Mak Nin, Bertarbiyah Melalui Sepiring Lontong

Mak Nin, Bertarbiyah Melalui Sepiring Lontong

Oleh: Wiza Novia Rahmi

Sosok penyayang itu berpulang, anak siak (para santri dan alumni MTI Canduang) amat merasakan kehilangan. Sebab beliau tidak hanya ibu dan nenek bagi anak siak, namun juga telah menjadi guru dan pendidik yang mengajarkan arti keberkahan dan keikhlasan.

Nama beliau Dainir. Dini hari Jumat (20/8) pukul 00.20 WIB beliau kembali kepada Sang Pencipta. Beliau sehari-hari tinggal bersama anak-anak yang kos di rumah beliau, depan kampus MTI Canduang. Selain itu, beliau yang kerap disapa dengan panggilan Mak Nin ini juga memiliki kedai di samping rumahnya. Kedai tersebut menjadi salah satu tempat sarapan dan jajan bagi santri putra. Beliau menyediakan lontong sayur, berbagai gorengan dan juga minuman. Menurut keterangan Buya Masril, yang tamat MTI Canduang sekitar 1970, Mak Nin telah berjualan lontong sejak beliau mulai sekolah. Itu berarti sekitar awal tahun 1960.

Sebagai seorang santri perempuan, saya memang tidak begitu dekat dengan beliau. Sebab yang perempuan akan berkerumun ke kedai Tek Roh, atau ke kantinnya Amak Kantin di jam istirahat. Meski demikian, kami yang perempuan senantiasa menyapa bila lewat di depan rumah beliau. Sekaligus mengambil berkah sekali pandang plus melirik ke para anak siak. Momen langka.

Baca Juga: Buya H. Awiskarni Husin sebagai Tarbiyah yang Hidup

Kedai Mak Nin tak pernah lengang bila jam istirahat, atau setelah shalat Zhuhur dan bahkan hingga petang menjelang. Bila bel kembali berbunyi, para anak siak akan berlari menuju gerbang madrasah agar tak terlambat. Lalu tak sedikit yang belum membayar jajanannya saat akan kembali, atau bahkan beli dua bayar satu.

Beliau mengetahui perbuatan tersebut, tapi tidak menyurutkan niatnya untuk berhenti “mengenyangkan” anak siak. Sikap beliau nyatanya didasari oleh amanat Inyiak Canduang yang kami kutip dari tulisan salah seorang alumni (Heri Surikno), “dulu samaso Buya Canduang hiduik, liau bapasan ka Amak: bisuak Nin, akan banyak anak-anak den (Buya) nan ka mangaji kamari, dari lua-lua bagai. Tolong juo agiah kalapangan ka mereka kalau nyo sulik.

Beliau jalankan pesan Inyiak Canduang dengan baik. Tak hanya setahun dua tahun, namun hingga akhir hayat beliau. Sehingga seperti apapun tingkah dan polah anak-anaknya, Mak Nin tetap ikhlas. Hubungan yang tercipta dengan para anak siak bukan lagi sekedar penjual dan pembeli, atau hubungan laba dan rugi.

Baca Juga: Manyilau Tarbiyah dalam Kolak Sarabi (Cerita Geladir dari Sutan Pamenan)

Lantaran demikian loyalnya beliau, para santri yang sudah jadi alumni dan sukses di luar akan kembali pulang pada beliau. Mereka meminta maaf atas deretan sifat dan sikap masa lalu. Dan Mak Nin akan tetap seperti biasa, menyambut dengan hangat. Bahkan salah seorang alumni yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Mesir kala itu (Zamzami Shaleh) menuliskan bahwa “selepas saya balik dari Al Azhar dan mengajar di MTI Canduang, saya tidak diizinkan lagi membayar kalau makan di kedai beliau. Kalau saya memaksa, maka akan “dimarahi”. Beliau sendiri berjualan bukan karena kebutuhan, melainkan karena rasa sayangnya kepada anak siak yang juga terus memaksa agar kedai tetap buka.”

Mak Nin wafat dalam usia 89 tahun. Beliau dimakamkan di samping Masjid Tarbiyah. Anak siak kehilangan, tapi jasa dan kasih sayang beliau tidak akan pernah hilang dari ingatan. Doa-doa terus berdatangan dari anak-anak beliau. Selamat jalan Mak Nin, semoga Amak ditempatkan di sebaik-baik tempat di sisi Allah Ta’ala.

About Wiza Novia Rahmi 4 Articles
Wiza Novia Rahmi. Kanti Mangaji di Kaji Surau, Alumni MTI Canduang dan Alumni IAIN Bukittinggi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*