Mari Kembali kepada Muhkam

Mari Kembali kepada Muhkam
Ilustrasi Dok. Dok. Istimewa

Suatu kali, Imam Amru bin Murrah al-Jumali didatangi seorang laki-laki. Ia berkata: “Aku datang ingin minta petunjuk. Aku telah masuk ke dalam berbagai firqah (kelompok). Tak satupun kelompok yang aku masuki melainkan ada ayat al-Qur’an yang bisa dijadikan sebagai pijakkan. Dan tidaklah aku keluar dari satu kelompok melainkan ada juga ayat al-Qur’an yang bisa dijadikan sebagai pijakkan. Akhirnya aku berada dalam kebingungan dan kehampaan.”

Imam Amru bin Murrah bertanya, “Engkau bersumpah demi Allah bahwa engkau tidak datang kepadaku melainkan untuk meminta petunjuk?”

Laki-laki itu berkata, “Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, aku datang padamu hanya untuk meminta petunjuk.”

Melihat kesungguhan laki-laki itu, Imam Amru bin Murrah mulai mengajaknya berpikir.

“Yang kau lihat, apakah mereka (berbagai kelompok itu) ada berbeda tentang Muhammad adalah utusan Allah dan seluruh ajaran yang dibawanya adalah benar?”

“Tidak.”

“Apakah mereka ada berbeda bahwa al-Qur’an adalah kitabullah?”

“Tidak.”

“Apakah mereka ada berbeda bahwa agama Allah adalah Islam?”

“Tidak.”

“Apakah mereka ada berbeda bahwa Ka’bah adalah kiblat bersama?”

“Tidak.”

“Apakah mereka ada berbeda bahwa salat yang wajib itu adalah lima?”

“Tidak.”

“Apakah mereka ada berbeda bahwa Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan berpuasa?”

“Tidak.”

“Apakah mereka ada berbeda bahwa dari setiap dua ratus dirham ada lima dirham yang wajib dizakatkan?”

“Tidak.”

“Apakah mereka ada berbeda bahwa mandi junub itu wajib?”

“Tidak.”

Imam Amru bin Murrah menyebutkan beberapa hal lagi yang sudah disepakati.

Kemudian ia membaca ayat:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

“Dialah yang telah menurunkan padamu al-Kitab. Diantaranya ada ayat-ayat muhkamat, itulah induk al-Kitab. Sementara yang lain ada ayat-ayat mutasyabihat…”

Lalu ia bertanya pada laki-laki itu, “Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan muhkam?”

Laki-laki itu menjawab, “Tidak.”

Muhkam adalah segala sesuatu yang disepakati. Sementara mutasyabih adalah segala sesuatu yang diperselisihkan. Kuatkan tekadmu untuk berpegang pada yang muhkam dan hindari terlalu mendalami yang mutasyabih.”

Setelah mendengarkan nasihat berharga itu, laki-laki tersebut berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membimbing diriku padamu. Demi Allah, sekarang aku lega.”

Baca Juga: Jalan Memahami al-Qur’an antara Awam dan Orang Alim

☆☆☆

Imam Abu Abdillah al-Basyari yang meriwayatkan kisah ini dalam kitabnya Ahsan at-Taqasim berkomentar:

فرحم الله عبدا تدبّر هذه الحكاية ولزم احدى المذاهب الأربعة الذين هم أهل السواد الأعظم وكفّ لسانه عن تمزيق المسلمين والغلوّ في الدين

“Semoga Allah merahmati setiap orang yang merenungi kisah ini dan berpegang dengan salah satu mazhab yang empat yang merupakan as-sawadul a’zham (mayoritas), serta menahan lidahnya dari segala hal yang bisa memecah belah kaum muslimin atau berlebihan (ghuluw) dalam agama.”

Ia juga berkata:

وأنا عازم على أن لا أطلق لساني في أمّة محمّد صلى الله عليه وسلم ولا أشهد عليهم بالضلالة ما وجدت إلى ذلك طريقا

“Saya bertekad untuk tidak akan ‘lepas lidah’ kepada umat Muhammad Saw dan tidak akan mencap mereka sesat selama ada ruang untuk itu.”[]
#tahunduaribuduasatutahununtukbersatu

Yendri Junaidi
Yendri Junaidi 51 Articles
Alumni Perguruan Thawalib Padangpanjang dan Al Azhar University, Cairo - Egypt

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*