Masyayikh Tarekat (#1): Abu Bakar ash-Shiddiq (w. 13 H./634 M.)

Masyayikh Tarekat (#1) Abu Bakar ash-Shiddiq (w. 13 H.634 M.)

Abu Bakar ash-Shiddiq

Sebelumnya Baca: Pengantar Sejarah Ringkas Masyaikh Tarekat Naqsyabandi


Abu Bakar ash-Shiddiq (w. 13 H./634 M.)

Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq adalah mahaguru Naqsyabandiyah setelah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Nama lengkapnya `Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin `Amir bin Ka`ab bin Taim bin Murrah bin Ka`ab. Kekerabatannya dengan Nabi Muhammad bertemu pada Murrah bin Ka`ab. Ibnu Hisyam dalam Sirah Ibnu Hisyam menyebut julukannya dengan Al-`Atiq, karena sangat tampan dan sering membebaskan budak.

Di masa sebelum Islam, sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq adalah pedagang, berakhlak baik, sangat dicintai kaumnya, mudah diterima, dan dikenal sebagai ahli nasab Quraisy. Beliau juga termasuk di antara laki-laki yang awal masuk Islam, setelah Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haristah, dan berani memperlihatkan keislamannya. Setelah masuk Islam, orang-orang Quraisyi yang masuk Islam melalui ajakannya, menurut Ibnu Hisyam adalah sahabat Utsman bin Affan, sahabat Zubair, sahabat Abdurrahman bin Auf, sahabat Thalhah, sahabat Abu Ubaidah, sahabat Said bin Ash, sahabat Hathib, sahabat Abu Hudzaifah, sahabat Waqid, sahabat Bani al-Bukair, sahabat Amar, dan sahabat Suhaib.

Sayyidah Aisyah, istri Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam adalah anaknya. Selama Sang Nabi hidup, sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq berjuang dengan harta dan tenaga untuk ikut menyiarkan Islam, dan sangat disegani kaum Quraisy. Tatkala terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj, sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq membenarkan peristiwa itu tatkala sebagian yang lain mulai ragu, sehingga diberi gelar ash-Shiddiq.

Setelah Nabi Muhammad wafat pada tahun 632 M., ketika sebagian sahabat tidak percaya Sang Nabi wafat, beliau mengambil alih pembicaraan di hadapan umat yang sedang guncang, mengutip ayat al-Qur’an, seperti dikutip Abu Nashar as-Sarraj dalam kitab al-Luma’: “Wahai umat manusia, siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal, dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah adalah Dzat yang senantiasa Hidup dan tidak mati.”

Sahabat Abu Bakar diangkat sebagai Khalifah pertama, setelah wafatnya Nabi Muhammad, oleh baiat kaum muslimin dan para sahabat Muhajirin dan Anshar. Beliau menjadi khalifah selama kurang lebih 2 tahun (632-634 M.), dan bekerja untuk mengatasi perpecahan berbagai kabilah suku.

Baca Juga: Nisbah “al-Khalidi”: dan Keterasingan Tarekat dari Pesantren?

Para sufi mempercayai Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai orang yang memiliki kedalaman dalam pengetahuan batin, dan di antaranya Abu Nashar as-Sarraj dalam kitab al-Luma’, mengutip Abu Bakar al-Wasiti, menyebutkan: “Lisan kaum sufi yang pertama kali muncul di kalangan umat melalui lisan Abu Bakar, adalah bahasa isyarat, yang kemudian oleh orang-orang yang memiliki kemampuan pemahaman yang tajam diambil makna-makna lembut yang seringkali orang-orang berakal terkecoh olehnya.”

Abu Nu’aim al-Ashfihani dalam Hilyatul Auliya’, menyebut Sayyiduna Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai: “Orang yang terdepan dalam membenarkan ucapan Rasulullah, yang digelari Al-`Atiq, yang diteguhkan Allah dengan taufik, sahabat Nabi di kampung halaman dan dalam perjalanan, karib kesayangan beliau di semua kebutuhan, teman berbaring beliau sesudah wafat di taman yang diliputi cahaya. Dialah yang disebut secara khusus dalam Adz-Dzikr Al-Hakim (Al-Qur’an) dengan kebanggaan yang mengungguli seluruh orang-orang yang baik dan berbakti. Kemuliaannya tak lekang di sepanjang zaman. Puncak kemuliaannya tidak terdaki oleh orang-orang yang memiliki perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.”

Sayyiduna Abu Bakar ash-Shiddiq, tambah Abu Nu’aim, telah melakukan amal “meninggalkan harta dan pernik-pernik duniawi, lalu berdiri tegak demi tegaknya tauhid (dan memeluk Islam). Dia menjadi sasaran ujian dan cobaan. Dia bersikap zuhud terhadap apa yang dia tinggalkan, baik yang substantif atau yang fenomenal. Seorang diri dia berpegang pada kebenaran, tanpa menghiraukan pandangan orang.” Pencapaian tasawufnya digambarkan Abu Nu’aim begini: “Abu Bakar radhiyallahu anhu, dalam memenuhi janjinya telah mencapai derajat ketulusan yang tertinggi. Menurut sebuah pendapat, sesungguhnya tasawuf adalah kesendirian seorang hamba dengan Ash-Shamad yang Maha Esa.”

Riwayat dari Sayyidah Aisyah yang dikutip Abu Nu’aim, menyebutkan bahwa Sayyiduna Abu Bakar “…adalah laki-laki yang penangis. Dia tidak bisa menahan air matanya ketika membaca Al-Qur’an. Tentu saja hal itu menjengkelkan para bangsawan Quraisy…” Sayyiduna Abu Bakar telah menyatu dengan Al-Wujud, dan dapat bercakap-cakap di dalam Alam Arwah dengan Nabi Muhammad yang telah mendahuluinya wafat. Cerita di bawah ini menunjukkan keagungan spiritualnya, menurut riwayat Zaid bin al-Arqam, demikian:

“Abu Bakar radhiyallahu `anhu meminta diambilkan air minum, lalu dia diberi gelas yang berisi air dan madu. Saat mendekatkan gelas itu ke mulutnya, Abu Bakar menangis dan membuat orang-orang di sekitarnya ikut menangis. Kemudian Abu Bakar diam, tetapi mereka tidak kunjung diam. Kemudian Abu Bakar kembali menangis hingga mereka mengira bahwa mereka tidak sanggup untuk bertanya kepadanya. Kemudian Abu Bakar mengusap wajahnya dan kembali pada keadaan semula.

Para sahabat lain bertanya: “Apa yang membuatmu menangis seperti ini?” Abu Bakar menjawab: “Aku bersama Nabi Shallallahu `alaihi wasallam, lalu beliau mendorong sesuatu dan berkata: “Menjauhlah dariku! Menjauhlah dariku!” Padahal tidak ada seorang pun bersama beliau. Lalu aku bertanya: “Ya Rasulallah, aku melihatmu mendorong sesuatu tetapi aku tidak melihat seorang pun bersamamu?” Rasulullah menjawab: “Dunia dengan segala isinya menampakkan diri kepadaku. Lalu aku berkata: “Menjauhlah dariku!” Lalu dia pun menjauh dan berkata: “Demi Allah, kendati engkau terlepas dariku, maka umat sesudahmu tidak terlepas dariku.” Karena itu aku (Abu Bakar) takut sekiranya dunia itu telah menyusulku. Itulah yang membuatku menangis.”

Nabi Muhammad mendoakan Sayyiduna Abu Bakar ash-Shiddiq, sebagaimana diceritakan Abu Nu’aim al-Ashfihani dalam riwayat Anas bin Malik dari Abu Bakar, begini: “Ya Allah, jadikanlah Abu Bakar bersamaku pada derajatku di Hari Kiamat.” Lalu Allah mewahyukan kepada Rasulullah: “Sesungguhnya Allah telah mengabulkan doamu.”

Dikisahkan pula, dalam cerita al-Hujwiri dalam Nafahat al-Uns, begini: “Dalam hadis sahih dan masyhur di kalangan terpelajar, diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar salat malam, beliau biasa membaca Al-Qur’an dengan suara pelan, sedangkan Umar biasa membacanya dengan suara keras. Rasul bertanya kepada Abu Bakar: “Mengapa melakukan demikian?” Abu Bakar menjawab: “Allah yang saya ajak bicara akan mendengar.” Sedangkan Umar pada gilirannya menjawab: “Saya membangunkan orang-orang yang mengantuk dan mengusir setan.” Salah satu dari keduanya memberikan tanda musyahadah, dan yang lain menunjukkan mujahadah…”

Kedekatan Sayyiduna Abu Bakar ash-Shiddiq dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam bukan hanya dalam hal perjuangan dalam membangun masyarakat Islam, tetapi juga dalam hal pewarisan dzikir. Kepada beliau, Nabi Muhammad mengajarkan dzikir penting mengulang-ulang nama “Allah Allah Allah…”, selain tentu saja, juga dzikir tahlil, dzikirdzikir lain, dan amal-amal lain. Dzikir “Allah Allah Allah…” ini, di kemudian diwariskan kepada sahabat Salman al-Farisi, dan seterusnya sampai pada guru-guru Naqsyabandiyah saat ini.

Baca Juga: Bertarekat, Perlukah?

Dengan dzikir dan amal-amalnya, Sayyiduna Abu Bakar ash-Shiddiq memperoleh anugerah Allah, sampai-sampai diriwayatkan dari Nabi, sebagaimana dimuat dalam Nafhuth Thoyyib, yang menunjukkan beliau min ahlil fana’, begini: “Barangsiapa ingin melihat mayat berjalan di atas wajah bumi maka lihatlah kepada Abu Bakar” Hadis ini dikutip Mula Hasan bin Musa dalam Syarhu Hikamisy Syaikh Akbar (hlm. 149), dan dalam catatan kakinya dijelaskan hadis ini disebutkan al-Muqri dalam Nahfuth Thoyyib (V: 164).

Abdurrahman Jami dalam Nafahat al-Uns menceritakan atsar tentang Sayyiduna Abu Bakar ketika hendak wafat, dengan mengutip Imam al-Mustaghfiri. Dikisahkan bahwa Sayyiduna Abu Bakar berwasiat kepada Abu Muhammad Jabir bin Abdullah: “Jika kelak aku mati, kuburkanlah aku di pintu itu, dan jika memang terbuka, maka kuburkanlah aku di situ.” Kami (kata Jabir), kemudian bangkit, lalu kami dorong pintu itu sembari bergumam (memohon izin): “Ini Abu Bakar, semoga Allah meridhainya, ia ingin untuk dikebumikan di sisi Nabi shallallahu `alaihi wasallam. Pintu itupun langsung terbuka. Kami tidak tahu siapa yang membukanya. Tiba-tiba ada suara menyeru kami: “Masuklah dan kebumikan dia.” Tidak ada seorang pun kami lihat dan tidak ada sesuatu pun di sana.”

Syekh Abdul Wahab asy-Sya’roni dalam Ath-Thobaqat al-Kubra al-Musamma bi Lawaqihil Anwar, menyebut Sayyiduna Abu Bakar ash-Shiddiq wafat pada tahun 13 H (634 M.), pada usia 63 tahun. Di antara beberapa anaknya adalah Abdurrahman, Abdullah, Muhammad, Asma, Aisyah, dan Ummu Kultsum. Tarekatnya dikenal dalam silsilah Naqsyabandiyah, diturunkan kepada sahabat Salman al-Farisi. [Nur Khalik Ridwan]


Baca Selanjutnya: Masyayikh Tarekat (#2): …………

Nur Kholik Ridwan
Nur Kholik Ridwan 6 Articles
Intelektual muda pesantren kelahiran Banyuwangi. Pengarang Buku Sejarah Lengkap Wahhabi: Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliah, dan Pergulatannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*