Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, Simbol Cinta Rakyat kepada Sultan dan Islam

Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, Simbol Cinta Rakyat kepada Sultan dan Islam
Menara dan kubah Masjid Sultan Riau/Photo Dokumen Penulis

Apabila Anda berada di Kota Tanjungpinang, Pulau Bintan, dan memandang ke lautan maka pandangan akan tertumbuk ke sebuah pulau kecil yang ramping. Itulah Pulau Penyengat Indrasakti, pusat Kerajaan Melayu Riau-Lingga. Karena pernah menjadi pusat kerajaan, berbagai situs bertebaran di sekujur pulau. Dan yang tampak dipandang dari Tanjungpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Riau itu—yang sekilas menyerupai istana mungil dalam dongeng para peri—sejatinya adalah Masjid Raya Sultan Riau, yang berfungsi baik sampai hari ini.

Melihatnya dari kejauhan mencipta suasana imajinatif, seolah kita ditarik ke masa lalu yang jauh. Saya senang memandangnya berlama-lama, pada beberapa kali kunjungan ke Bintan. Takjub, betapa pesona lanskap lautan tak melulu biru. Sayang deretan menara pancar telkom acap membuyarkan suasana, membawa ingatan kembali pada masa kini. Namun baiklah, saya tak ingin kehilangan kesempatan bersentuhan langsung dengan Penyengat, khususnya masjid kuning yang menakjubkan itu.

Maka dengan menumpang pompong (perahu bermesin tempel) yang menjadi moda transportasi Tanjungpinang-Penyengat pp, bertolak di dermaga Panjang, tak jauh dari dermaga pelabuhan laut internasional Sri Bintan Pura, 25 menit saya sudah tiba di dermaga Pulau Penyengat. Dermaga persis di depan Masjid Raya, meski jika Anda naik becak motor—moda transportasi wisata keliling pulau—masjid ini justru menjadi titik terakhir dari jalur destinasi.

Becak motor akan terlebih dulu membawa kita ke titik lain, meski tentu saja Anda bisa memilih singgah lebih awal ke masjid sebelum berkeliling. Tapi saya sendiri memilih patuh pada jalur yang digariskan. Saya dibawa berziarah ke Makam Raja Hamidah, permaisuri Sultan Mahmud Syah III, Sultan Riau-Lingga 1760-1812 masehi. Di sini, bangsawan perempuan juga menggunakan gelar “Raja” di depan namanya. Secara simbolik (bisa juga harfiah) Penyengat adalah milik Raja Hamidah sebab merupakan mas kawin yang ia terima dari Mahmud Syah III. Karena itu Penyengat lazim disebut juga Pulau Mas Kawin.

Penghormatan adat Melayu pada perempuan dapat dilihat dari letak makam Raja Hamidah dan makam permaisuri lainnya di dalam bangunan utama. Sedangkan makam bangsawan laki-laki seperti Raja Ahmad, Raja Abdullah dan Raja Ali Haji, berada di luar. Bangunan utama dibuat menyerupai masjid kecil lengkap dengan kubah dan mihrab. Jendelanya bulat tebal menyerupai jendela kapal. Uniknya, dindingnya dihiasi tulisan di atas lempengan marmer mencuplik “Gurindam Duabelas” karya Raja Ali Haji (1808-1873). Dua larik yang terkenal tentu kita hafal:

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Barang siapa tidak sembahyang
Ibarat rumah tiada bertiang          

Meski dikenal sebagai Kompleks Makam Engku Putri, nama lain Raja Hamidah, tapi yang menonjol adalah atribut formal untuk penghormatan Raja Ali Haji. Dua baliho berdiri kokoh di gerbang makam, isinya tentang status sang pujangga: “Raja Ali Haji Pahlawan Nasional Bidang Bahasa Indonesia”. Dan sebuah lagi: “Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu-Indonesia, Budayawan di Gerbang Abad XX”. Raja Ali Haji diangkat menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres RI no. 089/TK/2004. Adapun datuknya, Raja Haji Fisabilillah, yang juga ayah Raja Hamidah, sudah lebih dulu diangkat menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres RI No. 072/TK/1997.

Baca Juga: Masjid Raya al-Mahsun dan Istana Maimoon Magnit Medan Sepanjang Masa 

***

Selepas Kompleks Makam Engku Putri, becak motor Bang Makmun membawa saya ke jalur berikutnya, yakni kompleks makam Yang Dipertuan Muda (YDM) VI, Raja Djafar. Ia menjabat YDM ketika Inggris dan Belanda sedang berebut koloni di Selat Malaka. Toh, dalam masa krusial itu, Raja Djafar berhasil membuka penambangan timah Dabo-Singkep.

Dari makam Raja Djafar, kita akan melewati Istana Raja Ali yang tampak paling modern di antara seluruh sisa bangunan. Gerbangnya berupa gapura besar dan indah. Bangunan juga dilengkapi jendela-jendela kaca, pintu berukir dan sisa-sisa taman air. Lalu tak jauh dari situ, terdapat kompleks makam YDM VII, Raja Abdul Rachman, yang sekilas tampak berbaur dengan makam rakyat kebanyakan. Sebab kompleks makam tersebut paling luas, puluhan nisan berderet, layaknya pemakaman umum. Boleh jadi Abdul Rachman pernah berwasiat untuk tak dimakamkan di lokasi khusus, seperti sedikit orang sekarang yang menolak dimakamkan di taman makam pahlawan.

Dari kompleks makam Abdul Rachman, kita bisa terus mendaki ke Benteng Bukit Kursi. Benteng ini merupakan kubu pertahanan Riau-Lingga, tempatnya strategis: ketinggian yang menghadap lautan. Benteng itu sepi kini, atau lebih tepat, hening. Hanya daun-daun akasia hutan gugur, debur ombak dan gemersik rengsam kering kala angin bertiup. Sepasang meriam yang tak akan lagi menyalak, dipasang secara simbolik menghadap sasaran yang tak lagi nampak. Atau masih ada, tapi tak kasat mata? Entahlah. Di kaki Bukit Kursi, terdapat gudang mesiu dan makam Raji Haji Fisabilillah.

DIGITAL CAMERA

Meski luas Penyengat tak lebih 250 hektar dan jalan konblok yang mengelilinginya hanya sekitar 3 km, tapi perlu banyak waktu untuk bersentuhan langsung dengan peninggalan yang bertebaran di setiap sudut pulau. Tidak semua titik bisa saya sentuh dan jelajahi.

Akhirnya, kunjungan dituntaskan di Masjid Raya Sultan Riau, satu-satunya bangunan kesultanan yang masih utuh. Pada hari Jumat atau hari besar, banyak penduduk Tanjungpinang menyeberang untuk salat dan berkenduri ke sini.

Nah, ternyata memang ada nuansa lain ketika titik kunjungan terakhir diarahkan ke Masjid Sultan Riau. Setidaknya saya merasa lebih tenang saat beribadah, merasa penuh syukur dalam doa—maklum telah melihat jejak pergulatan para pendahulu—dan setelahnya saya merasa lebih hikmat menikmati suasana masjid.  

***

Masjid Raya Sultan Riau begitu anggun dengan pagar melingkar, gerbang besi dan anak-anak tangga yang lebar dari arah laut. Kubah lengkung bulat menaungi atapnya, dua menara utama tegak mengapit sisi depan, runcingnya seakan mencucuk langit. Dua menara lagi di bagian belakang, rata-rata setinggi 20 meter. Menara inilah yang tampak khas dipandang dari pantai Tanjungpinang.

Gerbang Utama Masjid Raya Sultan Riau/Dok. Penulis

  Total kubah masjid sebenarnya ada tiga belas buah, namun tersebar di beberapa bagian, atau mengelompok di sejumlah bangunan. Ukurannya juga tidak sama. Ada yang besar, sedang dan kecil. Jika kita kurang cermat memperhatikan, niscaya yang tampak dominan hanyalah kubah paling besar, yang tentu saja menaungi bangunan utama.  Kubah besar tersebut memberi bentuk bulat pada keseluruhan bangunan.

Bangunan utama juga terbagi dua. Bagian pertama digunakan sebagai tempat menyimpan kitab dan benda-benda pusaka. Di antaranya terdapat mushaf al-Qur’an yang ditulis Abdurrahman Stambul, putra sultan Riau yang menyelesaikan studinya di Turki pada tahun 1867. Ada pula mushaf Abdullah Al-Bugisi, bangsawan Bugis. Untuk diketahui, meski bercorak Melayu-Islam, Kesultanan Riau-Lingga sebenarnya ikut digerakkan oleh bangsawan Bugis. Mereka menyatu dalam kawin-mawin dan kekerabatan, bukti silang-budaya dan multikultur kawasan lintas laut ini. Bahkan keturunan Bugis berperan sebagai Yang Dipertuan Muda, semacam perdana menteri; sementara raja atau sultannya dari bangsawan Melayu.  

Balai Sotoh/Dokumen Penulis

Bangunan kedua atau utama ditandai dengan keberadaan mimbar khatib dan ruang yang lapang. Mimbar berukir dari kayu jati ini didatangkan langsung dari Bumi Kalinyamat, Jepara, tapi saya tidak menemukan catatan angka tahunnya. Alas lantai yang indah dan lembut, merupakan permadani dari Turki. Di bagian atas kubah tergantung lampu kristal cantik hadiah Raja Prusia, Jerman. Di dinding tersandar jam besar antik dari Tumasik, Singapura, yang dulu merupakan bagian Kesultanan Riau Lingga atau Riau-Johor. Tujuh pintu dan enam jendela yang selalu terbuka membuat angin laut leluasa masuk, mengusir sumuk.

Di sebelah kiri dan kanan masjid terdapat bangunan kayu yang disebut Rumah Sotoh, tempat warga atau jamaah beristirahat dan bermufakat. Duduk di bangunan menyerupai balai-balai tanpa dinding ini, membuat pemandangan leluasa ke laut. Terlihat jelas Kota Tanjungpinang di seberang. Dulu, di Rumah Sotoh inilah orang-orang belajar dan mengajar. Sejumlah ulama kenamaan pernah mengajar di sini, seperti Syekh Ismail, Ahmad Jabrati dan Syekh Haji Syahibuddin.

Ada pula menyebut nama Syekh Arsyad Al Banjari, tapi saya tak tahu apakah yang dimaksud pengarang kitab Sabilal Muhtadin dari Lok Gabang, Banjar. Apakah Syekh Arsyad pernah mengajar atau singgah di sini? Entahlah. Tapi yang jelas, Syekh Syahibuddin, ulama penting Riau-Lingga merupakan kerabat Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari yang haulnya selalu dilaksanakan setiap tahun di masjid ini. Perwakilan keluarga dari Martapura juga selalu diundang.

Di sisi masjid, selain Rumah Sotoh, terdapat dua bangunan lain yang difungsikan untuk meletakkan makanan bila ada acara besar keagamaan, termasuk buka bersama pada bulan puasa. Ya, pada bulan puasa, warga dan pengurus masjid akan menyiapkan penganan dan makanan untuk buka bersama. Entah akan bagaimana keadaan Ramadan tahun ini, di tengah wabah korona yang belum henti. Semoga saja ada jalan terbaik sehingga kesemarakkan Ramadan tak hilang di Penyengat.

Baca Juga: Syekh Muhammad Saleh al-Minangkabawi 1845-1933

***

Menurut catatan di brosur keluaran Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang, cikal-bakal Masjid Raya Sultan Riau ini sudah ada sejak tahun 1761, berupa bangunan kayu, mungkin semacam surau. Bangunan tersebut bertahan sampai sekira tahun 1812, kecuali ada penambahan bangunan berupa Rumah Sotoh awal, sebuah menara setinggi 10 meter dan lantai bata. Barulah pada tahun 1832 masehi, Raja Djafar merintis pengembangannya. Sebelum selesai, Raja Djafar wafat, penggantinya, YDM VII Raja Abdul Rachman (1832-1844) melanjutkan rintisan itu.

Kepalang tanggung, Abdul Rachman berinisiatif memperluas bangunan masjid, menambah dengan bangunan lain serta menyesuaikan desain serta arsitekturnya. Namun tentu saja itu tidak mudah. Pada waktu itu kekuasaan kolonial wara-wiri di laut Riau, mengancam penambangan timah Dabo-Singkep yang dibuka Raja Djafar, membuat kas kerajaan terancam defisit. Tapi Raja Abdul tak kehilangan akal. Ia tahu rakyat Riau sangat mencintai Islam dan tunak pada tunjuk-ajar Melayu yang mencintai sultan. “Raja adil  raja disembah,” kata pepatah. Karena itu masyarakat sangat suka dan cepat tanggap diajak menyelesaikan suatu pekerjaan dengan bekerja sama. Dalam khazanah Nusantara, kerja sama itu tak lain ialah gotong royong. Dengan gotong royong tak ada kerja yang tak selesai.

Maka bergitulah, kabar pembangunan masjid sultan menyebar ke antero pulau di seluruh Riau-Lingga. Berbondong-bondong orang menyumbangkan material, makanan dan tenaga. Tapak bangunan dirombak sepenuhnya, membuatnya jadi sangat tinggi. Luas total masjid 54,4 x 32,2 meter. Material bangunan adalah pasir, batu karang, koral dan tanah liat. Untuk perekat digunakan putih telur yang diaduk. Konon karena banyaknya sumbangan telur untuk makanan para pekerja, muncul ide untuk melabur dinding dengan putih telur.

Menurut saya, ide itu bukan kebetulan—lantaran telur berlebih—namun memang telur sengaja dikumpulkan sebanyak-banyaknya untuk melabur dinding. Pada masa dulu putih telur merupakan bahan utama untuk merekat berbagai bangunan penting di Nusantara. Jika sudah kering, ia mampu merekat kuat tanpa celah, sebagaimana fungsi semen sekarang. Di samping membuat dinding jadi kuat, efek lainnya membuat dinding mengkilap. Itulah yang sekarang terlihat di Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Dinding yang rata kuat dan mengkilap dalam sepuhan warna cat khas kesultanan Nusantara: kuning, pertanda wibawa. Pondasinya hitam pertanda kesetiaan dan kentalnya kerja sama rakyat. Dan atapnya yang hijau menyiratkan kesejukan dan ketenteraman naungan Islam.

Maka, masuklah; Assalamualaikum….[]

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua 14 Articles
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*