Masyayikh Tarekat (11): Khawaja Mahmud al-Anjir Faghnawi (w. 670 H./1272 M.)

Masyayikh Tarekat (11) Khawaja Mahmud al-Anjir Faghnawi (w. 670 H.1272 M.)

Khawaja Mahmud al-Anjir Faghnawi

Baca: Pengantar Sejarah Ringkas Masyaikh Tarekat Naqsyabandi

Baca Juga Sebelumnya: Masyayikh Tarekat (10): Muhammad Arif ar-Righwari (w. 657 H./ 1259 M.)


Khawaja Mahmud al-Anjir Faghnawi (w. 670 H./1272 M.)

Khawaja Mahmud dipercayai sebagai salah satu di antara Khawajagan (the Masters) dalam silsilah Naqsyabandi, dan terhitung sebagai mahaguru yang ke-11 (bila dihitung dari Sayyiduna Abu Bakar ash-Shiddiq, dan yang ke-10 bila dihitung dari Kanjeng Nabi Muhammad) di antara para mahaguru. Beliau menggantikan kedudukan sang guru, Khawaja Muhammad Arif ar-Rigwari. Tarekat Sayyiduna Abu Bakar, melalui jalur Khawaja Mahmud masih berpusat di Bukhara, khususnya di wilayah Anjir Faghni (dan Wabakni atau Vabkent dalam penyebutan sekarang), yang dekat dengan Bukhara, tempat kelahiran beliau pada tahun 628 H. (1231 M.), sementara cabang lain melalui Ahmad Yesewi (Yeseviah) berkembang di wilayah Turki.

Menurut Muhammad Ahmad Darniqah dalam ath-Thariqah an-Naqsyabandiyah wa A’lamuha, Khawaja Mahmud, meski lahir di Anjir Faghni, tetapi berdiam dan membimbing para murid di masjid desa Wabakni, sebuah desa di Bukhara (TNWA, 1987: 162). Wabakni, adalah dekat dengan Anjir Faghni, yang juga tidak jauh dari Bukhara. Beliau termasuk di antara para Khawajagan yang menggunakan dzikir jahr, sementara gurunya dan sebagian khawajagan lain dalam silsilah Naqsyabandiyah menggunakan dzikir sirri.

Menurut yang dikutip Muhammad Ahmad Darniqah, Syekh Mahmud melakukan wirid dengan dzikir jahr, berdasarkan apa yang terjadi pada diri beliau. Beberapa sumber lain, menyebutkan, beliau semasa dengan Syekh Auliya’ Kabir, dan Syekh ini bertanya tentang dzikir jahr yang dilakukannya. Khawaja Mahmud menegaskan bahwa Syekhnya, memintanya untuk, pada saat-saat terakhir hayatnya, agar berlatih untuk berzikir jahr.

Versi jawaban yang dikemukakan Muhammad Ahmad Darniqah, ketika Khawaja Mahmud ditanya soal dzikir jahr (tidak disebutkan siapa yang bertanya), beliau menjawab bahwa dzikir jahr berguna untuk membangunkan dari mereka yang tidur, dan bisa mengingatkan mereka yang lupa, agar mau bertawajjuh kepada Allah. Dzikir seperti ini, (sangat bagus) diperuntukkan bagi lisan mereka yang suci dari kebohongan dan ghibah, dan suci dengan makan makanan yang halal dan menjauhi yang haram, dan hatinya dibersihkan dari riya’dan sum`ah.

Thalib Ghaffari (2014) yang menulis biografi singkat Khawaja Mahmud dalam bahasa Inggris (dalam maktabah.org, 11 Juni 2014), dengan mengutip dari sumber berbahasa Urdu, dari kitab Hadhrat al-Quds, Rashahat Ain al-Hayat, dan Agahi Sayyid Amir Kulal, menyebutkan versi kisah tentang Khawaja Mahmud. Kisah ini diceritakan melalui kesaksian Khawaja Azizan Ali ar-Ramitani (sang murid), begini:

One day Khawaja Ali ar-Ramitani was engaged in dhikr in the town of Ramitan, together with Khawaja Mahmud’s companions. A large white bird passed over their heads, and when it came over Khawaja Ali’s head, it said in a clear voice: “O Ali! do not abandon manliness! Be courageous!” Those present in the circle of dhikr were so affected by these words that they lost consciousness. When they recovered, they asked Khawaja Ali: “What is the reality of what we saw and heard?” He replied: “This bird is Hadhrat Khawaja Mahmud. Allah has granted him a charismatic gift that makes him fly, in the manner discussed in so many thousand words with the Prophet Musa `alaih as-Salam. Today, he had gone to visit Khawaja Dihqan, the deputy of Khawaja Awliya Kabir, who is in the state of dying. Khawaja Dihqan had begged Allah to send him one of His friends, and to let that friend hold his hand at the time of his passing away.”

“Suatu hari Khawaja Ali ar-Ramitani melakukan dzikir di Kota Ramitan, bersama sejumlah sahabat Khawaja Mahmud. Seekor burung putih besar melewati kepala mereka, dan ketika itu hinggap di atas kepala Khawaja Ali ar-Ramitani. Burung itu berkata dengan yang jelas: “Oh Ali! Jangan meninggalkan kejantanan! Beranilah!” Mereka yang hadir dalam lingkaran dzikir itu terpengaruh oleh kata-kata tersebut, sehingga mereka kehilangan kesadaran. Ketika mereka pulih, mereka menanyakan kepada Khawaja Ali ar-Ramitani: “Apa realitas yang kita lihat dan dengar tadi?” Khawaja Ali ar-Ramitani menjawab: “Burung ini adalah Hadhrat Khawaja Mahmud. Allah telah memberikan kepadanya hadiah kekeramatan yang membuat dia bisa terbang… Hari ini, ia pergi untuk mengunjungi Khawaja Dihqan, wakil dari Khawaja Auliya’ Kabir, yang sedang dalam keadaan naza’. Khawaja Dihqan memohon kepada Allah untuk mengirim salah satu kekasih-Nya, dan berharap kekasih-Nya memegang tangannya pada saat kewafatannya.”

Syekh Mahmud wafat di desa Qult, dekat dengan Bukhara: ada yang menyebut pada tahun 643 H.(1245 M.) dan ada yang menyebut tahun 670 H. (1272 M.). Beliau meninggalkan banyak murid yang meneruskan tarekatnya, tetapi posisi kemursyidan diteruskan oleh Khawaja Azizan Ali ar-Ramitan, yang menurut Thalib Ghaffari, dibantu oleh Khawaja Amir Hasan al-Wabakni, Khawaja Amir Husain al-Wabakni, dan Khawaja Ali al-Arghundani. Silsilah Naqsyabandiyah yang sampai kepada Syah Naqsyaband (Khawaja Muhamamd Baha’uddin an-Naqsyabandi al-Bukhari), melalui Khawaja `Azizan Ali ar-Ramitani, bukan melalui tiga murid yang lain itu. (Nur Khalik Ridwan).


Baca Selanjutnya: Masyayikh Tarekat (12): Khawaja `Azizan Ali ar-Ramitani (w. 721 H./1321 M.)

Nur Kholik Ridwan
About Nur Kholik Ridwan 18 Articles
Intelektual muda pesantren kelahiran Banyuwangi. Pengarang Buku Sejarah Lengkap Wahhabi: Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliah, dan Pergulatannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*