Masjid Arena “Bermain” dan Belajar bagi Anak-anak

Masjid Arena “Bermain” dan Belajar bagi Anak-anak
Ilustrasi Foto Dok Penulis

Masjid Arena Bermain Masjid Arena Bermain Masjid Arena Bermain

Jika kita tidak mendengar lagi suara anak-anak kecil di shaf belakang di dalam masjid maka sudah waktunya kita waspada dengan generasi selanjutnya.

Waktu anak-anak kecil dikeluarkan dari masjid karena ribut (ramai). Waktu sudah besar (gede) mereka dinyinyirin karena tidak ke masjid. Lalu, kita kecewa karena masjid sepi. Dan kita mulai mengeluh kenapa masjid sekarang sepi tidak seperti zaman dulu. Padahal kitalah yang mengeluarkan mereka (anak-anak kecil) dari masjid.

Namanya anak-anak ya tabiatnya pasti ribut. Kalau berlebihan, mereka cukup ditertibkan, diarahkan bahkan jika perlu ditegur. Tapj mereka tidak perlu disuruh keluar dan diusir kan? Selebihnya, biarkan saja mereka. Tidak lama lagi mereka juga akan remaja dan dewasa (gede).  Kalau mereka sudah remaja dan dewasa nanti mereka akan paham sendiri. Masak iya mereka jadi bocah terus?

Mereka tidak akan selamanya seperti kanak-kanak. Biarkan perubahan mereka terjadi di masjid. Prilaku kanak-kanak seprti; dorong-dorongan di saf belakang, memijak kaki teman, teriak ketika membaca amin dengan kencang-kencang, kadang diberi kue oleh pak imam, kadang mereka juga dilempar peci sama marbot karena terlalu ribut,  itu bagian dari proses pendewasaan mereka. Suatu saat mereka akan merindukannya masa kanak-kanaknya dan kenangan itulah yang akan mengikat mereka dengan masjid. Dengan kenangan itu  pula mereka bisa merasa bahwa masjid adalah rumah tempat mereka tumbuh-besar. Jika mereka menganggap masjid rumah, maka sejauh apapun nanti mereka pergi maka mereka akan merindukan rumahnya. Dan dengan tumbuh besar di masjid maka mereka akan tumbuh dengan ajaran yang diajarkan di masjid. Dari pada perubahan di tempat yang jauh dari masjid kan? Maka ikatan batinnya pun dengan sesuatu yang jauh dari masjid. Ajaran yang mereka pegang dalam pendewasaan pun ajaran yang jauh dari masjid.

Baca Juga: Antara Kafe dan Masjid: Si Milineal di Persimpangan

Ibadah jamaah itu jangan egois. Namanya juga ibadah jamaah (ibadah beramai-ramai). Yang namanya ibadah berjamaah itu tidak akan setenang beribadah sendiri. Karena jiwa ibadah jamaah itu adalah membentuk lingkungan yang beribadah. Ibadah jamaah itu bukan meditasi, tapi perubahan sosial. Perubahan sosial. Sunnatullahnya memang akan terjadi sedikit keramaian. Tapi keramaian itulah yang akan membuat lingkungan menjadi tenang. Karena ada ikatan sosial saling memahami yang sudah dibangun. Ikatan yang dinamakan jiwa berjamaah. Jika mau khusyuk tanpa gangguan ya ibadahlah di tempat yang dikhususkan saja, seperti di rumah atau zawiyah atau khanqah.

Dalam sejarah Islam, untuk memenuhi kebutuhan ini maka dibuatlah tempat seperti zawiyah. Temapt seperti zawiyah itu dikhususkan bagi yang ingin menyepi dalam beribadah. Masjid tidak bisa jadi tempat menyepi kecuali dalam keadaan khusus. Selain tempat beribadah, masjid juga tempat bersosial. Bersosial juga bentuk ibadah, ya ibadah jamaah, yang fungsinya melakukan perubahan berjamaah.

Jadi biarkan anak-anak kecil itu mendapat hak sosialnya sebagai muslim dan anak dari seorang untuk tumbuh di dalam masjid dan dengan ajaran masjid. Biarkan masjid berfungsi sebagaimana mestinya.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mendidik Anak Berpuasa?

Rasulullah berkata, “Kalau sedang salat, terkadang saya ingin salatnya agak panjangan, tapi kalau sudah mendengarkan tangis anak kecil -yang dibawa ibunya ke masjid- maka sayapun menyingkat salat saya, karena saya tahu betapa ibunya tidak enak hati dengan tangisan anaknya itu.” (HR: Bukhari Dan Muslim).

Sahabat Nabi Yang Bernama Rabi’ menceritakan bahwa pada suatu pagi hari Asyura, Rasululah mengirim pesan ke kampung-kampung sekitar kota Madinah. Pesan itu berbunyi “Barang siapa yang sudah memulai puasa dari pagi tadi maka silahkan untuk menyelesaikan puasanya, dan bagi yang tidak puasa juga silahkan terus berbuka”. Sejak saat itu kami senantiasa terus berpuasa pada hari Asyura, begitu juga anak-anak kecil kami banyak yang ikutan berpuasa dengan kehendak Allah, dan kami pun ke masjid bersama anak-anak. Di masjid kami menyiapkan mainan khusus buat anak-anak yang terbuat dari wool. Kalau ada dari anak-anak itu yang tidak kuat berpuasa dan menangis minta makan maka kamipun memberi makanan berbuka untuknya”. (HR. Muslim).

Suatu kali saya ke Masjid Maghribiyah untuk bertemu Syekh Rajab Dieb. Lalu Saya melihat dua kelompok anak-anak yang satu memakai kostum club bola Barcelona dan satunya kostum club bola Real Madrid sedang bermain sepakbola di dalam masjid. Iya di dalam masjid. Di dalam ruangan syeikh, syeikh sedang menerima anak-anak muda menyetorkan hafalan al-Qur’an. Mungkin anak-anak muda inilah yang beberapa tahun lalu bermain bola di dalam masjid, dan mereka tumbuh di dalam mesjid, yang pada akhirnya menjadi para penghafal al-Qur’an.

Baca Juga: Negeri Syam, Negeri Penghasil Hafiz Tanpa Pesantren Tahfidz

Saya jadi tahu jawaban, tentang alasan kenapa pengajian mingguan Syeikh Rajab itu selalu ramai,. Uniknya selalu, pengajian itu dipenuhi anak-anak muda. Di saat pemuda lain di malam liburan seperti itu melayap entah kemana, tapi muridin Syeikh Rajab seolah menjadikan majlis Syeikh Rajab rumah yang nyaman. Ya rumah tempat mereka tumbuh dari kecil, zaman di mana mereka lagi “nakal-nakalnya (rusuh-rusuhnya)”, sampai mereka bisa sedewasa seperti sekarang. Rahimahullah Syeikh Rajab Dieb, sesungguhnya beliau itu bukan cuma ulama, tapi juga murabby dan mursyid. Ia tahu bagaimana mendidik manusia makin dekat dengan tuhan.[]

Fauzan Inzaghi
Mahasiswa Indonesia di Suriah