Masjid Hunto Gorontalo, Masjid Tertua di Seantero Celebes

Masjid Hunto Gorontalo, Masjid Tertua di Seantero Celebes
Masjid Hunto Gorontalo/Foto Dok. Penulis

Masjid Hunto

Oleh: Raudal Tanjung Banua

Dalam suatu kunjungan ke Gorontalo, saya pernah kelimpungan mencari alamat hotel yang sudah saya pesan. Hotel itu terletak di Jl. HB Jassin. Tapi pengendara bentor (becak motor)—moda transportasi paling populer di Gorontalo—yang saya tumpangi malah tidak tahu di mana Jalan H.B. Jassin. Saya ragu apakah dia juga tahu bahwa Jassin adalah “Paus sastra Indonesia” asal Gorontalo.

“Kita cari sama-sama, Pak,” kata laki-laki itu. Jadilah kami melaju tanpa arah pasti. Alih-alih menikmati Kota Gorontalo yang mulai mandi cahaya. Eh, tak tahunya, ketika berbelok ke sebuah jalan, saya melihat plang nama hotel yang dicari.

“O, ternyata di Jalan Agus Salim!” teriak pengendara bentor itu lega, meski terkesan bingung karena nama jalan sudah berubah.

Dari cerita petugas hotel saya tahu, ternyata Pemkot Gorontalo mengganti nama sejumlah jalan dengan nama-nama tokoh setempat, seperti H.B. Jassin dan J.S. Badudu. Ikhtiar yang baik, tentu saja. Hanya menurut saya perubahan itu kurang cermat. Agus Salim dengan Jassin misalnya, niscaya sama-sama memiliki urgensi bagi Gorontalo; satu putra daerah yang harum namanya, satu lagi relevan dengan julukan Gorontalo sebagai daerah “Serambi Madinah.” Lagi pula, jalannya terbilang panjang, melewati beberapa perempatan sehingga sebenarnya bisa dibagi.

Terlepas dari cerita tersebut, Provinsi Gorontalo tampak bersemangat menjabarkan semboyan “Serambi Madinah”, sebagaimana Aceh (NAD) yang mengukuhkan diri sebagai “Serambi Mekah”. (Harap diingat, ada tiga status administratif yang sekaligus memakai nama Gorontalo; provinsi, kota dan kabupaten). Semangat “Serambi Madinah” terlihat misalnya dari deretan plang nama Asmaul Husna sepanjang jalan, kemegahan Masjid Agung Baiturahim di pusat kota dan meningkatnya produksi sulaman karawo, kerajinan khas Gorontalo yang banyak dijadikan hiasan busana muslim. Meski semua itu masih bersifat simbolik dan perayaan di ruang publik, toh upaya apa pun perlu diapresiasi.

Namun ada tempat yang relatif bersahaja dalam merasakan suasana “Serambi Madinah”. Saya menemukannya saat berkunjung ke Masjid Hunto Sultan Amay. Masjid ini terletak agak jauh dari hingar-bingar pusat kota, tepatnya di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan Gorontalo. Masjid Hunto yang dibangun pada tahun 1495 M, bisa dikatakan masjid tertua di Pulau Celebes atau Sulawesi. Sebagai perbandingan, masjid tertua di Sulawesi Selatan, Masjid Katangka, Gowa, baru dibangun Sultan Alauddin pada tahun 1594. Atau Masjid Jami, Palu, dibangun tahun 1812, saat Syekh Abdullah Raqi gelar Datuk Karama dari Minangkabau sedang giat berdakwah di Sulawesi Tengah.

Baca Juga: Masjid Kraton Buton, Kaya Simbol dan Khazanah Budaya

Kesederhanaan yang Indah

Adalah Sultan Amay (1472-1550) Raja Gorontalo pertama yang memeluk Islam memulai membangun Masjid Hunto pada tahun 1495. Uniknya, masjid tersebut dibangun untuk memenuhi permintaan calon mertuanya, Raja Palasa yang beragama Islam dari Parigi Moutong (sekarang kabupaten di Sulawesi Tengah). Itu sebagai syarat restu bahwa putri Raja Palasa boleh dipinang Sultan Amay. Maka jadilah masjid ini sebagai “mas kawin” atau mahar, mengingatkan saya pada Pulau Penyengat dan masjidnya yang juga menjadi mahar Raja Mahmud Syah III saat meminang Raja Hamidah.

Selain bangunan masjid, Sultan Amay juga “memakmurkan masjid” dengan cara mengundang ulama dari Makkah, Syekh Syarif Abdul Aziz, untuk tinggal dan berdakwah di Gorontalo. Dakwah dan kegiatan lainnya dipusatkan di Masjid Hunto. Kelak Sultan Amay digantikan putranya, Matolodula Kiki, yang kian mengukuhkan Islam sebagai sendi kerajaan/kesultanan Gorontalo. Tak heran, Gorontalo punya semboyan atau konsepsi,”Aadati hula-hula to Sara’, Sara’ hula-hula to Kuru’ani” sebagaimana halnya di Minangkabau,”Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah (al-Qur’an).”  

Hunto sendiri merupakan singkatan dari Ilohuntungo. Artinya tempat berkumpul. Ini sesuai dengan fungsi masjid sebagai tempat berkumpul warga, baik untuk keperluan ibadah maupun keperluan sosial lainnya.

Mesjid Hunto sebenarnya tidak terlalu besar. Bangunan asli masjid hanya 12 x 12 meter, namun untuk mengakomodasi jumlah jamaah yang kian bertambah, di sisi utara bangunan lama ditambah ruangan baru ukuran 8 x 12 meter, dan bagian depan ruang tambahan mencapai 60 meter. Itu semua tanpa mengubah bentuk bangunan lama yang tercatat sebagai bangunan cagar budaya (heritage). Maka total luas masjid sekarang lumayan jadi lebih memadai. Ketika saya datang beberapa tahun lalu itu, proses renovasi masih berlangsung, namun tidak mengganggu jemaah yang beribadah.

Dari kejauhan, menara Masjid Hunto sudah kelihatan dari atas bentor yang saya tumpangi. Menara itu juga tampak sederhana, lebih menyerupai menara mercu suar yang ramping di pulau kecil. Ini jauh berbeda misalnya dengan menara Masjid Agung Banten yang “postur”-nya tinggi-gempal sehingga bisa dinaiki banyak orang. Namun dibanding Masjid Agung Wolio, Buton, yang sama sekali tak punya menara, atau Masjid Agung Sungaipenuh, Kerinci, yang menaranya berada dalam ruangan (semacam pagu), keberadaan menara Masjid Hunto cukup bisa jadi penanda dari jauh.     

Dinding bagian luar masjid beserta menara tersebut dicat putih-putih. Hanya bingkai jendela, teralis, pintu dan kubah menara yang diberi aksen hijau muda. Bagian atas bangunan tambahan diberi warna krem. Sementara pagar besi disepuh cat hijau tua. Gerbang masjid waktu itu hanya terbuat dari lengkungan plat besi (sekarang mungkin sudah berubah) bertulisan “Hunto-Sultan Amay 1495 M (899 H)”, dan kaligrafi Allah bertanda bintang di atasnya.

Pilihan warna-warna sejuk serta bentuk gerbang yang apa adanya, memantulkan kesan kesederhaaan. Terasa padu-padan dengan kesahajaan bangunan dan ketenangan suasana di sekitarnya. Saat melangkah masuk, saya dapatkan kesan bahwa kesederhanaan itu bukan hanya soal bentuk dan ukuran, namun juga cara merespon ruang.

Maka begitulah, dinding bagian dalam beserta kubah dan tiang-tiangnya, dipenuhi seni kaligrafi dengan relatif berwarna-warni. Terasa meriah, tetapi karena warna yang dipilih tetap warna “sejuk” sebagaimana warna di bagian luar (tambahannya warna kuning, emas dan coklat muda), maka kemeriahan itu tak terasa kontras dengan kesahajaan masjid secara keseluruhan. Malah bagi saya terasa sebagai “keindahan yang dipadatkan” alih-alih disesuaikan. Demi menyesuaikan itu pula, lampu-lampu gantung yang terulur dari kubah, dipilih dari ukuran kecil, beberapa menyerupai lampu tiang jalan khas Yogya seperti di Malioboro, hanya saja jika lampu Yogya dipancangkan, lampu ini digantungkan.

Mimbar masjid dari kayu disepuh sewarna dinding, membuat mimbar tampak seperti permanen. Mimbar itu menyerupai tangga naik ke rumah kayu besar zaman dulu, lengkap dengan gerbang dan atapnya. Tinggi tiang atap dan gerbang mimbar hanya lebih sedikit dengan panjang tongkat khotib yang “diserah-terimakan” dengan muazin saat khotbah Jumat akan dimulai (kebetulan saya berkunjung pada Hari Jumat).

Sebagai masjid yang berusia ratusan tahun, Masjid Hunto juga menyimpan banyak peninggalan lampau baik yang melekat langsung dengan fisik masjid seperti tiang-tiang utama, dinding dan ukiran, maupun benda-benda cagar budaya lainnya seperti beduk dari kayu randu, Kitab Mera’ji berbahasa Gorontalo, dan al-Qur’an tulis tangan. Sultan Amoy dan keluarganya juga dimakamkan di kompleks masjid. Selain itu ada sumur tua yang masih bisa ditimba untuk kebutuhan air jemaah.

Benteng, Makam dan Masjid Lainnya

Masjid Hunto tidak terlalu jauh dari Benteng Otanaha, peninggalan Portugis di Gorontalo, di samping Benteng Oranye yang cukup jauh di Kwandang. Benteng ini dibangun tahun 1522 di puncak Bukit Dembe. Berdinding batu gunung berwarna hitam, setebal 3 m dan tinggi rata-rata 6 m. Bentuknya melingkar, anggun, persis benteng pada bidak catur, berdiameter sekitar 10 m. Tidak terlalu besar memang, tapi ada tiga benteng di sana. Satu terletak agak di bawah. Bentuk ketiga benteng serupa, kecuali benteng bagian tengah yang memiliki gerbang cukup tinggi. Sekilas mengingatkan saya pada Benteng Malaka di atas Bukit St. Paul yang juga dibangun bangsa Portugis. Ukurannya sama mungil dan jenis batunya pun sama.

Kunjungan ke Benteng Otanaha merupakan persinggahan saya sebelum ke makam keramat Ju Panggola di atas bukit tepi Danau Limboto. Tepatnya di Desa Iluta, Kecamatan Batudaa, perbatasan Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. Raja Ilato gelar Ju Panggola atau yang lebih akrab dikenal sebagai “Pak Tua” merupakan auliyah penyebar agama Islam di Gorontalo tahun 1400, hampir seabad sebelum Sultan Amoy naik tahta, atau sekurun waktu dengan Wali Songo di Pulau Jawa.

Makam Ju Panggola berada di dalam masjid yang berdiri anggun di atas bukit setinggi 50 m itu. Masjid itu sangat representatif untuk banyak jemaah, bukan hanya menampung jemaah yang berziarah, namun juga warga di sekitarnya. Hari itu, banyak sekali orang berziarah, mungkin karena pas Hari Jumat.

Sementara di sebuah bukit yang lain, arah ke pelabuhan laut Gorontalo, tepatnya di Dombo, Talumolo, terdapat pula makam aulia Male Ta Ilayabe. Ta Ilayabe berjasa menyebarkan agama Islam pada masa Gorontalo masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ternate. Posisi makam Ilayabe jauh lebih tinggi daripada makam Ju Panggola, yakni sekitar 500 meter di atas bukit.

Selain berziarah ke makam para aulia tersebut, saya juga merasa senang dapat singgah dan menunaikan sholat di sejumlah masjid lainnya di Gorontalo. Selain Masjid Agung Baiturahim di pusat kota Gorontalo yang diresmikan Presiden BJ Habibie tahun 1999, saya juga bertamu ke Masjid Al-Jauhar di Desa Kaliyoso. Masjid Al-Jauhar terbilang masjid tua juga, dibangun pada tahun 1908. Saya pun singgah di Masjid Baiturahman Limboto, masjid terbesar di Kabupaten Gorontalo yang dibangun tahun 1979.

Baca Juga: Masjid Raya Al-Mahsun dan Istana Maimoon Magnit Medan Sepanjang Masa

Bulan Ramadhan seperti sekarang, kenangan di Bumi Serambi Madinah terasa menggamit kembali. Saya bayangkan suasananya akan terasa beda dan istimewa, terlebih jika dapat melaksanakan taraweh di Masjid Hunto atau masjid lainnya di seantero Gorontalo. Terbayang pula meriahnya malam Tumbilotohe, tradisi masyarakat Gorontalo memasang lampu di halaman rumah dan sepanjang jalan pada masa akhir bulan puasa, antara tanggal 27 hingga 29 atau 30 Ramadhan. Barakallahu.

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.