Masjid Jami’ Bonjo Alam dan Dialektika Ulama Minangkabau

Masjid Jami’ Bonjo Alam dan Dialektika Ulama Minangkabau
Foto Dok. Penulis

Salah satu saksi bisu dari dialektika ulama Minangkabau ialah Masjid Jami’ Bonjo Alam, Ampang Gadang, Ampek Angkek, Kab. Agam. Di Masjid ini, dalam catatan yang saya jumpai, pernah terjadi mudzakarah antara yang dinamai dengan Kaum Muda dengan Kaum Tua.

Dalam muzakarah itu Kaum Muda diwakili oleh beberapa tokoh, di antaranya Syekh Thaher Jalaluddin al-Falaki, Haji Rasul (ayah Buya Hamka), Syekh Jambek, dan lain-lain. Sedangkan dari kalangan Ulama Tua diwakili oleh Syekh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi Canduang, seorang saja.

Mudzakarah itu terjadi sekitar satu abad yang lalu; mudzakarah terbuka yang disaksikan oleh masyarakat banyak. Berbagai topik didiskusikan pada kesempatan itu, mulai dari masalah Rabithah dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, hingga masalah furu’iyyah lain seperti Mahal Qiyam pada Kisah Maulid dan melafalkan niat (ushalli).

Dalam riwayat yang kita terima itu, Syekh Sulaiman dikabarkan mampu mengimbangi diskusi, meskipun dari pihak Kaum Muda hadir beberapa tokoh. Dan kita maklum bagaimana kemampuan Syekh Sulaiman Arrasuli dalam berdialektika; seorang yang pernah menjadi “guru tuo” dari Syekh Abdullah Baliau Halaban, pakar Mantiq dan Ushul Fiqih yang legendaris di Darek, dan pernah juga belajar di Makkah beberapa tahun. Beliau, Syekh Sulaiman, juga mempunyai kemampuan menulis. Karangan-karangannya seperti “Aqwal Wasithah” dan “Kitab Enam Risalah” menjadi bukti atas demikian.

Baca Juga: Syekh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi Canduang: “Pendekar” Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah

Kisah mudzakarah ini diabadikan oleh salah seorang saksi mata, yaitu Syekh Haji Yunus Yahya Magek (1910-2001), ulama yang sangat intens mendokumentasikan kisah ulama-ulama tua, dalam lampiran kitab Tablighul Amanah fi-Izalati Khurafat wa Syubhat (diterbitkan 1957).

Perlu juga kita terangkan bahwa mudzakarah antara ulama-ulama Minangkabau awal abad 20 hanya terbatas pada masalah furu’iyah saja; dan mereka –para ulama tersebut- tetap mempunyai hubungan pribadi yang baik antara satu dengan lainnya. Dan sekali-kali, sepengetahuan saya, tidak ditemukan riwayat bahwa ulama tersebut bermudzakarah dalam masalah ushul, seperti akidah; dimana saya tidak menjumpai perdebatan masalah ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat Allah, masalah takwil, masalah tafwidh, dan lain-lain, karena ulama-ulama tersebut, secara jama’ ialah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyah). Haji Rasul yang puritan itu pun, bayangkan, punya Kitab Sifat Dua Puluh, yang berjudul ‘Umdatul Anam fi-‘Ilmil Kalam (1916).

********

Besok saya dijadwal membaca khutbah ‘id di Mesjid Jami’ Bonjo Alam, Ampek Angkek. Selain menunaikan Sunnat Mu’akkad, saya tentu akan mengambil berkah hadir di tempat dimana ulama-ulama tersohor itu pernah bermudzakarah. In sya Allah.

Selamat Hari Raya ‘Idul Adha…
Mohon maaf, zhahir dan batin

Ahqarul Wara,
Apria Putra “Tuangku Mudo Khalis”

Masjid Jami’ Bonjo Alam

Share :
Apria Putra
Apria Putra 74 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*