Masjid Kraton Buton, Kaya Simbol dan Khazanah Budaya

Masjid-Kraton-Buton-Kaya-Simbol-dan-Khazanah-Budaya-3
Foto Dok. Penulis

Masjid Kraton Buton Masjid Kraton Buton Masjid Kraton Buton

Oleh: Raudal Tanjung Banua

Selain istana, apakah yang menjadi penanda khas pusat Kesultanan (di) Nusantara? Dalam sejumlah kunjungan ke pusat kesultanan, saya lazim menjumpai benteng, ruang terbuka (alun-alun), kompleks makam, dan masjid raya. Itulah agaknya beberapa penanda selain istana. Begitu pula yang saya temui di Baubau, bekas pusat Kerajaan/Kesultanan Buton (1332-1960) dalam beberapa kali kunjungan ke sana. Benteng yang luas memagar istana dan semua penanda itu.

Di dalam benteng yang dicatat Guinnes World Record, September 2006, sebagai “Benteng Terluas di Dunia” itulah terletak istana sultan dan rumah-rumah bangsawan Wolio, batu igandangi (tempat pengukuhan sultan), balairungsari dan tentu saja masjid kraton. Ada juga bukit kecil tempat peristirahatan abadi sultan Buton pertama yang beragama Islam, Sultan Murhum. Benteng sepanjang 2.780 m dan luas 23 ha itu sendiri dibangun pada abad ke-16 M, terletak di perbukitan Palagimata yang menjadi latar kota Baubau.

Dinding benteng hitam-tebal mengular sepanjang sisi bukit, berpola naik-turun. Bentuknya tidak fokus pada satu jenis. Ada bentuk balok, bundar, lingkaran atau kombinasi. Tinggi dinding juga tidak sama rata. Ada lebih rendah, sedang, tinggi atau diselang-selingi. Efeknya, kesan benteng tidak masif sehingga tak membosankan dipandang. Bunga kamboja, pisang dan kapuk randu berderet tumbuh di tepi-tepinya.

Terbuat dari batu karang, Benteng Kraton Buton memagar rapat sejumlah perkampungan, istana sultan, masjid, makam dan rumah para bangsawan (wolio mendebu). Di beberapa bagian terdapat pintu-pintu beratap dengan berbagai fungsi dan nama, lengkap dengan meriam tua yang mengarah ke luar. Misalnya, Baluarana Wabarengalu dan Baluarana Tanailandu yang pernah dipakai Arung Palakka atau La Toondu, bangsawan Bone, untuk bersembunyi.

Pusat benteng ditandai oleh sebuah tiang kayu unik setinggi 21 m, berusia hampir 300 tahun, tempat bendera kesultanan yang disebut tombi longa-longa pernah dikibarkan. Kini bendera tradisional sepanjang lima meter berbentuk lancip seperti daun padi itu, hanya dapat saya bayangkan seolah berkibar megah di ujung tiang jati yang masih kokoh berdiri. Warnanya kuning, merah, putih dan hitam.

Kaya Simbol

Sejatinya, tiang unik dan bersejarah itu berdiri persis di depan Masjid Al-Muqarrabin Syafyi Shaful Mumin atau populer dengan sebutan Masjid Agung Wolio. Masjid raya Kesultanan Buton Butuni ini dibangun tahun 1712 oleh Sultan Sakiuddin Darul Alam, untuk mengganti sebuah masjid kesultanan yang lebih tua. Masjid tersebut dibangun tahun 1427 oleh sultan Buton pertama, Sultan Kaimuddin gelar Sultan Murhum yang musnah terbakar dalam perang sudara. Sultan Sakiuddin, pelanjut Sultan Kaimuddin, membangun masjid baru dengan ukuran 20,6 m x 19,4 meter yang kokoh berdiri sampai sekarang.   

Sekilas Masjid Agung Wolio tampak sederhana. Namun jika diamati arsitekturnya tak kalah unik dan penuh oleh simbol-simbol filosofis. Secara umum orang menganggap masjid ini dua tingkat, dengan bangunan atas yang jauh lebih kecil, dan itu menyimbolkan dua alam transendental; alam sanghir (dunia) dan alam kabir (akhirat). Namun, ada pula yang menganggap masjid ini bersusun tiga, dengan cara menghitung ruang utama masjid di lantai dasar yang pondasinya sangat tinggi. Secara filosofis, ketiga bagian ini melambangkan anatomi manusia yang terdiri bagian bawah (kaki), tengah (perut) dan atas (kepala). Kebetulan, secara keseluruhan pula, benteng Buton jika dilihat dari udara, konon menyerupai orang sedang tahayat akhir dalam salat.

Baca Juga: Masjid Agung Pondok Tinggi, Sungaipenuh: Buah Bersatunya Adat dan Syarak di Alam Kerinci

Sebagaimana jamaknya bangunan zaman dulu di Buton, kayu merupakan bahan utama masjid raya, di samping batu karang untuk pondasi dan pagar. Kayu jati pilihan (Buton dan Muna penghasil kayu jati terbaik) juga terlihat kokoh di tiang dan dinding. Setiap bagian hanya “dikunci” oleh 33 pasak kayu—tanpa paku—yang melambangkan jumlah bacaan suci saat zikir.

Simbol-simbol memang menjadi signifikan di masjid ini, seolah kita melihat simbol yang kental dalam Burung Garuda—sebagai lambang negara. Setiap jumlah atau bilangan ada maknanya. Bahkan jumlah kayu yang digunakan juga disesuaikan dengan jumlah tulang manusia, yakni 313 potong serta jumlah anak tangga yang 17 buah melambangkan jumlah rakaat salat dalam sehari. Bedug berukuran 99 cm simbol asmaul husna; diameternya yang 50 cm dimaknai sebagai jumlah rakaat salat pertama kali yang diterima Rasulullah.

Masjid memiliki 12 pintu, sementara bangunan di lantai atas juga mengikuti pola pintu di bangunan utama. Tapi karena pintu di lantai atas tidak dapat dilintasi untuk ke luar masuk (sebab berbatasan langsung dengan atap), maka pintu bagian atas lebih tepat disebut tingkap (jendela) saja. Fungsi tingkap atau “pintu maya” ini dirasakan semakin penting lantaran atap masjid bukan lagi dari sirap atau ijuk. Melainkan dari seng yang dicat untuk keawetan dan menyerap kilau matahari. Seng memang lebih praktis, tapi pastilah panas di tengah cuaca pulau seperti Buton. Tapi dari tingkap di lantai atas, angin laut bertiup masuk, membuat sirkulasi udara dan cahaya memenuhi ruangan.   

Masjid-Kraton-Buton-Kaya-Simbol-dan-Khazanah-Budaya-3

Pintu Rahasia

Sebenarnya, selain ke-12 pintu untuk masuk ke ruang utama masjid, terdapat satu pintu darurat yang langsung menembus tanah. Itulah pintu rahasia tempat sultan menyelamatkan diri jika ada serangan mendadak dari musuh. Pintu itu terhubung dengan lima cabang jalan di lorong tanah, mengingatkan kita pada lorong persembunyian Arung Palakka tak jauh dari kompleks makam istana.

Pintu rahasia itu sekarang sudah ditutup dan menyisakan sebuah lobang kecil di mana mihrab didirikan. Tinggallah sekarang mitos bahwa di lobang itu kita bisa mendengar suara azan yang langsung dikumandangkan dari Makkah.  

Sebagaimana diketahui, Kesultanan Buton pernah menjadi ajang pergulatan sejarah penting. Bersama kerajaan lain di timur Tanah Air, seperti Bone, Gowa, Ternate dan Tidore, Kesultanan Buton tumbuh sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan yang diperhitungkan. Maklum, letaknya sangat strategis di jalur laut dan rempah, antara barat dan timur Nusantara. Tak heran, Belanda tergiur menguasainya, namun selalu gagal berkat kecerdikan Sultan Buton yang membuat “persekutuan abadi” dengan VOC.

Persekutuan yang disetujui Kapten Apollonius Scotte dan Sultan La Elangi (1613) ini bersifat saling menguntungkan, termasuk mencegah serangan Gowa. Tapi konflik Buton-Gowa (Makassar) membesar setelah bangsawan Bone (Bugis) bernama Arung Palakka, saingan Sultan Hasanuddin, melarikan diri ke Kraton Buton. Ia dilindungi Sultan Aidul Rahim atau La Sombata. Ketika pasukan Hasanuddin menyerbu, Arung Palakka tak ditemukan karena tempat persembunyiannya di lorong tanah.

Di hadapan pasukan Bugis yang memburunya, Sang Sultan bersumpah,”Tak ada La Toondu, saya berani dikutuk tujuh turunan kalau ia ada di atas bumi Buton!” Bangsawan Wolio kecut mendengar sumpah itu, tapi kenyataannya orang yang ia sembunyikan memang tidak berada “di atas bumi” Buton melainkan “di dalam bumi” Buton!

Serangan Gowa berikutnya terjadi akhir tahun 1666 dipimpin Karaeng Bonto Marannu. Sultan Buton dibantu Aru Palakka, berhasil menghadang pasukan “Ayam Kinantan” dan mengisolasi mereka di Pulau Makasar (dengan satu “s”), sebuah pulau kecil di muka kota Baubau.

Khazanah Budaya

Masjid Agung Wolio atau masjid resmi Kraton Buton terasa semakin anggun dan kaya khazanah budaya karena di sekitarnya ada istana dan rumah para bangsawan Wolio. Istana dan rumah itu dibuat sampai bertingkat empat, bertiang puluhan dan dindingnya penuh ukiran. Ukiran dan dekornya bertolak belakang dengan Masjid Agung yang cenderung polos. Hanya mihrabnya yang sedikit berukir dengan motif tumbuhan.

Yang menarik, di bagian puncak atap istana dan rumah bangsawan selalu terdapat ukiran kayu berupa buah nenas. La Yusrie dan Syaifuddin Gani, kawan yang pernah mengantar saya keliling Benteng Wolio mengatakan bahwa spritualisme orang Buton mempercayai konsep reinkarnasi. Kenapa simbolnya nenas? Sebab buah nenas memiliki daun di bagian bawah dan bagian atas sebagai pertanda kehidupan. Selain itu, naga juga menjadi simbol kultural hasil akulturasi dengan masyarakat Tionghoa.

Selesai bercakap-cakap, saya menuju pelataran istana bangsawan di mana terdapat jangkar raksasa dan monumen silsilah raja/sultan Buton. Konon, jangkar itu milik kapal VOC yang dikalahkan sultan Buton. Ada pun di monumen silsilah, terukir 43 nama raja dan sultan, dimulai Raja Waa Kaa Kaa pertengahan abad XIV dan diakhiri La Ode Falihi Kaimudin tahun 1960-an. Perbedaan gelar Raja dan Sultan tampaknya ditandai masuknya agama Islam tepatnya pada raja ke V (terakhir) sekaligus sultan pertama, Sultan Murhum. 

Hari sudah rembang petang, terlihat dari permukaan laut yang disepuh cahaya keemasan. Saya segera beranjak ke makam Sultan Murhum, tapi dua orang bocah Buton mencegat saya. Ternyata mereka minta difoto. Klik! Saya foto mereka dengan latar jangkar besar, setelah itu saya bergegas ke makam. Makam dengan nisan setinggi dua meter itu bersih dan sejuk, dari sana terlihat matahari mulai angslup ke laut.

Baca Juga: Masjid Jami’ Bonjo Alam dan Dialektika Ulama Minangkabau

Tak lama kemudian azan magrib bergema dari arah Masjid Agung Wolio. Kami bergegas menunaikan salat berjemaah di masjid bersejarah Buton Butuni itu. Di antara para jemaah yang datang memenuhi panggilan azan, saya memperhatikan sarung yang mereka pakai. Umumnya bersarung kain tenunan Buton yang bercorak minimalis dengan dominan warna hijau dan bergaris-garis. Sebagian memakai selempang di kepala, juga dari kain tenun. Suasana jadi terasa istimewa. Selesai salat, saya temukan keunikan lain: semua jemaah bersalaman sambil tetap bersimpuh, simbol kesetaraan dan  persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.