (jalan) dalam berfikir, sesuai “fesyen” masing-masing, sesuai dengan kecondongan manusia yang memang merupakan fitrah.

Sebagian ulama condong kepada tariqah Aqly merekalah Sadat Mutakalimin, sebagian condong kepada tariqah Naqly mereka dikenal sebagai sadat Ahlul Hadis atau Atsariyin, sebagian lagi condong ketariqah Irfany mereka dikenal dengan sadat Sufiyah dan semuanya diakui sebagai bagian dari madrasah Ahlussunnah wal Jamaah.

Ini merupakan satu kesatuan dalam madrasah. Maka dari itu bagi yang mempelajarinya akan mendapatkan bahwa madrasah Hanabilah dalam furu’ dan ushul merupakan satu kesatuan. Begitu juga madrasah Syafiiyah dan Malikiyah dalam furu’ dan asyairah dalam ushul merupakan satu kesatuan. Hal yang sama juga berlaku pada madrasah Hanafiyah dalam furu’ dan Maturidiyah dalam ushul.

Kesatuan dalam apa? Mulai dari cara berfikir, ilmu ushul fikihnya, ilmu kritik hadis, cara menafsirkan al-Qur’annya, sampai cara berijtihad dan melahirkan sebuah hukum. Semuanya terlihat begitu harmonis sebagai satu kesatuan. Dan uniknya, ke 3 madrasah ini bertemu dalam akar mazhabnya dan berbeda dalam rantingnya. Perbedaan yang membuat mazhab Ahlussunnah wal Jamaah bisa bertahan di seluruh sudut dunia tanpa harus kehilangan identitasnya.

Baca Juga: Meneguhkan Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ari_Maturidi)

Karena kemampuan untuk menyesuaikan diri sesuai dengan tantangan zaman dan tempat, makanya siapa yang mencoba menentang perbedaan yang ada maka dia akan kesulitan sendiri, karena beragama akan begitu kaku. Begitu juga siapa yang mencabut akar fondasi mazhab dia akan kehilangan arah. Karena dia akan berjalan tanpa fondasi berpijak.

Madrasah ini hari ini dikumpulkan menjadi sebuah manhaj Mutakamilah yang dikenal dengan manhaj al-Azhary. Yang tersebar keseluruh dunia dengan berbagai penyesuaian dan membentuk madrasah dan ormas yang bisa menyesuaikan diri dengan ladang dakwahnya. Kadang bernama Nadhiyah, kadang Deobaniyah, kadang Barlelwiyah, kadang Perti, kadang Dayah, kadang Tijaniyah, kadang Mahdarah, kadang Rubat, dan seterusnya.

Fauzan Inzaghi
About Fauzan Inzaghi 29 Articles
Mahasiswa Indonesia di Suriah

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan