Manusia Tanah Liat Tanpa Ruh; Eropa dalam Pandangan Syekh al-Buthi

Manusia Tanah Liat Tanpa Ruh; Eropa dalam Pandangan Syekh al-Bhuty

Eropa dalam Pandangan Syekh al-Bhuty Eropa dalam Pandangan Syekh al-Bhuty

Siapa yang bisa mengingkari jasa filsafat materialisme bagi umat manusia? Sebagaimana tidak ada yang bisa mengingkari kerugian yang disebabkan filsafat materialisme bagi umat manusia dengan menghilangkan sisi ruhaniyah sedikit demi sedikit dari kehidupan. Efeknya, manusia tidak mengenal lagi diri mereka sendiri, apalagi mengetahui apa yang harus mereka kerjakan. Kerugian ini tidak ada bandingannya dibanding hasil yang didapat dari perkembangan teknologi fisik, karena manusia kehilangan setengah dari diri mereka, ibarat kata sudah diamputasi.

Karena itu penyebaran paham materialisme ini benar-benar bencana untuk kemanusiaan manusia. Karena tuhan tidak hanya menciptakan manusia dari tanah, tapi juga mencampurnya dengan ruh. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat. Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” Sangking tenggelamnya dalan materi maka kita saat ini seringkali berpikir bahwa manusia tercipta dari tanah liat dan melupakan bahwa manusia juga tercipta dari ruh.

Baca Juga: Tajdid #02 (Kitab-kitab Tajdid Keilmuan Islam di Abad 20-21)

Maka dari itu tak heran karena kelupaan itu kita melupakan sisi ruh dari sebuah amalan, yang kita pikirkan hanya sisi materi saja, seperti; salat bisa bikin sehat, puasa bikin sehat, zakat memberantas kemiskinan, berbuat baiklah karena itu bisa membantu saudara kita, dll. Semua ibadah dilihat efeknya dari sisi fisik dan materi, bahkan dalam ibadah, kita tidak mengingkari jika ibadah dalam Islam punya efek bagus dari sisi jasad dan materi, tapi dimana sisi ruhnya? Efek ibadah bagi ruh terlupakan, sehingga ibadah kita pun menjadi kering, kalau ibadah kita saja sudah sejauh itu jauhnya dari ruh, bukankah pantas jika kita mengatakan bahwa diri kita sudah diamputasi setengah badan?

Buku di bawah salah satu pengalaman Syekh al-Buthi ketika melihat Eropa. Buku yang cukup menjelaskan hal di atas, dimana beliau kasihan melihat keadaan orang-orang di  Barat sana, yang katanya telah mencapai peradaban tertinggi, tapi mereka tidak tau harus ke arah mana, jika selama ini umat Islam yang datang ke Eropa selalu takjub dengan kemajuan materi di Eropa. Beliau malah melihat sisi lain yang membuat beliau merasa kasihan. Beliau menceritakan bahwa betapa banyak orang di sana seperti robot tanpa ruh, dan saat ini butuh uluran tangan untuk dibantu. Mereka menangis tapi tidak tahu mengapa menangis, hingga mereka menipu diri mereka “aku sedang tidak menangis”.

Sayangnya mereka bahkan tidak tahu kalau mereka butuh bantuan, apalagi mengerti bagaimana mencari bantuan dan kepada siapa. Jadi dalam buku ini beliau sama sekali tidak ada kebencian pada Eropa, apalagi menceritakan superior Islam yang mengalahkan Eropa, tapi beliau hanya menceritakan apa yang beliau lihat, yaitu orang-orang yang tidak mengenal diri sendiri dan butuh bantuan untuk mendapatkan kebahagiaan ruh tapi tidak ada yang menunjukan jalan. Akhirnya, mereka terus berjalan tanpa arah, wa hum fi zulumatin la yubsirun. Memang beda pandangan waliyullah pada kemajuan teknologi Eropa, di mana biasanya orang yang kesana hanya melihat sisi perkembangan materi karena memang timbangan sebagian kita materi jadi kita takjub memang di wilayah kemajuan materi tapi lupa sisi kemanusiaan dan hakikat diri mereka, dimana ada kebahagiaan abadi disana. Bukan sekadar 50 atau 60 tahun.

Baca Juga: Menimbang Maqashid Syari’ah sebagai Metodologi

Kabar baiknya dengan hati dan akalnya, sebagian mereka yang kehausan dengan kenikmatan ruh itu mulai mencari hakikat sebenarnya. Bahkan, sebagian mereka telah mendapatkannya dan berpegang padanya melebihi kita di Timur, karena mereka pernah merasakan menderita karena haus, sehingga ketika nikmat itu didapatkan maka tidak akan terpikir untuk melepasnya. Seharusnya kitalah yang takut, di mana air ruh di depan kita malah kita cemari dan kita buang begitu saja. Saat mereka mulai menemukan minuman itu, kita malah mulai meninggalkanya, dan kita tidak pernah belajar dari manusia sebelum kita sendiri merasakannya.[]

Oleh: Fauzan Inzaghi

Fauzan Inzaghi
Mahasiswa Indonesia di Suriah