Makmum yang Mencemaskan Imam

Makmum yang Mencemaskan Imam
httpstwitter.comsketsagramstatus1254758430734274561

Saya termasuk orang yang setuju dan sangat mengapresiasi kebijakan suatu nagari dimana orang yang baru diangkat sebagai datuk atau pemangku adat diminta menjadi imam salat jumat. Gelar yang bertalian erat dalam bidang agama semisal imam, malin, tuanku, dan lain sebagainya, tentu menjadi prioritas ‘dilewakan’ di masjid. Hemat saya, tradisi ini bukan saja informasi bagi jamaah tentang keberadaan pemimpin baru dari suatu kaum atau sekadar tes mental datuk atau malin yang baru ‘dilewakan”, melainkan juga suatu tradisi baik yang perlu dilestarikan.

Bukan saja supaya adat ber-sandi syarak dan syarak ber-sandi kitabullah berbunyi, atau syarak mangato dan adat mamakai membumi, melalui tradisi ini akan terlihat ‘pertalian adat dengan syarak’ yang sesungguhnya. Selain itu, narasi ‘ketek banamo dan gadang bagala’ bukan sebatas gagah-gagahan yang jauh panggang dari api. Apalagi gelar kaleng-kalengan!

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pada banyak masyarakat terjadi krisis akut dan kelangkaan soal orang yang akan maju ke mihrab memimpin salat atau figur yang akan naik ke mimbar menjadi khatib. Bahkan tidak sekali dua kali kita mendengar sulitnya mencari orang yang akan membaca doa ketika musim baik dan hari baik itu tiba. Misalnya saat doa selamat setelah kelahiran seorang bayi, doa selamat menjelang puasa, atau doa selamat pada hari raya.

Baca Juga: Hukum Imam Diam Sejenak Setelah Membaca al-Fatihah

Selain karena lebih suka dengan yang viral, sering terpesona pada yang jauh, atau hobi ‘maangok di lua badan’, hal ini adalah akumulasi dari tidak terjadinya pembinaan dan kaderisasi yang baik ‘urang siak’ pada suatu nagari. Kita maklum menu ‘jariang ka jariang’ atau ‘palai ka balai juo’ memang membosankan, dan karenanya perlu diganti dengan menu yang lain seperti kebab turki atau martabak mesir. Tapi menapikan kader-kader potensial dari anak nagari dari list khatib jumat selama satu tahun, sebagai contoh, bukanlah juga keputusan yang tepat. Akibatnya, ketika khatib jumat yang jauh itu berhalangan hadir, kelabakan mencari penggantinya.

Berkaitan dengan datuk atau malin yang jadi imam salat jumat debutan di atas, entah mengapa sejak pengurus atau takmir masjid mengumumkannya, jantung saya mulai berdegup kuenceang. Debarannya semakin kuenceang ketika sang imam mengalami ‘sesuatu’ dalam kepemimpinannya. Detaknya baru normal kembali sesudah mendaras salam yang kedua.

Sependek pengalaman mengikuti kegiatan tersebut, jarang datuk atau malin tersebut ketika melaksanakan tugasnya memimpin salat jumat untuk pertama kalinya yang berjalan mulus. Ada saja insiden yang menjadi masalah. Tanda-tanda bahwa kapal sang imam tidak sedang baik-baik saja terdengar mulai dari mengulang-ulang ayat yang sama, lupa ayat tertentu dari surat pendek, hingga tidak keluar suaranya sama sekali.

Pada momen-momen krusial seperti ini, bukan saja mental baja atau tegar batu karang dari sang imam debutan yang dibutuhkan, melainkan juga panduan dari makmum terdekat yang bijaksana. Koor suara makmum membaca subhanallah atau membetulkan bacaan imam secara berkerumun atau dehem-dehem makmum yang tiba-tiba gatal kerokongannya yang jamak terjadi ketika imam baca ayat yang awalnya bukan tri-qul, harus dihindari.

Saya kira, saat berada dalam kondisi demikian, kita berharap semua doa yang baik yang selalu dibaca setiap hari dikabulkan oleh Allah Swt. Alhamdulillah, dari mengikuti peristiwa proses ‘melewakan’ gelar datuk atau malin di masjid jami’ nagari yang belum sampai jumlahnya sebanyak jari-jari di tangan itu, belum ditemukan kasus imam debutan mengulang salat jumat dari awal. Apalagi jamaah mengganti salatnya dengan salat zuhur.

Dari pertemuan harmonis antara syarak dengan adat tersebut, diharapkan ke depannya akan muncul para pemangku adat yang berkompeten. Bukan saja rajin ke balai-balai adat atau mahir berpetatah-petitih adat, tapi juga tidak takut ke masjid atau ke surau kaum persukuannya. Bukan saja sangar kepada kaum kerabat dan kemenakannya dengan menetapkan berbagai upeti, tetapi juga siap sedia tampil di masyarakat dan berkontribusi untuk masyarakat luas. Sehingga tidak terdengar lagi ‘datuak kapalo kambiang’, ‘mamak kapak’, ‘malin kapalo doa’, ‘sutan rajo dando’, ‘khatik bisu barasian’, atau ‘imam ing kuntum tak’.

Baca Juga: Terbunuhnya Buya Katidiang

Saya kira narasi ‘ketek banamo gadang bagala’ itu bukan untuk sekadar gagah-gagahan atau selesai urusannya setelah menyembelih kerbau atau sapi untuk masyarakat nagari. Ya, bukan gelar kaleng-kaleng githu la![]


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Share :
Yusriandi Pagarah
Yusriandi Pagarah 9 Articles
Dosen IAIN Batu Sangkar dan Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*