Majalah al-Mizan Edisi 17 April 1938 dan Bahan Perenungan bagi Warga Tarbiyah

Majalah al-Mizan Edisi 17 April 1938 dan Bahan Perenungan bagi Warga Tarbiyah

Majalah al-Mizan

Ini halaman terakhir Majalah al-Mizan edisi 17 April 1938. Barangkali muatan informasinya tak seberapa dan datar-datar saja, tapi setidaknya bisa jadi bahan perenungan bagi warga Tarbiyah saat ini (terutama saya yang awam sejarah):

1. Bahwa forum rapat, musyawarah, atau konferensi Perti tidak semata untuk membincang urusan strukturalnya sendiri, tapi juga “nasib” sekolah-sekolah Tarbiyah. Pada Konferensi Perti 1938, seperti tertulis di sini, dilakukan pengesahan terhadap 22 sekolah Tarbiyah di berbagai daerah, setelah pengesahan atas 68 sekolah Tarbiyah sebelumnya;

2. Bahwa ternyata tidak otomatis setiap sekolah atau Madrasah Tarbiyah Islamiyah terikat dengan organisasi (Perti). Walau sekolah itu telah beratoes-ratoes banjaknja, yang mengikatkan diri pada organisasi Perti sampai tahun 1938 itu baru 90 sekolah;

Majalah al-Mizan Edisi 17 April 1938 dan Bahan Perenungan bagi Warga Tarbiyah
Halaman terakhir Majalah al-Mizan edisi 17 April 1938

3. Bahwa sekolah-sekolah Tarbiyah (MTI/ PPTI) yang mengikatkan diri pada organisasi itu memiliki nomor seri (?) sesuai urutan pengesahannya, sebagaimana halnya sekolah-sekolah negeri: SDN 01, SDN 02, SMPN 01, SMKN 02, SMAN 10, dan seterusnyat. Maka, di masa itu ada MTI 69 Andalas III Balai Matur, MTI 70 Lasi Bukittinggi, dan seterusnya. Dari dokumen lain didapat informasi: MTI 01 Canduang, MTI 02 Tabek Gadang, MTI 03 Jaho, dan seterusnya. Tradisi penomoran ini masih berlangsung sampai puluhan tahun kemudian. Majalah Suara Perti pada 1951, misalnya, masih menuliskan “MTI No. 130 Putri Bengkaweh”. Mungkin masih berlanjut sampai tahun-tahun berikutnya;

4. Bahwa di antara peran media Tarbiyah/Perti adalah men-syi’ar-kan perkembangan sekolah-sekolah kepada khalayak, sekaligus ajakan pada para orang tua agar menyekolahkan anaknya ke sini, seperti ditunjukkan oleh maklumat:

“MASUKKANLAH ANAK TOEAN PADA MADRASAH TARBIJAH ISLAMIJAH”

Dan, maklumat itu dimuat di halaman terakhir, halaman paling eye catching, paling mencolok mata setelah halaman depan. Dari sisi marketing, halaman ini biasanya paling mahal tarif iklannya. Nah, di halaman paling mahal itulah perkembangan sekolah-sekolah Tarbiyah di-syi’ar-kan pada segenap muslimin;

5. Bahwa ternyata Perti pernah punya lembaga/badan dengan nama “Majlis Tarjih”, nama yang lebih identik dengan sahabatnya, Muhammadiyah. Saya tidak paham apakah ini lembaga sementara, semi-otonom, atau memang bagian dari struktural Perti yang sekarang telah berganti nama atau dihapus (mohon kepada yang paham, sudilah kiranya menambahkan atau mengoreksi ini);

6. Bahwa halaman ini juga mampu menstimulasi kita untuk mengangakan mulut sembari sedikit mengangkat kepala: oo ternyata di Andalas III Balai Matur dulu ada MTI; oo ternyata di Talang Kemuning Kerinci pernah ada MTI; oo di Palembayan dulu juga ada; dan oo oo berikutnya.[]

Baca Juga: Syekh Ibrahim Musa dan Majalah al-Bayan dalam Dimensi Sosial-Keagamaan di Minangkabau

Baca Juga: Karya Pemikiran Syekh Muhammad Tahir Jalaluddin Minangkabau dalam Polemik Keagamaan pada Pertengahan Abad 20

Nuzul Iskandar
Nuzul Iskandar 8 Articles
Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung. Pernah aktif sebagai peneliti di Smeru Research Institute. Sekarang Dosen Hukum Islam di IAIN Kerinci Jambi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*