Maratib Fiqih: Metode Praktis Syekh Musthafa dalam Mengajarkan Kitab-kitab Fikih

Maratib fiqih Bersama Syekh Musthafa
Foto Penulis dengan Syekh Musthafa/Dok. Penulis

Metode Praktis Syekh Musthafa Metode Praktis Syekh Musthafa

Oleh Afriul zikri

Diantara keistimewaan Syekh Musthafa dalam mengajar adalah selalu menjelaskan tasawwur masail (gambaran permasalahan) dan fahmul ijmali (pemahaman global) tentang bab ilmu yang dibahas. Metode ini begitu cepat membentuk malakah (kemampuan) thalib. Karena di awal beliau membawa kita melihat bab ilmu yang dipelajari secara umum, membagi dan memberikan pemetaan, sehingga kita tahu sedang berada di mana dan pembahasan apa. Kalaupun nanti merasa sulit dan payah di tengah jalan, kita tidak akan kehilangan arah.

Setelah menjelaskan pemetaan secara umum (ijmali), beliau akan menyebutkan rawabith; hubungan antara bab dengan bab, bahkan hubungan paragraf dengan paragraf, baris dengan baris, lengkap dengan khilafnya. Kemudian beliau akan menguraikan makna perlafadz, lalu membawa kita menyelam di dalam penjelasan beliau yang begitu tertata dan rapi. Iya, karena Syekh ini selalu membawa talkhisan; catatan beliau, kita sangat menikmati talkhisan beliau ini yang disari dari berbagai syarh.

Nah, catatan beliau ketika mengajar itu kelak akan menjadi sebuah kitab syarh. Sama persis dahulu ketika beliau mengajar Yaqut Nafis, membawa catatan. Catatan itu sekarang kita kenal dengan kitab beliau Mu’nis al-Jalis bi Syarhi al-Yakut an-Nafis. Kalau kita buka Mu’nis al-Jalis, persis seperti yang kita sebut. Penjelasan sederhana namun memuaskan. Di setiap permulaan bab, beliau menyebutkan korelasi antar bab dengan bab, fasal dengan fasal. Beberapa permasalahan yang kita anggap sulit di Hasyiyah Bajuri dan Iqna’ umpamanya, beliau sederhanakan, sehingga membuat kita puas dan menikmati syarahan beliau. Di dalam Mu’nis juga beliau banyak mengambil maratib masalah dari minhaj dan syuruh minhaj.

Baca Juga: Mengapa Harus Belajar Banyak Kitab dan Kenapa Tidak Langsung Memahami dari al-Qur’an dan Hadis?

Beberapa kali beliau menyampaikan kepada kami maratib fiqih yang akan menjadikan kita seorang faqih. Tidak sekadar tahu namun mendalami dan menyamudrai, yang selalu beliau terapkan di setiap dars. Setidaknya ada empat maratib fiqih yang beliau sampaikan:

1. Tasawwur Masail (تصور المسائل)

Yaitu memahami konsep permasalahan yang dibahas. Kemudian mengetahui hubungan antara masail tersebut (إدراك الروابط بين المسائل). Maksudnya, kita mampu berbicara tentang bab-bab fikih secara global. Umpamanya, di dalam bab ijarah ada 4 poin, bab ji’alah ada 4 poin, bab bai’ ada 5 poin dan seterusnya. Kemudian dari setiap poin ini ada poin turunan, umpamanya poin pertama tentang rukun dan syarat, di dalam poin rukun ada poin turunan tentang syarat-syarat rukun ini sendiri, begitu juga syarat dan begitu seterusnya.

2. al-Fahmul Ijmali (الفهم الإجمالي)

Pemahaman secara global terhadap masail yang ada dalam bab. Umpamanya bab ijarah, di dalamnya memuat 4 poin: poin pertama tentang “sahnya ijarah dan batalnya”, dalam poin pertama ini dibahas beberapa topik, seperti rukun-rikunya, kemudian syarat-syarat dari rukun tersebut. Poin kedua tentang “perseteruan antara dua orang yang melakukan transaksi ijarah“, dalam poin ini ada 10 masail umpamanya. Poin ketiga tentang “hancurnya barang ijarah tersebut”, dalam poin ini ada 5 masail. Poin ke empat tentang “masalah ijarah yang berbeda-beda”, di sini ada beberapa masail yang berbeda umpamanya, dan begitu selanjutnya.

3. Martabat Dalil (مرتبة الأدلة)

Mengenal masail tadi, lalu mengetahui dalil-dalil yang membangun permasalahan tersebut.

4. Mengetahui Khilaf (معرفة الخلاف)

Mengetahui pendapat yang berbeda dengan mazhab kita lalu mengetahui jawaban dari pendapat tersebut.

Martabah ini adalah penyempurna dari 3 maratib sebelumnya. Karena tasawwur masalah tidak akan sempurna kecuali setelah mengetahui kebalikan masalah tersebut. Contoh, kita katakan bahwa hukum syuf’ah adalah lazimah dan dalilnya begini. Kemudian ada pendapat lain, bahwa syuf’ah itu tidak lazimah. Setelah kita mengetahui dalil pendapat lain tersebut serta jawaban terhadapnya, maka akan menjadi begitu jelas bagi kita bahwa hukum syuf’ah itu adalah lazimah.

المسائل تتبين بأضدادها

“Permasalahan akan menjadi lebih terang ketika mengetahui kebalikannya”.

Baca Juga: Apakah Ahli Fikih Itu Ahli Hadis Juga?

Hal ini selalu beliau prakatikkan dalam setiap mengajar. Dugaan saya juga, insyaaallah setelah dars Minhaj atThalibin ini akan keluar juga kitab syarh atau ta’liq beliau terhadap Minhaj.

Semoga Allah selalu menuntut kita untuk bertafaqquh dalam agama-Nya dan membukukan futuh ilmu sebagaiman dibukakan terhadap para ulama dan aulia. Amin.[]

Afriul Zikri
Mahasiswa S1 Universitas Al-Azhar, Kairo