Saat ini situs judi slot online deposit dana adalah salah satu permainan yang sangat di minati di Indonesia.

Pertama sekali bila anda ingin merasakan mudahkan memperoleh uang dari nwmedicaltraininggroup tentus aja anda sangat di sarankan untuk bermain pada permainan kakek ya gengs.

Manuskrip Silsilah Tarekat Qadiriah Naqsyabandiah (TQN) Jalur Periwayatan Syekh Marzuqi Banten (w. 1913) di Makkah

Manuskrip Silsilah Tarekat Qadiriah Naqsyabandiah (TQN) Jalur Periwayatan Syekh Marzuqi Banten (w. 1913) di Makkah
Dokumen Penulis

Tarekat Qadiriah Naqsyabandiah (TQN) terhitung sebagai salah satu tarekat dengan jumlah pengikut yang banyak dan peta persebaran yang luas di kawasan kepulauan Nusantara. TQN diinisiasi pada pertengahan abad ke-19 M oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas (w. 1875), seorang ulama sufi asal Nusantara yang berkedudukan di Makkah. TQN merupakan penggabungan dua aliran tarekat yang telah berkembang sebelumnya, yaitu Qadiriah (dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani, w. 1166) dan Naqsyabandiah (dinisbatkan kepada Syekh Baha’uddin al-Naqsyabandi, w. 1389).

Syekh Ahmad Khatib Sambas memiliki beberapa orang murid sekaligus khalifahnya dalam tarekat yang diinisiasinya itu, yang dalam sejarah perkembangannya memainkan peran penting dalam persebaran tarekat tersebut. Di antara murid Syekh Ahmad Khatib adalah Syekh Abdul Karim Banten yang berkedudukan di Makkah, Syekh Thalhah Kalisapu Cirebon (Jawa Barat), Syekh Hasbullah Madura, Syekh Nuruddin Tekarang (Sambas), Syekh Sa’ad Selakau (Kalimantan Barat), Syekh Muhammad Garut di Jabal Abu Qubays (Makkah), Syekh Abdurrahman Bali (yang menghimpun risalah Fath al-‘Ârifîn yang berisi ajaran Syekh Ahmad Khatib Sambas dan manual TQN), juga Syekh Marzuqi Banten.

Rata-rata silsilah TQN yang berkembang di Nusantara saat ini berasal dari tiga jalur periwayatan yang masyhur, yaitu jalur Syekh Abdul Karim Banten, jalur Syekh Thalhah Kalisapu Cirebon, dan jalur Syekh Hasbullah Madura. Terdapat dua jalur lain yang kemudian menurunkan silsilah secara terbatas di wilayah Sambas, kampung asal Syekh Ahmad Khatib Sambas, yaitu melalui periwayatan Syekh Nuruddin Tekarang dan Syekh Sa’ad Selakau.

Baca Juga: Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Ulama Nusantara dan Arab, dan Menjual Ayam Kepada Cina di Nusantara

Ternyata, didapati juga periwayatan silsilah TQN yang berasal dari jalur murid Syekh Ahmad Khatib Sambas yang lain, yaitu Syekh Marzuqi Banten (w. 1913). Silsilah ini sebagaimana saya jumpai pada manuskrip peninggalan KH. Muhammad b. Dahlan b. Kholil, seorang ulama ahli ilmu Qira’at al-Qur’an asal Peterongan (Jombang) yang kemudian bermukim di Keraton (Pasuruan).

Manuskrip tersebut ditulis dalam bahasa Arab, tediri dari dua halaman, tertulis di atas media tulis kertas buku “leces”. Dalam titimangsa, diinformasikan jika manuskrip silsilah TQN ini ditulis oleh KH. Muhammad b. Dahlan b. Kholil pada hari Selasa bakda Zuhur, 14 Muharram 1397 Hijri, atau 4 Januari 1977 Masehi, bertempat di Masjidil Haram di kota Makkah. Saat ini, manuskrip tersimpan pada KH. Imam Suhrawardi Imam Suhrowardi, sahabat saya yang juga putra KH. Muhammad di Keraton, Pasuruan.

Dalam manuskrip, disebutkan jika KH. Muhammad mengambil Tarekat Qadiriah Naqsyabandiah dari Syekh Muhammad Siajuddin b. Abdullah b. Abdul Qahhar (Makkah), beliau mengambilnya dari Syekh Abdul Hamid al-Muqri (Makkah), beliau mengambilnya dari Syekh Arsyidin Banten (Makkah), beliau mengambilnya dari Syekh Marzuqi Banten (Makkah), beliau mengambilnya dari Syekh Ahmad Khatib Sambas (Makkah), dan seterusnya hingga bersambung kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan kepada Rasulullah SAW.

Tertulis di sana:

أما بعد. أخذت هذه طريقة القادرية والنقشبندية عن الشيخ العالم الحاج محمد سراج الدين بن الحاج عبد الله بن عبد القهار، عن شيخه الشيخ عبد الحميد محمد المقرئ، عن شيخه الشيخ أرشدين، عن شيخه مرزوق، عن شيخه أحمد خطيب شمباس …

(Ammâ ba’du. Saya mengambil Tarekat Qadiriah Naqsyabandiah ini dari Syekh yang alim, Haji Muhammad Sirajuddin b. Abdullah b. Abdul Qahhar, beliau mengambil dari gurunya Syekh Abdul Hamid Muhammad al-Muqri, beliau mengambil dari gurunya Syekh Arsyidin [al-Bantani], beliau mengambil dari gurunya Syekh Marzuqi [al-Bantani], beliau mengambil dari gurunya Syekh Ahmad Khatib Sambas, …)

Adapun titimangsa penulisan, tercantum di sana:

يوم الثلاثاء، 14 محرم 1397 هـ 4 جناير 1977 م في مسجد الحرام مكة المكرمة بعد الظهر

(Hari Selasa, 14 Muharram 1397 H, 4 Januari 1977 M, di Masjidil Haram di Makkah al-Mukarramah, setelah Zuhur)

* * * * *

Siapakah gerangan sosok Syekh Marzuqi Banten yang disebut dalam silsilah ini sebagai murid dari Syekh Ahmad Khatib Sambas itu?

Selintas informasi mengenai biografi Syekh Marzuqi Banten terdapat dalam kitab “Nasyr al-Nûr wa al-Zuhr” (vo. II, hal. 441). Di sana, Syekh Marzuqi Banten disebut dengan nama “Marzûqî al-Jâwî al-Syâfi’î, sebagai seorang al-mujâwir (pemukim) di Makkah al-Mukarramah yang telah tinggal dan menetap di kota suci itu selama lima puluh tahun. Ia adalah murid dari Syekh ‘Umar al-Syâmî dan Syekh Hasbullâh al-Makkî. Syekh Hasbullâh-lah yang memberinya kredensi dan rekomendasi untuk dapat mengajar di Masjidil Haram. Forum kuliah pengajiannya banyak dipenuhi oleh para pelajar dari pelbagai wilayah Nusantara. Ia adalah seorang yang alim, pemilik keutamaan dan ketakwaan serta menghabiskan waktunya untuk beribadah. Syekh Marzuqi wafat di Makkah pada tahun 1332 H (1913 M).

Sosok Syekh Marzuqi Banten juga disinggung oleh Snouck Hurgronje dalam bukunya “Mekka” (1888). Di sana, Snouck menyebut Syekh Marzuqi sebagai kerabat Syekh Nawawi Banten (w. 1897). Ia memiliki penampilan yang elegan dan menarik. Kemampuan dan kecakapan bahasa Arab Syekh Marzuqi disebut Snouck mengungguli Syekh Nawawi. Di Makkah, ia belajar kepada para guru yang menjadi guru dari Syekh Nawawi. Usia keduanya terpaut jarak yang lumayan dekat. Syekh Marzuqi juga kerap datang dalam kelas ilmiah Syekh Nawawi.

Snouck juga menyebut Syekh Marzuqi sebagai pengikut Tarekat Qadiriah Naqsyabandiah yang diinisiasi oleh Syekh Ahmad khatib Sambas. Ia adalah kawan yang sangat dekat dan akrab Syekh Abdul Karim Banten.

Syekh Marzuqi sering melakukan perjalanan. Ketika Snouck berada di Makkah pada 1885, Syekh Marzuqi baru saja kembali dari perjalanannya keliling Nusantara yang ke lima kalinya. Syekh Marzuqi tidak punya pekerjaan lain selain mengajar murid-muridnya yang berjumlah sangat banyak. Ia membuka kelas di rumahnya setiap hari setelah shalat lima waktu. Syekh Marzuqi juga cakap berbahasa Melayu. Snouck mengatakan Marzuqi adalah seorang pengajar yang sukses, meski pun secara kapasitas dan keluasan keilmuan, Syekh Nawawi jauh di atas dia.

Dalam beberapa perjalanan terakhirnya, Syekh Marzuqi tidak hanya mengunjungi Banten, kota kelahirannya. Tetapi ia juga pergi berkeliling mengunjungi Siam (Thailand) dan Bali, di mana di kedua wilayah itu terdapat minoritas Muslim yang menjadi perhatian Syekh Marzuqi. Beliau juga dikabarkan mengunjungi Deli dan Penang di Malaya, di mana sultan Deli yang kaya raya menyambutnya, sebagaimana kebiasaannya yang sangat hormat dalam menyambut para ulama yang datang dari Makkah.

Adapun sosok Syekh Arsyidin, yang dalam silsilah ini tercatat sebagai murid dari Syekh Marzuqi Banten, selintas data perihal dirinya terekam dalam daftar nama-nama ulama Nusantara yang mengajar di Makkah yang terdapat dalam laporan Konsulat Belanda di Jeddah per-tahun 1910/1911. Dalam laporan tersebut tertulis Syekh Arsyidin berasal dari Banten, berusia 40 tahun (berarti beliau lahir 1870-an), dan telah bermukim di Makkah selama 16 tahun lamanya (berarti mulai mukim di Makkah sejak tahun 1894-an).

Baca Juga: Syekh Abdul Karim al-Bantani; Mursyid Terekat dan Pejuang Kemerdekaan

* * * * *

Jalur periwayatan TQN di atas sangat menarik, karena selain periwayatannya yang berasal dari Syekh Marzuqi Banten di Makkah, juga jalur periwayatan setelahnya yang juga seluruhnya berada di Makkah. Hal ini menunjukkan jika TQN, selain berkembang di Nusantara, juga berkembang di kota suci Makkah di kalangan para mukimin Nusantara di sana, meski dalam ruang lingkup yang serba terbatas.

Wallahu A’lam

Jumadil Awal 1442 H/ Januari 2021
Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

Ahmad Ginanjar Sya'ban
Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta