Masa Pandemi Covid-19, Guru Makan Gaji Buta?

Masa Pandemi Covid-19, Guru Makan Gaji Buta
Ilustrasi/dok.Istimewa

Masa Pandemi Covid-19 Guru Makan Gaji Buta?

Hati-hatilah kalau bicara soal guru, apalagi hal ini terkait dengan uang. Ilmu yang diberikan guru janganlah diukur dengan uang. Jasa guru hampir sebanding dengan kedua orang tua sang anak dalam mendidik.

Berapapun uang yang diberikan untuk guru sebagai gajinya, belum sebanding dengan ilmu yang diberikan seorang guru. Sangat tidak adil, jika jasa guru di ukur dengan materi.

Saya dan ribuan guru yang ada di Indonesia saat ini merasa sedih karena sekolah diliburkan dalam rangka memutus penyebaran wabah virus corona. Kami rindu bertemu siswa/i, kami tidak nyaman belajar jarak jauh. Bertatap muka dengan siswa itu yang kami rindukan, belajar dengan saling berhadapan dengan siswa, guru dapat menyentuh hati dan perasaan siswa.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Guru Buya Amilizar Amir

Tapi apa hendak dikata? Guru pun harus mentaati anjuran pemerintah, berdiam di rumah, belajar di rumah. Dengan diliburkannya sekolah, ada keberatan sebagian wali murid untuk membayar SPP. Keberatan dari wali murid itu wajar. Karena kita berada dalam situasi ekonomi yang sulit. Jangankan untuk berdagang, keluar rumahpun dibatasi selain untuk hal-hal yang paling penting saja.

Guru bukanlah pekerja harian, habis kerja upah diterima dan guru bukanlah pekerja borongan yang bisa ditakar berapa harganya. Jangan samakan guru dengan itu.

Tersebab karena sekolah diliburkan. Kemudian beredar berita, apakah itu serius ataupun guruan belaka “hati-hati guru makan gaji buta karena tidak mengajar” sebagai guru siapa yang tidak sedih mendengarnya. Guru dinilai dengan uang. Guru digaji seperti pekerja harian. Dan itu tidak layak diucapkan oleh siapun.

Guru adalah pekerjaan masa depan untuk anak-anak kita. Baik buruknya masa depan bangsa, guru memiliki andil yang besar dalam menentukan masa depan itu. Jika kita sudah berani meremehkan dan merendahkan peran guru dan mengukur jasanya dengan uang, maka mungkin saja situasi kita akan lebih buruk untuk masa yang akan datang.

Maka melalui tulisan ini saya ingin sampaikan. Pendapat yang mengatakan “guru makan gaji buta” adalah pendapat yang kurang beralasan dan tidak benar jika hal ini ditujukan kepada guru.

Guru mengajar dan mendidik anak-anak kita bukan untuk sehari dua hari. Tapi yang diajarkan guru untuk dipakai anak kita dalam hidup, untuk masa depannya, untuk dunia dan akhiratnya. Dan dalam dunia pendidikan tidak ada “mantan guru”, sekali jadi guru sampai mati dia akan tetap jadi guru, berbeda dengan yang lain.

Bagi sekolah-sekolah swasta katakanlah itu pondok pesantren. Spp yang dibayar oleh orang tua berfungsi sebagai lokomotif pendidikan Islam. Itu adalah ibadah, bahkan sampai pada derajat jihad karena menyumbangkan harta untuk agama Allah.

Kebijakan masing-masing sekolah tentu akan berbeda selama masa pademi ini terkait dengan honor guru swasta. Namun itu, tidak terlepas kerja sama antara kepala sekolah dengan wali murid.  Perlu diingat bahwa spp yang dibayarkan mestilah dengan “niat membangun pendidikan, bukan untuk membayar jasa guru ketika mengajar di lokal saja”.

Baca Juga: Panggilan Gur Murid Madrasah Tarbiyah Islamiyah

Di akhir tulisan ini saya serta ucapan Ali bin Abi Tholib yang disadur dari kitab Ta’limul Muta’lim karangan Syekh Zarnuji.

اَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِى حَرْفًا وَاحِدًا. اِنْ شَاءَ بَاعَ وَاِنْ شَاءَ اَعْتَقَ وَاِنْ شَاءَ اِسْتَرَقَّ

Aku tetap menjadi hamba seorang yang telah mengajarku sekalipun hanya satu huruf. Jika perlu ia menjualku, dan jika ia menginginkan aku menjadi budak dan tawanan akupun mau.

Jelas terlihat oleh kita bahwa jasa guru yang telah mengajarkan ilmu kepada anak-anak kita. Tidak dapat dihargai oleh materi, apalagi menganggapnya sebagai pekerja harian, habis kerja dibayar.[]

Wallahu ‘alam.

Share :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*