Manuskrip Kitab “al-Asfar” Salinan Syekh Muhammad b. Abdul Lathif Banten Bertahun 1093 Hijri (1682 M) Koleksi Perpustakaan Arif Hikmet di Madinah

Manuskrip Kitab “al-Asfâr” Salinan Syekh Muhammad b. Abdul Lathif Banten Bertahun 1093 Hijri (1682 Masehi) Koleksi Perpustakaan Arif Hikmet di Madinah
Foto Dok Penulis

# Warisan Intelektual Ulama Sunda
Manuskrip Kitab “al-Asfâr” Salinan Syekh Muhammad b. Abdul Lathif Banten Bertahun 1093 Hijri (1682 Masehi) Koleksi Perpustakaan Arif Hikmet di Madinah

Terdapat cukup banyak manuskrip yang ditulis oleh ulama Nusantara yang tersimpan di beberapa perpustakaan di kota suci Makkah dan Madinah (Haramayn). Manuskrip-manuskrip tersebut baik berupa naskah karangan atau pun naskah salinan dan berasal dari rentang masa abad ke-16 hingga 20.

Salah satunya adalah manuskrip kitab “al-Asfâr ‘an Ashl Istikhârah A’mâl al-Lail wa al-Nahâr” yang disalin oleh Syekh Muhammad b. ‘Abd al-Lathîf al-Jâwî al-Bantanî (Muhammad b. Abdul Lathif Banten), seorang ulama Nusantara yang berasal dari Kesultanan Banten dan bermukim di kota Madinah pada akhir abad ke-17.

Dalam titimangsa yang tercantum pada halaman akhir manuskrip, disebutkan jika Syekh Muhammad b. Abdul Lathif Banten selesai menyalin manuskrip “al-Asfâr” tersebut pada waktu siang (zuhur) hari Ahad, 15 Dzulqaedah 1093 Hijri (bertepatan 15 November 1682 Masehi), bertempat di Rubâth (pemondokan) sahabat Abû Bakar al-Shiddîq di kota Madinah.

Tertulis di sana:

وتم بهذا النسخ على يد عبد محمد بن عبد اللطيف الجاوي البنتني أسهل الله له كل خير أراده. وكان تاريخه ظهر يوم الأحد بعون الملك الصمد 15 من ذي القعدة الحرام سنة 1093 برباط الصديق رضي الله عنه و عن كل الصحابة أجمعين بظاهر المدينة المنورة

(Telah selesai membuat salinan kitab ini oleh seorang hamba, yaitu Muhammad b. ‘Abd al-Lathîf al-Jâwî al-Bantanî, semoga Allah memudahkan untuknya segala kebaikan yang Ia kehendaki. Adapun tarikhnya adalah pada zuhur hari Ahad, atas pertolongan Allah yang Maha Malik dan Shamad, 15 Zulkaedag tahun 1093 di Rubâth [Abû Bakar[ al-Shiddîq, semoga Allah meridainya dan semua sahabat Nabi, di Madinah al-Munawwarah).

Saat ini, manuskrip salinan Syekh Muhammad b. Abdul Lathif ini tersimpan sebagai koleksi perpustakaan Arif Hikmet Effendi (‘Ârif Hikmat Afandî) di Madinah, Kerajaan Saudi Arabia (KSA), dengan nomor kode [80/313].

Baca Juga: Raf’u al-Hijab”: Kitab Tasawuf yang Ditulis oleh Syekh Muhammad b. ‘Allân al-Shiddîqi al-Makkî (w. 1647) untuk Sultan Abû al-Ma’âlî Ahmad dari Banten (w. 1650)

Kitab “al-Asfâr” sendiri merupakan karya Syekh Ibrâhîm b. Hasan al-Kûrânî (w. 1690), seorang ulama besar dunia Islam sekaligus mahaguru ulama Nusantara abad ke-17 yang berkedudukan di kota Madinah. Kitab ini selesai dikarang oleh pengarangnya (al-Kûrânî) pada 15 Ramadhan 1073 Hijri, lalu disalin oleh muridnya (Muhammad Abdul Lathif Banten) sekitar dua puluh tahun kemudian (1093 Hijri).

Isi kandungan kitab “al-Asfâr” sendiri mencakup kajian etika dan tatacara beristikharah (memohon petunjuk Allah ketika hendak memutuskan sesuatu agar diberikan keputusan terbaik). Bahasa yang digunakan dalam karya ini adalah bahasa Arab, dengan jenis aksara (khath) naskhî, dan jumlah keseluruhan halaman 38 (tiga puluh delapan).

Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî memiliki sejumlah murid asal Nusantara yang kelak menjadi ulama besar, seperti Syekh Abdul Rauf Singkel (Aceh, w. 1693), Syekh Yusuf Makassar (w. 1699), Syekh Abdul Mahmud b. Shalih Mataram (Jawa), Syekh Jamaluddin b. Syarafuddin Minangkabau, Syekh Abdul Syakur b. Abdul Karim Banten, juga Syekh Muhammad b. Abdul Lathif Banten tokoh yang menyalin naskah kitab “al-Asfâr” yang sedang kita perbincangkan ini.

Terkait sosok Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî dan jejaring murid-muridnya di wilayah kepulauan Asia Tenggara, Prof. Dr. Azyumardi Azra dengan sangat luas dan mendalam telah mengupasnya dalam karya beliau yang berjudul “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII”. Selain Azra, terdapat juga Prof. Dr. Oman Fathurrahman yang secara khusus mengkaji karya al-Kûrânî yang berjudul “Ithâf al-Dzakî fî Syarh al-Tuhfah al-Mursalah ilâ al-Nabî” dan secara khusus ditulis oleh al-Kûrânî untuk merespon wacana mistisisme Islam (tasawuf) yang saat itu sedang berkembang di Nusantara.

Adapun terkait Syekh Muhammad b. Abdul Lathif Banten, salah satu murid al-Kûrânî yang manuskrip salinan atas karya gurunya sedang kita perbincangkan ini, belum didapati lagi limpahan informasi dan data terkait sosok beliau. Satu-satunya sumber informasi yang baru didapat adalah manuskrip salinan “al-Asfâr” ini, yang mana namanya terabadikan di sana. Baik Prof. Azra atau pun Prof. Oman, dalam dua karya mereka di atas, juga tidak menyinggung sosok nama Syekh Muhammad b. Abdul Lathif Banten.

Baca Juga: Shulh al-Jama’atain bi Jawaz Ta’addud al-Jum’atain: Bantahan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau untuk Sayyid Utsman Batavia atas Perkara Dua Jumat di Palembang (1312 H/ 1893 M)

Meski dengan segala keterbatasan mengenai sosok Syekh Muhammad b Abdul Lathif Banten ini, setidaknya sekelumit informasi ini dapat memberikan kita bekal data sejarah, bahwa pada abad ke-17 sudah terdapat sejumlah ulama asal wilayah Tatar Sunda (Jawa Barat dan Banten) yang bermukim di Madinah dan terkoneksi dengan jaringan keilmuan ulama Timur Tengah melalui sosok Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî, juga dengan jaringan murid-muridnya seperti Syekh Abdul Rauf Singkel dan Syekh Yusuf Makassar. Salah satu murid Syekh Abdul Rauf Singkel yang terkenal adalah Syekh Abdul Muhyi yang wafat dan dimakamkan di Pamijahan, Tasikmalaya.

Wallahu A’lam

Jumadil Awal 1442/Januari 2021
Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

About Ahmad Ginanjar Sya'ban 41 Articles
Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*