Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang – Lampasi (Bagian 4)

Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang – Lampasi (Bagian 1)

Sebelumnya Baca: Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang – Lampasi (Bagian 3)

Pada tahun 1941, dibentuklah ranting PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), dengan susunan pengurus antara lain, Ketua Engku Lakung, Wakil Ketua Achmad Chatib, dan Sekretaris Ramli Dt Bagindo Malano. Untuk Wanita PERTI dipelopori oleh Rafi’ah, Nurisan dan Rabi’ah.

Ketika Jepang menguasai Payakumbuh tahun 1942, madrasah sempat ditutup karena situasi pemerintahan yang tidak terkendalikan. Kemudian, atas jasa Kepala Negeri madrasah dibuka kembali. Pada tahun itu pula, madrasah meluluskan muridnya yang pertama. Ijazah pertama tercatat diberikan kepada Sabirin, murid yang berasal dari Painan Pesisir Selatan.

Pada awal kemerdekaan, madrasah turut ambil bagian dalam upaya menegakkan dan membela kemerdekaan, menurut ukuran perjuangan setempat. Madrasah melalui wirid dan pengajian memberikan penerangan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti dan tujuan kemerdekaan. Madrasah aktif pula dalam pengumpulan dana sosial untuk menunjang perjuangan kemerdekaan. Dengan tidak meninggalkan fungsinya sebagai tempat belajar, madrasah ketika itu menjadi markas Lasykar Muslimin Indonesia (LASMI), yang berafiliasi kepada PERTI.

Ketika Belanda menguasai Payakumbuh tahun 1949, untuk beberapa kegiatan pendidikan berhenti. Barulah kemudian setelah penyerahan kedaulatan pada akhir tahun 1950, kegiatan pendidikan berjalan kembali.

Timbullah gagasan untuk memindahkan lokasi madrasah ke tempat lain, atas anjuran Buya H Rusli Abdul Wahid yang ketika itu menjadi Patih di Payakumbuh dan Ketua Umum PERTI Sumatera Barat. Lokasi baru itu adalah tanah waqaf dari H Rasyidin, suku Salo, seluas 20 x 30 meter. Di atas tanah itulah dibangun 6 lokal ruangan belajar. Perluasan tanah dan bangunan berjalan terus sesuai dengan bertambahnya murid. Dana untuk perluasan tersebut bersifat swadaya masyarakat dan ada juga bantuan dari pemerintah.

Sejak semula, madrasah sebagai institusi memiliki berbagai fungsi. Fungsi pendidikan terwujud dalam penyelenggaraan pendidikan formal melalui sistem persekolahan dan pendidikan non formal melalui pengajian dan wirid-wirid keagamaan. Fungsi dakwah dilakukan melalui latihan kader-kader dan upaya penerangan agama untuk msyarakat. Fungsi pembinaan masyarakat diwujudkan dalam bentuk partisipasi madrasah dalam pembangunan dan penataan kehidupan masyarakat atau keterlibatan madrasah dalam program-program pembangunan daerah.

Baca Juga: Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang – Lampasi (Bagian 1)

Pendidikan formal yang mencakup suatu program pendidikan selama 13 tahun. Enam tahun pertama pendidikan tingkat dasar dengan nama Madrasah Awaliyah, setingkat SD/Ibtidaiyah. Tingkat Tsanawiyah selama tiga tahun, tingkat Aliyah selama tiga tahun, dan satu tahun tingkat Takhasus (spesialisasi).[]

Soerya Nurulhuda
About Soerya Nurulhuda 4 Articles
Buya Syekh Haji Muchtar Engkau Lakung dan Alumni MTI Koto Panjang-Lampasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*